
"Lalu apa yang kau lihat di komputernya?" Xi Zihe menghembuskan lingkaran asap kelabu. Bau asap rokok memenuhi ruang gudang yang sempit, mengusir bau apek di dalamnya.
Shen Yuan terus menyentuh pistol yang ada di kantong celananya. Dinginnya pistol sedikit memberikan ketenangan pada dirinya.
"Hanya data dari eksperimen beberapa pasien rumah sakit jiwa."
Xi Zihe menaikkan alisnya, menatap langsung ke mata Shen Yuan, mencoba mencari jejak kebohongan pada dirinya. Namun, dia tidak menemukan apa-apa, mata itu sekarang tidak memiliki emosi apapun. Kemudian dia mendengar Shen Yuan berkata, "Data dari hasil pengamatan itu menyebutkan kalau sebagian besar pasien yang disuntik oleh virus akan bermutasi dalam jangka waktu beberapa hari. Diawali dengan bertambahnya nafsu makan dan akhirnya berubah menjadi rasa haus darah."
"Mereka yang terinfeksi tidak tertarik dengan makhluk hidup lain selain manusia hidup, jadi mereka tidak akan tertarik pada mayat."
"Saat terinfeksi, kesadaran dan rasionalitas mereka akan semakin menghilang, hanya menyisakan kegilaan untuk mendapatkan daging manusia."
Shen Yuan menatap Xi Zihe tepat di matanya, "Sekarang apakah kau sudah menyadarinya? Virus itu bermutasi. Sepuluh tahun yang lalu virus itu membutuhkan waktu selama beberapa hari untuk menginfeksi manusia menjadi makhluk haus darah, zombie. Namun sekarang jangankan beberapa jam, bahkan ada yang bermutasi dalam waktu kurang dari satu menit."
Shen Yuan pura-pura tidak melihat ekspresi pucat Xi Zihe dan tetap melanjutkan, "Kalau virus ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin bagi virus itu untuk menginfeksi hewan, bahkan tumbuhan. Ini hanyalah masalah waktu saja."
"Pada saat itu, sudah dipastikan umat manusia akan musnah."
Ssshhh
Entah sejak kapan rokok Xi Zihe sudah habis dan membakar jarinya. Dengan panik dia mengibas ngibaskan tangannya, menghilangkan bara abu panas yang mengenai jarinya. Dia mengutuk, "Sialan!"
"Lalu apa kau tahu bagaimana membuat antibodinya?" Xi Zihe bertanya sambil melindas puntung rokok dengan kakinya, nyala merah bara api akhirnya padam di bawah tirani sepatu militer.
"Aku tidak tahu. Apa kau pikir aku serba bisa?" Shen Yuan menghela nafas tidak berdaya, "Itu bukan bidangku. Lagipula aku sudah berhenti menjadi dokter sejak lama."
"Kenapa?"
Shen Yuan hanya meliriknya, "Aku tidak nyaman berada di tempat seperti rumah sakit."
Xi Zihe ingin mengatakan sesuatu, namun disela olehnya, "Pembicaraannya sudah selesai kan? Aku ingin keluar."
Xi Zihe hanya bisa menyetujuinya.
Saat mereka berdua akhirnya keluar, apa yang disambut oleh mata mereka sama sekali tidak terbayangkan.
__ADS_1
Mereka melihat Feifei duduk di atas peti barang, sambil mencoba merakit senapan. Senapan itu sangat besar dibandingkan dengan tubuh kecilnya. Di sampingnya, terlihat Yao Yue yang dengan semangat memberikan arahan. Tak jauh dari mereka ada Wen Fan yang sedang melihat mereka dengan tatapan tak berdaya.
Lu Lin tiba-tiba keluar dari balik punggung Feifei, entah sejak kapan dia sudah bangun dari tidurnya. "Hei Xiao Fei setelah merakit senjata ini ayo kita main lempar tangkap granat!"
Xi Zihe langsung mendatangi dan menarik telinganya, "Lempar tangkap granat? Kenapa tidak lempar tangkap kepalamu saja, huh? Aku akan ikut berpartisipasi."
"Ackk sakit, Kapten! Mau bagaimana lagi, tidak ada bola di sini." Lu Lin terus merengek.
Xi Zihe akhirnya melepaskan telinganya, Lu Lin dengan sedih mengusap telinganya yang sudah berubah menjadi merah. Dia bersumpah, ibunya tidak pernah menarik telinganya seperti ini! Dia ingin memprotes, tapi setelah Xi Zihe memberi tatapan tajam, keberaniannya langsung menciut.
Shen Yuan mendekat, melihat kekacauan di sekitar Feifei, "Apa yang kau ajarkan kepada putriku?"
Dengan semangat Yao Yue menjawab, "Merakit senjata! Bukankah sama saja dengan bermain puzzle?"
Shen Yuan, "...." Puzzle, nenekmu!
Shen Yuan berani bersumpah kalau putrinya terus bergaul dengan anggota tentara ini, sebelum usia 11 tahun dia pasti sudah mulai menembak orang menggunakan senapan.
"Lihat ayah, aku bisa merakit ini!" Feifei dengan susah payah berusaha mengangkat senapan yang besar itu, untuk diperlihatkan padanya. Kekhawatiran tentang ayahnya yang dibawa menuju gudang tadi sudah dilupakan seutuhnya olehnya.
Wen Fan dengan hati-hati melihat ekspresi Xi Zihe setelah keluar dari gudang. Selain Kapten, hanya dirinyalah yang mengetahui alasan pihak kemiliteran mencari Shen Yuan. Namun setelah melihat ekspresi santai di wajah kaptennya, dia tahu bahwa informasi tentang Shen Yuan yang mereka terima itu tidak valid.
Wen Fan segera menghembuskan nafas lega. Mereka berhutang budi kepada Shen Yuan karena telah menyelamatkan mereka saat berada di tempat parkir, dan mereka belum sempat membalasnya. Jadi untuk membalas air susu dengan air tuba, dia tidak akan bisa melakukannya.
Dengan hati-hati Wen Fan mendekati Xi Zihe dan bertanya dengan pelan, "Jadi? Apa yang kalian bicarakan?"
Xi Zihe memberi tanda bahwa dia akan memberitahunya nanti.
***
Setelah makan siang sederhana dengan roti bertabur rumput laut kering, Shen Yuan membawa kembali Feifei ke dalam gudang untuk tidur siang.
Sedangkan Xi Zihe dan Wen Fan berdiri untuk bergantian dengan anggota yang lain patroli keliling.
Mereka berdua berjalan di area sekitar pusat perbelanjaan menuju atap yang akan digunakan untuk pendaratan helikopter besok sore.
__ADS_1
Xi Zihe berdiri di dekat pagar pembatas, memandang kota yang ada di kejauhan. Kota yang tadinya makmur sekarang jatuh ke dalam kehancuran.
Apa yang diinginkan Guo Bai? Apakah keinginannya itu harus membuatnya melenyapkan jutaan nyawa manusia?
Percuma saja. Xi Zihe tidak mengenal orang itu, dan tidak bisa memahami jalan pikiran orang gila. Ah bukan, binatang gila.
Saat Xi Zihe masih tenggelam dalam pertanyaan, Wen Fan mendekatinya dari belakang.
"Hanya ada kita berdua sekarang. Apa kau sudah bisa menceritakannya kepadaku?"
Xi Zihe berbalik dan menatap mata Wen Fan. Di bawah tatapan mata itu, entah kenapa dia menjadi gugup, gugup untuk mendengar cerita yang selengkapnya. Itu pasti bukan cerita yang enak didengar.
Xi Zihe menarik napas dalam-dalam dan mulai mengulangi apa yang dikatakan Shen Yuan kepada. Seiring dengan berjalannya cerita, raut wajah Wen Fan menjadi semakin dan semakin buruk.
"Apa?! Bagaimana hal itu bisa terjadi?!" Dia menjadi frustasi, "Berapa umurnya saat itu? 24? 25?! Bagaimana dia bisa menanggung hal seperti itu?"
Mengerikan, sangat mengerikan!
Untuk bisa membunuh istri dengan tangannya sendiri, seberapa sedih dan putus asanya dia saat itu? Apalagi istrinya baru saja melahirkan anak pertama mereka!
Wen Fan sudah tidak tahu lagi apa yang dirasakannya saat ini. Kemarahan, kesedihan, simpati, semua emosi berbaur menjadi satu.
"Wen Fan." Suara tenang Xi Zihe kembali menyadarkannya. "Laporkan kepada pangkalan militer kalau Shen Yuan bukan pelakunya. Segera siarkan kabar tentang orang bernama Guo Bai ini, pemerintah pasti akan menurunkan misi lain."
Kemudian dia mengingatkan lagi, "Untuk saat ini jangan beritahu tentang kondisi Xiao Fei. Kita tidak tahu tindakan apa yang akan mereka ambil jika mereka mengetahuinya."
Wen Fan mengangguk, tentu saja dia mengerti hal ini.
Setelah mengingat orang-orang itu, Xi Zihe mencibir tidak puas, "Ck! Para petinggi tua bangka itu sangat penakut dan mementingkan diri sendiri. Disaat para warga sipil mati dan kehilangan rumahnya, mereka bersembunyi di tempat teraman di pangkalan militer."
Wen Fan tertawa tak berdaya, "Kapten Xi, jika ada yang mendengarmu saat ini kau pasti akan langsung dicopot dari jabatanmu sekarang."
"Oh? Kalau ada yang tahu, itu berarti kau impostornya."
Wen Fan, "......"
__ADS_1