
Aleena dan Rere tiba di apartemen milik Rere, yang ia sewa tahunan selama dua tahun ini. Terdiri dari dua kamar dengan balkon untuk tempat cuci dan jemur serta dapur yang bersih di sebelah kiri pintu masuk.
Aleena berniat untuk mengantarkan Rere sampai ke depan apartemen saja, tetapi entah kenapa firasatnya berkata sebaiknya Aleena ikut masuk sebentar untuk memastikan keadaan Rere.b
"Re, bukannya kamu tinggal sama ibumu? kok ga ada?" tanya Aleena yang memperhatikan Rere menyalakan setiap lampu dirumahnya. Kalau ada orang pasti lampunya sudah menyala dari tadi kan? pikir Aleena.
"Kondisi kakek sedang tidak baik-baik aja, jadi mama kadang ga pulang kadang pulang. Ini sudah seminggu mama ga pulang" Ucap Rere santai.
"Jadi selama ini kamu ga bisa tidur sendirian dirumah Re?" Aleena keheranan.
"Ya begitulah"
"Kalo gitu ga bisa Re, ayo kemasi baju mu, kamu nginep aja sama aku dirumahku" Pinta Aleena setengah memaksa.
"Lo kenapa sih.. kemaren-kemaren juga gue sendiri ga apa apa kali!" ucap Rere dengan nada juteknya, tapi Aleena tahu pasti itu bukan karena dia tak suka.
"Aku tahu Re kamu gadis kuat, aku ga khawatir sama kamu, tapi aku khawatir sama calon keponakan aku" Aleena membalas bahasa juteknya Rere.
"Gadis.. gadis.. hamil begini dibilang gadis" gerutu Rere.
Setelah perdebatan sengit antara mereka, akhirnya Rere menyerah pada Aleena. Selesai mandi dan packing beberapa baju, Rere dan Aleena kembali menuju ke parkiran, mengambil mobil Rere dan melesat membelah jalan raya menuju ke rumah Aleena.
__ADS_1
Rumah tinggal yang Diandra dan Anggi siapkan untuk Aleena memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuknya yang memang masih sendiri. Rumahnya berbentuk kotak dengan 4 ruangan didalamnya. Ada kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dapur lengkap dengan westafel, kompor dan kulkas.
Kalau dibandingkan dengan apartemen Rere memang lebih luas milik Rere, tapi Rere tidak keberatan akan hal tersebut. Harus diakui bahwa Rere sendiri takut dan gelisah selalu saat dirumah tanpa ada seorang pun kecuali dia didalam. Karena itulah Rere mengikuti permintaan Aleena tanpa banyak negosiasi.
Mereka sudah bersiap untuk tidur, di sebuah ranjang berukuran double size terbuat dari kayu. Kasur Aleena hanya kasur busa, sedang kasur di kamar Rere berbahan spring bed. Sebelum tidur Aleena memastikan kembali Rere dalam kondisi yang nyaman.
"Re.. ga apa apa kan kalo kita cuma tidur di kasur busa? pinggangmu sakit ga?" tanya Aleena memastikan.
"Aman kok leen, bukan kasurnya yang bikin gue ga enak tidur, tapi memang pinggangnya lagi ga enak aja diajak tidur" Rere berusaha menenangkan Aleena yang pada dasarnya memang ga enakan sama orang lain.
"Harusnya tadi aku aja ya yang nginep di tempat kamu" Aleena menatap ke langit-langit kamarnya.
"Iya juga sih.. itu pertimbangan aku juga" Aleena menimpali.
"Pas tau gue hamil, awalnya gue langsung browsing tempat aborsi Leen" Aleena terkejut bukan kepalang. Saking terkejutnya ia merubah posisi dari telentang menjadi duduk. Kemudian ia menarik nafas dalam lalu berusaha menenangkan diri sendiri dengan menyandarkan kepalanya ke dipan kayu.
"Jujur gue takut.. gue takut menerima banyak hujatan dari orang-orang kantor, gue juga takut sama nyokap gue karena pasti gue dibilang murahan" Aleena meraih tangan Rere tanpa berkata apa-apa.
"Gue merenung berhari-hari untuk memantapkan hati gue, akankah gue terima anak ini atau gue... " ucapannya terputus dan disusul dengan tangisan lirih dari Rere. Aleena berusaha untuk tidak ikut menangis dengan menatap langit-langit kembali agar air matanya tertahan dan tidak sampai terjatuh, sambil tangannya mengelus-elus lembut pundak Rere.
"Maafin gue ya Leen, untung hari ini gue ketemu lu, gue ga tau kalau gue ga ketemu lu. Ga ada orang yang bisa gue ajak curhat tentang apa yang gue rasain saat ini, sampe akhirnya lu dateng Leen" tuturnya dengan air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Aleena memberikan tisu pada Rere, melihatnya yang biasa selalu terlihat kuat, cuek dan jutek, malam ini terlihat sangat rapuh dan galau, membuat Aleena ikut menjadi melankolis. Dia merasakan kesendirian yang Rere alami, karena tak jauh berbeda nasibnya. Hanya saja Aleena benar-benar sudah tak punya orang tua, sedangkan Rere masih ada ibunya walaupun tak selalu stand by disamping Rere.
"Arka belum tau?" satu kalimat dari Aleena sukses membuat Rere menghentikan tangisnya.
"Gue mau cerita sama lo, tapi jangan dipotong ya" Rere menatap Aleena dengan penuh harap, yang hanya dibalas anggukan lembut oleh Aleena.
"Hubungan gue sama Arka seperti yang udah gua ceritain ke elo, Gue mencoba membuka hati untuk ngedate selama 10 kali sama dia. Dan emang sebenernya gue mulai ada rasa buat dia, tapi karena minim pengalaman pacaran, gue terkesan kaku dalam hubungan ini" Rere menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Akhirnya sampailah pada suatu ketika Arka nganterin gue ke rumah, baru aja mau pulang tiba-tiba apartemen mati lampu dan memang kondisi di luar lagi hujan besar. Mau nggak mau akhirnya gua ajak Arka untuk masuk ke dalam apartemen sambil menunggu lampunya nyala lagi. Di situlah pada akhirnya gue merelakan sesuatu yang berharga dengan penuh kesadaran pada Arka. Setelah itu kita sempat melakukannya berkali-kali walau tidak dalam waktu yang berurutan. Seperti kesepakatan di awal antara gue dan Arka, kita backstreet dari anak-anak kantor. Hingga suatu hari ada project yang mengharuskan tim Arka join dengan tim marketing seperti yang udah lu denger dari Aira dan Nania. Nge-date gue belum nyampe sampe 10 kali, tapi kayaknya Arka udah mulai sibuk lagi dengan projectnya kali ini. Sekitar 1 bulanan ini gue udah jarang lagi berkomunikasi dengan Arka sampai tanpa sengaja gua mergokin Arka ciuman sama cewek itu di tangga darurat, tapi gue yakin Arka nggak tahu kalau gua pergokin. Padahal awalnya gue pengen banget ngasih tahu Arka bahwa Gue hamil" terdengar suara Rere lebih tenang dari sebelumnya.
"Gimana Gua bisa ngasih kabar ini kalau Arka sendiri sekarang lagi menikmati kedekatan dengan cewek lain. Gue jadi berpikir mungkin ini Karma gue karena sempat nolak dia berkali-kali selama 2 tahun ini" Air mata Rere mengalir kembali di pipinya tanpa ada suara isakan.
"Jadi gue rasa Arka nggak perlu tahu tentang kehamilan gue ini, sampai saatnya nanti perut gue membesar gue akan berhenti kerja dan pergi sejauh mungkin dari kota ini dengan kenangan terindah yang gue bawa dari Arka" lanjut Rere walaupun agak ragu, tapi matanya berusaha untuk tegar.
Malam itu akhirnya Rere menumpahkan semua rasa di hatinya, hanya kepada Aleena. Kondisi yang ia alaminya ini baru Aleena saja yang mengetahuinya dengan baik.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00, saat Aleena melihat kearah Rere, Aleena dapat bernafas lega karena teman yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu tidur dengan lelap. Barulah saat itu Aleena bisa tidur juga menyusul ke alam mimpi sambil tetap menggenggam erat tangan Rere yang tak terusik dengan sentuhan Aleena.
Malam yang damai itu membuat mereka tidur lelap dengan menyimpan semua kenangan dan melupakan sejenak luka yang menganga, sebelum esok akan ada cerita baru yang menghampiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1