Living Dead

Living Dead
Bab 42 - Selalu Tersakiti


__ADS_3

Mata Xi Zihe membulat saat dia melihat melalui teropong. Dia melihat zombie yang mengepung pasukan di belakang.


Xi Zihe merasakan hawa dingin menjalar ke keseluruh tubuhnya.


Apa ini? Kenapa mereka tahu cara mengepung?


Li Yan yang melihat melalui scope ikut merasa cemas. Hanya satu hal yang ada di pikiran mereka saat ini.


Zombie itu bisa berpikir.


***


"Sial! Apa-apaan situasi ini!" Yao Yue yang melihat situasi bagian belakang, menjadi berhenti bergerak untuk maju.


Mereka bertiga berhenti berjalan dan menembaki zombie dengan saling memunggungi.


"Yao Yue, lebih baik kita bergabung dengan tim di depan!" Shen Yuan menyarankan sambil melepaskan tembakan pada zombie bertubuh patah di depannya.


"Aku juga berpikir seperti itu!" Kemudian Yao Yue mulai maju dengan perlahan.


Song Yi berada di posisi yang paling putus asa, karena dia harus mengikuti serta menembak dengan berjalan mundur.


Mereka berjalan sangat lambat seperti siput. Namun Yao Yue berusaha sangat keras untuk membuka jalan. Akhirnya, mereka bisa melewati zombie dan bergabung dengan tim depan. Celah yang mereka buat dengan cepat terisi lagi oleh para zombie yang mengejar dari belakang.


Mereka bergabung dengan pasukan Wen Fan dan Lu Lin yang berada di belakang barikade. Situasi mereka hampir sama. Pasukan Wen Fan masih berjuang menembaki zombie.


Yao Yue meraung ke arah mereka, "Kenapa kalian masih belum membunuh pemimpinnya?!"


Wen Fan menjawab dengan nada kebingungan, "Zombie itu sangat aneh... Saat ada peluru yang akan datang, dia menggunakan tubuh zombie yang lain untuk menghalanginya."


Shen Yuan dengan nada muram yang bisa di dengar semua orang, "Mereka bisa berpikir. Meskipun itu hanya cara berburu primitif."


Lu Lin mengacak rambutnya frustasi, "Ah, sialan!"


Wen Fan berkata ke arah walkie talkie di genggamannya. "Kapten, apakah Li Yan bisa menembak zombie itu?"


Suara terdistorsi Xi Zihe datang beberapa saat kemudian. "Li Yan sudah berusaha menembaknya. Namun zombie itu tidak jatuh."


Semua orang menahan napas dingin.


"Apa-apaan?! Apakah lemaknya terlalu tebal?!" Yao Yue segera meraung.


"Apakah menurutmu kepalanya berlemak juga?" Wei Qian di belakang ikut berkomentar.


Suara Xi Zihe datang lagi dari walkie talkie, "Gunakan Si Manis."

__ADS_1


Alis Shen Yuan berkerut bingung, Si Manis?


Suara ketidaksetujuan Lu Lin terdengar di tengah tembakan. "Tidak!! Itu Si Manis terakhirku!"


"Lu Lin, tutup mulutmu! Telingaku sakit!" Yao Yue yang ada di sebelahnya merasa gendang telinganya hampir pecah. Suara Lu Lin lebih keras daripada suara tembakannya.


Wen Fan segera memutuskan, "Ayo kita gunakan itu, sebelum peluru kita habis."


Lu Lin tidak punya pilihan lain. Dia meletakkan senapan mesin ringan miliknya ke tanah, dan membuka tas yang dia bawa. Lu Lin dengan cepat mengeluarkan peluru penembus perisai dan mengambil alih senapan mesin berat Tipe-89.


Lu Lin mencium satu satunya peluru penembus perisai yang tersisa itu, sebelum memasukkannya ke laras. Shen Yuan berusaha sekuat tenaga untuk tidak memutar matanya saat melihat adegan itu.


Lu Lin menggunakan kedua lengannya untuk menopang senapan. Dia menyipitkan matanya dan membidik melalui scope.  Yang lain memberikan ruang bagi Lu Lin untuk menembak.


Mereka melihat zombie itu berjalan mendekat. Zombie itu membawa aroma busuk berhembus melintasi mereka.


Bang! Bang! Bang


Yang lainnya terus berusaha menembaki zombie itu. Kalimat tidak ada yang berpengaruh padanya, zombie bertubuh besar itu berjalan langsung ke arah mereka.


Tubuh zombie yang terlihat lebih dari 100 kilogram itu seperti tembok di depan mereka. Di kuku dan mulutnya terlihat ada darah dan daging yang menempel.


Pada jarak kurang dari lima meter, Lu Lin menekan pelatuknya.


BANG


Segera setelah melepaskan pelatuk, Lu Lin berusaha melarikan diri, namun sudah terlambat. Karena dia berada di bagian paling depan, darah dan cairan zombie langsung menyiram bagian belakang punggungnya.


Mayat besar zombie sudah berubah menjadi potongan kecil-kecil dan lenyap dari pandangan mereka semua.


"Mundur! Mundur sekarang!" Wen Fan meraung, menyadarkan semua orang dari kejadian sebelumnya.


"Lupakan zombie di belakang, mundur sekarang!"


Mereka segera berlari sekuat tenaga menuju asrama.


***


Yang Ruisi menempatkan kantong Nitroselulosa terakhir, lalu mundur menuju di mana barikade berada. Beberapa saat kemudian, orang-orang yang ada di garis depan masuk ke halaman.


Para korban yang selamat sudah menunggu lama. Laki-laki, perempuan, tua maupun muda bekerjasama untuk menyatukan pagar kawat kemudian mengikatnya dengan menggunakan rantai logam. Pada saat berikutnya, bayangan-bayangan gelap zombie mulai muncul di ujung jalan. Erangan zombie mulai terdengar semakin dekat, mengalir seperti gelombang laut.


Jumlah mereka lebih banyak daripada yang diperkirakan.


Mereka tahu bahwa ada pagar kawat yang memisahkan mereka, tetapi melihat begitu banyak mayat hidup busuk dan menjijikkan datang ke arah mereka, ketakutan mulai timbul tanpa bisa dikendalikan. Banyak dari mereka mulai menjerit dan merasa lemas.

__ADS_1


Dengan penuh keringat, Yang Ruisi berteriak, "Jangan takut! Pertahanan kita bisa menahannya!"


Teriakan Yang Ruisi menghentikan kerumunan yang mundur ketakutan.


Saat berikutnya, zombie telah berjalan ke jalan, memasuki bentangan Nitroselulosa yang sudah di sebarkan oleh Shen Yuan dan Yang Ruisi, hampir sepanjang 50 meter.


Yang Ruisi mengangkat pistol, dan tanpa ragu-ragu menarik pelatuknya, membidik tepat di mana Nitroselulosa berada.


Ledakan mengguncang bumi. Api di muntahkan, mencapai ke langit malam di bawah mata semua orang yang terkejut, merambat dan menderu ke arah zombie.


Dengan kobaran api, Nitroselulosa meledak!


Lima puluh meter aspal meledak, semen dan pohon-pohon terbang ke udara. Zombie terkoyak-koyak dalam kobaran api yang nampak seperti api neraka.


Ketika ledakan itu terjadi, semua orang berteriak dengan kaget, kemudian mulai digantikan dengan sorakan yang gila.


Ledakan terakhir dari bahan peledak menyala terang. Zombie benar-benar dibersihkan, dan asap dari ledakan menutupi jalan yang penuh dengan darah dan daging yang hangus.


***


Sepuluh menit kemudian, di halaman depan asrama.


"Minggir jangan dekat-dekat denganku! Huek..." Yao Yue berteriak keras ke arah Lu Lin. Kemudian karena tidak tahan dengan baunya, dia menjadi muntah lagi.


Semua orang mulai memberikan air mineral kepada mereka yang baru saja kembali dari garis depan. Namun, tidak ada yang mau memberikan kepada Lu Lin karena dia tertutup darah dan cairan zombie yang berbau sangat busuk.


Lu Lin berdiri dengan murung, kemudian menatap orang yang ada di sekitarnya. "Apakah baunya seburuk itu?"


Wei Qian menoleh, terengah-engah saat dia berusaha menutupi hidungnya menggunakan baju, "Yah... seperti itulah, Lin-ge."


Sebagai balas dendam, Lu Lin dengan usil mendekat ke arah mereka, dan mereka semua segera mundur.


Yao Yue sangat marah, sebagai gadis dia sangat tidak menyukai bau busuk, "Jangan mendekat! Atau kukebiri kau sekarang!" Yao Yue mengarahkan sepatu bot militernya tepat di antara kaki Lu Lin.


Lu Lin menghindar dengan ketakutan. "Kenapa kalian semua kejam sekali denganku?! Kalau bukan karena aku yang membunuh zombie itu, apakah aku akan berbau seperti ini?! Setidaknya hargailah kerja kerasku!"


Mereka semua pura-pura tidak mendengar dan mengalihkan pandangan mereka.


"Ayah, lihat kelakuan mereka!" Lu Lin mendekat ke arah Shen Yuan, namun Shen Yuan diam-diam mundur beberapa langkah.


Lu Lin menghentikan langkahnya, dia memandang dengan tidak percaya. "Bahkan Ayah tidak mengenaliku lagi!"


Lu Lin berjongkok dengan sedih di pinggir petak bunga, menggambar lingkaran di tanah dengan menggunakan ranting. Dia berhenti menggambar saat dia melihat Feifei menuju ke arahnya dengan sebotol air mineral.


"Huhu... Memang Feifei adalah malaikat kecilku."

__ADS_1


Namun tiba-tiba Feifei berhenti pada jarak sepuluh meter darinya. Dia membungkuk dan meletakkan botol air mineral di tanah. Dia lalu menendang dengan menggunakan kaki kecilnya, membuat botol itu menggelinding ke arah Lu Lin, kemudian dia berbalik dan berlari menjauh tanpa menoleh.


Lu Lin meraung dengan sakit hati, "Di mana malaikat kecilku?!"


__ADS_2