
"Satu baterai cadangan, empat monitor inframerah, dan amunisi. Apakah kalian hanya akan membawa ini?" Wei Qian bertanya dengan tidak percaya.
Xi Zihe, "Ya. Dan kita berlima akan masuk."
Wei Qian merasa sangat cemas dan terganggu, "Benar-benar hanya kalian berlima? Bagaimana kalau meminta tolong warga sipil yang lain?"
Namun Xi Zihe berkata dengan pasti. "Itu tidak perlu. Semakin banyak orang yang masuk, semakin berbahaya. Jangankan melindungi orang lain, aku bahkan tidak yakin bisa melindungi diriku sendiri."
Wei Qian merasa hal itu masuk akal, dia berhenti berdebat dan menghela napas berat. "Kalau begitu, kalian berhati-hatilah."
"Tentu."
Shen Yuan sedang berdiri dan mengencangkan sarung tangan tanpa jarinya. Dia menengok ke kanan dan kiri, mencari Feifei.
"Apa yang kau cari?" Tanya Xi Zihe.
Shen Yuan berkata, "Aku akan pergi dan berpamitan dengan putriku."
Xi Zihe mengernyitkan alisnya, "Jangan. Dia masih belum tahu kalau di barak itu sangat berbahaya. Jika kau mendatanginya sekarang, dia akan curiga, kemudian tidak akan menginjinkanmu pergi."
Shen Yuan berdiri diam, sosoknya sangat tegap seperti pohon Pinus di musim dingin. Dia sedikit menunduk, tidak tau apa yang dia pikirkan. Setelah sekian lama dia menjawab, "Aku mengerti."
Dia berbalik ke tim ketiga, "Tolong jaga putriku, Feifei."
Tim ketiga, Lu Lin dan Wei Qian mengangguk serempak.
Shen Yuan kemudian bertanya lagi untuk memastikan. "Ngomong-ngomong, dimana putriku."
Lu Lin menjawab dengan pasti, "Dia sudah masuk ke dalam bus."
Xi Zihe mulai berjalan ke mobil SUV biru putih, dia berteriak, "Semua orang akan kembali dengan selamat. Ayo pergi!"
Satu kendaraan lapis baja yang membawa tujuh orang berangkat dengan cepat di sepanjang jalan, menuju barak militer yang berjarak 50 km.
***
Kendaraan lapis baja itu berhenti di puncak bukit. Xi Zihe mencari tempat yang strategis untuk membentuk barikade dengan mobilnya. 300 meter menuruni bukit adalah barak militer.
Bagian dalam barak sangat sunyi. Xi Zihe berdiri di atap mobil, melihat ke bawah dengan sepasang teropong. Di kejauhan, pandangannya melewati tembok setinggi 10 meter menuju halaman terbuka dengan dua helikopter yang terparkir di sana. Semuanya tertutup gelap gulita.
__ADS_1
Xi Zihe melompat turun, segera memberi perintah. "Kita bagi menjadi dua tim untuk memudahkan pergerakan. Aku kapten tim satu, dan Yao Yue, kau akan menjadi kapten tim dua." Setelah itu, Xi Zihe menyerahkan earphone dan mikrofon kepada Yao Yue. Mereka hanya memiliki tiga. Secara alami sisanya akan digunakan oleh kapten tim komando, Yang Ruisi.
Sebelum pergi, Xi Zihe kembali menenangkan He Zhao yang gelisah. "Xiao Zhao, tenang saja. Di sekitar sini tidak ada zombie. Selain itu, masih ada Yang Ruisi yang akan melindungimu."
He Zhao mengangguk ringan.
"Ayo pergi!"
Lima anggota, dibawah pimpinan Xi Zihe dan Yao Yue meluncur menuruni bukit. Mereka melihat sekeliling dan menembakkan tali ke dinding dengan pistol grappling.
Xi Zihe dan Yao Yue memanjat dinding 10 meter hanya dalam beberapa gerakan. Yang lain mengikuti juga dengan lincah. Walaupun Shen Yuan dan Song Yi hanya warga sipil biasa, namun fisik dan kelincahan mereka tidak kalah dengan anggota militer. Setelah semua orang sampai di atas tembok, Xi Zihe memberi isyarat agar mereka melompat turun.
Yang Ruisi yang melihat mereka menghilang dari pandangan, segera pergi ke kursi belakang kendaraan lapis baja dan mengeluarkan baterai isi ulang untuk bersiap memasangnya di tanah. Sedangkan He Zhao yang mengikuti di belakangnya dengan cepat mengambil empat monitor kecil.
Yang Ruisi memasang tiang penyangga dan menghubungkan empat monitor kecil dengan sumber baterai. Di sisi lain, Xi Zihe dan Yao Yue berpisah untuk menuju ke berbagai sudut barak dan memasang kamera inframerah di lokasi yang sudah ditentukan di dinding atas.
"Kamera nomor 1 dan nomor 3 sudah terpasang." Suara Xi Zihe ditransmisikan langsung ke earphone Yang Ruisi.
Yang Ruisi menahan napas dalam-dalam, berusaha setenang mungkin. "Sistem normal."
Tak lama kemudian, suara Yao Yue menyusul. "Kamera nomor 2 dan 4 siap!"
Sistem pemantauan menyala dengan lampu merah. Ke empat monitor menyala secara berurutan, lingkungan di sekitar barak muncul di layar monitor. Yang Ruisi menekan tombol, dan lapisan cahaya disaring ke layar. Di monitor terlihat sesuatu berbentuk manusia, dan bergerak lambat... Mereka zombie.
Yang Ruisi mengeluarkan peta, dan menyebarkannya di depannya. "Kalian bisa pergi dari sudut barat laut. Hanya ada enam zombie di sana. Berhati-hatilah agar tidak memperingatkan mereka. Di belakang mereka adalah gedung administrasi. Penuh dengan zombie, lebih dari seratus. Ikuti tangga darurat dan naik dengan hati-hati. Setalah sampai ke lantai dua, kalian akan aman."
Xi Zihe memberi isyarat dengan tangannya, dan dengan Yao Yue turun ke sudut dinding. Meskipun yang lain tidak bisa mendengar suara Yang Ruisi, mereka tetap bisa mengikuti dengan baik. Xi Zihe merasa sedikit bangga dengan hal ini.
Yang Ruisi berkata dengan lembut, "Tetap waspada. Baterai hanya bisa bertahan selama lima jam. Selama waktu itu, aku akan berusaha untuk mengeluarkan kalian hidup-hidup."
Xi Zihe menggenggam senapannya erat-erat, tangannya yang lain memegang kenop pintu dan masuk.
Yao Yue membawa yang lain bersamanya dan menunggu di luar. Xi Zihe memiringkan kepalanya, dan melihat ke dalam gedung. Yang lain terlihat sedikit bingung, namun Yao Yue memberi isyarat agar mereka diam.
Xi Zihe mengeluarkan senter kecil dan menyorotkannya ke lantai dua. Lampu senter berkedip dan menerangi koridor sempit.
"Apakah kau gugup, Kapten?" Yang Ruisi bertanya dengan tenang.
Xi Zihe menyiapkan senjatanya dan perlahan berjalan ke atas, dan menjawab, "Kalau kau membawa beban puluhan nyawa, kau pasti akan gugup."
__ADS_1
Yao Yue menyela dari luar di salurannya, "Segugup-gugupnya kau Kapten, kau harus tahan. Karena kita harus menjaga generasi penerus kita."
Li Yan di sebelahnya yang mendengar perkataan Yao Yue tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya di dalam hati, Ada apa dengan anak ini? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan di earphone mereka sepanjang waktu?
Di sisi lain, Yang Ruisi menatap He Zhao. He Zhao berdiri dengan tenang, tatapannya tidak pernah meninggalkan barak di dasar bukit.
Yang Ruisi merasa sangat kasihan, di usia yang begitu muda, para generasi penerus ini sudah dihadapkan dengan situasi yang berbahaya.
Yang Ruisi berkata, "Xiao Zhao, tolong ambilkan peta yang lain di bawah kursi pengemudi."
"Baiklah." He Zhao segera masuk ke dalam kendaraan lapis baja.
He Zhao merayap di bawah kursi kendaraan, kemudian dia melihat cetak biru di bawah kursi pengemudi. Ketika dia menarik cetak biru itu, He Zhao terkesiap.
Berbaring meringkuk di bawah cetak biru adalah Feifei. Dia memeluk tas berbentuk beruangnya.
He Zhao melebarkan matanya tak percaya. Dia segera berteriak dengan nyaring.
"FEIFEI?!"
***
Di sisi lain, tim ketiga yang bertugas mencari tempat pendaratan helikopter.
Lu Lin sedang berbicara ke gundukan selimut di atas salah satu kursi. Suaranya lembut membujuk, "Xiao Fei, kamu tidak perlu sedih. Ayahmu pasti akan kembali dengan selamat. Lihatlah kejadian yang lalu, ayahmu selalu kembali kepadamu. Benarkan? Sekarang keluarlah, oke?"
Lu Lin bertanya panjang lebar, namun 'gadis kecil' yang ada di dalam selimut tidak menjawab satu pun perkataannya.
Wei Qian yang sedang menyetir bus berkata, "Lin-ge, lepas saja selimutnya dan gelitiki dia!"
"Ohhh ide bagus."
Lu Lin segera membuka lembaran selimut itu. Namun, di dalamnya hanya ada labu kuning yang besar.
Lu Lin sangat kaget, "Xiao Fei?!"
"Ada apa?!" Wen Fan ikut berteriak.
Lu Lin menengok ke arah Wen Fan dengan ekspresi horor. "Bagaimana ini?! Ayah akan membunuh kita!!!"
__ADS_1