
Kendaraan itu sudah penyok di banyak bagian, semua kacanya hancur dan pecahannya berceceran di atas aspal. Namun yang paling penting, kendaraan itu kosong, hanya terdapat beberapa jejak darah di dalam kendaraan dan aspal di sekitarnya.
Darah siapa itu?
Apakah zombie itu sudah memakan mereka?
Tidak, jika itu zombie maka jejak darahnya harus lebih banyak dari ini.
Jadi, apakah mereka melarikan diri?
Dan kemana mereka pergi?
Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di kepala Shen Yuan. Pikirannya sedang kacau. Dia sangat cemas hingga ke tingkat ingin menghancurkan apa saja.
"Helikopter kepada ayah, helikopter kepada ayah!" Suara Xi Zihe terdengar melalui pengeras suara, membuat Shen Yuan kembali mengumpulkan pikirannya. "Segera laporkan situasi!"
Shen Yuan melihat ke atas, helikopter masih terbang rendah menunggunya. Dia mengeluarkan walkie talkie dari kantong celananya, ini adalah barang yang dia ambil sebelum jatuh dari helikopter.
Shen Yuan berkata melalui walkie talkie di tangannya, "Mereka hilang. Kendaraan ini kosong."
Beberapa saat kemudian suara Xi Zihe terdengar, "Apa katamu?!"
"Kubilang, mereka hilang!!"
"Aku tahu, aku dengar! Tapi, apa maksudnya dengan hilang?!"
"Itu berarti mereka tidak ada, bodoh!" Shen Yuan menghembuskan nafas cepat, "Sepertinya, mereka melarikan diri. Aku tidak melihat jejak darah yang tidak normal, itu berarti mereka belum mati dimangsa oleh zombie."
Xi Zihe terdiam.
Shen Yuan berkata dengan suara gemetar, "Mereka.. pasti masih hidup. Putriku pasti masih hidup. Kita harus mencarinya."
"Tentu saja, kita harus mencarinya." Suara Xi Zihe penuh dengan keyakinan. "Sekarang, kau baiklah lagi ke atap bangunan itu. Aku akan menurunkan tali tangga, kau naiklah dengan itu."
"Aku mengerti."
Shen Yuan kembali mengantongi walkie talkie miliknya. Dia kembali ke gedung tempat dia mendarat dan berlari menuju atapnya. Di daerah ini sangat sepi, Shen Yuan memperkirakan bahwa zombie di sekitar sini pasti telah ditarik oleh Yang Ruisi.
Mereka harus cepat menemukan Feifei dan yang lainnya.
Tangga yang terbuat dari tali segera turun ke hadapannya. Dengan tergesa, Shen Yuan langsung menaikinya dan masuk kembali ke dalam helikopter.
__ADS_1
"Mereka mungkin bersembunyi di salah satu gedung di kota ini. Cari gedung yang memiliki zombie paling banyak."
Shen Yuan segera berkata kepada Xi Zihe, dan dia mengangguk sebagai balasan.
Helikopter mereka kembali terbang melintasi kota dengan ketinggian rendah.
***
Jika melihat jauh ke bawah dari atas, zombie dari beberapa blok jauhnya telah menangkap angin yang berbau darah dan mulai bergerak. Perlahan, jumlah mereka meningkat saat mereka tanpa henti mengejar aroma darah yang memikat dari depan, secara bertahap membentuk arus yang menakutkan.
Udara dingin mengalir ke paru-parunya, mengiris organ dalamnya seperti pisau, tapi Yanga Ruisi tahu dia tidak bisa berhenti.
Zombie muncul dari sudut jalan, gang, di belakang tempat sampah dan semua jenis tempat yang tak terbayangkan lainnya. Dalam beberapa kesempatan, Yang Ruisi bisa merasakan bagian belakang seragam militernya tersangkut kuku tajam zombie. Dengan menggandeng Feifei dan He Zhao yang masing-masing ada di tangan kanan dan tangan kirinya, Yang Ruisi yakin jika dia berhenti sejenak, mereka akan segera tercabik-cabik seperti daging cincang saat itu juga.
"Huff.. huff..."
Yang Ruisi bernapas dengan berat, uap putih keluar dari mulutnya. Dia kehilangan banyak darah, bangunan di kedua sisi jalan mulai terlihat kabur di matanya. Dari suara beratnya nafas serta gerakan Feifei dan He Zhao, dia juga bisa mengetahui bahwa kedua anak itu juga tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi. Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba ujung matanya menangkap sesuatu. Yang Ruisi menoleh untuk melihat spanduk yang dihias dengan mewah membentang dari atas ke bawah. Dia membaca kata-kata di atasnya, Pembukaan unit apartemen baru.
Apartemen baru sedang diluncurkan, pada bagian depan gedung bertingkat itu terdapat platform peresmian yang dihias oleh banyak bunga meskipun saat ini sudah mengering, bahkan pita yang seharusnya dipotong masih utuh tanpa putus.
Yang Ruisi bahkan tidak punya waktu untuk bertanya-tanya apakah peruntungannya hari ini bagus atau jelek. Dia berputar, menyerempet lengan zombie yang paling dekat dengannya saat dia berlari ke trotoar. Dia menarik Feifei dan He Zhao untuk mengikutinya.
"Ayo masuk ke gedung itu! Cepat!" Feifei dan He Zhao berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan kedua kaki mereka lebih cepat.
Sebagian besar timbunan zombie telah memasuki gedung dan mengikuti mereka dari belakang, sementara sisanya terjebak di pintu lobi apartemen yang sempit. Zombie-zombie itu menggeram dan mengejar saat mereka dengan canggung melangkah menaiki anak tangga.
Namun karena persendian zombie yang kaku, dan mereka benar-benar tidak memiliki kesadaran untuk bekerja sama, mereka sering kali jatuh kembali ke tanah akibat berdesakan.
Hal ini sangat menguntungkan bagi Yang Ruisi. Zombie tertinggal jauh di belakang mereka hingga mereka berhasil berlari naik hingga ke lantai enam.
Yang Ruisi berbelok, menembak salah satu pintu rumah menggunakan satu-satunya pistol yang dia punya. Dengan bunyi tembakan, pintu itu terbuka dengan mudah. Dia mendorong Feifei dan He Zhao untuk masuk ke dalamnya sebelum mengganjal pintu menggunakan lemari sepatu.
Yang Ruisi menjatuhkan badannya yang berat ke lantai, terengah-engah dengan tak terkendali. Dia mendengar suara He Zhao yang bergetar memanggilnya, "Yang.. Paman Yang... luka di matamu..."
Yang Ruisi menyentuh mata kirinya dengan tangan yang gemetar, dan baru setelah ketegangan itu mereda, dia merasakan rasa sakit yang menusuk dan berdenyut bahkan hanya dengan sedikit gerakan.
Yang Ruisi bisa merasakannya, mata kirinya sudah hancur.
Mata kirinya sudah buta.
Saat kendaraan itu berguling, waktu terasa berhenti bagi Yang Ruisi. Tanpa berpikir, dia meraih Feifei dan He Zhao ke dalam pelukannya dan meringkuk sekecil mungkin untuk menghindari benturan. Di telinganya hanya terdengar bunyi besi yang bertabrakan dengan aspal dan kaca jendela yang hancur dan pecah. Dia merasakan tubuhnya berguling beberapa kali dan menabrak barang-barang yang ada di dalam kendaraan.
__ADS_1
Yang Ruisi merasakan pandangannya sedikit berputar setelah membuka mata saat kendaraan itu sudah berhenti berguling. Dia menggerakkan tubuhnya perlahan dan bertanya dengan suara kecil kepada kedua anak kecil yang ada di tangannya. "Apakah kalian baik-baik saja?"
"Ukhhh..." He Zhao mengerang saat dia merasakan sakit di kepalanya. Namun beruntungnya, bagian tubuhnya yang lain masih bisa digerakkan. "Aku tidak apa-apa."
"Xiao Fei? Kenapa kamu diam saja? Jika sesuatu terjadi padamu, paman Yang akan dikebumikan oleh ayah, kau tahu?"
"Aku tidak apa-apa. Lenganku hanya tergores." Feifei bisa merasakan sesuatu yang hangat mengalir di lengan kirinya. Mungkin saat berguling-guling, lengannya tergores oleh kaca jendela.
"Ayo kita keluar dari sini dulu..." Yang Ruisi tiarap, dan perlahan-lahan merayap keluar dari dalam kendaraan melalui jendela yang sudah pecah. Feifei mengikuti di belakangnya, sebelum He Zhao juga mulai merangkak keluar.
"Oh sial..." Yang Ruisi melihat zombie di kejauhan mulai berjalan mendekat ke arah mereka karena mencium bau darah.
"Sekarang, kita harus melarikan diri lebih dulu. Setelah itu baru memikirkan cara untuk bergabung dengan yang lain. Ayo!"
Yang Ruisi menyambar Feifei dan menggendongnya sebelum mulai berlari menjauh dari sana. He Zhao mengikuti tepat di sampingnya.
Namun, saat mereka baru saja berlari beberapa ratus meter, zombie simpanse itu mengikuti dari atap bangunan di samping jalan.
"Persetan dengannya! Kenapa belum mati juga?!"
Mereka bisa melihat simpanse dengan tinggi hampir dua meter, giginya meneteskan darah, dan berbau sangat busuk meraung ke arah mereka.
Seolah kesialan yang mereka terima belum cukup, zombie itu melompat dari atap dan menghadang jalan mereka bertiga.
Yang Ruisi berhenti, dia menurunkan Feifei dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Dia menarik pistol dari pahanya dan menembak langsung ke kepalanya.
Dor!
Namun tembakan itu tidak berguna, itu hanya membuat zombie simpanse semakin marah dan berlari ke arah mereka menggunakan empat kaki. Zombie itu mengarahkan cakarnya ke arah mereka, mencoba mencabik mereka hingga berkeping keping.
Kejadian itu sangat cepat, Yang Ruisi tidak berhasil mengelak sepenuhnya dan cakar tajam itu berhasil mengenai mata kirinya.
"Ugh!" Yang Ruisi mengambil kesempatan dari jarak mereka yang dekat dan mendorong sebuah granat tepat ke dada makhluk itu.
Yang Ruisi segera berbalik, dia meraih Feifei dan He Zhao untuk tiarap di aspal.
BOOM!
Ledakan besar terjadi tepat di belakang mereka, membuat aspal bergetar dengan hebat.
Api menyala di belakang mereka, bau busuk dan bau asap menyelimuti seluruh jalan.
__ADS_1
Tanpa menunggu padamnya api, ataupun melihat keadaan mata kirinya, Yang Ruisi segera bangkit dan meraih tangan Feifei dan He Zhao untuk segera meninggalkan tempat itu.