Living Dead

Living Dead
Bab 28 - Dewi Kecil


__ADS_3

"Ruisi," Xi Zihe berkata dengan suara yang serak. "Laporkan lokasi kita."


Anggota tim, Yang Ruisi, membawa tablet kelas militer di tangannya. "Kita berada 67 km jauhnya dari area militer C. Ada kemacetan yang parah di jalan tol di depan kita. Aku sarankan agar kita pergi melalui kawasan industri, yang terdekat dengan kita sekitar 12 kilometer jauhnya," Dia berhenti dan memikirkan sesuatu. "Mungkin ada asrama pabrik yang bisa kita tinggali di sana."


Orang-orang di dalam bus tidak bisa lagi menahan kecemasan mereka. Mereka semua bangkit dan melihat ke luar bus, mengamati diskusi para pasukan khusus.


Setelah merenungkan dengan matang dan hati-hati, dan mempertimbangkan segala macam aspek, Xi Zihe akhirnya membuat keputusan. "Kita akan mendirikan perkemahan di sini. Buat daftar peralatan dan makanan kita. Atur makanan untuk dibagikan kepada warga sipil dan tempat berlindung bagi mereka."


"Wen Fan," Xi Zihe memberi instruksi, "Siapkan daftar nama orang yang selamat, selain itu atur juga jadwal jaga malam secara bergilir."


Rencana cadangan yang disiapkan Xi Zihe saat akan mengevakuasi para warga sipil sekarang sangat berguna. Di bus ada beras, mie, minyak dan garam, daging kaleng, dan pakaian hangat. Dia secara pribadi memimpin sekelompok orang untuk mengangkut kotak-kotak perbekalan ke dalam bus tadi malam. Selain itu ada juga peralatan, obat-obatan, generator listrik, dll, semua dikumpulkan dan disimpan ke dalam kendaraan lapis baja.


Para korban yang selamat berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, mereka membagi-bagikan makanan kaleng untuk jatah hari ini di antara mereka. Sesekali Isak tangis terdengar dalam kerumunan itu.


Shen Yuan sedang duduk di tangga kendaraan lapis baja, memegang sebotol jus stroberi untuk Feifei. Xi Zihe berjalan mendekat, dan bersandar di sampingnya di badan kendaraan.


"Apa kau percaya dewa?" Xi Zihe datang dengan pertanyaan acak.


Mungkin otaknya sudah rusak akibat tekanan, pikir Shen Yuan.


"Dewa?" Shen Yuan mencibir, "Aku hanya punya satu dewi."


Ya, dewi kecil yang cantik.


Shen Yuan tidak pernah mempercayai apapun selain kekuatannya sendiri. Karena dirinya sendiri dia bisa keluar dari panti asuhan itu, sampai hari ini. Disaat dia terpuruk dan hampir menyerah, dia bisa bangkit kembali, itu juga karena putrinya Feifei.


Pada saat itu, Feifei sudah kembali dengan Yao Yue. Dia berlari kecil menuju Shen Yuan. Rok pendeknya berkibar tertiup angin, dia tersenyum saat memperlihatkan sebuah kesemek besar dan matang di tangannya.


"Ayah, lihat! Yue-jiejie mengambilnya untukku."


Feifei tersenyum dengan gembira, memperlihatkan sederet gigi kecil yang rapi. Pipinya sedikit merah karena udara dingin, dan nafasnya tidak teratur akibat berlari.


Shen Yuan menatap Xi Zihe dengan ekspresi bangga yang seakan berkata, 'lihat, dia adalah dewi kecilku.'


Shen Yuan balas tersenyum dan mengusap kepalanya, "Apa kamu sudah mengucapkan terimakasih?"


Feifei mengangguk, "Sudah, ayah!"


Tiba-tiba Xi Zihe berbicara dari sebelahnya, "Hanya satu? Untuk paman?" Dia menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak ada, ini untuk ayah. Paman bisa mencari lagi di hutan."


Xi Zihe, "...."

__ADS_1


Iri! Dia sangat iri! Kenapa pria yang sedingin es balok bisa mendapatkan putri baik seperti itu! Kapan dia mempunyai anak yang berbakti seperti ini!


Yao Yue tiba disebelahnya dan memanas-manasi, "Kapten, apa kau lihat ini?" Yao Yue menunjukkan sebuah coklat berbentuk kelinci di tangannya, "Xiao Fei memberikannya kepadaku sebagai tanda terimakasih."


"Dasar putri tidak berbakti!" Xi Zihe menunjuk wajah Yao Yue dan pergi dengan wajah hitam. Dia mengabaikan tawa gila Yao Yue di belakangnya.


***


Karena merasa terkhianati oleh 'putrinya' yang tidak tahu malu, Xi Zihe akhirnya berlari menuju Wen Fan.


Saat melihat Xi Zihe mendekat, Wen Fan langsung memulai laporannya. "Tidak banyak bensin yang tersisa di kendaraan lapis baja. Tanpa pilihan lain, kita bisa menggunakan diesel. Saat matahari terbit besok, kita akan melihat tangki bahan bakar kendaraan yang ada di jalanan."


Xi Zihe mengangguk setuju, "Besok saat kita tiba di kawasan industri, kita akan mencoba untuk mengirim sinyal lokasi ke pangkalan militer lagi. Jika pangkalan militer kota C belum jatuh sepenuhnya, pasti ada yang akan menerima sinyal kita, dan mengirimkan informasi."


Mereka berdua berjalan berdampingan ke bawah pohon, untuk menghindari angin dingin yang bertiup.


Xi Zihe bertanya, "Berapa banyak orang yang tersisa?"


"Hanya 30 orang yang selamat. 27 laki-laki, 7 diatas usia 40 dan 20 lainnya pada usia 20-30 tahun. Dan ada 3 perempuan, 1 diatas 50 tahun dan 2 lainnya berusia 30-an."


Wen Fan menarik napas dalam-dalam, menelan ludah dengan kasar, dan berkata, "6 dari kita yang tersisa. Kamu, aku, Yue'er, Lu Lin, Yang Ruisi, dan Li Yan."


"Sisanya tidak ada lagi..."


Di sekitar mereka ada keheningan. Isak tangis yang pelan dari para korban melayang ke arah mereka karena berbawa angin.


Rahang Xi Zihe mengatup erat, hingga wajahnya terlihat sangat kaku.


Bang


Xi Zihe meninju batang pohon yang lebih besar dari seseorang itu untuk melampiaskan amarahnya.


Batang pohon yang tidak bersalah itu bergetar dengan hebat, hingga banyak daunnya gugur di udara.


"Apa yang kau lakukan?!" Wen Fan berteriak panik, "Kau bisa saja mematahkan jarimu!"


Xi Zihe memaksakan dirinya untuk menarik napas, dan menarik tinjunya yang gemetaran.


Wen Fan ingin menyemprotkan cairan desinfektan ke luka Xi Zihe, tapi setelah melihat ekspresinya, dia mengundurkan diri diam-diam.


Xi Zihe menjilat lukanya sendiri, matanya bersinar dalam bayang-bayang pohon, seperti predator yang terjebak ke dalam situasi putus asa namun tidak bisa menerimanya.


"Bagi menjadi beberapa tim dan bergiliran untuk jaga malam. Kita akan berangkat pukul 7 besok pagi ke kawasan industri." Xi Zihe berkata dengan suara parau, sebelum berbalik dan pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Xi Zihe tidak bisa tidak mempertanyakan kemampuannya sendiri. Di bawah kepemimpinannya, banyak anggota regu yang telah kehilangan nyawa.


Xi Zihe sangat takut dan ragu, apabila dia melanjutkan perjalanan ini dan salah dalam mengambil keputusan, dia akan menyebabkan kematian bagi orang-orang lagi.


Dia menarik napas dalam-dalam, menekan segala perasaan negatif di dalam hatinya, dan menjatuhkan pantatnya di atas batu di pinggir jalan.


Dia meraba saku dadanya, berusaha mencari bungkus rokok. Hanya tersisa 3 batang di dalamnya. Dia mengambil satu dan berusaha menyalakannya dengan korek api di tengah hembusan angin dingin.


Tiba-tiba sebuah suara gadis kecil menginterupsinya, "Ayah bilang, merokok bisa membuat sakit paru-paru."


Xi Zihe tidak tahu kapan gadis kecil ini mendekatinya, mungkin karena dia terlalu banyak berpikir sehingga tidak menyadarinya.


Xi Zihe berkata dengan lembut, "Dimana ayahmu? Sudah malam, kamu harus tidur."


Feifei tersenyum dan membuka tangan kecilnya, "Berikan tangan paman."


Xi Zihe tidak tahu apa yang diinginkan gadis kecil ini, jadi dia hanya menyerahkan telapak tangan kanannya.


Feifei kemudian meletakkan sepotong kesemek yang sudah dikupas dengan rapi dan sebuah lolipop rasa buah.


Xi Zihe melihat benda-benda halus yang ada di telapak tangannya yang kasar, dia pun tertegun.


"Ayah dulu mencoba berhenti merokok dengan memakan permen. Lebih baik paman berhenti merokok, atau nanti akan terkena penyakit paru-paru. Oh tidak hanya itu, bisa saja sakit tenggorokan."


Xi Zihe melihat gadis kecil yang sedang mengoceh di depannya dengan tertarik.


Dia mencoba memperingatkanku atau menyumpahiku, pikir Xi Zihe.


Dia tersenyum dan menggenggam barang di tangannya, "Terimakasih."


Feifei tersenyum bahagia, "Tidak masalah. Lalu aku akan pergi tidur."


Xi Zihe mengangguk, "Pergilah."


"Selamat malam, paman."


"Selamat malam, Xiao Fei."


Xi Zihe menunggu gadis kecil itu berbalik dan masuk ke dalam kendaraan lapis baja. Dia kemudian melihat 2 benda yang ada di telapak tangannya. Dia mengambil buah kesemek terlebih dahulu dan memakannya, kemudian mulai mengupas bungkus lolipop dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis disertai bau buah segera menyebar di dalam mulutnya.


Tiba-tiba perasaan negatif yang ada di hatinya telah banyak berkurang.


Benar-benar seperti dewi, ya

__ADS_1


__ADS_2