
Goes to Japan...
Setelah berbagai dokumentasi yang dibutuhkan Aleena untuk pergi ke Jepang itu lengkap, Asti pun segera mengurus pergantian nama yang dibutuhkan.
Seperti yang dijelaskan Noval dalam rapat beberapa hari yang lalu, hanya ada lima orang yang akan mengikuti perjalanan bisnis ini, yaitu Leo, Rere, Aira, Arka dan Aleena. Sedangkan Nania yang sangat menginginkan ikut dalam perjalanan ini harus gigit jari karena ia satu divisi dengan Rere.
Leo sudah lama bekerja di Harrison Collection sebagai Designer garment, oleh karena itu ia akan memaksimalkan waktu yang bisa digunakan untuk cari muka pada bos nya yang jarang sekali dapat ditemui itu. Sedangkan Arka sang visual merchandiser, tipe yang easy going jadi tak peduli siapapun di sekitarnya, ia akan bekerja sesuai jobdesk.
Rere sebagai konsultan Fashion, wanita jutek yang tidak mudah tertarik pada laki-laki. Termasuk tipe wanita karier banget, ga suka sama cowok dingin yang belagu, dan karakter itu menurutnya ada pada diri bos nya. Berbanding terbalik dengan Aira si Fashion Stylish yang diam-diam menjadi pemuja rahasia bosnya. Aleena berada di tengah-tengah, ia belum kenal dengan bos mereka jadi, ia bukan pemuja rahasia bosnya ataupun haters.
Mereka berlima sudah berada di bandara pagi-pagi sekali, keberangkatan jam 7 pagi membuat mereka harus stand by disana pukul 5 pagi, otomatis berangkat pun harus lebih pagi.
Mereka duduk secara berurutan di pesawat, Aleena berada di tengah-tengah antara Aira dan Rere.
"Re.. Mr. Frey ga bareng sama kita?" tanya Aira sambil celingak-celinguk mencari sang atasan.
"Hemh.. yang enggak-enggak aja, mana pernah sekelas wakil direktur berangkat dengan pesawat ekonomi sekelas kita" sahut Rere sinis.
"Iya juga ya..." Aira manggut manggut.
"Leen, kayaknya ini bukan pertama kali ya kamu naik pesawat?" tanya Rere pada Aleena yang sedang sibuk menyiapkan handsfree nya.
"Emh.. iya, aku sudah beberapa kali naik pesawat, tapi ga pernah sejauh ini. makanya e-pasport ku masih aktif" jawab Aleena.
Setelah bercerita panjang lebar dan berkenalan lebih dekat, mereka pun memutuskan untuk beristirahat. perjalanan yang ditempuh sekitar 12 jam menuju bandara Internasional Tokyo.
Aleena hanya memandang keluar jendela walaupun tidak langsung berada di dekat jendela. Ia teringat bahwa ibunya pernah bercita-cita untuk dapat liburan bersama ke suatu tempat, tak harus jauh tapi bertiga saja. Bukan tanpa alasan ibunya berkata demikian, Rinaya dari awal sangat tidak menyukai Aleena yang meninggalkan rumah dan jarang sekali pulang. Sekalipun pulang Aleena tidak pernah menginap, oleh karena itu Rinaya kesal karena kakaknya terkesan tidak peduli. Hal tersebut membuat hubungan mereka renggang, oleh karena itu sang ibu sangat berharap bisa liburan bareng untuk menjelaskan keadaan yang rumit ini.
Tapi sebelum hal itu benar-benar terjadi, Sang ibunda sudah lebih menemukan kedamaian. Aleena terbangun setelah menyadari bahwa ia sempat ketiduran dan bertemu dengan orang yang ada dalam pikirannya, kemudian tersenyum menatapnya seolah berkata "Tak apa-apa, Mama sudah bahagia".
Tak terasa setetes air mata mengalir melalui salah satu sisi matanya. Aleena bergegas menghapusnya. Dilirik teman di kanan dan kirinya, ternyata mereka pun tertidur pulas.
Perjalanan yang panjang itu sudah mereka lalui, kini mereka sudah sampai di hotel tempat mereka menginap. Fasilitas hotel yang mereka tempati cukup mewah untuk ukuran perjalanan bisnis. Aleena, Rere dan Aira berada dalam satu kamar. Sedangkan, Leo dan Arka juga satu kamar tepat di sebelah mereka.
Notifikasi pesan masuk berbarengan ke masing-masing handphone karyawan tersebut. Pesan itu mengingatkan tentang pekerjaan pertama yang akan mereka lakukan.
Didalam pesan tersebut intinya mengingatkan untuk mengadakan rapat pertama dengan sang Wakil Direktur yang katanya dingin itu sekitar 1 jam yang akan datang. Aira yang sangat antusias ingin tebar pesona, segera mengeluarkan perlengkapan make-up nya. Pesan itu juga mengingatkan agar para karyawan menggunakan pakaian hangat karena udara musim semi cenderung dingin dan sudah malam pula.
"OMG.. gue tuh udah ga sabar banget bisa ketemu babang ganteng pencuri hati, gimana.. gimana.. outfit aku hari ini udah keren belum??" Aira memutar-putar badannya didepan kaca sambil mengecek beberapa bagian dari pakaiannya.
Rere yang risih melihat Aira menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian kembali fokus memakai maskara.
"Kenapa Re, biasa aja ya re?" Aira yang memperhatikan ekspresi Rere langsung merubah wajah sumringahnya menjadi cemberut yang dipaksakan.
__ADS_1
"Leen.. giman Leen??" Aira mencari pembelaan.
Aleena melihat Aira sejenak dengan fokus, kemudian berkata "Bagus kok.. kombinasi warna oke, untuk model gaunnya juga cantik" Aira kembali tersenyum mendengar ucapan Aleena. Dipandangi kembali dress selutut berwarna pink bercorak purple flower, kemudian ia juga menggunakan jaket model khusus perempuan berwarna dusty pink polos.
"Lu tuh cantik Ra, cuma gue ga suka lu yang terlalu berlebihan cuma buat dipandang sama WaDir (wakil direktur)"
"Ya.. namanya juga usaha Re.. kasih semangat kek ya..."
"Bukan apa-apa ra, takutnya ketinggian ntar kalo nyusruk itu bisa bedarah, kulit lu ntar enggak mulus lagi!!"
Aira dan Rere, antara fans dan hater sang Wadir membuat Aleena menggelengkan kepalanya bingung sendiri.
"Udah yuk.. daripada kalian berantem, ayolah kita jalan sekarang." ajak Aleena.
"Sekarang banget?? aku belum pake conselor, ombre lipstik. tungguin dong..." Aira mulai panik.
"Makanya dari tadi tuh jangan banyak gaya, jadi ga kelar-kelar kan" Rere masih aja menanggapi Aira dengan sinis, walaupun bukan julid ya itu, dan Aira yang sudah kenal karakternya Rere pun tidak mudah merasa tersinggung.
"Iya Ra, takutnya kita nanti kesasar atau gimana kalau telat kan ga enak jatohnya nanti pas ketemu atasan" Timpal Aleena.
"Iya, Iya, sebentar lagi aku beres nih.."
Dan.. 15 menit kemudian Aira baru menyelesaikan riasannya yang katanya sangat sederhana sekali. Begitu keluar dari kamar, wangi parfumnya langsung tersebar menuju ke hidung Aleena dan Rere.
"Ampun deh ini parfum... lu pake sebotol ya Ra??" keluh Rere.
Hemh.. ini tom and jerry ga kelar-kelar kalo udah berantem, pikir Aleena.
Kemudian mereka pun menuju keluar kamar dan ternyata Leo dan Arka sudah stand by didepan sana.
"Humh.. siapa yang pake parfum sama botol-botolnya ini??" Keluh Leo. Yang merasa hanya melengos dan langsung menuju ke lift,
"Ayo ah.. takut pujaan hatiku nunggunya kelamaan ntar" Aira berkata sambil melenggang menuju ke lift. Keempat temannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dari hotel menuju ke tempat makan memang tidak terlalu jauh. Mereka hanya berjalan kaki melewati beberapa ruko. Karena berada di jalan besar, jadi tidak sulit untuk mereka menemukan restoran yang dimaksud.
Setibanya di restoran, sang pelayan menanyakan apakah sudah reservasi atau belum. Setelah menyebutkan nama pemesan yang tak lain adalah nama asisten dari sang Wadir yaitu Dans.
Pelayan itu mengantarkan mereka menuju sebuah ruangan persegi sebesar ukuran kamar kos Aleena dan ternyata disana Mr. Dans sudah menunggu mereka.
Setelah duduk di posisinya masing-masing, Leo dengan sigap mengambil buku menu dibawah meja tatami, ya Leo memang sudah biasa makan di restoran jepang seperti ini, dan memang tak jauh beda antara restoran Jepang di Indonesia dan di negaranya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Aleena terlihat mengamati design ruangan tersebut dengan tatapan yang bergerak sangat pelahan.
"Baik teman-teman semuanya, kalau sudah berkumpul saya akan menjemput Mr. Frey sekarang. Untuk makanan sudah saya pesankan dan saya yakin kalian akan menyukainya. Sedangkan untuk minuman, silahkan pesan jika ada tambahan yang diinginkan. Kalau begitu saya permisi" tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Dans langsung keluar ruangan.
"Baru juga mau nyobain menu yang mahal-mahal, eh ternyata udah dipesenin duluan makanannya" Gerutu Leo.
"Bukannya enak Le, jadi kita ga perlu nunggu lama untuk makan, laper banget nih" Entah karena beneran laper, entah karena Aira yang pro sama Wadir, otomatis pro juga sama apapun kebijakannya, sekalipun disampaikan oleh asistennya.
"Kita kan cuma jalan kaki kesini, kenapa juga pake harus dijemput" celetuk Rere.
"Namanya juga atasan Re, pasti diistimewakan lah..." timpal Arka yang dari tadi juga sibuk mencari minuman.
"Ya itu namanya standar keselamatan. Walau bagaimana pun dia itu orang penting buat perusahaan kita. Lagian kalian ribet banget sih.. toh dia juga bayar mahal kok untuk itu" Aira menimpali dengan ekspresif.
"Udah nih ah pilih menu aja sih, daripada kalian ribut ga jelas" Seru Leo sambil menyerahkan buku menu ke tangan Aleena.
"Gue mau ngopi ah, masih jetlag nih butuh yang pahit, hidup gue udah terlalu manis soalnya" ucap Arka,
"Lu Vanila latte kan ya, Re" Tanya Arka pada Rere.
"Iya boleh deh" jawab Rere.
" Aku coklat hangat aja deh ya" seru Aleena.
Tak berapa lama beberapa pelayang datang dan menyajikan makanan dengan berbagai menu yang sudah terhidang. Leo yang awalnya menggerutu karena tak bisa memilih menu makanan pun membuatnya langsung tergiur hingga hampir mengeluarkan air liur.
Aleena memandang makanan di hadapannya, beragam bentuk sushi dan seafood. Tiba-tiba ia teringat akan moment saat bersama dengan laki-laki bernama David. Entah dimana dia sekarang, pikir Aleena.
Tapi kemudian, Aleena teringat akan kejadian romantis mereka di kolam renang waktu itu, tanpa disadari Aleena tersenyum malu mengingat ciuman itu. Rupanya perubahan rona wajah Aleena terbaca oleh Rere,
"Kenapa Leen? ada yang sakit? apa lu alergi seafood?" seketika itu keempat temannya langsung menatap Aleena dengan fokus.
"Hah.. Aku.. aku kenapa?" Tanya Aleena sambil tertawa kecil.
"Itu mukamu mendadak merah. Lu demam ga?" Tanya Rere lagi.
"Ah.. mungkin karena perbedaan udara di sini. ga papa kok aku" Ucap Aleena, agak panik juga dia karena dikira sedang sakit.
Setelah ketukan 3 kali, pintu ruangan lesehan atas panggung itu terbuka. Masuklah kedua lelaki gagah yang gagah.
Aleena yang awalnya mau bersikap ramah untuk bertemu bos yang baru ia kenal, seketika langsung terkejut melihat wajah bos yang baru muncul dari balik pintu.
"David..." Seru Aleena dengan suara yang lembut namun dapat didengar oleh semua yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Oh.. Takdirkah ini?? Aleena bergumam dalam hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...