Living Dead

Living Dead
Bab 44 - Guilty or Not?


__ADS_3

"Jangan melihatku seperti itu."


Jujur saja Xi Zihe sangat tidak menyukai ditatap seperti itu oleh Shen Yuan. Tatapan Shen Yuan sangat dingin dan dalam, seolah-olah dia bisa melihat ke dalam dirimu yang sebenarnya. Dan ini membuat Xi Zihe sangat gugup.


Dia menarik napas dalam-dalam dan tetap melanjutkan. "Kau juga tahu. Tubuh Xiao Fei bisa melawan virus ini. Kita mungkin bisa menggunakan Xiao Fei untuk membuat antibodi."


Menggunakan?


Sayang sekali Xi Zihe memilih kata yang sangat dibenci oleh Shen Yuan. Seolah-olah putrinya hanyalah alat untuk dimanfaatkan, bukan manusia.


Shen Yuan menyela ucapannya dengan tegas. "Aku tidak ingin putriku digunakan sebagai objek penelitian."


Tentu saja sesekali pikiran itu akan keluar di otak Shen Yuan. Jika obat untuk menangkal virus itu bisa dibuat, itu akan bagus. Namun dia tidak ingin putrinya terluka. Untuk membuat antibodi, entah berapa banyak darah yang harus diambil dari putrinya. Meskipun dia tahu bahwa mereka tidak mungkin membuat putrinya kehilangan nyawa, namun sebagai ayah, dia sangat tidak ingin melihat putrinya kesakitan.


"Ayah, mereka tidak akan dengan bodohnya membuat Xiao Fei terbunuh! Sebaliknya, jika penelitiannya berhasil, umat manusia-"


"Kita akan lihat nanti." Shen Yuan memotong ucapannya lagi dan melangkah keluar dari gudang tanpa menoleh.


Xi Zihe menghembuskan napas dengan lelah. Tentu saja dia memahami perilaku Shen Yuan. Feifei adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya saat ini, satu satunya hal yang ditinggalkan orang yang dicintainya. Jadi dia sudah menduga kalau tidak akan mudah untuk membujuknya, namun dia tidak mengira kalau ternyata sesulit ini. Bahkan dia belum sempat berbicara banyak.


Jika aku jadi Shen Yuan, apa aku akan menyerahkan putriku dengan mudah?


Xi Zihe terduduk di atas peti barang dan larut dalam pikirannya.


***


Shen Yuan kembali ke dalam kamar, dia melihat Feifei sudah tertidur dengan sendirinya. Di masa lalu, putrinya tidak akan bisa tidur tanpa dia di sisinya. Namun sepertinya putrinya menjadi lebih dewasa tanpa dia sadari.


Anak-anak cepat sekali tumbuh...


Dia tidak memiliki orang tua, sehingga dia tidak pernah tahu bagaimana perasaan orang tua saat melihat anaknya perlahan tumbuh.


Saat Shen Yuan masih menjadi mahasiswa, dia melihat dosennya menangis saat pernikahan anaknya, berkata bagaimana putrinya bisa meninggalkannya dan pergi dirampok begitu cepat. Saat itu Shen Yuan hanya menertawakannya, sama sekali tidak bisa memahami perasaan yang dirasakan oleh dosennya. Namun sekarang dia memahaminya. Sedikit perasaan cemas dan khawatir saat putrinya lama kelamaan mulai tidak bergantung padanya. Mungkin, suatu saat nanti saat putrinya mulai terbang dengan menggunakan sayapnya sendiri, dia akan kesepian.


Shen Yuan menggelengkan kepalanya,  sebenarnya apa yang kupikirkan...


Itu masih akan terjadi beberapa tahun ke depan.


Shen Yuan sedikit memperbaikinya selimut Feifei yang sedikit berantakan karena tendangannya. Dia menyelipkan dengan hati-hati, agar Feifei tidak terbangun.

__ADS_1


Shen Yuan menyingkirkan rambut yang sedikit mengahalangi dahi Feifei. Dia memandangi wajah tidur putrinya yang sangat lucu sebentar, sebelum memberikan ciuman di dahinya dan kemudian keluar dari ruangan. Dia sama sekali tidak mengantuk, dan percakapannya dengan Xi Zihe sedikit mengganggunya.


Dia memutuskan untuk sedikit mendinginkan kepalanya di atap asrama.


***


Hari ini adalah jadwal Song Yi untuk patroli malam. Walaupun saat ini hampir fajar, namun mereka tetap tidak boleh melalaikan tugas.


Setelah berkeliling area asrama, dan merasa tidak ada sesuatu yang salah, Song Yi memutuskan untuk naik ke atap dan mengamati area yang lebih jauh menggunakan teropong. Namun saat dia sudah sampai di sana, ada orang yang lebih cepat darinya.


Song Yi melihat Shen Yuan dengan santainya duduk di pinggir atap dengan kaki bergelantungan di udara. Dari belakang, dia hanya bisa melihat punggungnya yang sedikit membungkuk, seperti sedang melihat sesuatu.


Dia mendekatinya perlahan, namun tiba-tiba Shen Yuan sudah berbalik melihatnya. Song Yi sangat terkejut, padahal dia sangat yakin kalau dia tidak membuat suara sama sekali, selain itu masih ada jarak lima meter yang tersisa di antara mereka.


"Apakah aku mengagetkanmu?" Song Yi dengan hati-hati bertanya. Namun jujur saja dia sedikit takut dengan tingkat kewaspadaan Shen Yuan.


"Tidak, aku sudah tahu ada yang datang."


"Begitu," Song Yi berusaha mencari topik pembicaraan. "Bukankah sekarang bukan jadwal patrolimu? Apa yang kau lakukan di sini, ayah?"


Saat pertama melihat Shen Yuan, Song Yi merasa bahwa Shen Yuan seperti gunung Everest, begitu tidak terjangkau dan dingin. Dia seperti keberadaan yang tidak bisa bergaul, dan aura yang ada di sekelilingnya seperti mengancam orang untuk tidak mendekatinya.


Beberapa kali, Song Yi melihat Shen Yuan secara diam-diam merawat yang lain. Meskipun memasang wajah dingin, dia tetap merawat luka Lu Lin secara berkala. Atau menambah jatah makanan secara diam-diam untuk Yao Yue yang memiliki porsi makan lebih banyak dari lelaki. Serta merawat He Zhao, yang kekurangan gizi karena terjebak di apartemennya.


Selain itu, meskipun Xi Zihe selalu memberinya pekerjaan, dia tidak pernah protes, semata-mata itu untuk meringankan beban pikiran Xi Zihe sebagai Kapten.


Jauh di lubuk hatinya, Song Yi sangat menghormati Shen Yuan.


Shen Yuan mengerutkan keningnya setelah mendengarkan Song Yi berbicara, "Kenapa kau memanggilku ayah juga?"


Karena kau adalah ayah kita semua, pikir Song Yi. Namun dia tidak berani menjawab seperti itu dengan keras.


Dia hanya bisa menjawab, "Karena semua memanggil seperti itu, aku jadi ikut terbiasa."


Song Yi mendengar Shen Yuan menghela napas, "Terserah kalian."


Song Yi segera tersenyum saat mendengar jawaban dinginnya. Ayah ini, hanya mulutnya saja yang terdengar dingin.


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku akan di sini sebentar." Song Yi akhirnya mendengar jawaban untuk pertanyaannya.

__ADS_1


Song Yi kemudian berjalan dan duduk di sebelahnya, dia kemudian menyadari bahwa tadi Shen Yuan sedang melihat sebuah foto yang ada di dompetnya.


Karena penasaran, Song Yi terus melihatnya. Dia melihat seorang wanita, yang sangat cantik dengan mata coklat muda seperti mata Feifei. Song Yi langsung menyadari bahwa wanita ini 100% adalah ibu Feifei.


"Itu..."


Shen Yuan segera memberinya tatapan tajam.


Sial! Kenapa kau selalu terbuka tanpa kusuruh, wahai mulut!


"Ah tidak... Aku hanya..."


"Ini istriku."


Song Yi sedang berusaha untuk membela dirinya bahwa ia tidak mengintip, namun Shen Yuan justru menjawabnya.


Song Yi tertegun sesaat. Namun segera dia mendengar Shen Yuan berkata,


"Dia bermutasi sebagai zombie, dan aku membunuhnya dengan tanganku sendiri."


Nafas Song Yi berhenti, dan dia memandang Shen Yuan dengan mata tidak percaya. Bagaimana dia bisa mengatakannya dengan santai!


Namun Song Yi menangkap bahwa jari-jari Shen Yuan sedikit bergetar. Dia tidak santai sama sekali.


Sebenarnya Shen Yuan juga tidak mengerti kenapa dia bercerita dengan anak ini. Namun dia teringat percakapan yang dia dengar di atap hari itu. Percakapan antara Song Yi dan Xi Zihe. Shen Yuan tidak berniat menguping namun mereka tidak menyadari kalau saat itu ada yang lebih dulu berada di atap sebelum mereka. Shen Yuan ingin pergi, namun mengurungkan niatnya dan berakhir dengan mendengar keseluruhan cerita. Jangan salahkan dia jika dia tahu.


Song Yi berbicara dengan suara bergetar, "Bagaimana... Bagaimana bisa..."


Shen Yuan tidak menjawabnya, dia hanya berkata, "Kita tidak perlu terikat oleh masa lalu. Mungkin saja, saat ini kematian lebih baik daripada menjadi zombie."


Setelah mendengar kalimat Shen Yuan, Song Yi menyadari bahwa Shen Yuan tahu tentang masa lalunya.


Melihatnya tersadar, Shen Yuan melanjutkan, "Aku tidak bisa mengatakan tindakanmu itu salah atau tidak. Dan kau berdosa atau tidak. Namun, jika orang itu menyayangimu...dia tidak akan menyalahkanmu."


Shen Yuan melihat matahari yang perlahan mulai muncul, menghangatkan setiap ujung jarinya yang mendingin. Dia mengingat setiap kata-kata Jiang Qinian, setiap ekspresi yang dia buat sebelum kematiannya.


"Mungkin...orang itu merasa lega karena kematiannya bisa menyelematkanmu."


Shen Yuan tidak tahu, dia mengatakan kalimat itu untuk dirinya sendiri atau untuk Song Yi.

__ADS_1


Shen Yuan perlahan berdiri, menepuk lembut bahu Song Yi yang bergetar hebat karena menangis, kemudian pergi meninggalkan ruang bagi Song Yi untuk melampiaskan perasaannya.


__ADS_2