
"Mereka yang sudah tergigit harus tetap tinggal di sini."
Seketika kerumunan meledak dengan teriakan.
"Aku tidak!"
"Aku tidak tergigit!"
"Aku juga tidak!"
"Mari kita naik bus!"
"Biarkan aku naik!"
"DIAM!" Suara keras Yao Yue meledak di tengah kerumunan, menenggelamkan suara teriakan mereka. "Jika kalian terus seperti ini, tidak akan ada yang naik!"
Keributan itu berhenti tiba-tiba. Dalam keheningan, seorang tentara pasukan khusus mengambil inisiatif untuk berdiri dan menunjukkan punggung tangannya. Dia tersenyum, "Kapten Xi, aku sudah tergigit. Apakah masih ada peluru yang tersisa? Tolong tembak saja aku."
Xi Zihe menatap lekat-lekat punggung tangannya yang sudah mulai membusuk dan berubah menjadi hitam, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Wen Fan mencoba yang terbaik untuk menutup mulutnya, hingga menggigit bibirnya, namun tidak berhasil. Dia akhirnya tidak bisa menahan tangisannya dan berlutut dengan kesedihan.
Isak tangis dari anggota yang lain terdengar di telinga Xi Zihe. Dia menutup matanya perlahan, mendongakkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, dia berhasil menahan air matanya. Dia mencari sisa peluru di seluruh tubuhnya. Namun tidak menemukan satu pun.
Saat Xi Zihe sudah mulai putus asa, seseorang memasukkan sebuah pistol yang dingin ke dalam telapak tangannya. Dia berbalik, bertemu dengan tatapan simpati Shen Yuan.
Dia mendengar Shen Yuan berkata, "Hanya tersisa tiga peluru di dalamnya."
Xi Zihe mengucapkan terimakasih dengan pelan.
Xi Zihe memasukkan peluru ke pistol, kemudian dia berjalan mendekati anggota regu pasukan khusus itu dan memeluknya dengan erat.
Setiap anggota regu mengucapkan selamat tinggal, tersedak oleh air mata. Bahu Yao Yue bergetar hebat saat memeluknya, dan anggota pasukan itu menepuk punggungnya dengan nyaman. Seperti kakak laki-laki, dia mengusap puncak kepala Yao Yue lalu mendorongnya pergi dan menatap mata Xi Zihe dengan air mata.
__ADS_1
"Kapten Xi, terimakasih karena telah menjagaku selama bertahun-tahun ini. Aku sangat senang berada di bawah komandomu." Dia tersenyum setelah mengusap air matanya, menyisakan sepasang mata merah namun jernih, tanpa penyesalan. "Tolong kirim aku pergi, Kapten."
Xi Zihe menutup matanya, dan dengan tangan yang gemetar, dia menodongkan moncong senjata ke atas kepala anggota tim itu.
"Selamat tinggal..." Xi Zihe tersedak tangisnya.
Di sekitar mereka ada keheningan. Shen Yuan menurunkan pandangannya dan menatap tanah di bawahnya. Sesaat kemudian suara tembakan terdengar bergema di tempat parkir.
Feifei memeluk erat leher ayahnya, dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher ayahnya. Saat mendengar bunyi tembakan, dia menangis hingga kukunya menusuk kulit leher Shen Yuan. Shen Yuan menepuk pelan punggungnya.
Xi Zihe menangkap tubuh anggota regunya yang telah jatuh kehilangan kekuatan. Dia membaringkannya di tanah, dan mengambil kalung tag stainless steel dengan rantai tipis dari lehernya. Itu digunakan untuk mengidentifikasi mayat tentara, setidaknya Xi Zihe ingin membawanya bersama.
Kegelisahan dalam kerumunan berhenti dengan cepat. Semua orang yang selamat saling memandang dengan gemetar. Dalam waktu singkat, seorang remaja laki-laki ragu-ragu sebentar sebelum maju, matanya merah dan penuh air mata. "Aku... Aku agak takut."
Dia berhenti, dan menatap mata Xi Zihe, "Apakah masih ada peluru lagi?"
Dia seorang pemuda, mungkin berusia 17 atau 18 tahun. Rambutnya yang pendek sedikit berantakan, dan dia masih mengenakan seragam sekolah. Mungkin saat virus pecah, dia baru saja selesai dari sekolahnya.
Xi Zihe membenamkan wajahnya di telapak tangannya. Bahunya sangat tegang, dia terlihat seperti akan hancur. Pistol yang ada di tangannya sepertinya bertambah berat, hingga dia merasa tidak sanggup membawanya lagi.
Pemuda itu menahan tangis, hingga tubuhnya sangat kaku dan tidak bisa berbicara. Xi Zihe merentangkan tangannya dan memeluknya, dia bertanya, "Siapa namamu?"
"Cheng... Cheng Yu."
"Xiao Yu," Xi Zihe berbicara ke telinganya. "Jangan takut, kamu terlihat sangat tampan."
Pemuda itu menelan air matanya, dan tersenyum kecil. "En!" Dia mengakui dengan tegas.
Detik berikutnya,
DOR
Tembakan itu datang dengan cepat, tanpa basa-basi. Tubuhnya segera merosot ke bawah. Xi Zihe memegang tubuhnya yang sudah tak bernyawa, dan dengan lembut membaringkannya di sebelah jasad anggota regunya.
__ADS_1
"Ada yang lain?" Xi Zihe memandang kerumunan, bertanya dengan suara serak, "Apakah ada yang lain? Keluarlah sendiri."
Masih ada satu peluru lagi.
Tidak ada yang berbicara, mereka juga tidak bergerak. Ketegangan di udara menjadi begitu tebal, dan keadaan menjadi macet. Setelah beberapa saat Xi Zihe mengangguk kepada Wen Fan. Wen Fan mengeluarkan kuncinya, bersiap untuk masuk ke dalam bus. Namun tiba-tiba dia mendengar Shen Yuan berteriak, "Berhenti!"
Mata kerumunan berbalik ke tempat dia memandang. Dia adalah seseorang yang Shen Yuan kenal, petugas medis yang memiliki konflik dengannya. Petugas medis itu ketakutan ketika dia berjalan menuju bus, dan segera Lu Lin yang berada di dekatnya menariknya keluar dari kerumunan.
Lu Lin berkata dengan dingin, "Kau sudah tergigit."
"Aku tidak tergigit! Aku... Aku..."
Lu Lin menarik tangan yang dia sembunyikan di belakangnya, dengan tegas merobek lengan bajunya. Luka bekas gigitan itu sudah mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang mengerikan.
"Itu bukan infeksi, aku tertusuk puing-puing helikopter dan lukanya meradang!"
Lu Lin tidak mendengarkan, dan mendorongnya ke sudut menuju tempat Xi Zihe berada.
Setelah melihatnya tersingkir, Shen Yuan berkata kepada Wen Fan, "Sekarang buka pintu busnya."
Petugas itu menjadi marah, menunjuk dan meraung ke arah Shen Yuan, "Kau baj*ngan! Kau dan putrimu juga terinfeksi! Kau juga harus tetap tinggal!"
Suara umpatan itu bergema. Semua orang yang selamat mulai naik ke dalam bus dan kendaraan lapis baja. Mereka melirik petugas medis itu dengan mengerutkan kening. Jelas sudah dua hari berlalu namun gadis itu tidak juga bermutasi, jadi tidak ada yang membantu angkat bicara untuk petugas medis itu.
Masih dengan menggendong Feifei, Shen Yuan berkata dengan tenang, "Lebih baik kau segera pergi ke Kapten Xi. Dia hanya memiliki satu peluru yang tersisa sekarang."
Petugas medis itu mengayunkan tinjunya, yang langsung bisa dihindari oleh Shen Yuan. Namun pria itu menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Shen Yuan melihatnya lari menuju gerbang besi, yang digunakan untuk menghalau para zombie itu. Jantungnya berdetak kencang, "Berhenti di sana!"
Shen Yuan refleks ingin mengejarnya namun Xi Zihe berteriak ke arahnya, "Shen Yuan! Tidak perlu mengejarnya! Cepat masuk ke dalam!"
Langkah kakinya berhenti, dan dia melompat masuk ke dalam kendaraan lapis baja.
Xi Zihe menginjak pedal gas, dan kendaraan lapis baja melaju keluar dari area tempat parkir. Di belakangnya, bus berukuran sedang yang dikemudikan oleh Wen mengikuti dengan seksama.
__ADS_1
Shen Yuan melirik melalui kaca spion, dia melihat petugas medis itu membuka gerbang besi dengan tangannya sendiri, sebelum dia hilang ditelan oleh lautan zombie.