
Kawasan industri yang berada di selatan, sekitar dua puluh kilometer dari pabrik handuk.
Gelombang zombie belum mencapai daerah itu, dan hanya ada zombie yang sesekali lewat.
Lu Lin menginjak rem, memarkirkan kendaraan lapis baja di pinggir sungai. Beberapa saat kemudian, Yang Ruisi yang mengendarai mobil bak terbuka menyusulnya.
Xi Zihe segera turun dari atap kendaraan. Dia membawa tas dengan satu bahu, dan membawa senapan mesin berat di bahunya. Dia berjalan menyusuri jalan hingga berhenti di sebuah mobil Land Rover hitam.
Xi Zihe segera melemparkan barang bawaannya dan masuk ke kursi pengemudi.
Yang Ruisi bertanya dengan nada khawatir, "Kapten?"
Lu Lin bergegas turun dari kendaraan, "Kapten, apa yang kau lakukan?!"
"Aku akan kembali." Jawab Xi Zihe.
Lu Lin segera meraung, "Sendirian?! Apa kau gila?! Kau hanya akan mengantar nyawa!"
"Anggota timku masih di pabrik." Kata Xi Zihe dengan suara serak dan mata merah. "Dan aku sudah berjanji pada Xiao Fei akan menjemput ayahnya."
Xi Zihe memeriksa bahan bakar yang ada, setelah mengetahui jumlahnya cukup untuk perjalanan pulang pergi, dia menyalakan Land Rover itu. Perlahan dia memutarkan mobilnya dari kemacetan lalu lintas dan berhenti tepat di depan Lu Lin dan Yang Ruisi.
Xi Zihe berkata dengan perlahan, "Kalian berdua jagalah orang-orang di sini. Saat ada keadaan darurat, pergilah ke kota H dengan kendaraan."
Pada saat ini terdengar suara Feifei yang telah keluar dari kendaraan lapis baja. "Paman Xi!"
Xi Zihe harus turun dan menghampiri Feifei. "Tenang saja, paman akan membawa ayahmu kembali."
Feifei hanya bisa menangis dan memegang ujung seragam militer Xi Zihe. "Tolong, selamatkan ayahku..."
Xi Zihe mengangguk mantab, "Pasti.",
Saat dia hendak masuk ke dalam mobilnya, Wei Qian bergegas ke arahnya. "Kapten! Ijinkan aku ikut denganmu!"
Xi Zihe dengan cepat menolak, "Tidak, kau sedang terluka."
Wei Qian tidak menyerah, "Aku akan menjadi supirmu! Kapten, kau bisa menyingkirkan zombie yang ada di jalan."
__ADS_1
Wei Qian merasa tidak nyaman sepanjang perjalanan. Kalau temannya mati di pabrik itu,dia akan merasa sedih seumur hidupnya. Karena mereka telah bertahan di situasi hidup dan mati bersama.
Setelah mempertimbangkannya, dia mengizinkan Wei Qian untuk menjadi supir perjalannya.
Tanpa istirahat ataupun minum seteguk air, mereka berdua segera kembali lagi ke asrama pabrik yang dikelilingi zombie di tengah gelapnya musim dingin.
***
"Bisakah kalian bertahan?" Yao Yue bertanya tanpa berbalik.
Mereka semua terengah-engah setelah semua kejadian yang terjadi malam ini. Khususnya Shen Yuan yang membawa Wen Fan di punggungnya.
Dengan udara yang dingin, setiap napas yang mereka ambil terasa semakin menyakitkan.
Shen Yuan berusaha menjawab di tengah tarikan napasnya, "Aku masih bisa bertahan."
Li Yan berbicara pelan, "Waspada. Kita akan naik lagi."
Li Yan memimpin jalan, mereka mengelilingi Shen Yuan yang ada di tengah barisan dengan Wen Fan. Paling belakang adalah Song Yi yang sekarang menggunakan senapan serbu milik Wen Fan. Mengambil kesempatan dengan kurangnya zombie di koridor, mereka berlari secepat mungkin.
Meski mereka telah melakukan upaya terbaik mereka, tim kecil yang bertekad untuk hidup tidak memiliki kesempatan untuk berbicara. Langkah-langkah zombie yang menyeret semakin mendekat, erangan kemudian bisa terdengar di setiap sudut. Para zombie mulai mengejar mereka!
Li Yan dan Yao Yue berbalik, membidik dan dan keduanya secara bersamaan menarik pelatuk. Han Yu hanya bisa memberi mereka dukungan dari samping dengan pistol.
Di lingkungan yang gelap, dengan peluru beterbangan, Shen Yuan tidak bisa memastikan apakah itu manusia atau zombie. Dia hanya berfokus untuk mencari jalan menuju ke atas.
Dengan Wen Fan di punggungnya, Shen Yuan berlari seperti hanya itulah satu-satunya cara untuk hidup. Li Yan dan yang lainnya menekan zombie dengan tembakan mereka sementara dia mencari arah untuk yang lain ke arah tangga.
Tapi ketika mereka hendak menuju ke atas, suara Song Yi pecah di udara. "Ada zombie juga di sini! Hati-hati!"
Berdiri di tengah koridor, Yao Yue melirik ke kanan, kiri dan ke lantai bawah. Dalam semburan tembakan yang terang, dia melihat sekelompok zombie yang mengerang dan mengejutkan saat mereka naik ke atas.
Zombie tiba-tiba mengapit mereka dari dua sisi. Li Yan mengarahkan senjatanya, menembak tanpa henti saat saling memunggungi dengan Yao Yue, menyerang sebaik mungkin. Dia berteriak kepada yang lain, "Pergilah! Naik ke atas!"
Lingkungan mereka tertutup dalam kegelapan, tetapi dengan semburan cahaya yang berasal dari tembakan senjata api, Shen Yuan bisa melihat anak tangga di depannya. Dengan cepat dia berlari ke atas dengan beban di punggungnya.
Namun di pertengahan tangga menuju lantai di atasnya, zombie muncul di depan matanya. Shen Yuan dengan cepat mencabut pisau militer di pahanya dan menusukkan pisaunya hingga menembus tenggorokan, dan memotong tulang lehernya.
__ADS_1
Wen Fan di punggungnya juga ikut menembak dengan pistol. Beberapa zombie di depan runtuh seketika.
Shen Yuan mengambil keuntungan dari jatuhnya zombie, dia berlari semakin cepat menaiki tangga, menginjak tubuh busuk di bawah kakinya.
Shen Yuan meraung, "Ayo naik sekarang!"
Ada total enam lantai di gedung asrama. Menggendong Wen Fan, Shen Yuan bergegas menaiki tangga. Song Yi berada di depannya, dengan yang lain mengikuti di belakangnya, mendukung mereka saat berlari. Mereka segera tiba di atap asrama.
Pada akhirnya, kecepatan zombie berkurang jika dibandingkan dengan manusia. Jadi ketika mereka mencapai lantai paling atas, mereka hampir tidak bisa mendengar gerakan zombie. Hanya erangan-erangan samar yang bisa didengar, bergema di antara tangga dan lantai.
Atap sepertinya telah digunakan oleh pengawas bangunan. Ada pintu besi di bagian atas tangga. Mereka dengan cepat melewati pintu besi tanpa menimbulkan banyak suara. Li Yan bereaksi dengan cepat, mengunci dan memblokir pintu dengan beberapa barang rongsokan yang ada di atap. Dia bahkan membengkokkan kawat besi untuk memperkuat segel pintu.
Mereka kemudian pergi ke belakang tangki air untuk beristirahat. Saat mereka meletakkan pantat mereka ke tanah, mereka akhirnya bisa merasa sedikit lega.
Mereka semua terengah-engah, berusaha mengambil lebih banyak oksigen dengan membuka mulutnya.
Shen Yuan dengan hati-hati menempatkan Wen Fan di tanah. Dia segera menggulung celana Wen Fan dan memeriksa keadaan kakinya. Benar saja, kaki kanan Wen Fan patah.
"Aku akan mencari sesuatu untuk menyangganya."
Shen Yuan mulai mencari di antara barang rongsokan yang ada di atap. Dia berhasil menemukan pelat logam yang agak berkarat.
Dia meletakkan pelat logam di bawah kaki Wen Fan, kemudian menggunakan potongan kemejanya untuk mengikat. Setelah memastikan itu tidak akan bergeser, Shen Yuan akhirnya bisa sedikit beristirahat.
"Oh sial, dingin sekali." Yao Yue mulai menggigil.
Mereka hanya menggunakan seragam, dan pakaian seadanya, sehingga saat ketegangan sudah menurun, mereka mulai merasakan dingin yang menggigit. Ditambah mereka mengeluarkan banyak keringat saat pertempuran, sekarang keringat itu menambah dingin di badan mereka.
Mereka akhirnya duduk berdekatan, berusaha menghalangi angin dingin sebaik mungkin.
"Apakah Kapten Xi akan kembali?" Li Yan bertanya dengan was-was.
Sebenarnya mereka semua mempertanyakan itu di dalam hatinya. Dengan lautan zombie ini, mereka tidak mau Kapten mereka kehilangan nyawa hanya untuk menyelamatkan mereka. Namun sesuatu di dalam hati mereka menjerit dan berharap Kapten mereka datang menyelamatkan mereka. Hati manusia sungguh membingungkan!
Wen Fan menjawab, "Kapten adalah orang yang menepati perkataannya. Jika dia mengatakan akan datang, maka dia akan datang."
Mereka semua menghembuskan napas dingin dan semakin meringkuk, mengecilkan tubuh mereka untuk menahan dingin.
__ADS_1
Yao Yue tertawa dengan bercanda. "Mungkin kita tidak akan mati di tangan zombie, melainkan mati kedinginan."
Kapten Xi, cepat datang dan selamatkan kami dari mati membeku!