
Aleena tak menampik, betapa mempesonanya David sejak pertama kali bertemu. Tapi kekecewaannya yang besar terhadap Alvaro, membuatnya membentengi diri untuk tidak memiliki hubungan spesial dengan orang yang memiliki jabatan tinggi.
Itu yang membuatnya yakin untuk tidak menerima pernyataan David walaupun hanya sekedar ingin menyenangkan hati Maminya. Ditambah lagi Aleena selalu mendambakan pernikahan yang indah, penuh cinta kasih seperti Diandra dan Anggie.
Ia tidak ingin rumah tangga yang dijalaninya seperti rumah tangga ibunya. Dan hanya mau menikah seumur hidup sekali saja. Aleena masih trauma akan hadirnya Ayah tiri yang membuat ia kesulitan untuk percaya lagi kepada laki-laki mana pun yang berusaha mendekatinya.
"Bagaimana istirahatmu hari ini? apakah sudah cukup? kalau belum cukup besok izin saja 1 hari lagi, nanti aku yang akan menyampaikan pada HRD" Ujar David sambil memotong daging steak diatas piringnya.
"Sudah cukup kok, kenapa? apa kau mengkhawatirkanku?" tanya Aleena setengah menggoda.
"Jelas.. kau calon istriku, jadi aku tak ingin kamu kelelahan" hup.. David menangkap godaan Aleena.
Aleena yang sedang memotong steak langsung menghentikan gerakannya.
"Bukankah aku sudah menolakmu?" jawab Aleena.
"Lalu kenapa kau datang malam ini? kalau bukan kau merindukanku, sayang" Aleena tersedak mendengarnya.
"Pelan-pelan, sayang... " David semakin menggodanya.
"Uhuk.. bukankah tidak sopan jika seorang bawahan menolak undangan atasannya?" Aleena memperjelas kondisinya. Tak ada balasan dari David, ia melanjutkan makan malamnya, begitu juga Aleena.
Begitu makanan di meja makan itu habis, David melanjutkan kembali perbincangan mereka dengan mode serius.
"Kau sudah memiliki kekasih?" tanya David. Aleena terdiam, ingin sekali menjawab yang jujur, tapi pasti David akan mengejarnya lagi. Melihat Aleena terdiam kaku, David menyimpulkan bahwa jawabannya adalah iya.
"Jangan bilang dia lelaki yang bersamamu saat kita bertemu di Summer Fantasy?"
Alena masih terdiam membisu, entah apa yang harus ia katakan. Sekilas ia mengingat kembali siapa pria yang dimaksud oleh David? dan setelah mengingatnya baru ia sadari ternyata lelaki yang dimaksud adalah Angga.
" Maafkan aku David, sekalipun Aku belum memiliki pasangan seperti yang sudah aku katakan bahwa aku belum bisa menerima kehadiranmu secara tiba-tiba apalagi kalau langsung menikah. hidup kita ini bukan sebuah drama yang banyak di novel-novel tentang pernikahan kontrak. sekalipun aku akui bahwa kau sangat menarik tapi maaf sampai saat ini keputusanku tidak berubah. Maafkan aku David aku belum bisa menerimamu" Ungkap Aleena tegas.
"Baiklah kalau itu memang mau. Hehem, dalam satu pekan ini kau sudah menolakku dua kali Aleena. Jujur aku merasa kecewa tapi ku harap kau tidak akan menyesali keputusanmu di kemudian hari" jawab David.
"Aku harap juga demikian David. Semoga kau mendapatkan wanita yang sepadan denganmu. Tapi tunggu, kenapa kau begitu terburu-buru ingin menikah?"
"Bukan kah menyegerakan hal yang baik itu penting?" saat ini tatapan kecewa David menyentuh hati Aleena tapi tak sedikit pun merubah pendiriannya.
"Setelah ini, adakah hal lain lagi yang ingin dibahas?" tanya Aleena lagi dengan nada datarnya.
"Kenapa? apa kau sudah ada janji?" David merubah posisi duduknya untuk lebih rileks.
"Tidak.. tapi sepertinya taxi online ku sebentar lagi sampai"
__ADS_1
"Kenapa kau sangat menyebalkan??" David mulai merasa kesal.
"Terakhir, kenapa kau menolakku?" lagi, David hanya ingin memastikan jawaban Aleena.
"Aku.. aku.. aku sudah dijodohkan sebenarnya?" Aleena mencoba mencari alasan, walaupun tidak sepenuhnya benar karena perjodohan itu belum terjadi.
"Hanya karena sebuah perjodohan?? Oke, jangan lupa saat pernikahan nanti undang aku, maka akan kuhacurkan acaramu kalau bukan aku pendampingmu" David menggoyangkan gelas di tangannya, mengatakan dengan wajah yang tenang, tatapan yang dalam namun bahasa yang menusuk. Membuat Aleena menegang seketika.
"Bill nya sudah kubayar, kau bisa pergi setelah taxi mu datang" David mengambil jas yang disampirkan di bangkunya, kemudian meninggalkan Aleena tanpa pamit dengan ekspektasi yang tinggi namun kenyataannya tak sejalan dengan apa yang diinginkan. Aleena menatap bingung pada David yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Kenapa dia mengejarku? Apa istimewanya aku?? bahkan mantanku saja membuang ku begitu saja" pikirnya dengan tatapan kosong.
Notifikasi aplikasi taxi online berbunyi, menandakan taxi yang dipesan sudah tersedia. Aleena pun bergegas menemui taxi yang dimaksud. Meninggalkan jejaknya dan David disana.
"Toh aku hanya perlu bertahan beberapa hari lagi disana" Aleena kembali bergumam didalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aleena baru saja menghempaskan tubuhnya diatas kasur. Ternyata berpisah seperti ini membuat Aleena tidak nyaman dan terus kepikiran. Kenapa sih menolak itu malah menyakiti diri sendiri?
Aleena yang memiliki sifat lembut dan cenderung tidak enakan kepada orang lain, membuatnya merasa gelisah sendiri.
Dering handphone pun terdengar mengalihkan pikiran Aleena yang sedang tidak jernih itu.
"......"
"Oh.. Laporan perjalanan Dinas, baru saya mau minta formatnya besok mbak"
"..."
"Apa?! Laporannya diminta besok? beneran itu?? Kok ngabarinnya dadakan sih mbak.. kemarin katanya baru mau dibahas 2 minggu lagi.." Dahi Aleena mengerut secara otomatis, tiba-tiba kepalanya menjadi pening.
"Katanya Wakil Direktur yang minta besok kita presentasi" Suara Ghea terdengar ikut panik di sebrang sana.
"Oke deh Mbak, aku usahain nih langsung dikerjain sekarang juga, kirim formatnya ya Mbak"
"Oke Leen, thanks ya..." Ghea pun menutup panggilannya.
Setelah memastikan panggilannya dengan Ghea terputus, Aleena baru mengecek handphonenya, dan ternyata sudah banyak pesan yang muncul. Ketika dilihat ternyata pesan itu di grup chat lima orang kemarin yang ikut ke Jepang.
Aira
Gila ya.. gue disuruh kerja rodi, masa tiba-tiba laporan harus jadi besok. Badan aja masih pada ngeretek semua..
__ADS_1
Leo
Hah.. besok??? demi apa luh?? ini udah malem kan??
Rere
Yang bilang ini masih pagi tuh siapa?? udah ga usah pada bawel.. Kerjain!! Masih ada waktu 10 jam lagi.
Dan masih banyak pesan lainnya yang hanya sanggup Aleena scroll tanpa menjawab apapun. Ia hanya mengirimkan stiker semangat 💪💪🤯.
Kuat dugaan Aleena bahwa perintah ini pasti aja karena ulahnya malam ini yang membuat David kecewa.
Frey David Harrison
Bagaimana Aleena bisa menerimanya, kalau sikapnya seperti bunglon. Suasana hatinya mempengaruhi pekerjaannya. Ga Profesional!!! keluh Aleena tanpa sanggup mengatakannya langsung.
Alhasil Aleena harus begadang semalaman, pasalnya ia juga belum terbiasa membuat laporan perjalanan dinas yang ternyata bisa sampai 20 halaman dengan detail angka dan kesimpulan di setiap lembarnya.
Sebisanya, semaksimalnya ia kerjakan sesuai dengan apa yang ia tahu. Mau tanya ini itu baik sama Ghea ataupun Rere tapi Aleena tidak enak dan khawatir akan mengganggu waktu istirahat mereka.
Jam menunjukkan pukul 03.25, saat Aleena mulai terpejam di sofa rumahnya dengan kondisi laptop yang masih menyala di atas meja. Ia duduk dibawah beralaskan karpet, sedangkan kepalanya bersandar di sofa dengan tangan yang dijadikannya bantalan.
Tepat pukul 06.40, Aleena mengerjap terbangun dari tidurnya. Awalnya ia menggeliat merasa badannya kaku dan lelah. Berusaha mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali. Kemudian mengambil handphone untuk melihat jam berapa sekarang.
"Oh.. 06.50, huaaaam...." ia menguap dan masih belum sadar dengan kondisinya.
Aleena mengaktifkan kembali laptopnya. Ketika Laptop terbuka dan menampilkan laporan perjalanannya, Aleena langsung berjingkat kaget,
"Oh Nooo... aku terlambat, gimana ini..."
Sejenak Aleena menarik nafas panjangnya berusaha mengurangi kepanikan, membereskan laptop dan file-file yang ia butuhkan. Kemudian mandi secepat kilat tanpa berlama-lama memilih pakaian pun serba cepat. Ia berhasil menyelesaikannya dalam waktu 30 menit. Jam sudah menunjukkan pukul 07.30, sedangkan jam kerja pukul 08.00. Perjalanan memang hanya sekitar 20 menit tapi kondisi di jalan tak pernah terprediksi.
Sat set sat set, Aleena melakukan semuanya dengan cekatan. Hingga ia berhasil datang tepat waktu ke kantor namun dengan muka pucat dan kantong mata yang terlihat seperti mata panda, karena kurang tidur dan tak sempat make up.
"Aleena akhirnya kamu dateng juga, laporannya udah selesai??" sambut Ghea dengan wajah penuh rasa khawatir.
"Udah mbak, ini tolong di cek dulu mbak takut ada kesalahan. Sekalian ini ada oleh-oleh buat mbak"
"Thanks Leen, oleh-olehnya aku simpen dulu ya. Sekarang langsung print out aja len 3 rangkap. Kita ga punya banyak waktu. Mana katanya pak Frey langsung yang akan memimpin"
Deg...
Aleena tertegun, mulai firasat tidak baik menghinggapinya. Namun Aleena berusaha menepisnya dan kembali menekuni tugasnya. Aleena juga menyempatkan make up tipis untuk menutupinya wajahnya yang terlihat pucat.
__ADS_1
"Hadapi dengan tenang Aleena.. kamu pasti bisa.. Ganbatte!!!!" Seru Aleena dalam hati, bersiap mengibarkan perang dalam hatinya.