
Pangkalan Militer Kota C, Ruang komunikasi darurat.
"Ringkasan laporan tentang Shen Yuan telah keluar! Apa yang dilaporkan oleh regu delapan dipastikan valid! Seorang bernama Shen Yuan bukanlah target yang kita cari."
Lampu darurat merah menyala, memproyeksikan wajah berkeringat anggota militer wanita. Saat dia berlari ke sini, dadanya masih naik turun dan terengah-engah.
Seorang lelaki tuas, dengan tanda bintang yang menghiasi pundaknya, menenggelamkan wajahnya di telapak tangannya. Dia mengangkat kepalanya setelah beberapa detik, "Aku mengerti."
Auranya yang berwibawa dan tegas sekarang tertutup oleh rasa lelah dan putus asa.
Dia mengangkat telepon satelit dan memutar kata sandi yang menghubungkan ke saluran langsung. Dia menunggu beberapa detik sebelum tersambung, sebuah suara yang dalam bertanya kepadanya, "Mayor Jenderal Zhang, bagaimana hasilnya?"
Orang tua itu membuka mulutnya, namun tidak ada yang keluar darinya. Keheningan jatuh di antara kelipan lampu merah tanda darurat.
"Aku mengerti. Jadi sejak awal, target yang kita tuju sudah salah." Suara itu sangat rendah, seperti menahan segala emosi. Setelah beberapa saat dia melanjutkan, "Apakah ada informasi dari para regu pasukan khusus Snow Leopard?"
"Aku sudah mengirim semua 8 regu keluar. 3 regu dipastikan sudah binasa, 3 regu tidak diketahui dimana keberadaannya, dan satu regu kembali tanpa membawa hasil apa pun. Regu 8 yang dipimpin oleh Mayor Xi Zihe telah menyelamatkan ratusan warga sipil yang terjebak, tetapi setelah helikopter yang menyelamatkan mereka terinfeksi, kami juga kehilangan kontak dengan mereka..."
Mayor Jenderal Zhang menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya, suaranya mengeras, "Aku bisa mengirim dua regu terakhir, tapi kami membutuhkan lebih banyak informasi tentang orang bernama Guo Bai ini! Jika tidak, itu seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Aku tidak ingin mengirim anak buahku keluar hanya untuk mati!"
"Karena basis penelitian Guo Bai ada di negara U, kami sudah berusaha menghubunginya. Namun pemerintah negara U mengatakan mereka juga mencari keberadaan Guo Bai selama 2 tahun ini." Suara itu terdengar sangat tidak berdaya, "Keberadaannya seperti hilang ditelan bumi."
Mayor Jenderal Zhang sangat marah, "Aku tidak ingin spekulasi apapun! Setidaknya bisakah pemerintah memberikan detail tentang indentitasnya?! Bahkan detail tentang penampilan pun tidak ada!"
Suara di ujung telepon terdiam.
"Sudan banyak anggota reguku yang kehilangan nyawa untuk mencari target yang salah. Aku sama sekali tidak ingin mengorbankan nyawa lagi untuk mencari orang yang tidak jelas seperti ini, aku tidak ingin berjudi dengan nyawa manusia. Dan kita bahkan tidak tahu, orang yang bernama Guo Bai ini bisa saja sudah mati!"
"Jika dia mati," suara di telepon terdengar dingin. "Tidak ada harapan lagi untuk umat manusia. Satu-satunya orang yang mengetahui formula virus ini adalah dia."
Ada nafas yang gelisah di ujung telepon. Mayor Jenderal Zhang menutup matanya dengan lemah, dia merasa malu kepada anak buahnya yang sudah mengorbankan nyawa dengan sia-sia. Dia hendak mengatakan sesuatu, namun ada suara tabrakan di koridor luar ruang komunikasi.
Beberapa anggota militer di dalam ruangan segera berdiri, ekspresi mereka berubah mengerikan. Mayor Jenderal Zhang menarik napas dalam-dalam.
Hanya sampai di sini, pikirnya.
__ADS_1
Bang
Pintu berusaha di dobrak oleh sesuatu.
"Mereka ada di sini." Mayor Jenderal Zhang berkata kepada orang di seberang telepon dengan tenang. Dia menutup telepon sebelum orang tersebut berbicara, dan mengeluarkan pistolnya.
Dalam keheningan yang mati, suara gebrakan pintu menjadi lebih jelas terdengar.
Jantung semua orang berdebar dengan kencang, mereka menatap pintu besi yang semakin melengkung dengan putus asa. Mereka bisa mendengar suara raungan zombie-zombie di luar pintu.
Kalau saja di luar sana ada seseorang yang kebal terhadap virus ini...
Mayor Jenderal Zhang meratap di saat-saat terakhirnya.
Di depan mata semua orang, pintu itu akhirnya tidak bisa menahan lagi, melengkung dan hancur dengan gelombang zombie yang menerobos masuk!
***
Malam itu, regu pasukan khusus dibagi menjadi 3 tim. Yao Yue dan Lu Lin berjaga hingga tengah malam, Wen Fan dan Li Yan mengambil alih dan berjaga hingga jam 3 pagi, dan terakhir dilanjutkan oleh Xi Zihe dan Yang Ruisi hingga fajar tiba.
Kursi di kompartemen belakang telah dilipat. Beberapa anggota pasukan khusus tergeletak di lantai, dengkuran mereka sangat keras hingga memenuhi seluruh kendaraan.
Xi Zihe menahan diri untuk tidak memasukkan kaos kaki ke dalam mulut mereka satu per satu.
Xi Zihe merasakan seseorang di sebelahnya, itu Shen Yuan dengan putrinya. Xi Zihe hampir melupakan keberadaan mereka berdua di dalam kendaraan ini. Karena bus sudah penuh dengan orang, dia akhirnya mengizinkan Shen Yuan membawa putrinya untuk tidur di dalam kendaraan lapis baja.
Di tengah perjuangannya untuk tidur, dia merasakan seseorang bergerak di dalam kendaraan. Gerakan mengendap-endapnya sangat ceroboh, seperti kucing kecil yang berusaha melarikan diri setelah mencuri ikan. Kemudian dia mendengar pintu dibuka dan ditutup dengan hati-hati.
Xi Zihe melirik dengan ujung matanya, dia melihat Si Kecil Feifei keluar dari dalam kendaraan.
Buang air kecil lagi? pikir Xi Zihe.
Dia melirik Shen Yuan di sebelahnya, masih tidur. Karena takut dia digigit ular saat di dalam hutan, Xi Zihe memutuskan untuk keluar dari kendaraan dan mencarinya.
Namun tidak seperti dugaannya, dia melihat Feifei sedang duduk di atas batu, bukan buang air kecil.
__ADS_1
Xi Zihe berjalan mendekat tanpa suara. Dia melihat Feifei sedang menatap gelang di tangannya dengan pandangan kosong.
Xi Zihe menghela napas dan menepuk bahunya, "Kenapa kamu tidak tidur?"
Feifei tersentak kaget dengan tepukan itu. Dia kemudian menjelaskan dengan pelan,"Tadi siang aku sudah tidur lama sekali, jadi sekarang aku tidak mengantuk."
Xi Zihe merasakan ada yang salah dengan gadis kecil ini, akhirnya dia ikut duduk di sebelah Feifei.
Dia menunggu selama beberapa menit, akhirnya Feifei membuka mulutnya. "Apakah paman tidak sedih?"
Xi Zihe bertanya tidak mengerti, "Apa?"
Feifei mengulangi, "Apakah paman tidak sedih saat menembak teman paman sendiri?"
Xi Zihe tersentak, akhirnya dia sadar apa yang aneh dari gadis kecil ini. Dari awal saat gadis kecil ini siuman, dia tidak bisa melihat jejak ketakutan dari matanya saat dirinya menghadapi gelombang zombie sebanyak itu. Umumnya, anak kecil seharusnya menangis dan menjerit ketakutan, namun Xiao Fei ini sangat tenang.
Xi Zihe tidak menjawab pertanyaannya, dan berbalik bertanya, "Apakah itu dari temanmu?" Xi Zihe menunjuk gelang yang ada di tangannya.
Feifei mengangguk dan menceritakan kisahnya saat awal wabah virus zombie pecah.
Xi Zihe melongo dan tidak bisa berkata-kata setelah mendengar kisah dari mulut Feifei. Perjuangan seorang ayah yang menghadapi zombie di seluruh sekolah hanya untuk menyelamatkan putrinya, dan seorang putri yang nekat mencari sahabatnya di tengah gelombang zombie dan akhirnya menemukan sahabatnya sudah dikunyah sampai bersih oleh zombie.
Terlalu mengenaskan. Gadis sekecilnya harus melihat hal seperti itu. Tidak heran dia sudah tidak terkejut melihat banyaknya zombie yang mereka hadapi, karena dia sudah melihat hal yang lebih menakutkan.
Xi Zihe terdiam sebentar, menyusun kata-kata yang sekiranya bisa dipahami oleh anak sekecil Feifei.
"Tadi kamu bertanya apakah paman sedih? Tentu saja sedih. Tapi setelah memikirkan dia akan kelilangan akal dan menjadi pembunuh saat bermutasi menjadi zombie, aku berpikir lebih baik dia meninggal sebagai manusia, bukan makhluk haus darah itu."
Xi Zihe menepuk kepalanya, "Bukankah kamu juga berpikir begitu?"
Tiba-tiba terbesit di kepala Xi Zihe, saat Shen Yuan membunuh istrinya, apakah dia juga memikirkan hal ini?
Feifei berpikir sebentar, kemudian mengangguk, menyetujui pendapat Xi Zihe.
Mereka kemudian mengobrol hal lain dengan suara kecil.
__ADS_1
Di dalam kendaraan, Shen Yuan yang seharusnya tertidur, membuka matanya di dalam kegelapan.