Living Dead

Living Dead
Bab 35 - Penyelamatan


__ADS_3

Xi Zihe melihat dengan mulut terbuka sebuah drone putih berukuran hampir satu meter yang sedang membawa kertas karton bertuliskan SOS.


Dengan empat baling-balingnya, drone itu melayang tepat di depan mereka. Seakan-akan orang yang mengontrolnya takut jika mereka tidak bisa melihat tulisan SOS yang besar itu.


Kertas karton putih itu tertiup angin, namun kata yang dicetak di atasnya jelas dan mencolok.


Shen Yuan melihat kalau drone itu mempunyai kamera, yang artinya orang di sana sedang melihat pergerakan mereka.


Shen Yuan mendengar suara Xi Zihe yang penuh dengan keterkejutan, "Apa-apaan ini? Apakah ada orang yang meminta bantuan kita?"


"Bagaimana Kapten? Selamatkan?" Lu Lin bertanya dengan menggaruk kepalanya. Sejujurnya situasi ini cukup aneh, ada orang yang meminta bantuan dengan drone. Setelah melihat ini, Lu Lin merasa imajinasinya masih kurang tinggi.


Xi Zihe mengangguk mantab, "Pasti. Selamatkan." Dia berbalik dan menatap langsung ke arah kamera. "Antar kami ke tempatmu."


Shen Yuan yang melihat kebodohannya tidak bisa menahan diri untuk mengusap dahinya dengan lelah.


Shen Yuan berkata, "Dia tidak bisa mendengar suara kita, bodoh."


"Pffft-" Song Yi berusaha menahan tawanya, namun tidak berhasil. "Ehem, maaf."


Yang Ruisi berkomentar, "Kapten, aku merasa IQ-mu sudah turun hingga pada taraf sejajar dengan IQ Lu Lin."


"Kenapa membandingkannya dengan IQ-ku ?!" Secara alami, mereka tidak menghiraukannya.


Tiba-tiba Xi Zihe menyadari kesalahannya, dan tidak bisa menahan rasa malu.


Karena tidak bisa mengandalkan mereka, Shen Yuan secara pribadi masuk ke dalam mobil dan mengambil potongan kardus. Dengan menggunakan spidol, dia menulis kalimat di atasnya dengan tulisan yang besar dan jelas.


[Tunjukkan jalannya. Kami akan menyelamatkanmu]


Shen Yuan mengangkat kardus itu tepat di depan kamera.


Di sisi lain, He Zhao yang bisa membaca tulisan itu dengan jelas tidak bisa menahan perasaan gembira dan antusiasme di hatinya.


Dia mengendalikan drone-nya sebagai penunjuk jalan dan kembali ke arah apartemennya berada.


Melihat drone yang perlahan terbang menjauh, semua orang dengan cepat masuk ke dalam mobil. Xi Zihe mengikuti dengan cermat ke arah yang dilintasi oleh drone itu.


Setelah kurang lebih 15 menit, drone naik ke salah satu bangunan apartemen, dan menghilang di balkon rumah di lantai 6.


Beberapa saat kemudian, kepala seseorang terlihat menyembul keluar. Seorang remaja berumur sekitar 15 atau 16 tahun dengan semangat melambaikan tangannya ke arah mereka.


Xi Zihe menghentikan mobilnya beberapa meter dari bangunan apartemen, dan mengamati keadaan sekitar.


"Seorang remaja?" Yang Ruisi melihat dari balik jendela penumpang.


"Apakah hanya satu orang?" Dibelakang, Song Yi ikut berkomentar.


Shen Yuan melihat ke jendela setiap lantai, namun tidak ada pergerakan atau tanda-tanda kehidupan selain dari remaja tersebut.


"Kemungkinan." Shen Yuan berbalik menatap Xi Zihe, "Coba bunyikan klaksonnya."


"Oke."


Tiiiinn tiiinnn


Suara klakson yang nyaring bergema di jalan raya yang kosong. Suaranya memasuki setiap gang dan gedung-gedung yang ada.


Setelah beberapa saat menunggu, masih tidak ada tanggapan.


Xi Zihe menghela napas, "Sepertinya memang sudah tidak ada yang selamat selain remaja itu."

__ADS_1


Xi Zihe melihat keadaan apartemen dengan teropongnya. Dia hanya bisa melihat beberapa zombie yang berkeliaran di lobi apartemen.


"Aku akan mengurus zombie yang ada di luar, kalian masuklah dan selamatkan bocah itu." Shen Yuan langsung membuat keputusannya.


Memikirkannya lagi, Xi Zihe setuju dengan ide itu. Dia berkata, "Berbahaya kalau kau pergi sendiri, bawa Lu Lin bersamamu."


"Oke! Ayo pergi, Ayah!" Lu Lin menanggapi dengan antusias.


Shen Yuan membuka pintu mobil dan keluar, tatapannya jatuh pada sepeda motor di pinggir jalan yang pengemudinya sudah mati karena tabrakan dengan pohon.


Dia segera menaiki sepeda motor itu, detik berikutnya Lu Lin langsung melompat duduk di belakangnya.


Sebelum pergi, Shen Yuan berkata kepada Xi Zihe, "Aku akan menggiring zombie ke arah tenggara."


Xi Zihe mengangguk mengerti. Tenggara adalah arah yang berlawanan dengan arus balik mereka, sehingga mereka tidak perlu bersimpangan dengan zombie ini.


Deru mesin motor mulai bergema di jalanan. Knalpot sedikit mengeluarkan asap hitam sebelum menjadi stabil.


Mereka melihat Shen Yuan memacu motornya sampai ke depan pintu masuk apartemen dan berhenti.


Shen Yuan melemparkan bom paku, dan itu bersarang di pintu masuk lobi apartemen dengan dentingan.


Bom itu meledak, mengirimkan ratusan paku di sekitarnya. Paku mengikuti sudut yang dibuat oleh kelopak besi yang ada di kaleng.


Dimerahkan oleh panasnya ledakan, paku panas melesat dan menembak kepala serta kaki zombie dalam radius hampir sepuluh meter.


Pada saat itu, sebagian besar zombie jatuh tersungkur di atas lantai.


Begitu itu terjadi, Xi Zihe dan lainnya menyelinap masuk dan naik melalui tangga darurat.


Beberapa zombie yang masih bisa bergerak mulai mengejar Shen Yuan yang ada di pinggir jalan. Shen Yuan sengaja berlama-lama memutar gas, dan belum beranjak dari tempat itu.


Di belakangnya, Lu Lin meraung tak terkendali, "Wow, ayah! Kau sangat keren!"


Pria ini terlalu liar!


"Diam dan lakukan tugasmu!"


Di sisi lain, Xi Zihe berhasil menaiki tangga hingga lantai 6. Beberapa kali mereka berjumpa dengan zombie di tengah redupnya tangga darurat. Namun semua berhasil mereka bereskan dengan mulus.


"Di mana rumah anak itu?" Xi Zihe bertanya sambil mengatur napasnya setalah berlari naik tangga.


"Dua pintu dari arah ini." Yang Ruisi mengingat itu dengan baik saat melihat dari bawah apartemen.


Mereka berlari dan berhenti di depan pintu berwarna coklat. Xi Zihe segera mengetuk pintunya. "Nak, kami di sini sekarang. Buka pintunya."


Di belakang, Yang Ruisi berkomentar, "Kenapa aku tidak tahu kalau kau sudah punya anak?"


Xi Zihe segera mendelik ke arahnya, "Berisik!"


Pintu segera terbuka dengan bunyi klik. Wajah remaja yang pucat dan terengah-engah muncul di depan mereka.


Dia menangis dan menggenggam lengan Xi Zihe, "Terimakasih, terimakasih banyak!"


Xi Zihe menepuk kepalanya untuk menghiburnya, "Ayo segera pergi dari sini."


Remaja itu buru-buru menghapus air matanya. "Tolong tunggu sebentar, aku akan membawa barang-barangku."


Kemudian dia kembali melesat masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian dia keluar dengan membawa sebuah koper besar.


"Apa itu?" Song Yi bertanya dengan penasaran.

__ADS_1


"Ah.. ini drone milikku." Dia menatap mereka dengan takut-takut. "Apa aku boleh membawanya?"


Yang Ruisi tersenyum, "Tentu saja."


"Siapa namamu?"


"Namaku He Zhao."


Xi Zihe mengangguk, "Nama yang bagus. Ayo pergi."


Mereka berlari menuruni tangga, karena koper itu terlalu berat, Song Yi menawarkan diri untuk membawanya.


Tangga itu redup, mereka turun dengan hati-hati. Saat tiba di tangga lantai tiga, berdiri seseorang dengan kulit yang membusuk.


He Zhao yang melihatnya tiba-tiba darahnya menjadi dingin. Ketakutan merayap dari tulang punggung hingga ke kulit kepalanya, menyebabkan kesemutan dan mati rasa.


Penjaga keamanan itu berdiri dengan usus busuk menjuntai keluar dari perutnya. Bagian matanya sudah berubah menjadi berwarna kelabu.


He Zhao sangat ketakutan hingga tanpa sadar mundur beberapa langkah, sangat ingin melarikan diri dari tempat itu. Dia teringat saat-saat kematian ibunya, badannya bergetar tak terkendali.


Tiba-tiba dia merasa bahunya di tepuk ringan. Suara berat Xi Zihe masuk ke telinganya, "Tidak apa-apa, kau tidak perlu takut."


Saat berikutnya Yang Ruisi sudah memotong lehernya hingga zombie itu jatuh berguling di tangga dan tidak bergerak lagi.


Yang Ruisi bergerak melewatinya dan tersenyum padanya, "Ayo pergi, Xiao Zhao."


He Zhao mengangguk dengan lemah, perlahan-lahan berjalan melewati mayat zombie dan turun dari tangga.


Sesampainya mereka di luar apartemen, mereka tidak melihat tanda-tanda keberadaan Shen Yuan dan Lu Lin.


Yang Ruisi menengok ke kanan dan kiri dengan bingung. "Seberapa jauh mereka pergi? Kenapa belum kembali?"


Xi Zihe melihat sekitarnya dengan muram, selanjutnya dia berteriak dengan keras, "SHEN YUAN! LU LIN! KEMBALI SEKARANG!!"


Suara Xi Zihe bergema di antara gedung-gedung. Sedangkan untuk orang di sekitarnya, mereka berusaha mati-matian untuk menutupi telinga mereka.


Beberapa saat kemudian, sebuah mobil bak terbuka terlihat berbelok melalui perempatan dan berhenti tepat di depan mereka.


Wajah dingin Shen Yuan terlihat di kursi pengemudi. "Suaramu terdengar hingga 100 meter di sana."


"Di mana Lu Lin? Kenapa kau kembali menggunakan mobil?"


Shen Yuan memberi isyarat kepada mereka untuk melihat ke belakang. Di dalam bak mobil, mereka melihat Lu Lin terkapar tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi?"


Shen Yuan menghela napas, terlihat sangat lelah dan tidak berdaya, "Kita pergi dulu dari sini. Nanti kuceritakan detailnya."


Catatan penulis :


Hai saya Sion ^^


Sedikit ingin berkenalan, mengingat sepertinya saya tidak pernah meninggalkan catatan kaki.


Ini adalah novel pertama saya. Benar-benar pertama, karena saya tidak pernah upload novel di platform manapun sebelumnya.


Jadi maaf kalau penggunaan kata saya masih naif dan kurang kaya, karena.... Masih amatir!! ┐( ̄ヮ ̄)┌


Oke sekian, ikuti terus episode terbarunya ya


Terimakasih ( ˘ ³˘)♥

__ADS_1


__ADS_2