
Saat itu pukul 5.30 pagi. Matahari mulai terbit dan angin dingin bersiul di udara.
Wen Fan menyipitkan matanya ke arah langit di kejauhan. Selanjutnya, dia melihat dua titik kecil yang hampir tidak terdeteksi jauh di langit.
Itu helikopternya!
Wen Fan segera menekan pelacak lagi. Orang-orang di belakangnya berbincang dengan semangat saat mereka berdiri, dan berulang kali bersorak dengan kegirangan.
Wen Fan menembakkan suar ke langit. Asap hijau membuat garis vertikal ke atas, memberitahukan posisi mereka kepada helikopter yang jauh di sana.
Gemuruh helikopter yang turun datang dari atas kepala semua orang. Angin kencang yang tercipta dari baling-balingnya menyebabkan semua orang kesulitan untuk membuka mata.
"Kapten Xi!"
Dua helikopter hijau tua mendarat di atap sekolah. Xi Zihe melompat turun dari kabin, mantelnya berkibar dengan liar karena angin dari baling-baling.
"Kapten!" Lu Lin berlari ke arahnya dengan gembira. "Syukurlah kalian berhasil!"
Beberapa saat kemudian, Shen Yuan dan yang lainnya mengikuti turun dari helikopter.
Tatapan Shen Yuan segera beralih ke Wen Fan. "Apakah tim Yang Ruisi sudah tiba di sini?"
Yang Ruisi juga memiliki alat pelacak lokasi yang sama seperti Xi Zihe. Itu akan memudahkannya untuk menemukan jalan ke tempat mereka.
Ditatap oleh Shen Yuan sedemikian rupa, Wen Fan entah kenapa menjadi gugup.
"Belum. Kami belum melihatnya."
Shen Yuan memiliki firasat buruk saat ini. Itu sudah berlalu sebelum helikopter mereka mendarat. Namun saat ini, firasat itu semakin kuat.
Shen Yuan kemudian berbicara dengan nada cemas, "Kirimkan lokasi kita lagi."
Xi Zihe sudah mendekati Shen Yuan pada suatu waktu. Dia berkata, "Jangan cemas. Yang Ruisi sangat bisa diandalkan. Mereka mungkin sedang berputar untuk mencari jalur teraman." Xi Zihe melihat sekelilingnya sebelum berkata dengan suara yang bisa didengar oleh semua orang. "Kita akan menunggu tim kedua di sini selama tiga puluh menit. Jika dalam waktu itu mereka belum tiba, maka kita akan pergi mencarinya dengan helikopter."
Tidak ada yang memberikan ketidaksetujuan. Semua orang diam-diam menunggu tim kedua untuk kembali.
Shen Yuan menuju ke tepi atap, tatapannya memandang kota yang ada di kejauhan.
Awan gelap berkumpul di cakrawala, berputar-putar seperti pertanda malapetaka.
Dia berharap firasatnya salah.
***
Kendaraan lapis baja itu meluncur dengan cepat dari ujung jalan, melintasi jalan raya yang telah sepi. Yang Ruisi melirik ke arah pelacak lokasi yang ada di genggaman tangannya.
Masih jauh, pikirnya.
Lokasi yang dikirimkan oleh Wen Fan masih sangat jauh.
Kumohon, semoga kami bisa selamat
Yang Ruisi berdoa dengan sungguh-sungguh di dalam hatinya. Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya, dia sangat tegang hingga ototnya menjadi kaku.
Kenapa di saat-saat seperti ini--!
Brak!
Sesuatu menghantam bagian samping kendaraan hingga kendaraan itu sedikit oleng.
__ADS_1
"Sialan!" Yang Ruisi mengumpat keras-keras saat dia mulai mengatur kembali lajur kendaraan.
He Zhao memeluk Feifei dengan erat di kursi penumpang di sebelahnya saat goncangan terus terjadi.
Yang Ruisi melihat ke belakang melalui kaca spionnya.
Sesuatu yang cepat masih mengikuti mereka. Itu berlari dengan keempat kakinya. Samar-samar, Yang Ruisi bisa menebak identitas makhluk yang mengejar mereka.
Itu simpanse.
Tapi bagaimana simpanse bisa menjadi seperti itu?!
Simpanse itu terlihat seperti mutan. Tubuhnya lebih besar dari simpanse biasanya, gigi taringnya tumbuh terlalu panjang hingga keluar dari celah mulutnya disertai dengan air liur yang terus menetes. Dan tubuhnya seperti mengalami kebotakan, banyak bagian tubuhnya yang seharusnya memiliki bulu mulai menghilang. Namun Yang Ruisi meyakini satu hal, simpanse itu adalah mayat hidup. Dia terinfeksi oleh virus zombie ini.
Brak!
Zombie simpanse itu menabrak kendaraan, lengannya menghantam dengan membabi buta, danĀ menghancurkan kaca jendela belakang.
Pecahan kaca menutupi kursi belakang, dan He Zhao bergegas untuk merunduk dengan lengannya menutupi kepala Feifei. He Zhao dapat mendengar Feifei berteriak terkejut.
Tenaganya bukan lelucon
Yang Ruisi segera memacu kendaraan dengan lebih cepat. Dia menarik napas dalam-dalam, menjulurkan lengannya yang memegang pistol keluar dari jendela.
DOR! DOR!
Yang Ruisi melepaskan beberapa tembakan, namun semuanya dihindari oleh zombie simpanse itu.
"Sialan! Kenapa dia begitu lincah?!"
Mungkin karena itu bukanlah manusia, zombie simpanse itu memiliki kekuatan fisik yang sama seperti simpanse pada umumnya. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Itu adalah kesimpulan yang didapat oleh Yang Ruisi setelah memikirkan setiap kejadian yang kelompok mereka alami.
Simpanse itu bergerak dari atap bangunan satu ke atap yang lain. Terus mengejar mereka seakan akan memiliki stamina yang tidak terbatas.
Bam!
Zombie simpanse itu jatuh ke atap kendaraan. He Zhao mengalihkan pandangannya ke atas dengan tatapan ngeri. Dia bisa mendengar suara cakar yang menggesek atap tepat di atasnya.
Yang Ruisi dengan cepat membanting setir, mengemudikan kendaraannya secara zig zag, berharap zombie itu bisa terjatuh. Namun zombie itu hanya berguling ke belakang sebelum berpegangan pada tangga yang ada di belakang kendaraan. Simpanse itu sepertinya bertekad untuk bertahan selama mungkin.
"Xiao Zhao!" Yang Ruisi meraung sekeras mungkin diantara deru mesin. "Apakah kau tahu cara menyetir mobil?!"
"Ti-tidak. Aku tidak tahu caranya!" He Zhao menjawab dengan gagap.
Yang Ruisi kembali menjatuhkan kalimat yang membuat He Zhao terkena serangan jantung. "Kalau begitu, ambil senapan di sana dan tembak makhluk itu!"
Pupil mata He Zhao bergetar saat melihat ke arah Yang Ruisi dengan tidak percaya. Dia seperti menanyakan bagaimana Yang Ruisi bisa meminta hal seperti itu dari anak yang berusia enam belas tahun.
"Kenapa masih belum bergerak? Saat perang, bahkan anak kecil pun harus mengangkat senjata, kau tahu?!"
Tanpa basa-basi, Yang Ruisi memasukkan senapan AK47 ke dalam pelukan He Zhao. Di antara guncangan kendaraan yang terus terjadi, He Zhao melihat bolak-balik antara senapan dan Yang Ruisi.
He Zhao menarik napas dalam-dalam sebelum bangkit dari tempat duduknya. Dia bisa merasakan Feifei sedikit meremas lengannya untuk memberikan semangat.
Sejujurnya, dia masih takut dengan zombie ini. Dia takut dengan makhluk yang telah merenggut nyawa ibunya.
Setiap kali dia melihat zombie ini, dia akan selalu teringat saat zombie-zombie itu memakan ibunya hidup-hidup. Dia bisa mengingat raut wajah kesakitan ibunya. Dia ingat bagaimana dia hanya melihat dan tidak bisa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Seperti saat ini.
He Zhao merasa tubuhnya mulai kaku dan gemetar. Senapan AK47 yang seharusnya hanya memiliki berat kurang dari 5kg terasa semakin berat di tangannya. Kepalanya mulai kosong, dia hanya bisa mendengar satu suara.
"Tidak apa-apa..." Dia mendengar suara ibunya.
"Jangan melihat ke lubang intip, tetap di dalam." Dia mendengar permintaan terakhir dari ibunya.
"Ibu mencintaimu.." dan itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan ibunya tanpa bisa dia jawab kembali.
Aku bahkan tidak sempat mengatakan kalau aku mencintainya juga...
He Zhao tenggelam dalam ingatan masa lalunya.
"Zhao-ge!!" Teriakan Feifei kembali membawanya ke kenyataan.
Badan kendaraan itu bergoyang dengan liar saat zombie simpanse di belakang menggoyang-goyangkan badannya. Kendaraan mereka kehilangan kendali hingga membentuk jalur S di aspal.
"Persetan dengannya!" He Zhao mendengar Yang Ruisi mengumpat keras dari kursi pengemudi. Dia berusaha menembak simpanse itu dengan pistol menggunakan satu tangan.
Apa yang sebenarnya kulakukan?
"Feifei, tampar aku!"
Dia perlu seseorang untuk menyadarkannya kembali.
Feifei tidak bertanya kenapa He Zhao meminta dia melakukan hal konyol itu. Dan dengan sangat keras, Feifei menampar pipi He Zhao dengan tangan kanannya.
Plakk!
He Zhao sedikit menggelengkan kepalanya setelah menerima tamparan yang ternyata sangat sakit itu.
"Terimakasih!"
He Zhao mengambil nafas dalam-dalam dan mulai membidik simpanse itu dengan senapan di tangannya.
He Zhao menutup matanya saat mengingat kembali percakapannya dengan Shen Yuan di masa lalu. Dia sangat merasa cemas dengan keadaannya yang ketakutan setiap kali melihat zombie. Jadi dia menceritakan hal tersebut kepada Shen Yuan untuk berharap mendapatkan solusi. Tapi Shen Yuan hanya berkata...
"Itu normal untuk takut."
"Apakah begitu? Tapi Feifei sama sekali tidak takut saat melihat mereka. Padahal dia lebih muda dariku."
Dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, Shen Yuan membalas, "Apa masalahnya? Kau bukan dia. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Lagipula, kami tidak akan memintamu untuk bertarung dengan zombie itu. Anak-anak seharusnya tidak bertarung."
"Tapi..." He Zhao masih merasa cemas.
"Kalau begitu aku akan mengajarimu trik agar tidak takut."
Dengan antusias He Zhao menjawab, "Bagiamana caranya?"
He Zhao membuka matanya, saat dia melakukan itu, dia bertemu dengan tatapan zombie simpanse itu yang juga melihat ke arahnya.
"Berteriaklah. Berteriaklah sekuat yang kau bisa."
"Aaaaaaarghhhhh" He Zhao berteriak sekuat tenaga saat dia melepaskan tembakan ke arah zombie simpanse itu.
"Maka ketakutanmu akan hilang."
Dia sudah tidak takut lagi.
__ADS_1