
DOR DOR
Peluru timah panas melesat cepat, dan dengan akurat mendarat, menembus kepala zombie. Beberapa zombie yang mendekati kawasan asrama pabrik langsung jatuh menghantam tanah.
Li Yan menembak zombie yang berjarak belasan meter dari atap gedung asrama. Dia melihat melalui scope dengan satu mata tertutup. Di malam hari, jarak pandang seseorang umumnya menjadi terbatas. Namun itu tidak berlaku baginya, Li Yan adalah penembak jitu regu pasukan khusus ini.
Dari belakang, ketukan sepatu bot militer dengan semen terdengar mendekat.
Li Yan membuka kedua matanya dan melaporkan keadaan kepada Kaptennya yang baru saja datang. "Intensitas kemunculan zombie belakangan ini semakin bertambah. Bahkan mereka mulai datang secara berkelompok."
Xi Zihe memandang kegelapan di depannya dengan wajah suram dan dingin, perlahan dia menutup matanya. Di kepalanya, suara Shen Yuan diputar terus menerus.
"Begitu musim dingin tiba, mereka secara tidak sadar akan menuju ke arah selatan, ke tempat yang lebih hangat."
"Jika kita terus berada di sini, kita akan bertemu dengan zombie yang tak terhitung jumlahnya yang sedang bermigrasi."
Di sisi lain asrama pabrik.
DOR
Setelah menembak jatuh seorang zombie pria paruh baya, Shen Yuan melompat turun dari atas tembok pembatas.
"Zombie yang berlari ke sana sudah kubereskan." Dari belakang, Wen Fan muncul sambil melemaskan bahunya.
Shen Yuan hanya mengangguk sebagai balasan.
Hari ini adalah jadwalnya untuk patroli malam, kebetulan pasangannya untuk berjaga adalah Si Wakil Kapten, Wen Fan.
Setiap hari, salah satu anggota pasukan khusus akan membimbing warga sipil yang potensial untuk melatih mereka melawan zombie. Sekaligus mereka bisa membersihkan zombie di sekitar area asrama.
"Mereka mulai bermigrasi." Shen Yuan berkata tiba-tiba.
Semua anggota pasukan khusus sudah mendengar ini dari mulut Xi Zihe. Mereka juga merasa cemas dan khawatir, karena di pihak mereka tidak hanya ada orang muda yang kuat, melainkan juga ada pria dan wanita paruh baya. Selain itu ada juga anak kecil yang harus mereka lindungi. Mereka harus bergerak secepat mungkin untuk menghindari masalah ini.
Wen Fan menghela napas, uap putih keluar dari mulutnya karena cuaca yang semakin mendingin.
Mereka harus segera mencari transportasi udara.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, pintu He Zhao diketuk oleh seseorang.
He Zhao baru saja selesai mandi pagi, dia berjingkat dan membuka pintu. Wajah garang dan suram Xi Zihe tepat di depan matanya, terlihat jelas kalau Kapten mereka ini kurang tidur.
"Paman Xi? Ada perlu apa?"
Xi Zihe terlihat ragu-ragu, dia sebenarnya sangat tidak ingin membuat cemas seorang anak kecil. Namun ini untuk keselamatan mereka bersama. Terpaksa Xi Zihe harus meminta tolong padanya.
"Xiao Zhao, ayo berbicara di dalam dahulu."
He Zhao terlihat bingung, namun dia masih membuka pintu untuk Xi Zihe.
Setelahnya Xi Zihe duduk di meja dan menceritakan tentang adanya migrasi zombie ke daerah yang lebih hangat. Wajah He Zhao seketika menjadi pucat. Dia baru saja mengalami kelegaan dengan tinggal di sini, namun sekarang dia harus melewati migrasi zombie?
Xi Zihe segera mengatakan tujuannya, "Jadi aku ingin kau menggunakan dronemu untuk melihat di seluruh kota, apakah ada transportasi udara yang bisa kita gunakan."
Setelah mendengar hal ini, He Zhao sama sekali tidak keberatan. Di sini, dia sama sekali tidak melakukan apa pun, jadi kalau hanya untuk mencari transportasi untuk keselamatan semua orang, tentu saja dia akan setuju tanpa berpikir dua kali.
Xi Zihe mengembuskan napas lega, dia mengacak-acak kepala He Zhao. "Tentu saja tidak masalah. Lakukan saja seperti kau sedang bermain."
He Zhao mengerti kalau Xi Zihe hanya menghiburnya untuk mengurangi tekanan batinnya. Namun dia tahu kalau masalah ini adalah masalah yang serius. Mereka harus mencari pesawat atau helikopter secepat mungkin.
Setelah menyelesaikan urusannya, Xi Zihe berdiri dan hendak keluar dari kamar He Zhao. Sebelum menginjakkan kakinya ke luar, dia berkata, "Cobalah untuk melihat kondisi di bandara terlebih dahulu. Kalau masih ada pesawat yang bagus, kita akan menggunakan itu."
He Zhao mengangguk dengan patuh, "Aku mengerti."
Sejak saat itu, pencarian transportasi udara di serahkan kepada He Zhao. Sedangkan untuk yang lain, mereka mencoba membangun dinding yang lebih kuat di sekitar gedung asrama, sehingga apabila He Zhao tidak bisa menemukan pesawat atau helikopter setidaknya mereka bisa mempertahankan tempat ini.
He Zhao menerbangkan dronenya di belakang gedung asrama. Tempat itu tertutup bayangan gedung, sehingga tidak membuat matanya silau karena sinar matahari.
Feifei adalah salah satu pengangguran di tempat ini, jadi dia lebih memilih melihat He Zhao menerbangkan dronenya.
Biasanya dia akan bermain dengan Yao Yue dan Lu Lin. Namun, Yao Yue sedang membantu mendirikan pagar, sedangkan Lu Lin sedang lumpuh di atas kasurnya karena kejadian terakhir kali.
Xi Zihe sangat kejam, dia tidak memberikan jatah makan malam kepada Lu Lin dan memintanya untuk berlatih tanding melawaannya. Lu Lin dipukuli dan digunakan sebagai samsak tinju, karena keahliannya tidak sebanding dengan Xi Zihe, dia hanya bisa melawan dengan pasif dan hanya bisa melindungi anggota tubuhnya yang penting. Akhirnya Lu Lin berakhir dengan kram di sekujur tubuhnya karena terlalu banyak mengeraskan otot-otot tubuhnya.
__ADS_1
"Apa kamu ingin melihatnya?" Karena takut Feifei bosan, He Zhao dengan lembut mendorong remot kontrolnya di depan Feifei.
Feifei mengangguk antusias, dia duduk dengan patuh di sebelah He Zhao, sedikit mencondongkan kepala untuk melihat layar monitor yang kecil itu.
Feifei bisa melihat pemandangan dari atas. Rasanya sangat baru dan menyenangkan, seakan-akan dia bisa terbang. Namun sayang sekali, pemandangannya sama sekali tidak bagus. Dia hanya bisa melihat gedung dan toko-toko yang hancur, serta zombie buruk rupa yang berjalan-jalan.
He Zhao tidak menemukan apa-apa, akhirnya saat hampir delapan jam, drone He Zhao sudah kembali.
Feifei melihat dengan tatapan ingin tahu saat drone itu hampir mendarat. Dia bisa merasakan hembusan angin saat empat baling-baling itu mendekatinya.
Melihat matanya yang ingin tahu, He Zhao tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Apakah kamu ingin mencoba mengendalikannya?"
Seketika matanya berbinar,"Apakah boleh?" Namun dengan cepat sinar matanya meredup dengan kecewa, "Tapi aku tidak tahu caranya, aku tidak ingin merusaknya."
"Tidak masalah, aku akan mengajarimu."
He Zhao menerangkan dengan singkat cara kerja remote kontrol itu. Dengan hati-hati Feifei mencoba mengendalikannya, dengan salah satu tangan He Zhao masih berada di remote kontrol itu.
Pelan-pelan, drone mengikuti kendali remotenya. Feifei terlihat sangat senang dan semangat. Namun karena terlalu bersemangat, dia menekan tombol kecepatan terlalu dalam.
Drone terbang dengan tidak terkendali.
"Oh tidak."
He Zhao meraih remote, dan berusaha menyeimbangkannya, namun sia-sia, drone menabrak kandang ayam yang ada di belakang asrama.
Bruak
Bunyi itu menarik perhatian Xi Zihe yang sedang membangun pagar di dekatnya. Dia melihat kandang ayam yang ringsek dengan tidak percaya, kemudian mengalihkan pandangannya menuju dua bocah yang sedang berdiri tak jauh dari sana.
"Kalian...." Namun kata-katanya terpotong setelah melihat salah satu ayam yang sudah mati karena terkena baling-baling drone.
Kedua bocah itu berdiri dengan gugup, mereka cemas seperti menunggu guru untuk memberi hukuman karena tidak mengerjakan PR.
Xi Zihe mendekat sambil membawa ayam mati berleher patah itu, "Terimakasih kepada kalian, sekarang telah memotong pasokan telur untuk kita."
Feifei melihat dengan takut-takut wajah Xi Zihe, kemudian pandangannya berpindah ke ayam yang sudah tak bernyawa itu. Feifei menjilat bibirnya dengan malu, kemudian berkata, "Apakah itu artinya kita bisa makan ayam goreng?"
__ADS_1