Living Dead

Living Dead
Bab 21 - Mencintaimu


__ADS_3

"Virus?!"


Xi Zihe mendongak, menatap mata hitam Shen Yuan. Dia merasakan dingin merayap ke tulang punggungnya.


Shen Yuan mengangguk, "Seperti yang sudah kau duga. Obat itu adalah virus zombie sialan ini."


Xi Zihe mulai berkeringat dingin, lalu apa yang terjadi?!


Shen Yuan meliriknya, dan melanjutkan, "Aku tidak mengerti satu hal. Dulu, istriku tidak langsung bermutasi menjadi zombie. Namun sekarang kecepatan bermutasi sepertinya meningkat."


Xi Zihe menelan ludah, "Apa maksudmu?"


Shen Yuan hanya mengucapkan dua kata, "Mutasi virus."


Xi Zihe mendesak Shen Yuan untuk bercerita dengan matanya, "Beberapa hari setelah itu, keadaan istriku entah mengapa menjadi semakin lemah, jadi aku dan Guo Bai memindahkannya ke tempat penelitian bawah tanah yang dikelola olehnya."


Saat itu, Shen Yuan dengan panik bertanya kepada Guo Bai, apa yang terjadi. Guo Bai masih dengan tenang membujuknya menggunakan kata-kata, berkata kalau hal itu hanyalah efek tubuh untuk beradaptasi dengan obatnya. Akhirnya Shen Yuan hanya bisa menyerahkan istrinya untuk dirawat di tempat penelitian.


Namun, hanya dalam beberapa jam, dia mendapatkan panggilan kalau ada sesuatu yang terjadi di tempat penelitian.


Dengan tergesa dia meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke tempat penelitian.


"Tapi yang kutemui adalah neraka." Shen Yuan melihat langit-langit gudang yang tertutup oleh jaring laba-laba.


Xi Zihe mulai menjadi gugup, dia meraih rokoknya dengan jari yang sedikit gemetar, kemudian menyalakannya. Setelah beberapa hisapan, dia akhirnya sedikit tenang.


Dia mendengar Shen Yuan berkata, "Saat aku memasuki gedung itu yang kulihat adalah tubuh petugas medis dan peneliti yang sudah termutilasi, seperti dicabik-cabik oleh cakar atau taring."


Potongan tubuh berserakan dimana-mana, menodai lantai yang tadinya putih bersih menjadi merah. Cipratan-cipratan darah juga memenuhi setiap sudut dinding. Gedung yang tadinya berbau desinfektan, menjadi berbau anyir darah.


Shen Yuan sangat terkejut, detik berikutnya dia khawatir dengan keselamatan istrinya. Dia berlari seperti orang gila, membuka setiap ruangan yang ada.


Sampai pada ruang terakhir, laboratorium.


Dia melihat Jiang Qinian meringkuk di sudut ruangan, mencengkram kepalanya dengan kedua tangan. Gaun rumah sakitnya ternoda darah merah, menimbulkan jejak di bawah kakinya.


Shen Yuan langsung mendekatinya, dan memeluknya. "Apa kau baik-baik saja, Qinian? Apa yang terjadi? Aku melihat banyak orang yang meninggal."

__ADS_1


Tubuh Jiang Qinian semakin menggigil saat melihat sosok Shen Yuan. Dia ketakutan, sangat ketakutan. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Saat dia sadar, tubuhnya sudah bersimbah darah seseorang. Dan dia bisa merasakan manisnya darah yang ada di mulutnya. Saat dia menyadari kalau dialah pelaku yang menyebabkan semua ini, dia langsung muntah dengan hebat. Dia menangis, dia tidak bisa disebut sebagai manusia lagi.


Dia mendorong Shen Yuan menjauh, dan berkata dengan suara yang sangat bergetar, "A-Yuan, A-Yuan, pergilah dari sini! Aku, aku bukan manusia lagi. Kumohon...pergi, pergilah!"


Shen Yuan kebingungan, "Qinian, apa yang terjadi?"


"Aku membunuhnya! Aku yang membunuh mereka semua!" Air mata menetes satu demi satu dari mata Jiang Qinian.


Shen Yuan melihatnya dengan mata yang terbuka lebar.


"Aku yang membunuh mereka, A-Yuan..." Jiang Qinian memeluk dirinya sendiri, menggigil dan menangis.


"Bagaimana mungkin-"


Jiang Qinian menyelanya, "Obatnya! Ada yang salah dengan obatnya!"


Jiang Qinian menyadari keadaan tubuhnya mulai aneh setelah obat itu disuntikkan ke dalam pembuluh darahnya. Dia memang merasa semakin sehat, namun dia menjadi mudah lapar. Bukan lapar karena makanan, melainkan lebih seperti haus darah. Dia sudah makan lebih banyak, namun itu tidak bisa memuaskannya hingga membuat tubuhnya melemah. Dia sangat kelaparan hingga perutnya sakit seperti akan putus, dan saat dia sadar, dia sudah menjadi pembunuh kanibal.


Obat itu?


Tubuh Jiang Qinian di depannya mulai bergetar dengan hebat, bahkan dia mengalami sesak napas.


Shen Yuan mendekatinya tanpa berpikir. Namun sebelum dia bisa bergerak dia mendengar Jiang Qinian berteriak, "Jangan mendekat! Kumohon, A-Yuan jangan mendekat!"


Jiang Qinian dengan cepat mundur beberapa langkah.


Jiang Qinian memaksakan kesadarannya agar tetap terjaga, namun tubuhnya sangat bergetar hingga dia tidak sanggup berdiri. Pembuluh darahnya mulai berubah menjadi hitam. Bahkan kuku dan bibirnya menjadi gelap, matanya berangsur-angsur menjadi merah.


"Tetap di sana! Aku tidak akan bisa mempertahankan kesadaranku lagi, aku mungkin akan melukaimu."


Lampu pada ruang laboratorium berkedip dengan gila, Shen Yuan mendengar Jiang Qinian berkata dengan lirih, "Bunuh aku."


"Apa?" Shen Yuan tidak bisa mempercayai telinganya, menatapnya dengan mata terbuka lebar.


Namun Jiang Qinian mengulanginya dengan tegas, "Bunuh aku. Aku sudah menjadi pembunuh. Aku bukan manusia lagi, A-Yuan..."


"Tidak!" Shen Yuan meraung dengan seluruh tenaganya, terdengar sedih dan putus asa, terasa sangat menyayat hati. "Aku pasti akan menyembuhkanmu! Kau akan segera baik-baik saja! Tunggu sebentar, aku pasti- "

__ADS_1


"Kumohon! A-Yuan, aku lebih memilih mati daripada menyakitimu."


Jiang Qinian menangis dengan sedih dengan mata merahnya. Perlahan air mata mulai terbentuk juga di mata Shen Yuan, perlahan mengalir mengikuti garis pipinya, menetes dengan tenang ke atas lantai.


Jiang Qinian menghapus air matanya, memaksakan dirinya untuk tersenyum, "Tolong jaga putri kita."


Shen Yuan berusaha menelan ludah, rasanya sangat sakit, seperti menelan sebuah kerikil.


Shen Yuan berjalan maju selangkah, dan selangkah lagi hingga bertambah cepat, dia meraih Jiang Qinian dan memeluknya. Jiang Qinian tahu dia seharusnya mendorong Shen Yuan menjauh, namun kelembutan yang diberikan oleh pelukan hangat ini terasa sangat berharga hingga dia tidak ingin melepaskannya. Setidaknya sebentar lagi saja...


Jiang Qinian menangis dengan keras hingga tubuhnya bergetar hebat. Shen Yuan memejamkan matanya, memeluknya erat-erat dengan air matanya yang mengalir di pipinya.


Jiang Qinian menangis dan tersenyum, "Terimakasih, terimakasih A-Yuan, aku sangat bahagia."


"En."


Tubuh Jiang Qinian semakin bergetar, hampir tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Dia tersedak, "Aku mencintaimu."


Pelukan Shen Yuan semakin erat, dengan lembut dia berbisik, "Aku juga mencintaimu.


Mata Jiang Qinian yang basah dipenuhi dengan perasaan lega, setidaknya dia bisa melihat dan mendengar suara orang yang dicintainya untuk terakhir kalinya.


Jiang Qinian menutup matanya, namun saat mata itu terbuka lagi, mata itu sudah sepenuhnya berwarna merah. Hanya rasa haus darah yang terlihat di dalamnya, dia sudah tidak mengenali orang tercinta yang memeluknya dengan erat itu.


Tubuh Jiang Qinian mulai meronta, dia mengeluarkan raungan, berusaha keras untuk menyerang Shen Yuan. Namun Shen Yuan dengan keras menahannya di pelukannya.


Shen Yuan meraih sebuah pisau bedah, yang jatuh tidak jauh dari kakinya. Dia menahan tangannya yang bergetar hebat dan mencengkram pisau itu dengan erat. Dengan air mata yang berlinang, Shen Yuan mengarahkan pisau itu ke leher orang yang dicintainya.


Crash


Pisaunya datang secepat kilat, memotong hingga tulang leher Jiang Qinian. Tubuh yang sudah tak bernyawa itu jatuh merosot ke dalam pelukan Shen Yuan. Shen Yuan terus memeluknya, tidak berani melihat ekspresi yang ada di wajah itu.


Shen Yuan bisa merasakan hangatnya darah yang mengalir menuju kemejanya, meresap ke dalam kain dan mengenai kulitnya. Namun Shen Yuan menggigil kedinginan.


Lampu terakhir di laboratorium akhirnya padam. Dalam kegelapan, Shen Yuan menangis, menangis hingga dia susah bernapas.


Di dalam kegelapan ini, dia merasakan tubuh orang tercintanya perlahan mulai mendingin.

__ADS_1


__ADS_2