
Tok tok
Pagi-pagi sekali pintu He Zhao diketuk dengan lembut. Kemudian, suara kecil Feifei terdengar dari balik pintu.
"Zhao-ge, apakah kau sudah bangun?"
He Zhao yang saat itu sedang duduk dan mengelap dronenya, menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekati pintu.
Saat membuka pintu, dia disambut oleh tatapan cemas Feifei.
"Feifei, ada apa?" He Zhao bertanya dengan penasaran. Sebelumnya Feifei tidak pernah mencarinya saat pagi-pagi.
"Itu... Aku ingin bertanya." Feifei mulai berbicara dengan menundukkan kepalanya, terlihat sangat bersalah. "Apakah...dronenya rusak? Aku ingat itu menabrak kandang ayam keras sekali."
Feifei sangat ingin bertanya sejak tadi malam, namun situasinya tidak memungkinkan dia untuk bertanya dengan santai. Semua orang terlihat cemas tentang kedatangan zombie, sehingga dia menjadi lupa untuk bertanya.
Feifei takut jika dronenya rusak, mereka tidak akan bisa menemukan pesawat atau helikopter.
He Zhao tertawa setelah melihat bagaimana cemasnya Feifei.
"Itu tidak rusak. Apakah kau ingin melihatnya?"
He Zhao memberi jalan bagi Feifei untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia melihat Feifei ragu-ragu sejenak sebelum mulai masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati.
He Zhao membimbingnya ke mejanya yang berantakan. Di atasnya, ada drone yang masih belum selesai dia bersihkan.
"Lihat? Baling-balingnya hanya longgar, aku hanya perlu mengencangkannya. Selain itu tidak ada yang salah lagi."
Setelah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa drone itu baik-baik saja, Feifei akhirnya bisa menghela napas lega.
He Zhao sudah menabung lama untuk membeli drone ini. Dia membeli yang ini karena bagus dan bahannya kuat, meskipun harganya lebih mahal daripada yang lain dan dia harus menabung lebih lama. Melihat ke belakang, sepertinya dia tidak salah untuk membeli jenis ini.
"Aku akan menerbangkannya lagi hari ini. Apakah kau ingin melihatnya?"
He Zhao melihat mata Feifei yang menyala, namun kemudian menjadi redup dan ekspresinya menjadi suram. He Zhao sepertinya tahu apa yang dipikirkannya.
Dia menghibur, "Kali ini hanya melihat saja. Jika hanya melihat, paman Xi tidak akan marah."
Feifei segera mengangkat kepalanya dan tersenyum gembira, "Baiklah!"
***
Itu adalah waktu sarapan dan semua orang mengantri untuk mendapatkan jatah mereka. Hanya ada bubur dan kentang rebus yang tersedia untuk mereka. Mereka harus berhemat sebanyak mungkin untuk bertahan hidup.
Di meja para pasukan khusus tidak ada perbedaan, semua orang memiliki makanan yang sama. Hal ini membuat para warga sipil menjadi lebih merasakan kesetaraan.
Yang Ruisi menengok ke kanan dan kiri dengan lesu.
Yao Yue yang melihatnya tidak bisa untuk tidak bertanya. "Sebenarnya ada apa denganmu?"
Yang Ruisi mengembuskan napas dengan berat. "Aku hanya berpikir, jika wabah ini terus berlanjut bukankah jumlah wanita akan menjadi semakin sedikit? Dan akhirnya kita akan dipaksa untuk menjadi gay."
Yang Ruisi merasa regu delapan yang dipimpin oleh Xi Zihe sudah dikutuk. Tidak ada satupun dari mereka yang menjalin hubungan romantis dengan seseorang.
Yao Yue tidak bisa menahan tawanya, "Sebenarnya apa yang kau pikirkan setiap hari?"
__ADS_1
"Tidakkah kau pikir aku benar? Lihat sekelilingmu. Hanya ada 3 wanita. Huft..."
Xi Zihe yang mendengarnya dari meja sebelah tidak bisa menahan diri untuk mencibir. "Kalau pun gay, tidak akan ada yang mau denganmu."
Yang Ruisi, "Menurutku, aku lumayan tampan."
Anggota pasukan khusus yang lain serempak membuat gerakan muntah.
Tiba-tiba Li Yan menyela, "Sepertinya kau melupakan sesuatu. Wakil kapten kita memiliki tunangan kecil di kampung halamannya."
"Aih... Sial. Benar juga. Wen Fan sudah memiliki pujaan hatinya."
Wen Fan yang saat itu sedang menggerogoti kentang rebus hanya bisa mengangguk penuh percaya diri.
"Ini tidak adil! Kenapa Wen Fan memilikinya lebih dulu!"
Lu Lin segera menjawab dari meja sebelah. "Sebelum kau protes, setidaknya mengacalah terlebih dahulu. Wajahmu yang pas-pasan ini tidak mungkin bisa menyaingi wajah lembut nan ramah milik Wakil Kapten kita."
Wen Fan memiliki wajah ramah dan lembut, sama sekali tidak cocok dengan citra seorang tentara yang kasar. Selain itu, dengan sifatnya yang lemah lembut, dia menjadi populer di antara para gadis. Kalau saja dia tidak bergabung dengan ketentaraan, dia akan bisa menjadi bintang idola remaja.
Yang Ruisi menjadi semakin rendah diri. "Sialan Lu Lin. Aku juga ingin merasakan romantisme masa muda..."
Sekali lagi anggota yang lain memasang pose muntah.
Feifei yang saat itu sudah menyimak percakapan mereka dari tadi tidak bisa menahan diri untuk bertanya kata yang baru didengarnya. "Apa itu gay?"
Yang Ruisi, "Oh benar Xiao Fei masih terlalu kecil untuk tahu. Gay itu-Hmmpffh!"
Shen Yuan dengan kejam mendorong satu kentang rebus panas ke dalam mulut Yang Ruisi.
Dia mengabaikan teriakan Yang Ruisi karena lidahnya terbakar. Salahnya karena ingin mencemari telinga polos putrinya. Sedangkan untuk orang lain, mereka menertawakan kebodohan Yang Ruisi.
***
Setelah sarapan pagi, Xi Zihe meminta warga sipil untuk tetap berada di kafetaria karena dia ingin mengumumkan sesuatu. Meskipun kebingungan, namun mereka tetap berada di tempatnya setelah selesai makan.
Xi Zihe berdiri dengan tegak dari tempat dia duduk. Dia berdeham, dan membuat orang-orang yang berdiskusi menjadi diam.
"Baiklah. Aku akan mengumumkan suatu masalah."
Saat mendengar kata 'masalah' para warga sipil secara tidak sadar menjadi duduk dengan tegak, dan menjadi serius.
Xi Zihe memandang orang-orang yang sedang duduk dengan tenang satu per satu. "Kita tidak bisa terus berada di tempat ini."
"Apa?"
"Kenapa? Bukankah sudah nyaman berada di sini?"
"Kenapa harus pergi?"
Banyak orang yang langsung menyatakan ketidaksetujuannya bahkan sebelum Xi Zihe selesai berbicara.
Yao Yue menjadi sedikit sebal, "Diam! Dengarkan dulu Kapten sampai selesai berbicara."
Orang-orang langsung menghentikan mulut mereka masing-masing dari mengeluarkan lebih banyak kata.
__ADS_1
Xi Zihe menghela napas dan melanjutkan, "Ini karena fungsi dasar zombie untuk mencari kehangatan masih berfungsi. Mereka akan segera bermigrasi ke Selatan untuk mencari kehangatan. Kalau kita terus berdiam diri di sini, kita akan bertemu dengan lebih banyak kelompok zombie yang akan bermigrasi ke Selatan."
Untuk mencapai wilayah selatan, para zombie itu harus melewati kawasan pabrik yang mereka diami.
Xi Zihe melanjutkan, "Kami berpikir untuk pergi mencari pesawat atau helikopter untuk pergi ke pangkalan militer pusat yang ada di pulau reklamasi."
"Dalam tiga hari, jika kita tidak dapat menemukannya, maka kita akan pergi ke kota H untuk mengambil helikopter yang ada di barak militer di sana."
Orang-orang menjadi diam, berpikir apakah keputusan Xi Zihe dapat mereka terima atau tidak.
Tidak menunggu lama, suara oposisi kembali terdengar. "Kalau begitu, bukankah lebih baik kalau kita pergi ke Utara? Dengan banyaknya zombie yang pergi ke selatan, bukankah wilayah Utara menjadi kosong?"
Diprakarsai oleh suara pertama, muncul lebih banyak orang yang menentang ide Xi Zihe untuk pergi.
"Aku juga berpikir lebih baik pergi ke Utara. Aku punya perusahaan di kota D, kita bisa pergi ke sana. Setidaknya aku masih punya persediaan untuk dibagikan kepada orang-orang."
"Kenapa kalian tidak menghubungi pangkalan militer itu saja dan meminta mereka untuk mengirim helikopter kemari?"
"Ya! Itu benar."
Api kemarahan mulai berkobar di dalam diri Xi Zihe. Orang-orang ini tidak mau berusaha dan hanya bisa mengeluh.
Xi Zihe menggebrak meja, menimbulkan suara yang keras dan membuat semua orang menjadi diam.
"Bagi kalian yang tidak setuju, silahkan angkat tangan."
Mereka terlihat ragu-ragu dan takut. Saat bersama tadi, mereka dengan berani menyuarakan pendapat namun saat diminta untuk menunjukkan diri, mereka mengelak. Xi Zihe sangat memandang rendah tipe orang seperti ini.
"Ada apa? Bukankah tadi kalian berbicara dengan semangat?"
Merasa terprovokasi, seorang lelaki dengan berani mengangkat tangannya. Kemudian diikuti oleh beberapa orang yang juga mengangkat tangan. Ada 5 dari mereka, dan semuanya lelaki.
Xi Zihe mengangguk, "Oke. Yang lainnya?"
Seorang bibi yang bertugas memasak dengan tegas mengangkat suaranya. "Aku akan mengikuti keputusan Kapten Xi. Karena sejak berada di pusat penampungan, dia tidak pernah mengambil keputusan yang salah, dan selalu memimpin dengan adil."
Setelah itu banyak yang mengutarakan pendapat yang sama dengan bibi itu.
"Benar. Aku juga akan mengikuti kapten Xi."
"Aku juga. Kapten Xi sangat bertanggung jawab."
"Aku juga akan ikut Kapten Xi."
Xi Zihe menghembuskan nafas lega. Setidaknya, masih ada orang yang mau mengikutinya dan bisa melihat kerja kerasnya.
Setelah menunggu beberapa saat, hanya ada lima orang yang benar-benar tidak menyetujui keputusan Xi Zihe. Kemudian Xi Zihe meminta orang-orang itu untuk mengikutinya menuju gudang. Dia bermaksud untuk berbicara dan membujuk mereka lagi secara terpisah.
Sebelum pergi, dia menyeret Shen Yuan untuk mengikutinya. "Ayah, temani aku berdiskusi."
Shen Yuan yang sedang bersiap untuk pergi dari kafetaria seketika memasang wajah tidak senang. "Minta wakilmu untuk menemanimu!"
"Tidak, dia terlalu berhati lembut. Ayolah!"
Akhirnya Shen Yuan terseret lagi oleh permintaan acak Xi Zihe.
__ADS_1