
"Apa kamu lihat jiejie itu? Namanya Yao Yue-jiejie."
He Zhao mengangguk, dia berulangkali melafalkan nama itu di dalam benaknya. Perlahan-lahan daftar nama di otak He Zhao semakin bertambah banyak.
Feifei dan He Zhao sedang berjongkok di pojokan kafetaria, melihat para orang dewasa yang sedang sibuk merapikan perbekalan mereka. Karena tidak ingin menghalangi pekerjaan mereka, akhirnya mereka berdua hanya bisa mengamati dari pinggir.
He Zhao kurang lebih sudah menghafal seluruh tata letak tempat ini karena Feifei mengajaknya berkeliling dengan antusias semalam. Dia bahkan tidak percaya kalau dia bisa mendapatkan kamar untuk dirinya sendiri.
Sekarang dia mulai mendengarkan Feifei memperkenalkan nama orang lain satu per satu. Dengan hati-hati, He Zhao berusaha menghafalkan nama mereka.
"Oh apa kamu lihat paman itu?" Feifei menunjuk seorang pria paruh baya yang sedang duduk dan membaca koran kadaluarsa. "Namanya paman Wang, Wang Xingye."
"Oke, paman Wang." Seperti terhipnotis, He Zhao mengulanginya secara refleks.
Tiba-tiba seseorang ikut berjongkok di sebelah mereka berdua, "Apa yang kalian lakukan di sini?"
Mereka berdua menoleh secara serempak.
"Qian-ge." Feifei menyapanya, dan memperkenalkan kepada He Zhao. "Ini Qian-ge. Wei Qian-ge."
"Halo, Qian-ge." Dengan ramah He Zhao menyapanya.
"Halo, halo." Wei Qian menopang dagunya dengan telapak tangan saat dia ikut berjongkok dengan dua bocah ini.
"Em... Feifei sedang membantuku untuk memperkenalkan nama orang-orang." He Zhao berinisiatif untuk memberitahunya.
Wei Qian mengangguk mengerti. Feifei memang mudah beradaptasi dengan orang lain, dan saat dia sudah mengenalmu, dia akan berbicara dengan antusias. Jadi, meminta Feifei untuk mengenalkan orang lain kepada He Zhao adalah keputusan yang tepat.
"Apa Zhao-ge dan Qian-ge ingin permen? Aku akan membagikannya untukmu." Dengan cepat Feifei membuka tas beruang yang selalu dia bawa itu. Bagian dalamnya sudah penuh dengan permen dan coklat. Feifei menyodorkan tasnya, agar mereka bisa memilih rasa yang mereka sukai.
Setelah berterimakasih, He Zhao mengambil rasa blueberry dan Wei Qian mengambil rasa lemon. Feifei sendiri mengambil rasa stroberi.
Saat mereka sedang membuka bungkus permen, Song Yi kebetulan lewat di depan mereka.
"Oh. Aku juga ingin satu." Secara alami orang yang berjongkok di pojokan bertambah satu.
Li Yan dan Lu Lin yang saat itu sedang memindahkan amunisi yang mereka dapat, kebetulan melihat mereka yang berjongkok.
Li Yan bertanya dengan bingung, "Apa yang mereka lakukan?"
Lu Lin menjawab dengan ringan, "Mungkin main rumah-rumahan."
Setelah itu, dia buru-buru meletakkan kotak amunisi, dan berjalan ke arah mereka.
Saat Lu Lin mendekat, percakapan yang dia dengar adalah..
Wei Qian, "Aku bisa membuat katak."
He Zhao, "Aku juga bisa membuat bentuk tikus."
Song Yi, "Aku hanya bisa membuat mawar."
Feifei matanya berbinar, "Sungguh? Paman Song, tolong ajari aku!"
__ADS_1
Song Yi menggelengkan kepalanya dengan kecewa, "Sayang sekali, kita tidak memiliki kertas origami di sini."
"Siapa bilang kita tidak memilikinya?"
Mereka berempat dengan serentak memutar kepala. Lu Lin berjalan mendekat dengan sikap yang menunjukkan keagungan, namun sayang sekali kain kasa yang ada di dahinya membuatnya tidak tampak agung sama sekali.
"Ini. Pakai ini." Dari dalam kantong celana kamuflasenya, Lu Lin mengeluarkan uang kertas 100 yuan merah yang mencolok. Tidak tanggung-tanggung, dia mengeluarkan tumpukan uang!
Song Yi menganga melihat banyaknya uang itu, "Dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini?"
Lu Lin mendapatkan uang tersebut dari warga sipil saat masih berada di tempat penampungan. Setelah mengambil uang itu, Lu Lin langsung didisiplinkan oleh Xi Zihe, berkata kalau prajurit militer tidak boleh menerima suap dari warga sipil. Lu Lin ingat setelah didisiplinkan, dia mengalami kram di sekujur tubuhnya hingga dia tidak bisa bergerak untuk waktu yang lama.
Lu Lin seketika merinding, "Ehem! Ini uangku sendiri."
Mereka berempat memandangnya dengan tidak percaya.
"Pokoknya! Pada saat seperti ini, uang menjadi benda yang tidak penting, kalian tahu? Ambil saja, gunakan sebagai tisu toilet atau apalah." Setelah berpikir sebentar, dia menambahkan, "Asal kalian tahu, Kapten Xi kehabisan tisu toilet kemarin, dan dia secara pribadi meminta uang kertas kepadaku untuk menggunakannya sebagai ganti tisu toilet."
Mereka memandang Lu Lin dengan ekspresi aneh, seakan bertanya, 'apakah bisa bersih?'
Lu Lin hanya menyeringai dan memberikan jempolnya ke arah mereka. "Percayalah padaku!"
***
Beberapa jam terakhir, Xi Zihe dibuat kebingungan dengan pertanyaan orang-orang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa salah satu anggota regunya telah mengarang cerita dengan dia sebagai protagonisnya.
Pertama, Song Yi mendekatinya dan berkata dengan kalimat yang aneh. "Kapten, tidak masalah jika kau ingin menggunakan kamar mandiku."
Xi Zihe menjawab dengan bingung, "Tidak, aku bisa menggunakan kamar mandiku sendiri."
Xi Zihe mengerutkan keningnya dengan bingung, "Tidak perlu." Lagipula dia masih memiliki beberapa gulung di kamar mandinya, untuk apa memilikinya lagi.
Ketiga, He Zhao dengan ragu-ragu mencoba berbicara dengannya. "Paman Xi, apakah paman membutuhkan tisu toilet? Walaupun cuma tisu, aku akan memberikannya untukmu."
Xi Zihe semakin dibuat bingung dengan pertanyaan orang-orang. "Tidak, aku tidak memerlukannya."
He Zhao terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun dia mengurungkan niatnya. Akhirnya dia pergi dengan raut wajah yang aneh dan bingung.
Terakhir, saat Xi Zihe sedang mengecek kondisi senapan, Feifei menarik lengan bajunya. "Paman Xi, paman Xi. Apakah paman kehabisan tisu toilet? Milikku dan ayah masih banyak."
Pertanyaan aneh ini lagi?
Akhirnya Xi Zihe tidak bisa menahan kebingungannya lagi. Dia menangkap Feifei untuk diintrogasi.
"Katakan, sebenarnya kenapa kamu bertanya tentang tisu toilet?"
Xi Zihe membungkuk, menyejajarkan matanya dengan mata Feifei, dan menunggu gadis kecil itu menjawab pertanyaannya.
Feifei terlihat ragu-ragu saat akan mengatakannya. Akhirnya dia bertanya dengan jelas.
"Bukankah paman kehabisan tisu toilet?"
"Hah?" Xi Zihe dibuat bingung dengan pertanyaannya. Namun kalimat Feifei selanjutnya lebih mengagetkannya.
__ADS_1
"Paman kehabisan tisu toilet sampai harus memakai uang kertas kan?"
"HAH!?" Rahang Xi Zihe langsung jatuh.
Dia tidak tahu dari mana Feifei mendengar informasi yang sangat salah ini.
Xi Zihe meraih bahu Feifei dan bertanya sambil menahan emosi. Siapapun yang menyebarkan berita itu, akan dia beri pelajaran. Dengan senyum yang dipaksakan, Xi Zihe bertanya, "Siapa yang memberitahumu hal ini?"
Feifei tidak mengecewakannya. Tanpa ragu dia menjual nama Lu Lin. "Paman Lu Lin yang memberi tahu kami."
Kami...
Kami...!
KAMI!!
Tidak heran orang orang terus menanyakan hal aneh yang tidak dia mengerti.
Beberapa saat kemudian, suara Xi Zihe terdengar bergema ke seluruh asrama.
"LETNAN SATU LU LIN! SEGERA TUNJUKKAN WAJAHMU KE HADAPANKU SEKARANG!!!"
***
Saat malam hari, Feifei sedang menyimpan kumpulan kertas origami yang dia buat pagi tadi dengan yang lainnya.
Saat menyimpan origami berbentuk mawar, dia terlihat kebingungan.
"Em? Bukankah tadi ada lima? Kenapa cuma ada empat?"
Catatan penulis :
Tentang umur para tokoh :
Shen Yuan, 34 tahun
Shen Feifei, 10 tahun
Xi Zihe, 30 tahun
Wen Fan, 30 tahun
Li Yan, 29 tahun
Yang Ruisi, 28 tahun
Lu Lin, 28 tahun
Yao Yue, 23 tahun
Wei Qian, 21 tahun
Song Yi, 26 tahun
__ADS_1
He Zhao, 16 tahun