
Dengan ayunan langkah bersemangat, Aleena memasuki gerbang sebuah perumahan elit yang sangat ia rindukan. Aleena menghampiri keluarga Damar yang ternyata sedang berkumpul di ruang makan, karena Aleena datang tepat saat mereka makan siang.
"Kak Aleena... " Gadis cantik yang saat ini terlihat lebih ceria dari sebelumnya berseru kemudian berlari menghampiri Aleena, membuatnya tersenyum senang mendapat sambutan hangat dari adik satu-satunya itu.
Namun senyuman itu harus memudar ketika sang adik ternyata berlari menghampirinya hanya untuk mengambil dua tentengan di tangan kanan dan kirinya.
"Asyiiik kak Aleena bawa banyak oleh-oleh" girangnya lagi kemudian berlari kembali menuju ke meja makan.
"Hush kamu tuh ndok.. kok ketemu kakak bukannya salim dulu, mbo ya tanya kabar dulu. malah ngambil bawaannya, belum tentu juga itu buat kamu. Siapa tahu buat budhe semua" Ujar budhe sambil senyum-senyum.
Aleena menyalami semua yang ada di sana penuh hormat.
"Iya tuh budhe kebiasaan dia. Pakde, budhe apa kabarnya?" tanya Aleena sambil bergantian menyalami keduanya yang duduk berdekatan.
"Sehat, Na.. kamu sendiri gimana? lancar perjalanan bisnisnya?" tanya pakde, sedangkan budhe merasa terwakilkan oleh pakde, beliau sibuk menuangkan lauk pauk ke piring pakde.
"Lancar Pakde.. eh, abang Dian ada disini.. Hallo Kak Anggi... Wah kayaknya semenjak menikah kak Anggi banyak makan ya.. sampe buncit gitu perutnya" Goda Aleena yang ternyata tak sebegitu pendiam ketika ada di zona nyamannya.
"Iya nih.. abangmu yang bikin kakak jadi begini" bales Anggi tak kalah ramah, sambil mengusap perutnya yang sebesar semangka itu. Padahal waktu menikah, Anggie sangat langsing dan cantik, sekarang tetap saja cantik walaupun berat badannya tak segitar spanyol dulu.
"Makanya menikah, biar tahu rasanya bahagia sampe kekenyangan" Ejek Dian sambil memundurkan kursi untuk mempersilahkan istrinya duduk. Mereka baru keluar dari kamar ketika Aleena baru saja tiba.
"Yeuuh... ujung-ujungnya aku lagi yang kena" sahut Aleena merengut manja.
"Makanya jangan suka ngeledekin.. jadi diledek balik kan.. " Rinaya tertawa puas.
"Iya Len, kamu kapan rencananya mau menikah, kalau sudah ada jodohnya jangan ditunda-tunda lah.." Budhe ikutan memprovokasi.
"Eh iya, katanya mau ngenalin calon.. mana nih calonnya jangan bilang kamu selama ini cuma pura-pura ya, alias bo'ong" Diandra tambah memanasi.
"Hey.. hey.. kalian ini yah.. lihat tuh mukanya Aleena jadi merah" Ujar Pakde menenangkan meja makan yang mulai ribut.
"Tapi sebenarnya Pakde setuju sih sama budhe. Emang bener kamu udah punya calonnya Na?" tanya Pakde mode serius.
Seketika meja makan menjadi hening, semua mata tertuju pada Aleena yang menatap sekelilingnya kemudian tertunduk lesu.
"Tuh kan.. Tuh kan..." Dian memulai lagi
"Diadra!!" tegas Pakde dengan nada naik 1 oktaf. Diandra terdiam menutup mulutnya dengan rapat. Anggie dengan sigap mengelus tangannya dibawah meja mencoba menenangkan. Aleena yang merasa ditatap dengan intens oleh pakde nya mau tidak mau menjawabnya dengan jujur.
"Dulu.. ada pakde, sempat mau dikenalin juga saat abang Nikah, tapi ga jadi karena dianya sibuk. Setelah menjalani sekitar tiga tahun ini, Aleena tidak melihat keseriusannya dia pakde. Jadi Aleena memutuskan untuk berpisah" Ungkap Aleena setengah gugup namun sebisa mungkin tetap berusaha tenang.
"Terus pas kamu minta pisah, dia setuju gitu aja??" tanya Diandra.
"Makanya aku putusin bang, dan jadilah sekarang aku jomblo" jawab Aleena polos.
__ADS_1
"Yo Wess Na, emang cowok kayak gitu ga bisa diarepin toh.. kamu juga Ya, jangan sampe salah pilih suami" Tutur Budhe.
"Tapi kalau ada calonnya, apa kamu siap nikah Na?" tanya Pakde.
"Eh.. ya kalo emang cocok Leena sih siap Pakde", mendengar jawaban Aleena, pakde kembali manggut-manggut.
"Gini Na, Pakde sebenernya dulu punya temen kuliah. Saking deketnya kita sama-sama ngirit sering makan sepiring berdua. Dulu kehidupan Pakde masih sangat pailit. Kita berdua saling bantu lah saat lagi begitu. Dulu juga kita pernah janji, kalau punya anak sepasang diantara kita dan sampe usia 30 tahun belum menikah, kita rencananya mau mempertemukannya kali aja jodoh. Tapi sayangnya itu ga bisa terjadi, karena kita berdua sama-sama punya anak cowok" Pakde menghela nafasnya sejenak.
"Oh yang kemarin papa cerita itu ya pa?" tanya Budhe.
"Iya Ma, kemaren papa ketemu dia lagi, setelah beberapa tahun ga ketemu. Hidup kami sudah lebih baik secara ekonomi. Tapi sepertinya dia lagi kepikiran sesuatu, ya Papa tanya kan apa yang bikin dia keliatan ruwet gitu. Ternyata dia kepikiran anaknya yang sudah kepala tiga tapi belum nikah juga. Yang bikin dia khawatir, ternyata anaknya baru ditinggal nikah sama pacarnya yang udah bertahun-tahun. Tapi karena patah hati anaknya itu jadi gila kerja"
"Ya bagus dong pah.. putus cintanya ga sia-sia jadinya" tukas Diandra.
"Beda anak, beda pikiran orang tua Di. Orang tua itu selalu khawatir ketika kalian belum punya pasangan di usia yang udah cukup. Belum lagi masalah keturunan. Dulu papa sama almarhum papanya Aleena bertekad punya anak sebanyak-banyaknya jadi di masa tua kami ga kesepian kayak kedua orang tua kami dulu. Karena setelah kami menikah, kami berdua benar-benar tidak bisa mendampingi hingga keduanya tak ada. Tapi memang ternyata takdir kami hanya memiliki satu anak. Makanya sekarang papa mau minta banyak cucu dari kamu Di" Ungkap Pakde.
"Kalau aku sih gimana Anggi nya Pah, hehehe" jawab Diandra yang langsung dicubit tipis oleh Anggie.
"Awww.. sakit de.." pekik Diandra.
"Makanya budhe itu seneng kalian ada disini Aleena, Rinaya. Karena impian kami dulu punya banyak anak. Anggie juga ga usah takut atau ragu, kalau punya anak bikin kamu kerepotan mama sama papa siap buat stand by jaga anak kalian. Biar kami sudah tidak muda lagi jaga 2 sampai 3 cucu mah masih sanggup ya pah... " Ucap Budhe yang langsung dapat anggukan semangat dari Pakde.
"Tuh de, Lampu ijo..." Diandra kegirangan.
"Balik lagi ke temen pakde itu, gimana Na kamu mau ga?" tanya pakde tiba-tiba.
"Ya gak langsung dijodohin juga kali Leen, dikenalin. Makanya kalau orang tua lagi ngomong itu didengerin" Aleena langsung melirik jutek sama Diandra yang tampak santai nyeletuknya.
"Iya Leen, Pakde kenalin dulu. Untuk selanjutnya ya terserah kalian nanti. Kalau cocok ya Pakde senang karena cita-cita kami dulu akhirnya terkabul. Ya kalau pun ga berlanjut anggap aja belum berjodoh tapi kami tetap bersilaturahmi gitu" Timpal Pakde lagi.
Aleena berpikir sejenak, dia sebenarnya bingung, karena tak mungkin bisa menolak permintaan pakde.
"Pakde sama Budhe ga bisa maksa kamu, tapi mbo ya dicoba dulu. Ujungnya kami percaya apapun itu pasti sudah ada garis takdinya" Budhe mencoba meyakinkan.
"Baiklah Pakde, Budhe. Aleena mau coba" Dengan keyakinan yang baru setengah hati Aleena mengiyakannya.
"Kalau demikian nanti Pakde kabarin temen pakde itu, semoga saja bisa sedikit membuatnya lega".
Obrolan mereka pun terus berlanjut ke banyak hal lainnya, seperti kisah pertemuan pakde dan budhe di tempat kerja, cerita tentang Almarhum ayahnya Aleena. Rinaya tidak tersinggung sama sekali, justru ia senang mendengarkan kisah-kisah itu walaupun jelas tidak ada dia atau kisah cinta orang tuanya.
Selesai berbincang diruang makan, Pakde dan Budhe memilih untuk melakukan kesibukannya masing-masing. Pakde membaca buku diruang kerjanya. Budhe dan Rinaya sedang eksperimen membuat cemilan. Tinggallah Aleena, Diandra dan Anggie di ruang tengah sedang menonton film barbie, request dari bumil yang ngidam katanya sambil asyik memakan popcorn caramel yang dibuat oleh Rinaya.
Aleena merasa tenang karena ternyata Rinaya bukan tipe anak manja yang apa-apa harus dilayani. Dia menunjukkan perilaku yang rajin berada di rumah yang notabene nya bukan keluarga dekatnya. Rinaya senang membantu budhe menyiapkan dan merapikan makanan. Mandiri membuat cemilan, sigap ketika dimintai tolong.
"Ini kak Anggi dan Bang Diandra lagi nginep, atau lagi main aja?" tanya Aleena membuka percakapan. Terlihat dilayar film baru saja berjalan.
__ADS_1
"Kita tuh sebenernya lagi nginep aja, sebelum nanti setelah lahiran kita pasti akan lebih jarang kesininya. Tapi pas lahiran nanti abang sih udah minta mama sama papa tinggal dirumah kita dulu sebulan atau dua bulanan". Ujar Bang Diandra.
"Udah berapa bulan kak usia kandungannya?" tanya Aleena penasaran.
"Udah 31 week Leen" jawab Anggie
"Berarti udah tinggal nunggu hari ya kak" tanya Aleena lagi.
"Iya nih, makanya sekarang aktivitas juga udah banyak yang dikurangi. Kerjaan juga udah sering aku tinggal Leen" Anggi tetap fokus pada layar sambil mengelus-elus perutnya.
"Kakak masih kerja?? Ya Ampun Bang.. tega banget ih emang si abang nih.." Aleena coba memprovokasi Diandra, sengaja.
"Lah, kok jadi abang. Orang Anggi yang mau" Diandra nyolot yang langsung dapat kekehan meledek dari Aleena.
"Bukan abang yang minta Leen, tapi emang aku nya aja yang belum bisa lepas" Anggi membela Diandra.
"Tuh kan... wlee..." ledek Diandra. Yang langsung dapat lemparan batal sofa dari Aleena, tapi masih lembut tipe lemparannya.
"Kakak juga lagi bingung nih, nyari orang yang kompeten buat gantiin kakak selama nanti lahiran. Udah dicoba dari 3 bulan sebelum ini tapi belum nemu yang cocok. Kamu ada teman ga yang biasa handle WO (Wedding Organizer) gitu??"
"Lah.. Aleena, mana punya temen dia de... Oh iya abang baru inget. Kata Naya kamu udah pindah tempat kerja ya? kok bisa?? dimana kerjaan kamu sekarang?" Diandra mengintrogasi.
"Satu-satu apa bang nanyanya. Iya Leena udah ga kerja di tempat dulu lagi. Ya.. lagi pengen cari pengalaman yang lebih banyak. Sekarang aku kerja di Harrison Collection bang.. tapi paling tinggal 2 minggu lagi"
"Loh kok bisa?" sekarang Anggi yang penasaran akan hal itu.
"Iya Aleena disana cuma buat gantiin orang yang lagi cuti aja mbak. Besok juga udah masuk orangnya" jawab Aleena.
"Rencananya kamu udah ada kerjaan lagi atau gimana?" tanya Diandra. Pasangan itu seolah jadi kakak yang lengkap buat Aleena. Dia juga tak merasa terbebani dengan rentetan pertanyaan dari keduanya.
"Belum ada sih bang... paling nanti mau healing dulu aja kali ya, hahaha" jawab Aleena santai.
"Ya udah Leen, kamu bantuin kakak aja ya di WO-nya kakak. Kakak udah ga punya waktu lagi nih buat cari orang. Itu tuh bisnis keluarga kakak yang penting banget jadi kakak ga bisa ngasih tanggung jawab ini ke sembarang orang. Mau ya... mau dooong..." Bujuk Anggi.
"Aleena beresin kerjaan Aleena di kantor dulu ya kak, nanti kalau udah resign Aleena main deh ke kantornya kakak" Jawaban ini mendapat anggukan semangat dan binaran mata kelegaan dari Anggi, Diandra yang sambil fokus pada hp-nya pun turut tersenyum mendengar percakapan keduanya.
Tak lama kemudian Rinaya membawakan cemilan untuk mereka yaitu pisang goreng kipas, yang disambut semangat oleh Diandra, si jagonya ngemil.
"Gimana kuliah kamu de, Lancar?" Tanya Aleena sambil mengambil cemilan yang satu itu.
"Minggu depan baru ospek kak. Oh iya kak, tahu ga? ternyata aku sekampus sama boy kak" seru Rinaya antusias.
"Oh ya, bagus deh. Jadi kamu udah dapet temen" Aleena menanggapi.
"Iya, seenggaknya kalau aku ga ngerti apa-apa bisa langsung nanya dia gitu"
__ADS_1
Kemudian Rinaya pun bergabung dengan mereka untuk menonton film, entah yang keberapa kali Rinaya melihat film ini setiap kali kak Anggie datang kerumah. Tapi dia tak pernah protes akan hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...