Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 46


__ADS_3

Aleena kembali harus menelan pil pahit. Ia terpaksa menyelesaikan tugasnya untuk memenuhi kebutuhan klien VVIP yang tak lain adalah Fransiska dan Alvaro sampai acara keduanya selesai. Sialnya lagi Resha tak bisa mendampingi karena ada acara lain yang harus ditanganinya.


Mau menolak tapi tak mungkin, tak ditolak Aleena merasa ketakutan sendiri bagaimana menghadapinya nanti.


Walaupun tugasnya hanya memantau di lokasi, tapi tanggung jawab sepenuhnya ada di tangan Aleena, sehingga tak memungkinkan baginya untuk menghindar selama acara.


Akhirnya hari ini adalah acara yang paling ingin Aleena hindari tapi tidak bisa. Aleena mulai memantau dan mengecek setiap persiapan yang sedang dilakukan. Mulai dari dekorasi, souvernir sampai pada catering dan perlengkapannya.


Tanpa Aleena sadari sepasang mata dari tadi mengintainya dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Angga ingin memastikan bahwa Aleena benar-benar tidak akan mengacaukan pesta sepupunya itu.


Angga pun tak sepenuhnya percaya pada ucapan Alvaro tentang Aleena, tapi Angga merasa harus tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


Tak ada hal aneh dan mencurigakan yang dipantau Angga sejak persiapan berlangsung, selama itu pula Aleena tetap mengerjakan tugasnya dengan baik pada setiap area dibawah pengawasannya.


Sejak acara di mulai hingga kegiatan pertunangan selesai, Aleena memilih untuk duduk di belakang panggung sambil memegang HT untuk menerima laporan dari setiap karyawannya. Aleena dapat melihat wajah yang sempat dirindukannya, tapi lansung ia mengalihkan dan mengingatkan dalam hati bahwa lelaki itu yang membuatnya terluka begitu dalam. Sehingga tanpa mereka sadari ada banyak hati yang terluka karena itu.


Setelah acara tukar cincin diantara kedua pasangan yang disaksikan ratusan mata para tamu undangan, Acara berikutnya yaitu ramah tamah. Dimana pada saat ramah tamah ini kedua mempelai yang bertunangan turun dari venue untuk menyapa para tamu undangan. Mengingat tamu undangan ini adalah tamu-tamu yang penting, baik Fransiska atau Alvaro pun turun dari venue. Saat hendak turun Fransiska begitu antusias menyambut para tamu nya sampai kurang berhati-hati dan tersandung kabel yang terhubung dengan lampu venue.


Dalam kondisi Slow motion.. Lampu beserta hiasan yang tertempel itu tertarik dan hampir menimpa badan Fransiska. Dengan sigap Aleena melindungi Fransiska, sedangkan karyawan yang stand by langsung menahan hiasan yang lain agar tidak merusak venue. Otomatis kejadian tersebut menjadi pusat perhatian para tamu undangan.


Aleena memilih untuk mengamankan Fransiska terlebih dahulu dan membawanya ke ruang ganti yang jaraknya tak terlalu jauh dari sana. Aleena juga mengecek kondisi Fransiska yang sepertinya shock atas kejadian tadi.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Aleena.


"Emh... iya baik, apakah acaranya aman terkendali?" ternyata Fransiska lebih khawatir tentang acaranya dibandingkan dirinya sendiri.


"Apakah itu lebih penting?" Aleena mengerutkan dahinya.


"Acara ini penting sekali untuk Alvaro, jadi aku takut aku gagal dalam mempersiapkannya" Fransiska menundukkan wajahnya.


"It's okey, aku punya tim yang hebat, lihat acara masih berlanjut, yang penting kamu baik-baik saja".


"Maaf Aleena, sepatuku tidak nyaman sejak tadi. Ini sangat bagus tapi kebesaran. Aku memaksa memilihnya karena ingin tampil sempurna hari ini" Jujurnya.


Aleena selesai menenangkan Fransiska yang masih shock akan kejadian tadi. Mendengar sedikit keributan yang terjadi seseorang masuk menuju ke ruang ganti, ternyata itu ibu dari Fransiska yang datang. Merasa sudah ada yang menemani Fransiska, Aleena pun pamit untuk mengecek kondisi diluar seperti apa.

__ADS_1


Acara aman terkendali, semuanya berjalan seperti tak ada kejadian apa-apa disana. Tetapi ada yang aneh, Yap Aleena tidak menemukan sosok Alvaro dan beberapa karyawannya yang menjaga di area venue.


Setelah mengecek bagian konsumsi dan photo booth yang baik-baik saja, seseorang karyawan perempuan menghampiri Aleena dan membisikan sesuatu di telinganya. Aleena pun bergegas mengikuti karyawannya itu menuju ke area belakang yang agak jauh dari venue melewati lorong.


Ternyata saat ini bukan hanya 2 pasang mata, tapi 4 pasang mata memperhatikan gerak gerik Aleena dari jauh.


"KENAPA BISA SEPERTI INI?!?? MANA PROFESIONALITAS KALIAN.. SAYA GA MAU TAHU PANGGIL PENANGGUNG JAWAB KALIAN SEKARANG JUGA" Seru Alvaro dengan wajah tak bersahabat.


Tepat pada saat itu Aleena tiba disana, tanpa ba-bi-bu Aleena mendekat dan langsung bergabung di sana.


"Saya yang bertanggung jawab atas acara hari ini" Ucap Aleena dengan tenang sambil lebih mendekat lagi dalam jarak tiga langkah.


"Aleena?!?" belum lagi emosinya mereda, Alvaro dibuat kaget karena melihat wanita yang sesungguhnya ia rindukan.


"Kalian silahkan lanjutkan tugas kalian, biar ini saya yang selesaikan" ujar Aleena pada karyawan karyawannya.


"Hey.. kenapa harus bubar?" Seru Alvaro.


"Biarkan mereka tetap melanjutkan tugasnya, bukankah itu lebih baik demi kelancaran acara hari ini?" Alvaro hanya memalingkan wajahnya, gengsi untuk membenarkan apa kata Aleena.


"Maaf?? kau pikir maaf bisa mencegah kejadian tadi terlupakan?" Jawab Alvaro dengan penuh penekanan.


"Perlu saya klarifikasi bahwa kejadian tadi murni karena kurang hati-hati dari ibu Fransiska dan tadi sudah diakui juga oleh beliau" Aleena tak mau kalah.


"Jadi sekarang kamu menyalahkan tunangan saya?? oooh.. jangan-jangan ini ada unsur sabotase karena kamu tak suka acara ini berlangsung dengan lancar?" Alvaro memancing emosi Aleena.


"Mohon maaf pak ini murni karena kecelakaan tidak ada urusannya dengan hal yang menyangkut pribadi saya".


"Alaaaah... bilang aja kamu punya dendam pribadi kan sama saya?? ngaku aja Leen.." mulai nyeleneh nih bandot, Aleena geram dalam hatinya.


"Kenapa kamu cemburu?? sekarang kamu tahu kan alasannya kenapa aku gak pernah mau ngenalin kamu ke keluargaku. Kamu lihat pesta pertunangan ini?? Kalau kita yang menikah, menikah saja belum tentu akan semewah ini, jangan mimpi kamu Aleena!!"


Deg.. mata Aleena memanas karenanya. Aleena hanya menyunggingkan senyum smirk nya saat Alvaro melanjutkan pembicaraannya.


"Kamu tuh yang terlalu kepedean mau bersanding dengan orang sepertiku, Ngaca!! Tanpa aku kamu tuh bukan apa-apa. Bukankah ini yang membuatmu sangat marah padaku sampai memilih pergi dan mencari cara balas dendam yang tepat. hebat kamu Aleena" Alvaro bertepuk tangan 4x.

__ADS_1


"Sekarang lupakan aku Aleena, sekalipun kau bersujud aku tidak akan pernah kembali untukmu. Terima dan akui saja kekalahanmu. Terbukti kan, kekasih gelapmu saja mana?? tak ada sekarang. Tak ada yang bisa kau tutupi lagi Aleena".


Makin lama makin ngelunjak ya nih orang.


"Terima kasih pak Alvaro atas nasehatnya, akan saya terima dan ingat dengan baik. Perlu bapak ketahui, saya bukan orang yang punya banyak waktu untuk memelihara dendam, saya yakin bapak sudah tahu akan hal itu. Saya rasa saat ini kita sedang bahas masalah pekerjaan bukan masalah pribadi, apakah profesionalitas anda sudah berkurang sejak saya tinggalkan?"


"Jangan bahas masalah profesionalitas kalau kamu dan tim mu saja tidak bekerja dengan profesional!!" Bentak Alvaro.


"Karena kita bahas masalah profesional, apakah perjalanan bisnis dengan membawa kekasih dan dibayarin kantor sepenuhnya itu sikap profesional pak??" Alvaro terperanjat.


"Apakah memberikan barang-barang mahal dengan memasukkan kuitansinya sebagai inventaris kantor itu adalah profesional pak? kenapa? ga punya modal buat pacaran? atau karena ga mau rugi nafkahin anak orang??" ucapan Aleena sukses membuat mata Alvaro terbelalak. Ya jelaslah Aleena tahu semuanya.


"Diam kau, berani sekali.. " Alvaro kehabisan kata-kata.


"Lagi pula pak, kalau saya memang berniat merusak acara ini, bukankah bapak tahu saya dapat dengan sangat mudah melakukannya tanpa mengotori tangan saya? Saya pikir bapak sudah kenal baik dengan saya, mengingat 3 tahun kebersamaan kita!!"


"Kamu... Dasaaar.. Wanita ka.." saat Alvaro hendak mengangkat tangannya untuk menampar Aleena, dari belakang terdengar suara lembut yang menggetarkan hati Aleena,


"Sayaaaang.... sedang apa disini??" Yuhuu.. pahlawan yang sebenarnya dirindukan Aleena hadir di dunia nyata.


"Da.. David..." gumam Aleena.


"Mas dari tadi nyariin kamu loh.. ternyata disini sayangnya mas" agak gimana gitu ya dengernya juga.


"I.. iya mas maaf, tadi ada sedikit masalah" jawab Aleena gugup, terpaksa ia mengikuti permainan Frey didepan Alvaro.


"Loh.. bukannya ini lelaki yang waktu itu ya?" Aleena hanya mengangguk menjawabnya.


"Apa kabar pak? ternyata anda ya yang bertunangan hari ini? Oh ya saya belum berkenalan" Frey mengulurkan tangan kanannya, dengan enggan Alvaro menerima uluran tangan itu dengan berkata


"Saya Frey, Frey David Harrison" Frey menggenggam erat tangan Alvaro sampai kulit tangannya memucat.


Seketika Alvaro terkejut mendengar nama yang tak asing itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2