Lika Liku Kisah Cinta Aleena

Lika Liku Kisah Cinta Aleena
Bab 64


__ADS_3

Frey melangkahkan kakinya menuju ruangan tanpa beban sedikit pun. Ia merasa lega karena acaranya kemarin kerjasama dengan pihak Jepang sudah selesai dan sukses. Perusahaan pun mendapatkan banyak keuntungan dari acara kemarin. Ditambah lagi dengan bantuan dari Yukita membuat bisnisnya semakin mudah untuk terselesaikan.


Baru saja ia mendudukkan diri di kursi kesayangan, Frey melihat handphonenya berdering, Lovely Mami memanggil.


"Hallo mam.. " Sapa Frey lembut.


"Hallo sayang, Aleena sudah sampai?" tanya mami Ravina.


"Haah.. Aleena?" Frey bingung.


"Iya tadi mami mau antar Aleena pulang, tapi katanya dia mau pulang bareng aja sama kamu, makanya tadi kita antar Aleena ke kantor kamu. Cuma ini mama kirim pesan kok belum dibalas. Mama khawatir soalnya tadi Aleena minta dianter sampai pertigaan aja katanya"


Frey terdiam sejenak, sambil mencerna kata-kata maminya. Berarti yang tadi disampaikan Dans itu benar. Apa itu artinya?


"Emh.. emang mama mau tanya apa sama Aleena?" Frey mencoba menutupi kekhawatirannya.


"Itu, Aleena itu sukanya warna apa ya?" tanya mami


"Dusty Purple mam"


"Oh.. ya udah. Oh ya jangan lupa ajak Aleena makan, tadi kita ga sempet makan dulu" kemudian sambungan telpon itu pun terputus.


Frey langsung merapikan mejanya dan keluar dari ruangannya dengan wajah yang bisa dibilang mulai panik.


"Dans.. jadi benar Aleena tadi kesini?" Dans yang tersentak hanya bisa mengangguk.


"Sejak kapan? eh.. tepatnya berapa lama tadi dia kesini?"


"Mungkin hanya 10 menit, tadi miss Aleena pulang pun tanpa pamit pada saya, berjalan sambil menerima telepon penting sepertinya"


"Baiklah, Dans kau boleh pulang cepat hari ini" Frey pun berlalu sambil memainkan ponselnya berusaha menghubungi Aleena.


Frey sampai di tempat parkir. Ia tak tahu harus kemana, sudah 5x panggilannya tak dijawab oleh Aleena.


Frey baru berpikir, ini rasanya ketika Aleena tidak mendapatkan jawaban dari pesan yang dikirimkannya ke Frey saat ia di Jepang dulu. Tapi Frey bingung harus bertanya kepada siapa mengenai keberadaan Aleena saat ini?


Sampai pada panggilan ke 10, baru telpon itu diangkat.


"Sayang.. kamu dimana?" Tanya Frey selembut mungkin.


"Gue Angga" jawab suaranya seberang sana yang membuat Frey tersentak kaget.

__ADS_1


"Lo?!? kenapa hp Aleena ada di lo??!!" Frey marah.


"Ga usah kasar, Aleena ada di Rumah Sakit Persada deket restoran yoshinoya" tanpa mengucapkan terima kasih, Frey langsung tancap gas menuju lokasi yang disebutkan Angga.


"Kenapa ada di rumah sakit? Dia kah yang sakit? kenapa ada Angga?" pikiran itu terus berkecamuk dalam diri Frey. Menahan segala emosinya, Frey akhirnya berhasil sampai di rumah sakit dengan selamat. Diandra sudah menunggunya di depan rumah sakit.


"Frey..." Teriak Diandra saat melihatnya tengah celingak celinguk. Frey langsung menoleh dan menghampiri Diandra, berusaha tenang karena ia berhadapan dengan calon abang ipar.


"Kenapa Aleena disini, Dra?" Frey tak bisa menahan untuk tidak bertanya.


"Istri gue lahiran" jawab Diandra, yang mendapat tanggapan "Oh" dari Frey. Namun kemudian Frey kembali berpikir, jika karena Anggi lahiran, kenapa Angga yang mengangkat telpon milik Aleena.


Mereka tiba di ruang perawatan VVIP Anggi, disana sudah ada om Damar, Tante Amira, Boy dan Angga. Ruangan VVIP itu sangatlah besar, dengan satu bed besar untuk pasien disampingnya ada box bayi dekat jendela, om dan tante sedang ada disana. Sedangkan Angga dan Boy tengah duduk di sofa panjang.


Frey menyalami semua yang ada di sana, tapi wajahnya tak ramah kepada Angga. Ia juga mencari sosok yang mengganggu pikirannya sejak tadi.


"Aleena dimana?" tanyanya entah pada siapa.


"Disini kak" Seru Rinaya yang tiba-tiba muncul di sebuah ruangan yang hanya di sekat oleh gorden. Frey langsung menghampiri dan melihat Aleena sedang tertidur dengan tangan yang diinfus.


Frey langsung mengambil posisi untuk duduk di samping brankar Aleena berlawanan dengan Rinaya. Suasana ramai di sebelahnya tidak sama sekali mengganggu Aleena yang terlelap.


"Kak Aleena tadi langsung pingsan pas sampe disini, kata dokter dia kena tipus, ditambah maag nya kambuh. Untung ada ka Angga, kalau enggak ga tau deh gimana jadinya..." Frey hanya menyimak penjelasan Rinaya, ia mengusap-usap dahi Aleena dan menciumnya di depan Rinaya, seraya berkata "Maafin aku ya sayang" dengan lirih.


Aleena terbangun ketika suasana di ruangan sudah sepi dan hanya Frey yang terlihat ada di sisinya sekarang.


"Gimana? sudah membaik? ada yang sakit?" tanya Frey khawatir. Aleena hanya terdiam sejenak mengamati keadaan sekitarnya. Mereka berdua berada didalam satu ruangan yang sama namun masih ada privasi yang bisa dijaga.


"Makan dulu yuk, katanya kamu belum makan dari pagi?" Ucap Frey sambil mempersiapkan makanan yang sudah tersaji untuknya.


"Rinaya mana?" tanya Aleena tanpa memperdulikan perhatian Frey.


"Sudah pulang, besok dia ada presentasi di kampus nya. Malam ini aku yang stand By disini" Frey berkata selembut mungkin.


"Aku bisa sendiri" ujar Aleena dengan datar.


"Aku tahu, tapi aku tak akan membiarkan itu. Kau tahu, om dan tante mu menjadi CCTV kita dari tadi. Kira-kira apa yang akan mereka pikirkan jika aku meninggalkanmu disini sendirian, mana tadi juga bukan aku yang membawa mu kesini" Frey berbicara dengan berbisik, ia sengaja menjadikan om dan tantenya Aleena sebagai alasan.


Beberapa kali Frey membujuk Aleena untuk makan, tapi Aleena masih tak bergeming. Sampai akhirnya om dan tante membuka penutup tirai di kamar itu untuk melihat kondisi Aleena sebelum mereka pulang.


"Gimana Leen, sudah baikan?" tanya Damar.

__ADS_1


"Sudah nih om, tante" jawab Aleena singkat. Frey memanfaatkan situasi ini untuk menyiapkan meja makan yang terlipat di tengah badannya yang tersambung dengan brankar.


"Om dan tante ga usah khawatir, ini juga Aleena mau makan. Nanti setelah ini baru Aleena istirahat lagi" Tutur Frey, Aleena tidak berkutik karenanya.


"Terima kasih ya nak Frey, tante senang sekarang ada orang baik yang bisa melindungi Aleena. Mas mu pasti bangga sama kamu mas, kamu bisa melindungi Aleena dengan baik" tante Amira merasa terharu karenanya.


Aleena semakin tidak berkutik dengan pernyataan tante Amira. Selama ini memang merawat Aleena merupakan tanggung jawab yang besar untuk mereka. Aleena merasa sudah cukup untuk merepotkan mereka di masa tuanya. Dan Frey salah satu yang bisa membuat mereka melepaskan Aleena dengan lega. Tapi di sisi lain, Aleena sangat takut untuk terluka lagi mengingat Frey yang masih dekat dengan Yukita.


Sedangkan Frey merasa semakin menang dan dapat mengikat Aleena dengan alasan om dan tantenya. Padahal sejujurnya dia ingin menjadikan Aleena wanita seutuhnya untuk dia.


Aleena hanya berhasil menyelesaikan setengah porsi dari makanannya. Dengan telaten Frey merapikan kembali perlengkapan makan yang sudah digunakan. Om dan tante sudah pulang, kini tirai pun sudah tertutup kembali. Tinggal Aleena, Frey, Anggi dan Diandra yang berada di ruangan itu. Sedangkan sang bayi sudah di tempatkan di ruang bayi kembali.


"Maaf... " tiba-tiba Frey mengucapkan kata itu.


"Tadi Yukita datang ke kantor untuk mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal karena kerja sama kita sudah selesai" lanjut Frey, Aleena masih terdiam.


"Aku hanya berpikir bahwa kita bersahabat jauh sebelum aku mengenalmu jadi pelukan terakhir itu sebagai tanda persahabatan saja bagiku" Frey berkata lagi.


"Bagaimana dengannya? apa dia juga berpikir demikian?" tanya Aleena jutek.


"Apakah penting perasaannya itu? yang penting kan perasaan ku padanya tidak lebih"


"Bagaimana kalau dia berharap lebih"


"Dia sudah pergi Aleena, toh sebentar lagi kita akan menikah. Kita akan umumkan ke dunia bahwa aku adalah pasanganmu"


"Bahkan orang yang menikah belasan tahun pun bisa bercerai karena pelakor Dav.." Aleena menitikkan air mata.


Entah kenapa Frey langsung merasa bersalah, ia mendekati Aleena dan membawa kepalanya ke dalam dada bidang Frey. Tanpa sadar Aleena melingkarkan tangannya di pinggang Frey.


"Maafkan aku.. ini terakhir kali aku menerima pelukan dari wanita lain selain kamu dan keluargaku. Aku janji" Aleena hanya mengangguk tanpa merubah posisinya. Yah.. itulah mereka sama-sama mulai suka, mulai cemburu tapi belum bisa mengakui perasaan masing-masing.


"Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa kamu bisa kesini bareng Angga?" Aleena melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


"Tadi aku ketemu dia di lobi kantormu, katanya dia sedang negosiasi. Gak sengaja. Dia lihat aku meringis dan aku udah ga kuat jalan, dia bantuin aku untuk sampai disini terus dari dalam mobil itu aku udah merasa gelap. Dan ga tau lagi"


"Ya udah kali ini dia kumaafkan, lain kali telpon aku atau Dans saja"


"Kamu kan sibuk sama dia.. " sindir Aleena.


"Ya sudah ayo istirahat sudah malam dan waktunya tidur"

__ADS_1


Ada rasa lega diantara keduanya. Mereka belajar untuk saling memahami meski kesalahpahaman akan selalu ada. Mengingat mereka bukan ABG lagi yang segala sesuatunya itu harus selalu diselesaikan dengan emosi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2