Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 49


__ADS_3

Aleena memutuskan untuk membawa Rere kerumah sakit, karena kondisinya yang terlihat lemah. Meskipun Rere berkali-kali menolak, tapi Aleena tetap memaksanya karena hari itu Aleena yang membawa mobil milik Rere, sedangkan Rere hanya bisa mengangguk pasrah saat Aleena mengambil kunci mobil dari tangannya.


Aleena mendaftarkan Rere ke dokter umum, tapi kemudian Rere menggelengkan kepalanya.


"Tapi Re, kita udah dirumah sakit, masa mau pulang gitu aja. Udah ga papa kamu duduk aja disana biar ini aku yang urus" Ujar Aleena. Kembali Rere menggelengkan kepalanya.


"Re, Pleasee... " Aleena memohon. Tiba-tiba Rere membisikan sesuatu di telinga Aleena.


"Apa??" Aleena menajamkan kembali pendengarannya untuk mendengar lebih jelas. Setelah merasa yakin itu yang didengarnya, Aleena baru mengangguk


"Oooh.. Dokter kan...." eh, Aleena terdiam sejenak, mencerna maksud dari kalimat yang dibisikkan Rere.


"Re... " Aleena memastikan kembali dengan menatap wajah Rere. Mendapat anggukan dari Rere, lagi-lagi Aleena menyimpulkan satu fakta mengejutkan.


"Maaf Sus, maksud saya dokter kandungan" Ucap Aleena pada suster yang menerima pendaftaran.


"Atas nama siapa bu?" tanya suster tersebut tanpa merasa curiga.


"Atas nama Reina Anandhyta"


Untung saja hari itu dokter kandungan ada dan mereka tidak perlu menunggu lama. Aleena dengan setia mendampingi Rere tanpa berkata apapun sampai mereka duduk di ruang dokter kandungan.


"Selamat malam ibu, kenapa ini? mau diperiksa atau check up?" tanya Dokter itu ramah.


"Selamat malam dok... ini mau periksa dok" Aleena yang menjawab, karena Rere masih diam saja di tempatnya.


"Atas nama Reina Anandhyta yang mana ini?" Dokter itu memandang ke arah Aleena dan Rere secara bergantian.


"Saya Dok..." akhirnya Rere mengeluarkan suaranya.


"Aduuh ibu pucat sekali ini, kenapa bu? kecapean? atau gimana?" Dokter itu mengajak bicara sesantai mungkin karena melihat aura wajah Rere yang kurang baik.


"Saya terakhir Haid hampir 2 bulan lalu Dok, minggu lalu saya baru sempat test pack karena baru ingat akan siklus menstruasi. Biasanya memang saya suka telat dok antara dua sampai tiga minggu, makanya saya biasa saja ketika tidak haid-haid. Dan hasilnya saya positif" Rere menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


"Oh.. sudah periksa ke dokter sebelum ini?"


"Belum dok, saya belum pernah cek"


"Suaminya sudah dikabari belum? atau sengaja ini mau kasih kejutan?", tik.. tok.. tik.. tok.. Sejenak keduanya terdiam karena bingung harus menjawab apa.


"Emh.. Ini dok, karena hasil test pack belum meyakinkan jadi teman saya ini belum sampai hati gitu dok untuk menyampaikan pada suaminya, apalagi memang teman saya ini juga sering telat haidnya" Aleena mencoba mengarang cerita, walaupun dia juga ragu akankah Rere menyetujui pernyataannya itu. Aleena meremas lembut tangan Rere seolah memberi kekuatan.


"Baik kalau begitu kita coba USG saja ya ibu biar semakin yakin.." Tutur Bu Dokter, untung saja ia tidak memperpanjang tentang masalah suami tadi.


Dokter dibantu dengan perawat mengoleskan Gel yang terasa dingin di perut Rere untuk mendeteksi kondisi rahim dan janin didalam perut Rere. Separuh antusias, separuhnya lagi gugup, Ada juga perasaan cemas yang meliputi pikiran Rere saat ini.


Disebelah kanan, Dokter sedang memulai pemeriksaan, di sebelah kiri Aleena menggenggam tangan Rere yang disambut genggaman kuat oleh tangan kiri Rere dan terasa sangat dingin bagi Aleena. Dengan kelembutan Aleena mengusap-usap bahu Rere seolah sedang mentransfer kekuatan untuknya.


"Wuah bu.. lihat janinnya sudah terlihat dan sehat, ini adalah penebalan kantung Rahimnya ya dan ini janinnya. Selamat ya bu... usia kandungannya sudah memasuki 6 minggu" Dokter menjelaskan setiap detail yang terlihat di kantong rahim Rere dengan berbinar-binar.


Sebenarnya baik Aleena ataupun Rere tidak begitu mengerti tentang penjelasan dari sang dokter karena ini hal yang baru bagi mereka. Mereka hanya menyimpulkan beberapa informasi yang jelas dapat mereka terima, yaitu bahwa Rere fix sedang mengandung, usia kehamilan adalah 6 minggu dan bayinya dalam keadaan sehat.


"Tapi Maaf nih bu, apakah ibu bekerja?" Dokter itu bertanya dengan hati-hati.


"Iya dok, saya masih aktif bekerja" Rere merapikan kembali kemeja soft blue yang dipakainya.


"Kenapa dok? Apakah ada masalah?" Aleena kini yang penasaran tentang hal itu.


"Kalau saya lihat dari Aura wajahnya ibu Reina, sepertinya ibu harus bed rest dulu minimal satu minggu. Karena dilihat dari wajah saja, jika ibu ingin janinnya tetap sehat maka kondisi tubuh harus dijaga dengan baik dan tidak boleh memaksakan" Penjelasan dokter membuat Aleena menganggukkan kepalanya pelan.


"Apakah ada keluhan bu, beberapa hari kebelakang ini?"


"Jujur Dok, saya sulit tidur dimalam hari karena pinggang saya terasa panas. Saya juga sering melewatkan sarapan pagi karena terasa tidak nafsu makan apalagi kalau sudah mual-mual. Siang kalau sedang ingin makan saya akan makan banyak. Saya mudah lelah dan mudah menangis akhir-akhir ini" Kini Aleena sudah dapat merangkum segala alasan yang membuat perubahan drastis pada tubuh sahabatnya itu.


"Baik kalau begitu saya resepkan obat untuk pereda mual dan penguat kandungan ya bu.. apakah ibu merokok? atau mengkonsumsi alkohol?"


"Sudah lama saya tinggalkan keduanya Dok" Jujur Rere.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Sementara ini makanannya jangan yang pedas dan terlalu asam ya bu, jangan yang bersoda, hindari makanan yang dibakar-bakar dulu karena rentan untuk kesehatan janin" Dokter hanya mendapatkan anggukan dari kedua orang perempuan di hadapannya.


"Temennya diingatkan terus ya mbak, soalnya kalau awal kehamilan apalagi anak pertama biasanya ga dirasa kalau kerja atau makan yang aneh-aneh. Jangan lupa beritahu suami akan kabar bahagia ini" Dokter kembali memberikan pesan, kali ini untuk Aleena.


"Ini sudah selesai, nanti tolong di tebus resepnya di bagian obat-obatan ya. Apakah ada pertanyaan lagi bu?" ucap Dokter yang bernama Eren itu.


"Sudah cukup dok sementara ini, kalau begitu kami pamit ya dok" Mereka pun berdiri secara serempak.


"Kalau kondisi mualnya tidak kunjung membaik saat obatnya sudah habis, langsung kembali ke sini saja ya untuk ditangani lebih baik lagi"


"Terima kasih banyak dokter" Aleena dan Rere berkata bersamaan tanpa janjian.


Mereka pun melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu menebus resep obat yang diberikan dokter. Setelah menyerahkan selembar kertas ke bagian obat, mereka duduk di ruang tunggu yang tersedia.


"Re.. ini luar biasa Re.. sebentar lagi aku punya keponakan" Seru Aleena antusias.


"Gue yang hamil kenapa lu yang bahagia??" tanya Rere dengan ekspresi datar.


"Re.. harusnya aku yang tanya, kenapa kamu tidak bahagia? Apa Arka sudah tahu tentang ini?" ekspresi wajah Aleena seketika berubah.


Rere tak menjawab apapun dan hanya terdiam membisu.


"Oke aku tidak akan bertanya dulu tentang hal itu. Jadi besok kau mulai cuti?"


"Cuti??" Rere balik bertanya.


"Jangan bilang kau tetap akan masuk besok??"


Lagi dan lagi pertanyaan Aleena tak dijawab oleh Rere. Beruntungnya Rere saat Aleena akan bertanya lagi, apoteker itu memanggil nama Rere dan memberikan obat sesuai resep. Dia juga menjelaskan tentang aturan minum obat-obat tersebut satu per satu secara detail. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pun keluar dari rumah sakit.


Aleena berniat mengantarkan Rere untuk pulang ke apartement nya, tapi sebelum itu Aleena mengajak Rere untuk makan malam terlebih dahulu. Tadinya Rere menolak dengan alasan tidak ingin makan, tapi setelah Aleena merengek padanya bahwa ia yang lapar karena lelah menemaninya periksa, Rere pun mengiyakan untuk makan bersama di kedai nasi goreng dekat apartemen Rere.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2