Living Dead

Living Dead
Bab 46 - Perseteruan (2)


__ADS_3

Di dalam sempitnya gudang barang, udara menjadi semakin berat.


Xi Zihe duduk di atas peti senjata, di belakangnya Shen Yuan bersandar dengan santai di rak barang. Xi Zihe menatap mereka tepat di mata satu per satu. Ada yang menghindari pandangannya, dan ada juga yang balas menatapnya.


Setelah perang menatap, Xi Zihe akhirnya membuka mulutnya. "Kita sudah di sini sekarang. Apakah kalian masih yakin untuk tidak mengikutiku?"


Orang yang berada paling ujung membuka mulutnya pertama kali. "Maafkan aku karena bersikap kasar, Kapten Xi. Namun menurutku yang terbaik bagi kita sekarang adalah untuk tetap tinggal di pabrik, dan kita tidak boleh bertindak gegabah. Kamu harus mengirimkan lokasi kita ke markas militer yang ada di pulau itu, dan membuat mereka mengirimkan helikopter untuk mengevakuasi kita. Jika kamu mengatakan bahwa ada puluhan warga sipil yang berhasil selamat, maka mereka akan datang..."


"Tidak ada markas pusat." Jawab Xi Zihe dengan tenang.


Orang itu mengernyitkan alisnya, "Apa maksudmu?"


"Aku akan jujur dengan kalian. Kami tidak bisa mengirim sinyal lokasi, dan sama sekali tidak bisa terhubung dengan markas pusat."


"Apa katamu?! Lalu untuk apa kau membawa kami kemari?! Apa kau ingin membuat kami semua mati di tempat ini?!" Lelaki yang berusia 30-an itu meledak karena marah.


"Maka dari itu! Aku mengajak kalian untuk pergi ke pangkalan utama militer yang ada di pulau!" Xi Zihe menjawab tak kalah keras.


Orang yang bernama Yan Zheng itu terdiam sesaat. Ketika dia berbicara lagi, ada perubahan yang jelas dalam nadanya, dengan sedikit sikap merendahkan. "Kalau begitu kita harus pergi ke kota D."


Yan Zheng melanjutkan, "Keluargaku memiliki perusahaan yang beroperasi untuk mengolah pangan. Sehingga kita bisa bertahan hidup beberapa tahun dari persediaan yang ada di sana. Selain itu, hawa dingin di utara bisa menghambat pergerakan zombie. Jika dilihat dari sudut mana pun, jelas ini merupakan pilihan yang lebih aman dari pada harus pergi ke selatan untuk mencari helikopter."


Xi Zihe berpikir, bajingan Yan Zheng ini pasti sudah memikirkannya dengan cermat sebelum dia mulai menghasut orang lain untuk mengikutinya.


Xi Zihe masih dengan tenang mendengarkannya menyemburkan berbagai omong kosong yang seperti ide jenius itu.


Melihat Xi Zihe hanya diam, Yan Zheng segera mulai mengubah topik untuk menghasut Xi Zihe.


"Aku tahu Kapten Xi dan anggota pasukan yang lain sangat loyal terhadap negara. Namun, dalam kiamat ini kalian tetap harus memikirkan diri sendiri. Jika Kapten Xi bersedia untuk membawa bawahanmu dan bergabung dengan kami, maka kami akan memperlakukanmu dengan istimewa, kalian tidak akan kekurangan makanan seperti sekarang. Ketika sampai di kota D, aku akan memastikan kalau kalian bisa hidup lebih nyaman daripada sebelumnya. Bagaimana pendapatmu tentang ini?"


Orang-orang di samping Yan Zheng semua memasang senyum memikat, seperti iblis yang menjerat hati manusia. Godaannya terdengar sangat manis di telinga. Namun sayang sekali, yang berusaha mereka bujuk adalah Xi Zihe.


"Bagaimana aku harus mengatakan ini," Xi Zihe tertawa terbahak-bahak, menertawakan kebodohan dan kesombongan mereka. "Sebagai seorang prajurit pasukan khusus, kami telah di latih oleh negara selama bertahun-tahun. Saat ini adalah saat di mana negara membutuhkan tenaga kami..."


Yan Zheng mulai tidak sabar, "Aku mengerti itu. Namun kau juga harus mempertimbangkan bawahanmu juga. Mereka masih muda, mereka memiliki kehidupan indah yang menanti mereka. Dan apa yang bisa diberikan oleh negara? Medali? Penghargaan? Apakah itu semua lebih berharga daripada nyawa manusia? Bahkan pangkalan militer kota C sudah binasa! Pemerintah seperti tidak bisa melindungi diri sendiri, bagaimana cara mereka melindungi warga sipil seperti kita?!"


Xi Zihe mengamati wajahnya, dia ingin menguji orang di depannya. Apakah masih layak dipertahankan atau tidak. Dia berdeham dan berpura-pura tertarik dan bertanya.


"Kalau kita pergi ke utara, apa yang terjadi pada orang yang ada di sini?"


Saat Shen Yuan mendengar pertanyaan ini, dia mencibir di dalam hatinya. Xi Zihe, orang licik berhati hitam ini sangat bisa diandalkan untuk mengatasi orang-orang seperti mereka.

__ADS_1


Yan Zheng mengamati ekspresi Xi Zihe, merasa bahwa Xi Zihe tidak sedang bercanda dia segera mengungkapkan ekspresi tidak puas.


"Kita tidak memiliki banyak persediaan." Yan Zheng berkata dengan suara rendah.


Xi Zihe diam-diam mengerti apa yang dia maksud.


"Jika kita membawa semua orang, aku khawatir persediaan akan habis di tengah jalan. Dalam cuaca yang dingin seperti ini, mustahil untuk mencari persediaan tambahan, dan semua orang akan mati."


Yan Zheng berpura-pura terlihat merasa bersalah sejenak sebelum melanjutkan dengan ringan. "Menurutku, mereka yang lemah harus tetap tinggal di pabrik ini. Juga, lebih baik membiarkan mereka yang tidak patuh untuk bertahan hidup sendiri agar mencegah munculnya masalah internal..."


Niatnya sangat jelas, dia hanya menginginkan orang-orang yang kuat dan orang-orang yang mau mematuhi perintahnya.


Xi Zihe tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan kesenangan di dalam dirinya semakin dalam. Dia menertawakan orang ini. Bagaimana bisa seseorang bisa begitu tidak tahu malu.  Orang ini sangat tidak layak untuk dipertahankan.


Xi Zihe bertepuk tangan dengan keras, dan berseru. "Tuan Yan Zheng memang memiliki pandangan yang jauh ke depan."


Yan Zheng menjadi besar kepala, namun dia tetap tersenyum sopan.


"Tapi," Xi Zihe berkata dengan tegas. "Kita masih harus pergi ke pangkalan militer pusat."


Ekspresi kemenangan Yan Zheng jatuh seketika. "...kenapa?"


Xi Zihe sedikit mengangkat dagunya, melihat Yan Zheng dengan ekspresi merendahkan. "Dalam perjalan ini, kami tidak akan menyerah pada siapapun. Entah itu orang tua, wanita, dan anak-anak, selama kami melihatnya, kami akan menyelamatkannya. Jika kami kehabisan persediaan makanan, maka kami akan menanam sendiri. Jika tidak ada bibit, maka kami akan mencarinya. Selama kami ada di sini, tidak ada yang akan ditinggalkan."


Yan Zheng mengamati Xi Zihe yang masih menentangnya. Walaupun Xi Zihe duduk dengan santai di atas peti barang, namun dengan wajahnya yang tegas, kulitnya yang kecoklatan, dan otot yang tidak bisa disembunyikan di balik seragamnya, juga senapan serbu yang tergantung di bahu kanannya, semuanya memancarkan aura maskulin yang mendominasi.


Yan Zheng tanpa sadar mengalihkan pandangannya karena merasa tertindas, namun dia tidak sengaja bertatap mata dengan Shen Yuan yang ada di belakang Xi Zihe. Seketika rasa dingin merambat melalui tulang punggung Yan Zheng.


Shen Yuan bersandar dengan santai di rak barang dengan tangan bersedekap. Kemeja putihnya sangat kontras dengan rambutnya yang hitam legam. Kakinya yang panjang sangat cocok untuk mengenakan sepatu bot dan celana militer, ditambah dengan pisau militer yang diikatkan di pahanya kanannya, praktis memberikan ilusi pembunuh kepada orang lain. Namun yang paling mengerikan adalah matanya. Matanya yang sehitam tinta terlihat sangat dingin, seolah-olah bisa menembus hati seseorang, itu membuatnya menggigil.


Xi Zihe yang melihatnya membeku ketakutan setelah melihat ke arah Shen Yuan, merasa sangat senang di dalam hatinya. Kalau saja tidak ada orang lain di sini, dia mungkin sudah tertawa hingga berguling-guling di tanah.


Sekarang rasakan apa yang setiap kali kurasakan saat Ayah menatapku dengan tajam!


Di sisi lain, Yan Zheng merasa tertindas hingga pada titik di mana dia terlihat kehilangan napas. Ketika dia mendapatkan kesadarannya lagi, itu berubah dari ketakutan menjadj kemarahan.


Dia mengalihkan pandangannya menuju Xi Zihe kembali, "Kau membuat pidato yang sangat bagus, Kapten Xi. Tapi aku tidak percaya kau tidak menginginkan-"


"Kau bisa membawa orang-orang yang ingin kau bawa." Xi Zihe memotongnya. "Aku tidak akan menghentikan siapa pun yang ingin pergi denganmu. Namun kami tidak akan memberikan senjata apapun untukmu. Pergi sekarang." Xi Zihe melambaikan tangannya,  menggunakan gerakan mengusir ayam ke arah mereka.


Mereka berlima keluar dari gudang dengan ekspresi yang menunjukkan ketidakpuasan.

__ADS_1


Xi Zihe menghela napas berat setelah mereka pergi.


"Aku ingin selai stroberi yang ada di dapur." Shen Yuan segera meminta bayarannya.


"Astaga ayah... Tidak bisakah kau bekerja secara gratis?"


Shen Yuan mengangkat bahunya, "Aku punya seorang putri untuk dihidupi."


Xi Zihe tidak percaya bahwa Shen Yuan bisa begitu tidak tahu malu. Namun akhirnya tetap menyetujuinya.


Setelah meninggalkan gudang, Xi Zihe segera memanggil Wei Qian. "Ambil kunci bus ini. Selain itu, awasi terus pergerakan Yan Zheng dan kelompoknya, jangan biarkan mereka mengambil persediaan dan amunisi kita."


Wei Qian segera mengambil kunci bus itu. "Aku mengerti, Kapten Xi."


Segera setelah itu, Wei Qian memasuki gedung asrama lagi.


***


Di malam hari, Xi Zihe, Wen Fan, dan Yang Ruisi sedang merencanakan rute perjalanan mereka menuju Kota H di gudang.


Yang Ruisi, dengan membawa tablet militer kesayangannya, membuka peta yang menunjukkan rute jalan menuju kota H. "Menurutku lebih baik kita mengambil jalan di sepanjang pinggir hutan ini. Zombie yang ada di sana pasti lebih sedikit, meskipun jalannya menjadi semakin jauh."


Xi Zihe dan Wen Fan sedang menyimak dengan seksama dan memikirkan keputusan saat pintu gudang tiba-tiba di buka oleh seseorang.


Li Yan masuk dengan terengah-engah, wajahnya terlihat sangat cemas dan panik.


"Kapten Xi!  Kelompok besar zombie datang 2 km dari arah utara!"


"Apa?!"


Saat Xi Zihe akan memberikan perintahnya, Yao Yue menerobos masuk dengan ekspresi yang panik juga.


Apa lagi sekarang?!


"Kapten! Kelompok Yan Zheng membawa bus kemudian menabrak pagar kawat, dan melarikan diri!"


"APA KATAMU?!"


Xi Zihe tidak pernah merasa sesial ini seumur hidupnya.


Siapa saja, tolong pukul kepalaku! Biarkan aku pingsan!

__ADS_1


__ADS_2