
Satu jam kemudian, mereka berkumpul di depan gerbang pabrik.
Shen Yuan mengganti pakaiannya dengan seragam militer yang dipungut Xi Zihe di sepanjang jalan, dia tidak lagi menggunakan kemeja putihnya. Pakaian itu sangat pas di tubuhnya, mengingat fisik Shen Yuan yang bagus. Dengan tinggi 183 cm, fisiknya bahkan bisa bersaing dengan anggota militer.
Untuk Song Yi, dia masih memakai pakaian sipirnya yang berwarna hitam.
Karena mereka tidak mempunyai amunisi, mereka terpaksa pergi hanya dengan senjata sederhana seperti pisau militer dan kapak pemadam kebakaran yang mereka temukan di dalam pabrik.
Karena Kendaraan lapis baja dan bus ditinggalkan di pabrik untuk evakuasi darurat sewaktu-waktu, mereka terpaksa pergi dengan menggunakan mobil Jeep modifikasi yang mereka temukan di pinggir jalan.
Sebelum pergi, Shen Yuan berlutut di depan Feifei, dia menepuk kepalanya dengan ringan.
"Ayah pergi dulu dengan paman Zihe. Kamu tinggal di sini dengan baik, oke? Jangan berkeliaran terlalu jauh, tinggal di dekat Yue-jiejie. Mengerti?"
Feifei mengangguk, "Aku mengerti ayah."
Mereka pergi dengan diiringi oleh sorakan para warga sipil yang semangat.
"Kapten, bawa pulang beras yang banyak!"
"Kapten, kita kehabisan sabun cuci!"
"Kapten jangan lupa bawa pulang alkohol."
Xi Zihe meraung dari balik kursi pengemudi, "Alkohol, alkohol. Cuma itu yang ada di otak kalian bukan?"
Tawa liar datang dari depan pabrik. Shen Yuan hanya menggeleng-gelengkan kepala dari kursi belakang.
Saat kendaraan mulai melaju, mereka mendengar teriakan Feifei dari belakang, "Ayah!! Jangan cuma mencari permen, aku juga ingin coklat!!"
Tawa pecah di dalam mobil yang melaju kencang.
***
Mobil Jeep mereka bergerak di antara gedung-gedung pencakar langit yang telah ditinggalkan. Seluruh kota sangat sepi, menciptakan sebuah kesan sebagai kota mati.
Karena angin yang kencang, ada tong sampah yang berguling. Suaranya terdengar sangat nyaring di tengah keheningan kota.
Beberapa zombie terlihat berlalu lalang, namun mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyerang.
Lagu slow rock diputar dengan volume rendah di dalam mobil. Sepertinya itu adalah preferensi pribadi mantan pemilik mobil.
__ADS_1
Shen Yuan hampir jatuh tertidur saat seseorang tiba-tiba membuka percakapan.
Lu Lin, "Aku selalu ingin menanyakan ini kepadamu, tuan Sipir. Apakah orang yang bernama Wei Qian itu benar-benar seorang terpidana mati?"
Song Yi yang tadinya melihat pemandangan di luar segera mengalihkan perhatiannya, "Namaku Song Yi. Ya, Wei Qian memang terpidana mati."
Jiwa gosip Yang Ruisi saat ini tiba-tiba terbangun, "Lalu apa kejahatannya? Dia tidak terlihat seperti orang yang berbahaya."
Song Yi sedikit mengerutkan keningnya saat dia mengingat-ingat. "Situasi Wei Qian cukup rumit."
Song Yi kemudian bercerita tentang kasus Wei Qian yang dia dengar dari seniornya.
Saat itu, mobil Wei Qian mengalami rem blong. Dengan panik dia membanting stir dan tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki di trotoar hingga menyebabkannya kehilangan nyawa.
Karena itu murni kecelakaan dan bukan merupakan pembunuhan yang terencana, seharusnya dia bisa terlepas dari kasus tersebut. Namun ternyata seseorang yang dia tabrak merupakan anak dari keluarga yang berpengaruh di kota tersebut.
Karena kesedihan kehilangan anaknya, orang tua korban tersebut menggunakan kekuatan keluarganya untuk menekan hukum. Dan karena takut menyinggung keluarga yang kuat itu, tidak ada pengacara yang berani mendampingi Wei Qian untuk membelanya. Akhirnya, tanpa menunggu lama, mereka berhasil menjebloskan Wei Qian ke penjara dengan hukuman seumur hidup.
"Apakah tidak ada berita online yang mengabarkan kejadian sebenarnya dari insiden itu?" Xi Zihe ikut mengomentari sambil menyetir.
"Ada, namun segera setelah berita itu dirilis, langsung hilang setelah beberapa saat karena tekanan yang datang dari keluarga itu."
"Aih... Sangat disayangkan. Jadi karena itu, kau melarikan diri dari gelombang zombie dengan membawanya?"
Dibandingkan dengan Wei Qian yang tidak bersalah, dia benar-benar lebih tercela...
Xi Zihe melihat raut wajah Song Yi dari kaca spion tengah, dan mau tidak mau dia mengingat percakapannya dengannya saat berada di atap pabrik.
***
"Sebenarnya kenapa kau ingin ikut mencari persediaan?"
"Hanya saja...aku bukan orang baik."
Xi Zihe menatapnya bingung, "Apa maksudmu?"
Song Yi terlihat ragu-ragu untuk menjelaskan, dan matanya penuh dengan perasaan bersalah, kesedihan, dan rasa sakit.
Beberapa saat kemudian, setelah menenangkan diri, dia menceritakan kisahnya kepada Xi Zihe.
Untuk bisa selamat sampai ke titik ini, Song Yi mengorbankan nyawa seniornya sendiri untuk menjadi makanan para zombie.
__ADS_1
Saat itu, virus sudah masuk dan menginfeksi dari dalam penjara. Dia bersembunyi dari gelombang zombie dengan seniornya di bilik kamar mandi.
Mereka berdua sangat panik dan ketakutan. Seumur hidup, mereka tidak pernah melihat makhluk seperti itu. Tidak, mereka telah melihatnya, namun berupa video game, dan film action dari barat. Lalu mereka menyadari, kalau itu adalah makhluk yang disebut sebagai zombie.
Mereka tidak ingin terkurung selamanya di dalam bilik kamar mandi. Mereka pun mencoba keluar dari sana dengan hati-hati dan melihat keadaan sekitar. Namun saat mereka melintasi barisan koridor sel penjara, gelombang zombie datang mengejar mereka dari belakang.
Jeritan orang dan geraman khas milik zombie bisa terdengar jelas. Di koridor yang sempit, sekelompok besar zombie mendesak dan menerjang ke depan, berusaha meraih dan menerkam mereka.
Song Yi melihat seniornya yang berlari lebih cepat darinya di depannya. Dia bisa melihat pasukan zombie mengikuti di belakangnya, dan dia tahu, dia tidak mungkin selamat.
Namun senior masih berteriak dari depan, "Cepat, berlari lebih cepat, Song Yi!"
Dia berlari secepat mungkin, pikirannya benar-benar kosong dan akhirnya dia berhasil meraih bahu senior di depannya.
Detik berikutnya, dia dengan kejam menarik seniornya ke arah dirinya sendiri!
Kekejaman adalah sesuatu yang bisa dilakukan seseorang pada situasi tanpa harapan yang mengancam nyawa.
Seniornya tidak berharap mengalami hal semacam itu. Dia lengah dan jatuh berguling ke belakang.
Tidak lama kemudian, puluhan zombie menerkam, mengerumuninya dan mengunyah tubuhnya perlahan-lahan.
Saat Song Yi sadar dengan apa yang sudah dia lakukan, dia sudah berlari beberapa meter ke depan.
Dia berbalik untuk melihat ke belakang, tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan sendiri. Di tengah kerumunan zombie, dia bertemu dengan tatapan tidak percaya di mata seniornya.
Song Yi tidak memiliki keberanian untuk tinggal di sana, dia berlari dari tempat itu dengan diiringi oleh suara teriakan kesakitan dari seniornya. Setiap teriakannya menusuk hati Song Yi hingga membuat tubuhnya bergetar tak terkendali.
"Maafkan aku! Maafkan aku! Maafkan aku!"
Song Yi terus berlari sambil terus menggumamkan permintaan maaf di bibir dan hatinya. Air matanya sudah menetes tak terkendali.
Dia berlari dengan ketakutan, bukan dengan zombie, melainkan dengan dirinya sendiri.
Saat dia tengah berlari mencari jalan keluar, dia menabrak seseorang.
1158
Nomer tahanan di dadanya terlihat sangat mencolok. Seorang pemuda memegang sebuah linggis yang sudah berlumuran darah. Ekspresinya sangat tegang dan terkejut saat melihatnya.
Di tengah kerusuhan, dan memanfaatkan tidak adanya sipir, Wei Qian berhasil menyelinap keluar dari sel penjara.
__ADS_1
Karena didorong oleh situasi, Wei Qian tidak memikirkannya lagi, dan akhirnya berusaha menyelamatkan diri bersama dengan Song Yi.
Sejak hari mereka berhasil melarikan diri, Song Yi tidak pernah bisa melupakan tatapan mata seniornya. Tatapan tidak percaya dan penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Sampai sekarang itu masih bersarang di kepalanya dan tidak bisa disingkirkan meskipun dia tertidur.