Living Dead

Living Dead
Bab 25 - Evakuasi Darurat


__ADS_3

Saat ledakan sudah selesai, Shen Yuan segera memeriksa keadaan sekitar. Api membumbung di reruntuhan helikopter dan para zombie menyambar mereka yang hidup.


Di tengah kekacauan, Shen Yuan melihat Wen Fan yang tidak bisa melarikan diri karena kakinya tertimpa pecahan badan helikopter.


Shen Yuan berlari mendekatinya dengan Feifei. "Wen Fan!"


Mata Wen Fan menunjukkan perasaan lega setelah melihatnya, namun setelah itu ekspresinya berubah menjadi ketakutan.


"Tidak! Jangan kemari! Tinggalkan saja aku dan pergi!" Dia bisa melihat gelombang zombie di belakang Shen Yuan.


Namun Shen Yuan tidak mendengarkannya dan berusaha mengangkat pecahan tubuh helikopter itu.


Wen Fan menyaksikan zombie yang hangus terbakar itu tertatih-tatih menuju Shen Yuan, dia berteriak tajam, "Tinggalkan aku! Zombie itu tepat di belakangmu!"


"Diamlah! Aku sudah tahu!"


Feifei yang menyaksikan dari samping juga ikut cemas. Namun dia juga ingin ayahnya menyelamatkan Wen Fan. Jadi Feifei tanpa rasa takut masih berdiri di samping mereka berdua.


Shen Yuan memungut batang baja, memasukkan ujungnya ke bawah pecahan itu, dan menggunakannya sebagai pengungkit. Dengan menggunakan berat badannya, pecahan helikopter mulai bergerak perlahan. Dia bisa mendengar suara zombie yang terengah-engah dan bau busuknya tepat dibelakangnya. Pada saat yang sama, Wen Fan berhasil menarik kakinya keluar dari celah sempit.


Shen Yuan berteriak, "Apa kakimu patah?"


"Tidak, ayo pergi!" Wen Fan menarik tangan Feifei pergi dari sana. "Turun dari atap dan kembali ke gudang!"


Saat mereka sedang berlari, Feifei melihat seseorang yang dikenalnya, dia berteriak, "Ah, Bibi!"


Shen Yuan melihat arah pandang putrinya, dia melihat seorang wanita paruh baya sedang dikejar oleh zombie tak jauh dari mereka. Shen Yuan juga mengenalinya, saat makan siang, dia memasukkan sebuah telur rebus ke dalam tangan Feifei dengan diam-diam. Dia adalah salah satu dari hanya beberapa orang yang menerima keberadaan Feifei.

__ADS_1


Shen Yuan adalah seseorang yang miskin kasih sayang. Jadi apabila ada orang yang baik kepadanya ataupun kepada putrinya, dia pasti akan membalas budi.


"Jaga putriku!" Shen Yuan memberi instruksi kepada Wen Fan sebelum di tanpa ragu berlari ke arah wanita tua itu.


Shen Yuan mengeluarkan pisau militernya. Dengan ayunan lengannya, kepala zombie terbang, terputus dari lehernya, dan tubuhnya yang hangus jatuh dengan keras ke atas tanah.


Bibi itu berterimakasih sebelum berlari mengikuti mereka.


Situasi di atap telah berubah menjadi medan pertumpahan darah. Dari segala arah, mereka bisa mendengar teriakan dari orang-orang yang terbakar dan raungan ganas dari zombie yang bersemangat menemukan mangsa. Banyak orang berlumuran darah, menangis dan berlari sekuat tenaga mereka, berkerumun menuju pintu lorong evakuasi. Di tengah kekacauan, banyak orang yang terinjak-injak oleh yang lain, hanya memikirkan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


"Xi Zihe!" Shen Yuan mengeraskan suaranya.


Xi Zihe menebas zombie yang mendekati pintu lorong dengan kapak pemadam kebakaran. Namun dalam setengah detik ketika dia menarik keluar kapak dari tubuh zombie, dua sampai tiga korban terinfeksi yang jelas telah tergigit zombie masuk ke dalam gedung.


Shen Yuan meraih bahunya yang sudah ternoda banyak darah busuk, dia berteriak, "Ayo pergi! Kau tidak perlu repot-repot untuk menjaga pintu ini! Kau tidak bisa mengendalikan situasi lagi!"


"Ayo pergi, Kapten! Mereka semua sudah terinfeksi!" Yao Yue berlari melawan arah, suaranya sangat keras saat meneriaki mereka, "Cepat! Kembali ke gudang!"


Saat ini, ledakan kedua terjadi di reruntuhan helikopter yang terbakar, lebih banyak lagi zombie dan orang-orang yang selamat terlempar ke tepi gedungĀ  karena kekuatan ledakan, hancur berkeping keping di jalanan. Darah mereka membasahi setiap inci tanah beton di bawahnya.


Xi Zihe menghembuskan nafas panas dan lemah, mengamati anggota regunya yang tertutup debu dan darah. Bahkan si kecil Xiao Fei, memandangnya dengan wajah yang ternoda debu hitam. Xi Zihe berteriak keras, "Beberapa dari kalian yang masih hidup, dengarkan!"


Xi Zihe mengeraskan suaranya lagi, "Segera pergi ke tempat parkir bawah tanah di Utara bangunan! Kuulangi, segera pergi ke tempat parkir bawah tanah di Utara bangunan!"


Xi Zihe memimpin kelompok, berlari ke lorong yang aman.


Pada saat ini, situasi di lorong telah menjadi lebih gila dan berdarah daripada di atap. Banyak korban yang terinfeksi telah bermutasi menjadi zombie saat mereka berlari, dan mulai menerkam orang-orang di lorong yang sempit itu. Karena terbatasnya tempat untuk bergerak, mereka menjadi mangsa yang empuk. Jumlah orang yang tergigit dan bermutasi meningkat pesat. Lampu di lorong telah hancur beberapa waktu yang lalu, dan dalam kegelapan erangan zombie dan jeritan korban seperti datang dari segala arah.

__ADS_1


Xi Zihe menggunakan kapak yang tajam untuk memotong jalan melewati kerumunan, melindungi beberapa orang yang selamat di belakangnya. Beberapa kali akan ada zombie yang menerjang ke arah mereka. Namun mereka mati di bawah kapak tajam Xi Zihe, dan sesekali Shen Yuan akan membantunya saat ada terlalu banyak zombie yang menyerang mereka.


Lantai di bawah kaki mereka licin dengan darah dan daging. Siapa yang tahu seberapa banyak tubuh dengan isi perut yang tumpah di seluruh lantai yang telah mereka injak. Beberapa dari mereka berpikir dalam hati, untunglah lampu di lorong padam, kalau tidak mereka tidak yakin akan sanggup melintasi lorong ini.


Rasanya seperti perjalanan yang panjang tanpa akhir, tetapi sekarang mereka akan mencapai akhir dari lorong. Dengan ayunan kapak, Xi Zihe menerjang melewati pintu tangga, dan masuk ke parkiran bawah tanah.


"Cepat, cepat, ayo keluar!"


Sekelompok orang yang sudah selamat terhuyung-huyung melewati pintu tempat dia keluar. Xi Zihe berbalik dan menutup gerbang keselamatan yang terbuat dari besi, mencegah gerombolan zombie masuk bersama mereka ke tempat parkir.


Xi Zihe memperkirakan jumlah korban yang selamat dengan sapuan matanya, lalu segera membuat keputusan. "Aku akan mengendarai kendaraan lapis baja itu. Wen Fan, kau kemudikan bus berukuran sedang itu. Ayo!"


Ini adalah rute pelarian yang direncanakan oleh Xi Zihe dan Yao Yue apabila semua tidak berjalan sesuai rencana. Mereka akan menggunakan bus ukuran sedang untuk mengangkut orang-orang yang selamat ke tempat yang aman. Mereka bahkan telah memindahkan setengah dari perbekalan ke dalam bus.


Wen Fan mengulurkan tangannya untuk meminta kunci, lalu berhenti tiba-tiba di depan bus berukuran sedang. Dia berdiri dengan goyah dan menatap kerumunan yang ketakutan.


"Cepat buka pintunya, biarkan kami naik!"


"Jangan tinggalkan kami!"


Tangisan panik dan teriakan keluar dari kerumunan. Sangat keras hingga bergema mengisi tempat parkir yang luas dan kosong ini.


Wen Fan dengan kaku menelan ludahnya. Dia membuka mulutnya beberapa kali, namun sama sekali tidak bisa mengatakan apa pun. Wen Fan adalah orang yang lembut, dia tidak sanggup untuk mengatakan hal itu. Tepat pada saatnya, bahunya ditepuk oleh Xi Zihe dan mendorongnya ke belakang.


Xi Zihe sangat tinggi dan tegap. Auranya bisa mendominasi banyak orang, matanya perlahan menyapu kerumunan. Teriakan dan tangisan perlahan menghilang di bawah tatapannya ini, hingga suasana menjadi tenang. Semua orang menatapnya dengan ketakutan dan kebingungan.


Xi Zihe akhirnya membuka mulutnya, suaranya dalam dan tegas, "Mereka yang sudah tergigit harus tetap tinggal di sini."

__ADS_1


__ADS_2