
Rinaya memunguti pakaian yang tercecer di sepanjang koridor kamar, bukan untuk bertujuan baik akan tetapi ia memiliki rencana lain. Merasa mendapat angin segar setelah melihat vas bunga, Rinaya bergegas keluar rumah.
PRAAAAAANG......
Suara nyaring itu berasal dari vas bunga yang Rinaya lemparkan ke arah jendela kaca tepat di samping pintu rumahnya. Tante Tara yang rumahnya berhadapan langsung dengan Rinaya muncul dari dalam sambil berlari karena terkejut mendengar suara nyaring tersebut untuk memastikan apa yang didengarnya. Adik satu-satunya dari mama Rinaya dan Aleena ini mematung sejenak melihat rinaya berada di depan rumah dengan wajah yang penuh emosi.
Tante Tara kemudian memanggil Rinaya yang memunggunginya.
"Rin... Rinaya... Ada apa ini? kenapa?" Terlihat tante Tara begitu khawatir kepadanya.
Merasa namanya dipanggil ia pun berbalik dan langsung berhambur memeluk sang tante. Setelah lebih tenang, Rinaya melepas pelukan itu dan memberikan kumpulan baju yang dipungutinya tadi sambil berkata
"Tante tolong urus ini, didalam ada ayah dan seorang perempuan yang aku yakin tidak akan segera keluar karena bajunya aku bawa. Aku harus kembali ke rumah sakit segera" Rinaya tampak sangat berusaha menahan emosinya yang sudah memenuhi ubun-ubunnya.
Tanpa sengaja Boy yang merupakan teman dekat Rinaya sejak SD melintas dan berhenti tepat di depannya karena melihat beberapa orang sudah mulai ramai di depan rumah Rinaya.
"Ada apa ini Rin??" Tanyanya tanpa basa basi.
Tanpa pikir panjang Rinaya langsung naik dan duduk di jok belakang motor matiknya yang berbody besar kemudian berkata pada tantenya,
"Tante kalo mau tahu apa yang terjadi, masuk aja kerumah sama om, jangan kasih ampun!! Aku titip rumah ya tante" yang diajak bicara masih terperangah tak mengerti, sedangkan dari dalam rumah belum ada tanda-tanda orang akan keluar.
"Hey.. Lu kenapa nih?" Boy makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jangan banyak tanya, anterin gue sekarang, Please..." pintanya sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan dada.
"Iya, tapi kemana??" tanya Boy yang lebih memilih mengalahkan rasa penasarannya.
"Ke rumah sakit" Seketika Boy pun langsung tancap gas menuju ke Rumah Sakit yang dituju.
Jelas Boy sudah tahu rumah sakit mana yang dituju, karena tadi pagi saat Rinaya kebingungan karena ibunya yang sudah tak sadarkan diri, Rinaya menelpon Boy untuk membantunya membawa sang ibu ke Rumah sakit. Selain karena hanya Boy teman yang paling dekat dan paling mungkin dia mintai tolong, Ayahnya yang menjabat sebagai Kepala Desa juga menjadi alasan kuat karena memiliki akses langsung untuk meminjamkan mobil siaga yang diperuntukkan warga dalam kondisi darurat. Boy juga lah yang langsung menggendong ibunya kedalam mobil dan mengantarkan mereka ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Sepanjang jalan tanpa disadari Rinaya memeluk pinggang Boy dengan kedua tangannya sambil menangis. Namun Boy merasa jantungnya berdebar-debar tak karuan karena baru pertama kali ini Rinaya gadis yang disukainya dalam diam berada sedekat ini dengannya. Tak tega rasanya Boy mendengar isakan tangan gadis pujaannya itu, Boy pun memilih untuk diam dan tidak bertanya apapun tentang kejadian tadi.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit yang memang jarak dari rumah sakit ke rumahnya itu tidak terlalu jauh. Sesampainya di rumah sakit, Rinaya ditemani Boy menuju ke ruang ICU bertemu dengan kakaknya.
Dalam keadaan emosi yang sudah tak bisa dibendung lagi Rinaya langsung memeluk kakaknya sambil menangis tersedu-sedu. Tangisannya lebih kencang dibandingkan pada saat memeluk Boy tadi sepanjang perjalanan. Aleena yang kaget hanya bisa menerima pelukan itu sambil mengusap-usap punggung Adik satu-satunya itu.
"Kak.. kenapa... kenapa... kenapa ini terjadi kepada kita??" ucap Rinaya masih dalam tangisannya.
"Kenapa Nay??? udah yuk kita duduk dulu sini" Aleena berusaha tetap tenang meskipun hatinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Boy yang menyadari bahwa tidak ada apa-apa di sekeliling mereka akhirnya memilih untuk meninggalkan kakak beradik yang masih berpelukan itu. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa Sebotol air mineral kemudian memberikannya kepada Aleena untuk Rinaya.
Setelah minum Rinaya terlihat lebih tenang dari sesegukannya itu.
"Sebenarnya ada apa Nay? Kakak nggak ngerti nih kalau kamu nangis seperti ini" tanya Alena.
"Ayah kak.. Kenapa ayah setega itu sama kita? sama aku? sama mama? kok bisa?" tutur Rinaya.
"Enggak Kak.. aku baik-baik saja, tapi kenapa ayah bisa membawa perempuan kedalam rumah kita? bahkan berbuat hal yang tidak baik di kamar tamu!! Emang ayah nggak tahu kalau mama lagi dirawat di rumah sakit dan kondisi mamah sedang tidak baik-baik saja? ke mana coba pikirannya Kak? aku nggak nyangka Ayah seperti itu!!" Rinaya bercerita dengan menggebu-gebu sambil terisak-isak.
"Sebentar Nay, maksudnya gimana ini kakak masih belum ngerti?" Aleena kembali mengkerutkan dahinya dan mengira-ngira sebenarnya kejadian apa yang baru dialami Rinaya, ditambah lagi ia sedang tidak fokus untuk berpikir cepat sehingga membuat Aleena perlu berpikir keras untuk mencernanya.
"Ya udah gini deh kamu tenang dulu ya sebentar Kakak mau bicara dulu nih sama temen kamu mungkin dia tahu sesuatu" tanpa menjawab Rinaya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanda setuju.
Kemudian pandangan Aleena beralih kepada Boy. Tanpa menunggu Aleena bertanya Boy yang merasa terpanggil pun langsung memperkenalkan dirinya dengan gentle,
"Iya Kak perkenalkan nama saya Boy, sebenarnya nama saya Arman Saya anaknya pak Dasuki. Rumah kami hanya terhalang dua rumah saja. Saya temannya Rinaya sejak kita masih duduk di bangku SD cuma saya ini kakak kelasnya Rinaya. Jadi waktu Rinaya kelas 1 saya sudah kelas 4. Tante Lia sering minta tolong saya untuk pulang dan pergi bareng dengan Rinaya saat sekolah SD dulu dan berlanjut sampai kami SMA, sampai sekarang pun kami masih berteman baik. Kalau tadi saya cuman lagi lewat aja Kak, tau-tau ada keributan kecil didepan rumah Naya, karena khawatir ya saya berhenti kak. Jadi saya memang nggak tahu runtutan kejadiannya itu seperti apa? tapi kalau dilihat dari Naya, saya rasa memang Pak Joan melakukan hal-hal yang melanggar norma." Boy menjelaskan panjang lebar dengan sangat tenang dan jujur, karena memang dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Oh ya Boy salam kenal ya, Aku Kakaknya Rinaya. Namaku Aleena, memang aku jarang terlihat di rumah, jadi sejak Rinaya lahir Aku sudah tinggal bersama Om dan tante, adiknya ayah. Aku jadi memang tidak pernah terlihat di rumah. Terima kasih ya Boy sudah mau mengantarkan Rinaya ke sini. Tapi nggak papa nih ke sini? lagi ditungguin nggak? atau lagi ada yang mau dikerjain nggak??" Tanya Aleena.
"Enggak sih Kak, aku emang lagi libur kuliah kan sekarang. Tadi tuh lewat emang mau ke rumah temen, tapi nggak papa lah. Nggak buru-buru kok. Oh ya gimana kabarnya tante Lia Kak? kebetulan tadi pagi saya yang membawa Tante Lia ke sini".
__ADS_1
"Mama sudah lebih baik, tadi juga kakak sempat dipanggil dan sempat berkomunikasi sebentar dengan Mama. Hanya memang mama belum bisa ditemui lama-lama karena masih harus banyak istirahat dan berpengaruh pada sesak nafasnya"
"Oh ya Kak??? Tadi Kakak udah masuk ketemu mama?? terus mama sudah bisa bicara apa kak? Apa Mama menginginkan sesuatu?" Rinaya langsung menghentikan tangisnya mendengar kabar baik itu.
"Kamu nggak usah khawatir ya, mama sudah lebih baik. Semoga akan terus ada kabar baik, tapi mama tetap dalam pengawasan dokter jadi kita hanya bisa menunggu sampai saat ini" Aleena berusaha menenangkan adiknya.
"Oh syukurlah kalau gitu Kak" Jawab Rinaya dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.
Kemudian Rinaya menceritakan apa yang sebenarnya dia alami barusan di rumahnya sendiri. Alena yang mendengarnya terlihat sangat syok dan mengingat kembali masa-masa kelam yang dialaminya. Tiba-tiba ia termenung karena mengingat pesan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Apakah yang dimaksud jaga Rinaya itu mungkin mama sudah berfirasat yang tidak baik terhadap tindak tanduk suaminya selama ini??.
Tidak hanya Aleena yang terkaget-kaget mendengar penuturan Rinaya tapi ternyata Boy pun juga ikut terkejut dengan apa yang diutarakan Rinaya. Boy tidak menyangka bahwa Pak Joan bisa berbuat setega itu kepada keluarganya, yang seharusnya saat ini membutuhkan kekuatan untuk bersandar karena kondisi Lia sedang tidak baik-baik saja. Namun Boy tidak berani mengutarakan apapun pendapatnya, dia hanya memposisikan sebagai pendengar setia karena memang hal ini masalah intern keluarganya.
Aleena kembali memeluk erat Adik satu-satunya itu dengan semakin erat. Melihat interaksi yang dilakukan kedua kakak beradik itu Boy pun merasa tidak enak jika tetap berada di sana, terlebih lagi memang di rumah sakit itu tidak boleh terlalu banyak yang menunggu pasien. Akhirnya Boy memilih untuk berpamit pulang dan melanjutkan rencananya yaitu Mabar bersama teman-temannya di Kampung Sebelah.
"Kak.. kalau begitu saya mau langsung pamit saja ya, nanti kalau ada apa-apa atau kalau butuh sesuatu Nay lu bisa hubungi gw kapan aja ya..." Ucap Boy tulus.
"Makasih ya Boy" jawab Aleena.
"Thanks ya Boy... ti ati" Rinaya menatap Boy sambil melambaikan satu tangannya dan tangan lain masih memeluk erat sang kakak.
Dan Boy pun berlalu.
"Rin.. Apa ayah pernah berbuat kasar sama kamu?" tanya Aleena setelah Boy sudah tak nampak lagi.
"Tidak kak..."
"Bisa kah kamu menceritakan tentang Ayah kepadaku, mungkin dengan itu kamu bisa melupakan hal tadi?" Aleena berusaha menyelami perasaan adiknya yang jarang sekali ia sentuh.
"Ayah itu sebenarnya dia baik, dia sayaaaaang sekali sama aku. Kalau mau pergi atau setiap aku cium tangan pasti ayah cium kening dan pipi aku. Ayah juga sering gendong aku kalau aku ketiduran di kamar mama. Tapi sejak aku SMA sebelum mama sakit-sakitan, Ayah jarang sekali pulang. Sejak saat itu aku selalu tidur bersama mama". Aleena sejenak merasa ada perhatian yang salah disana, tapi ia tidak berani memotong pembicaraan Rinaya.
"Tapi mama sama ayah pernah berantem?" Aleena penasaran.
__ADS_1
"Ayah memang ga romantis sama mama, karena mama juga pendiam. Tapi mereka ga pernah berantem. Cuma yang pernah aku denger, Ayah itu marah karena mama ga pernah mau diajak untuk jenguk kakak. Ayah selalu menanyakan kakak kapan pulang. Tapi mama selalu diam. Makanya aku selalu ketus sama kakak. Aku yang selalu ada buat mereka, tapi kenapa selalu kakak yang ditanyain??" Rinaya kembali berkaca-kaca.