
Wajah mereka semua memucat melihat zombie yang berbondong-bondong menerjang ke arah mereka. Mulut zombie-zombie itu terbuka lebar saat mereka meraung dan berteriak.
"Terkutuklah!"
Xi Zihe menyemprotkan sederet sumpah serapah sebelum dia berteriak dengan keras. "Yao Yue, Bersiap-siaplah! Li Yan! Mau sampai kapan kau tidur-tiduran di bawah sana?! Cepat berdiri dan masuk ke dalam helikopter!"
Li Yan, yang dianggap 'tidur-tiduran' baru saja berusaha bangkit dari bawah helikopter. Dia memprotes setelah batuk dua kali, "Apa yang kau maksud dengan tidur-tiduran itu?! Astaga punggung tuaku..."
Li Yan mengelus pinggangnya dengan ringan sebelum mulai bergerak menuju helikopter ke dua.
Song Yi yang terhempas karena ledakan telah kembali merapat ke tempat tim mereka berkumpul. Dengan senapan mesinnya, dia membantu menjatuhkan zombie yang berlari ke arah mereka.
Di tengah kekacauan, Shen Yuan mencari zombie aneh itu. Matanya menyapu melewati kerumunan zombie lainnya, namun dia tidak dapat melihat zombie itu lagi.
Tapi ada satu hal dari zombie itu yang membuat Shen Yuan ingin memastikannya sekali lagi dengan mata kepalanya.
Dia yakin melihatnya dengan benar.
Sebuah cincin pernikahan.
Zombie itu memakai sebuah cincin pernikahan yang familiar di jari manisnya.
Aku yakin tidak salah lihat, cincin itu!
Saat pikiran Shen Yuan dilanda kekacauan, sebuah suara menghantam gendang telinganya.
"Ayah!"
Melihat Shen Yuan seperti sedang linglung, Xi Zihe memanggilnya dengan sangat keras di tengah suara tembakan senjata. "Apa yang sedang kau cari?! Seorang zombie yang seksi?!"
Orang ini...
Pembuluh darah di dahi Shen Yuan berkedut, dia berusaha menahan amarahnya. Mustahil untuk memikirkan hal itu di situasi seperti ini. Maka, Shen Yuan mengesampingkan apa yang dia lihat di belakang kepalanya. Yang terpenting saat ini adalah bertahan hidup.
Shen Yuan menarik napas dengan berat. Setiap kali dia melakukannya, dia merasa bagian dadanya terasa sakit. Namun dia tetap berusaha bertahan dan mengangkat senjatanya.
__ADS_1
Mereka berdua menjaga di depan saat Xi Zihe sedang mempersiapkan mortar di belakangnya.
"Aku siap!" Xi Zihe mengangkat mortar, dan dengan letusan panjang, landasannya rata dengan tanah. Potongan daging zombie yang hancur terbang ke langit, menyembur ke atas seperti air mancur.
Setelah beberapa suara logam berdentang, Yao Yue berteriak, "Aku sudah selesai!"
Sisi Li Yan di helikopter yang lain juga sudah selesai, "Kapten, ayo!"
Pintu dua helikopter besar dipaksa terbuka oleh linggis militer. Xi Zihe dengan hati-hati mengamati landasan di lapangan, memastikan bahwa tidak ada lagi kelompok besar zombie sebelum mengepak mortar. Shen Yuan dan Song Yi dengan cepat memungut perlengkapan mereka yang terlempar ke tanah saat baku tembak dan melemparkan semuanya ke dalam helikopter dengan serampangan.
Ledakan itu membuat zombie menjadi waspada. Zombie-zombie yang mengenakan pakaian biasa dan pakaian militer, wajah mereka terkulai saat mereka mulai bergerak terhuyung-huyung kembali.
"Song Yi, jangan menembak lagi!" Xi Zihe berteriak. "Kita baru saja mencuri helikopter milik mereka, setidaknya hormatilah mereka karena memberikan tumpangan gratis untuk kita!"
Mendengar teriakan Xi Zihe, Song Yi segera menangkupkan tangannya ke arah zombie yang mengenakan pakaian militer lengkap. Dia bergumam, "Maaf, rekan seperjuanganku. Sekarang ini masa kritis, jadi mohon dimaklumi. Kami memiliki keluarga dengan anak kecil yang harus dinafkahi hiks. Setelah perang ini selesai, aku akan memastikan pemerintah untuk mengganti helikopter milikmu..."
Shen Yuan sudah masuk ke dalam helikopter saat dia mendengarkan omong kosong yang dengan lancar terlontar oleh mulut Song Yi. Dia sedikit menggelengkan kepalanya sebelum mulai membantu Song Yi untuk masuk ke dalam helikopter juga.
Mereka menyalakan daya, dan menghidupkan mesin. Baling-baling mengeluarkan angin besar, menyebabkan zombie di sekelilingnya terhuyung mundur.
Beberapa saat kemudian, dua helikopter berwarna hijau gelap perlahan-lahan terangkat ke langit, terbang menuju pusat kota.
***
Sementara itu, di atas bukit.
Yang Ruisi menghembuskan napas lega saat dia melihat dua helikopter yang mulai terbang di langit.
"Ayo! Kita juga harus bergegas."
Yang Ruisi menepuk pundak kedua bocah itu yang sedari tadi tidak berbicara sepatah katapun.
Feifei dan He Zhao mulai menggerakkan badan mereka yang kaku karena tidak bergerak untuk waktu yang lama. Mereka sangat tegang dan cemas hingga tidak dapat mengalihkan pandangan mereka dari layar monitor kecil itu. Bahkan He Zhao berkali-kali merasa tidak sanggup lagi untuk menggerakkan jarinya di remote kontrol, tangannya penuh dengan keringat dingin.
__ADS_1
He Zhao membantu Yang Ruisi untuk mengemas peralatan mereka yang ada di tanah, sedangkan Feifei berjalan menuju ke kendaraan lapis baja dengan lemah. Feifei seperti seseorang yang telah kehilangan jiwanya, matanya masih terlihat tidak fokus.
He Zhao menghela napas. Sebenarnya dia sedikit mengerti tentang perasaan Feifei. Ayahnya hampir saja mati. Tentu saja dia akan bereaksi demikian. Ada masa di mana He Zhao mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Feifei. Namun saat itu, ibu He Zhao benar-benar sudah meninggalkannya.
He Zhao meletakkan peralatan di kursi penumpang depan, kemudian dia menuju kursi di bagian belakang untuk duduk bersama Feifei.
Kendaraan mulai melaju setelah Yang Ruisi menyalakan mesin. Mereka akan mengikuti helikopter dari belakang. Begitulah rencananya.
Di dalam kendaraan itu sunyi. Di kepala mereka, pertempuran yang baru saja terjadi masih diputar berulang-ulang.
Saat memikirkannya, He Zhao masih merasa kedinginan. Jujur saja, saat menonton tim Xi Zihe saat melawan zombie itu seperti menonton sebuah film horor.
Karena mereka melihat dari sudut pandang di langit, mereka bisa melihat semuanya. Termasuk saat zombie aneh itu mulai muncul dan hendak menerkam Shen Yuan.
Saat itu, Yang Ruisi akan memperingatkan mereka. Namun entah apa yang terjadi, mikrofon yang ada pada alat komunikasi sama sekali tidak berfungsi. Sebanyak apa pun Yang Ruisi berteriak dan memberikan peringatan, tidak ada suara balasan sama sekali. Yang Ruisi menebak bahwa alat komunikasi di tim Xi Zihe rusak akibat ledakan.
Jadi mereka hanya bisa berteriak frustasi saat zombie itu meraih dan menghempaskan Shen Yuan ke dinding. Apalagi saat melihat zombie itu kebal dengan setiap tembakan, praktis hal itu membuat mereka takut setengah mati. Saat itu, He Zhao melihat bahwa Feifei sudah menangis dengan tak berdaya. Namun untunglah, Yao Yue berhasil memberikan kesempatan bagi Shen Yuan untuk melarikan diri. Entah apa yang terjadi jika itu tidak berhasil, He Zhao tidak berani memikirkannya.
He Zhao melirik ke arah Feifei dan berpikir, Dia pasti masih ketakutan dengan adegan tadi...
Tentu saja Feifei sangat ketakutan. Dia ingin menangis dan berteriak. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan jika ayahnya kehilangan nyawa di sana.
Namun, ada hal lain yang memenuhi kepala Feifei saat ini.
Zombie aneh itu.
Feifei merasa zombie itu sangat familiar.
Seperti perasaan bertemu dengan seseorang yang telah lama tidak kita lihat.
Seseorang...
Feifei mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Pikirannya mulai berjalan dengan cepat.
__ADS_1