
"Letnan satu Yao Yue, angkat cakarmu menjauh dari sana!"
Sebuah kejutan mengalir ke seluruh tubuh Yao Yue, diikuti oleh rasa takut yang tidak bisa dijelaskan.
Yao Yue perlahan membalikkan badan dengan kaku, yang langsung disuguhi oleh raut wajah hitam kaptennya.
Xi Zihe segera mengintrogasi, sedikit menyipitkan matanya dengan curiga. "Apa yang akan kau lakukan?"
Yao Yue menjadi tergagap, "Uh...begini..."
Yao Yue menggigit lidahnya, dia tidak mungkin mengatakan kalau ingin mencuri makanan kan?
Namun Xi Zihe sudah menghujaninya dengan fakta. "Kau ingin mencuri perbekalan kita, benar?"
Di depannya, Yao Yue berdiri tegak, namun menundukkan kepalanya, seperti seorang yang terdakwa kasus penggelapan pajak. Namun sebelum dia bahkan bisa berbicara, Xi Zihe kembali meneriakinya dengan keras. "Apakah kau tidak malu? Para warga sipil yang seharusnya kau lindungi bahkan tidak mengeluh dengan jatahnya! Bagaimana bisa kau, seorang tentara yang seharusnya bisa bertahan lebih baik daripada mereka malah ingin mencuri perbekalan?!"
"Apakah kau merasa berbangga diri karena kau yang mencari perbekalan ini sehingga kau ingin memiliki jatah lebih banyak?!"
"Menurutmu berapa banyak perbekalan yang sudah kau berikan kepada mereka?! Apakah menurutmu ini pantas?!"
Xi Zihe hampir berteriak ke telinga Yao Yue. Orang-orang di sekitar mereka ketakutan, dan tidak ada yang berani berbicara.
Shen Yuan merasa tidak sanggup melihat Yao Yue diomeli oleh Xi Zihe karena masalah sepele ini. Naluri ke-bapak-an di dalam dirinya sekali lagi tersulut keluar.
"Sebenarnya apa yang kau ributkan? Memangnya sebanyak apa yang bisa dimakan Yao Yue? Sekarang kau berikan aku senjata, aku akan menjarah toko terdekat dan mengganti makanan yang akan dicurinya."
"Aku tidak bisa membiarkanmu!" Xi Zihe mengamuk tanpa ampun. "Kau adalah warga sipil. Selain itu, negara ini juga tidak menggajimu!"
"Memangnya apa yang bisa dilakukan dengan upah kecil kalian itu? Apakah menurutmu dengan situasi sekarang ini uangmu masih berguna?"
Di bawah tatapan mata para warga sipil lainnya, Shen Yuan menentang Xi Zihe dengan terang-terangan. Tidak ada yang pernah mengira bahwa seseorang yang selalu sangat pendiam akan mampu mengucapkan kata-kata kasar seperti itu. Apalagi penyebabnya adalah karena Yao Yue yang ingin menambah jatah makanan. Akhirnya semua orang menyadari, jika itu menyangkut orang lain yang kekurangan makanan, Shen Yuan akan berubah menjadi seperti kucing yang ekornya diinjak.
"Memangnya berapa gajimu? Berapa banyak perbekalan yang bisa diperoleh dari gajimu itu, huh?"
__ADS_1
Xi Zihe, "....."
Yao Yue, "....."
Dia tidak bisa membalas perkataan Shen Yuan sama sekali.
Para warga sipil yang lain memandang Xi Zihe dengan pendapat terselubung. Sebagian besar berpendapat bahwa Xi Zihe tidak masuk akal dan bagaimana dia bisa bertindak seperti saat ini. Jadi Xi Zihe tidak punya pilihan lain selain menyudahinya.
"Apa kau mengakui kesalahanmu?!"
Yao Yue menjawab dengan lesu, "Ya."
Xi Zihe hanya bisa menghentikan omelannya. Dia berhenti sebentar sebelum menambahkan, "Pergilah ke sana, dan kau tidak diijinkan menambah jatah makanan!"
Dengan sedih, Yao Yue berjalan kembali ke arah kendaraan dan berjongkok di sebelah Feifei dan He Zhao. Dengan sangat malu, tanpa sadar dia menggosok jari-jarinya ke seragam.
"Kapten, sepertinya tulangku bergeser..."
Semenjak tadi, Wen Fan sangat ingin menghentikan Xi Zihe untuk mengomeli Yao Yue yang tidak bersalah. Jadi dia hanya bisa mengatakan ini.
Melihat bahwa dia telah berpaling, para wanita yang menyiapkan makanan, semuanya bertukar pandang. Kemudian, salah satu bibi mengangguk, menyembunyikan sesuatu di lengannya dan berpindah ke tempat Yao Yue. Dengan diam-diam dia mendorong sesuatu ke tangannya.
Itu adalah dua telur rebus.
Sebelum Yao Yue bisa mengatakan sepatah kata pun, Xi Zihe memutar kepalanya, seolah-olah dia memiliki mata di belakang kepala. Dia bertanya dengan curiga, "Apa yang sedang kamu lakukan?"
Bibi itu menjawab dengan cepat, "Tidak ada!"
"Uhuk uhuk uhuk!" Wen Fan segera batuk keras untuk menarik perhatian Xi Zihe lagi. Dia benar-benar harus merendahkan martabatnya kali ini. Padahal jelas-jelas hanya patah tulang kaki, tapi dia bertingkah seakan-akan akan mati. Dia akan mengingat ini agar Yao Yue membayarnya kembali.
Xi Zihe hanya bisa kembali ke tugasnya sebagai kapten. "Cepat, cepat. Bawakan air panas untuk minum." Jika saja dia tidak terlalu cemas, Xi Zihe pasti bisa berpikir dengan jernih kalau patah tulang kaki tidaklah seserius itu hingga harus minum air panas.
Bibi itu berbicara dengan lembut, "Oh anakku yang malang..."
__ADS_1
Tidak ada seorang pun ibu yang membenci seorang anak yang suka makan. Dia memberi isyarat kepada Yao Yue untuk bergegas makan, dan kemudian dia menyelinap pergi.
Yao Yue sangat kelaparan. Ditambah dengan cuaca dingin, perutnya terasa seperti akan putus. Dia mengupas cangkang telur dan mulai makan dengan cepat agar tidak ketahuan oleh Kaptennya yang berhati hitam itu.
Berjongkok di sebelahnya, Feifei membantu mengupas telur lainnya untuknya.
"Yue-jiejie, makanlah perlahan. Tenang saja, jika Paman Xi melihat kemari, aku akan memberitahumu."
Yao Yue merasa tersentuh, "Terimakasih Xiao Fei. Kau adalah yang paling baik."
"En. Jika masih kurang, jiejie bilang saja padaku. Aku masih memiliki beberapa bungkus coklat di dalam tasku."
Sejenak Yao Yue merasa tergiur, namun tetap saja dia tidak akan pernah merebut makanan dari anak kecil. Hati nuraninya tidak sanggup menanggungnya.
"Yang itu kamu makanlah sendiri dengan Xiao Zhao."
"Baiklah." Jawab Feifei.
Sementara itu, setelah melihat perdebatan yang telah usai, Shen Yuan dengan tenang bersandar di pintu mobil sambil mengamati putrinya yang mengobrol dengan Yao Yue dan He Zhao.
"Apakah kamu masih marah?" Yang Ruisi datang dengan membawa dua botol air mineral di tangannya yang masing-masing diserahkan kepada Shen Yuan dan Yao Yue.
Malas, Shen Yuan tidak menanggapi.
"Kapten mengatakan semua itu karena dia merasa bersalah." Yang Ruisi merendahkan suaranya saat dia berbicara. "Kamu bukan salah satu dari pasukan khusus. Kamu adalah warga sipil yang seharusnya menerima perlindungan dari kami. Namun, karena dipaksa oleh keadaan, dia harus memperlakukanmu seperti prajurit yang berani mati. Jika kamu mencapai sesuatu, kamu tidak akan bisa menerima penghargaan maupun promosi apapun. Jadi dia sebenarnya sangat merasa bersalah kepadamu."
Yang Ruisi berhenti sebentar sebelum mengoreksi, "Bukan hanya kamu, ada juga Song Yi, Wei Qian dan Han Yu itu. Dia merasa, seharusnya tidak menyeret kalian untuk melakukan pertempuran..."
Xi Zihe sungguh sangat merasa bersalah, menyeret warga sipil artinya dia mengakui bahwa dia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi mereka. Akhirnya, dia hanya bisa bersikap lebih tegas kepada anggota regunya. Menekankan berkali-kali bahwa mereka harus mendahulukan kepentingan warga sipil di atas kepentingan mereka.
"....Diamlah." Shen Yuan memegang dahinya dengan telapak tangannya, merasa telinganya tidak bisa lagi mendengar ocehan seseorang.
Shen Yuan berdiri, mengambil sebungkus coklat dari sakunya, dan melemparkannya kepada Yang Ruisi. "Untukmu."
__ADS_1
Melihat keadaan Feifei yang masih asik mengobrol, dia akhirnya masuk ke dalam kendaraan sendirian. Menempati salah satu kursi, dan menutup matanya. Tidur.