
Aleena hanya bengong melihat Rere yang sepertinya tampak nyaman berada di genggaman Arka. Ingin sekali Aleena memberondong berbagai pertanyaan kepada mereka berdua, akan tetapi Aleena merasa canggung jika harus mempertanyakan semua itu di depan Arka.
Aleena meletakkan buah-buahan yang dibawa nya di meja samping brankar. Ia hanya bisa menatap kedua temannya itu dengan datar.
"Gimana Re, sudah lebih baik?" tanya Aleena.
"Udah kok ya sayang..." Arka yang menjawab sambil mengelus-elus lembut rambut Rere.
"Apa kata dokter?" tanya Aleena.
"Rere itu ga boleh stress katanya, dan kayak nya dede bayi memang maunya deket ayahnya makanya udah lebih sehat ini" Lagi Arka yang menjawab pertanyaan Aleena.
"Re..." Hanya kata itu yang keluar, tapi sudah dapat mewakili semua yang dimaksud oleh Aleena. Mulai dari Kenapa mereka bisa akur? Sejak kapan mereka bisa akur? Kenapa Rere bisa diam? Kenapa semua pertanyaan Arka yang jawab? dan kenapa lain-lain halnya yang membuat Aleena kebingungan.
"Iya Len, aku baik-baik saja kok Kata dokter aku cuman butuh istirahat. dan nggak boleh stress karena sumber stress aku sekarang ada di sini. dialah sumber stress aku sekaligus pengobat stresnya aku, Maafin aku ya Len banyak ngerepotin kamu" Rere berkata dengan tulus.
"Baru aja aku mau marah yank sama kamu" Sela Arka.
"Ka.. Aleena ini sudah tahu kisah kita sejak kita di Jepang, jadi aku berani untuk menceritakan kisah kita ini kepadanya. Dan dia sudah tahu semuanya tentang kita" ucap Rere.
"Oh, Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak Aleena atas perhatiannya selama ini sama calon istriku".
Kemudian Rere meminta Arka untuk makan siang dulu, karena sudah ada Aleena jadi Arka tidak perlu khawatir meninggalkan Rere disana.
Setelah Arka meninggalkan mereka berdua, Rere pun menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Arka saat ia sudah sadar dari pingsannya tadi.
Rere mengungkapkan kebahagiaan nya, walaupun sebenarnya ia belum tentu merasa lega akan semua yang telah terjadi.
Aleena yang melihat perubahan ekspresi Rere yang sekarang terlihat lebih tenang, kembali jutek dan merasa lebih lepas saat bercerita, membuatnya menyimpulkan bahwa memang Arka-lah jawaban dari semua kegelisahan Rere selama ini.
__ADS_1
"Jadi Rencanamu sekarang apa Re?" tanya Aleena.
"Katanya Arka mau ngelamar gue Leen minggu-minggu ini. Tadi gue tanya sama Arka, kira-kira ortunya nerima gue gak? Arka tuh ngerasa yakin banget ortunya bakal nerima gue bahkan seneng kalau tahu gue hamil. Aneh ga sih menurut lo?" selidik Rere.
"Udah deh, ga usah mikirin yang macem macem, sekarang fokus dulu sama kesembuhan kamu dan bayimu Re, sebagai sahabat aku hanya bisa mendoakan yang terbaik ya buat kamu.." ucap Aleena lembut.
Hari sudah senja, Aleena memutuskan untuk berpamitan kepada kedua sejoli yang baru saja merajut asa bersama, merencanakan konsep pernikahan. Dan bisa kalian tebak dong, siapa yang akan menjadi WO dalam moment sakral mereka nanti. Ya, sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. Masalah sahabat selesai rezeki pun lancar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seminggu telah berlalu dari saat Rere meninggalkan rumahnya untuk kembali ke apartemen dan fokus mempersiapkan pernikahan mereka yang akan dilangsungkan sekitar 1 bulan lagi.
Rere bercerita bahwa kehadirannya diterima dengan sangat baik oleh keluarga Arka, bahkan memang ketika mereka berdua bilang kalau Rere sedang hamil, Ibunya bukan marah atau bersedih, tapi malah senang dan menyambutnya dengan baik.
Arka adalah anak tunggal yang kehadirannya sudah lama dinantikan oleh kedua orangtuanya. Setelah menunggu sekian tahun, akhirnya lahirlah Arka. Sudah sejak lama orangtua nya meminta Arka untuk menikah, karena orangtuanya sudah ingin menimang cucu.
Orang tua Arka sebenarnya ingin memiliki banyak anak, tapi memang takdir berkata lain, sehingga sampai saat ini mereka mendapatkan satu putra saja, jadi mamanya Arka sangat berharap memiliki cucu yang banyak dari Arka.
Rere juga pada akhirnya harus resign dari pekerjaannya dan itupun Arka yang mengurus segala sesuatunya sendiri. karena ia tidak ingin sesuatu terjadi apa-apa kepada Rere dan Bayi nya jika harus bulak balik ke kantor.
Sejak kepulangannya dari rumah sakit, Aleena belum sempat bertemu lagi dengan Rere, mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan berkirim pesan atau telponan. Oleh karena itu, walaupun belum bertemu secara langsung, Aleena selalu tahu kondisi Rere pada saat ini.
Setelah menghabiskan sekitar 15 menit berkirim kabar via telpon, Aleena memutuskan sambungan telpon itu kemudian melanjutkan aktivitasnya menyusun jadwal acara dan menyesuaikan dengan vendor yang ready bekerja sama dengannya. Namun kemudian aktivitasnya terganggu karena ponselnya kembali berdering.
"Halo kak... " Sapa Aleena
"Hai Leen.. gimana kantor aman?" tanya Anggi tanpa basa basi.
"Aman kak, sejauh ini tidak ada komplein yang membuat grade kita turun. Ulasan di internet juga bagus-bagus kok kak" jawab Aleena percaya diri.
__ADS_1
"Oh.. oke-oke pokoknya kakak percaya deh sama kamu"
"Oh iya Leen, siapa ya penanggung jawab acara atas nama Frena??" tanya Anggi lagi.
"Saya kak, kenapa? Ada catatan khusus kah?" Aleena tiba-tiba deg-degan karena Frena merupakan klien pertamanya.
"Oh.. kalau begitu kamu pasti datang ya Leen di acara itu?"
"Iya kak.. memang prosedurnya demikian kan?" Aleena memastikan.
"Oke deh Leen kalau begitu, nanti pakaiannya jangan terlalu formal ya, soalnya keluarga kita juga diundang untuk hadir di acara itu jadi kamu jangan terlalu kelihatan kerja"
"Oh oke siap deh mbak"
Kemudian sambungan telpon itu pun terputus dan Aleena kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disudut kota lainnya, seorang lelaki tampan yang menggunakan kemeja abu dan celana panjang abu tua tengah menyeruput kopinya dengan tatapan kosong.
"Gue sebenarnya cape kalo harus ngomongin masalah pernikahan sama mami. Gue masih pengen bebas kesana kemari" keluhnya pada sahabat yang berada tepat di hadapannya. Ice Coffenya baru sedikit ia sesap.
"Lu udah ga bisa lari lagi bro... udah terima aja siapa tau cewek ini memang jodoh lu.." jawab Noval yang masih memainkan ponselnya.
"Masalahnya kalau lu kabur lagi, gue nih yang diteror, kasihan apa bro sama gue" Noval memelas.
"Tapi gimana kalau misalnya gua tuh nggak serep sama cewek itu? kan cinta itu nggak bisa dipaksa Bro!!"
"Hahaha, cinta Jangan ngomongin tentang cinta kalau karena cinta aja pengorbananmu jadi sia-sia. udahlah terima aja, biar lu cepat move on juga. Sedih sih karena ngejagain jodoh orang" Cela Noval.
__ADS_1
Noval tidak tahu saja bahwa sebenarnya Frey sudah lama move on dari Carla dan bahkan sudah menemukan pengganti yang sesuai dengan kenyamanan hatinya. Akan tetapi memang dia masih belum bisa bercerita bahwa dia ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Tentu saja itu akan membuat harga diri Frey jatuh di hadapan karyawannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...