
Kota, di mana tim ketiga berada.
Kawasan pertokoan kosong, dan jalan-jalan masih mempertahankan penampilannya yang semula ketika kiamat menimpa mereka. Tubuh-tubuh yang telah dimakan oleh zombie telah berubah menjadi hitam dan busuk, dengan lalat berdengung di sekitar tulang dan daging yang membusuk. Kota telah menjadi kuburan raksasa bagi mereka yang kehilangan nyawanya.
Tikus-tikus berlarian menyebrang jalan ketika bus lewat, dan darah manusia yang gelap membasahi aspal di tanah, kemudian perlahan-lahan merembes ke saluran pembuangan.
Di sudut-sudut dan di belakang bangunan, zombie akan muncul secara berkala, mengulurkan tangan mereka yang busuk tak berbentuk ke arah bus yang melaju kencang.
Langit mendung dan kelabu mengawasi dengan arogan neraka yang ada di bumi ini.
Wen Fan melihat keluar jendela, perlahan-lahan terdiam. Di antara alisnya, ada kesedihan yang tak terbantahkan.
Dia tiba-tiba menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengamatinya dengan hati-hati dari arah kursi pengemudi, tepat di sampingnya. Memutar kepalanya secara naluriah, Wen Fan bertemu dengan tatapan cemas Wei Qian.
"... Hmm ada apa?"
Wei Qian melirik ke arah Wen Fan menggunakan ujung matanya saat dia mengemudikan bus besar itu. "Apakah kau khawatir?"
Wen Fan mengangguk, dan menghela napas panjang. Dia bersandar ke kursinya, dan sedikit menggertakkan kakinya yang patah, "Aku sedang memikirkan keluargaku di desa."
Wei Qian tetap diam, dia tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Keluargaku... Haaah aku tidak tahu apakah mereka saat ini baik-baik saja. Keluargaku sangat berisik, sangat berbeda denganku yang membosankan. Dan aku juga khawatir dengan keselamatan tunanganku. Kau tahu, aku sudah menyukainya untuk waktu yang lama. Namun aku sangat pemalu hingga hanya berani menyatakan perasaanku baru-baru ini. Katakan padaku, mengapa kiamat ini muncul begitu saja?" Saat berbicara, Wen Fan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Kapten Xi selalu bercanda dan tertawa sepanjang hari, tetapi sebagian besar waktu, itu hanya topeng saja. Ketika dia muram, itu sangat menakutkan, tetapi dia sengaja menyembunyikan diri dan tidak membiarkan siapa pun melihatnya seperti itu."
Nada bicara Wen Fan sangat tulus dan penuh pengabdian. Saat Wei Qian mendengarkannya, dia dapat meraskaan bahwa dalam hidup Wen Fan, selain keluarga dan tunangannya, dia hanya mengakui Xi Zihe.
__ADS_1
Wen Fan adalah orang yang lembut, terlalu lembut untuk seorang prajurit tentara pasukan khusus. Sehingga, saat berada di tempat pelatihan militer yang seperti neraka itu, dia mengalami perundungan. Orang-orang meremehkannya dan mengejeknya, berkata bahwa dia tidak akan masuk dalam jajaran anggota pasukan khusus. Namun ada sesuatu yang sangat unggul dalam diri Wen Fan yang hanya disadari oleh Xi Zihe. Itu adalah kegigihan.
Wen Fan sangat gigih dan berpegang teguh untuk mencapai targetnya walaupun dia menerima ejekan dari sesama rekan militernya. Jadi saat dia lulus sebagai salah satu lulusan terbaik, Xi Zihe langsung merekrutnya ke dalam timnya.
"Kapten Xi mengatakan bahwa sebagai tentara pasukan khusus, kami tidak bisa menghela napas dan terlihat muram, karena harapan warga sipil tergantung pada kami. Hanya satu pandangan dari kami, hati mereka akan berdebar cemas. Jika kami terus berbicara tentang bahaya dan kiamat, atau hal-hal seperti ini, mereka tidak akan mampu menanggungnya, dan mereka akan lebih memilih untuk bunuh diri."
"Haaah..." Wen Fan masih tidak bisa menahan diri dan menghela nafas panjang. "Namun, aku masih tidak bisa berhenti bertanya-tanya mengapa ini harus terjadi pada generasi kita? Mengapa kita begitu sial?"
Mata Wen Fan tidak fokus, tubuhnya merosot tanpa tenaga di atas kursi penumpang. Dengan lehernya yang jatuh ke samping, dia terlihat seperti jelly yang sudah meleleh karena terkena panas.
Wei Qian terlihat termenung. Sesaat kemudian, dia membungkuk dan mengambil sesuatu dari kardus di bawah kursinya menggunakan satu tangan. Dia meraih sekaleng susu berkalsium tinggi keluar dari kardus itu, dan diam-diam diserahkan kepada Wen Fan.
"Minum ini, agar cedera patah tulangmu cepat sembuh."
"Hmm?" Wen Fan sangat terkejut dan bahkan sedikit terharu. Dia meraih kaleng itu dan tertawa, "Baiklah, aku akan mengambilnya. Jika ada Xiao Fei di sini, dia pasti sudah akan meneteskan air liur..."
Wen Fan tertawa lagi saat dia mengingat ekspresi yang selalu dikenakan Feifei saat dia melihat makanan manis ataupun susu. Bagi mereka semua, Feifei seperti angin segar di tengah kekacauan yang seperti neraka ini.
Wei Qian merenung sejenak, lalu bertanya, "Bagaimana pendapatmu tentang Kapten Xi saat menjadi wakil Kaptennya?"
Wen Fan memasang ekspresi sedih. "Hmm.. Bagaimana aku harus mengatakan ini. Meskipun Kapten Xi sering mengomel dan membuat orang ingin memukul bagian belakang kepalanya, kami terkadang masih merindukan omelannya, terutama pada saat-saat seperti ini."
Xi Zihe orang yang tegas, sehingga apabila ada anggota timnya yang tidak melakukan sesuatu yang sesuai dengan perintahnya, dia akan menegurnya panjang lebar, hingga hal tersebut seperti seseorang yang sedang mengomel. Namun Xi Zihe sangat mencintai dan menyayangi setiap anggota timnya. Dia selalu menjaga mereka semua seperti keluarganya sendiri. Orang yang seperti itu, pasti akan dihormati oleh setiap rekan pasukannya.
Wen Fan tersenyum kecut. Dia ingin berbagi beban dengan Xi Zihe, karena dia adalah wakil Kaptennya. Namun, melihat keadaannya yang seperti ini, yang hanya seperti beban, Wen Fan hanya bisa menertawakan dirinya sendiri.
Aku sangat tidak berguna, pikir Wen Fan.
__ADS_1
Saat Wen Fan tenggelam dalam pikirannya yang rumit, dia mendengar suara Wei Qian.
"Tidak hanya Kapten Xi, menurutku kau juga sangat bisa diandalkan, Fan-ge."
"Hmm?" Wen Fan mengalihkan pandangannya ke arah Wei Qian. Wei Qian sedang mengamati jalan dengan ekspresi serius.
Wei Qian melanjutkan, "Memang Kapten Xi yang merencanakan dan memutuskan semua hal, namun bukankah itu kau yang mengurus segala sesuatunya agar semua berjalan dengan lancar?"
Wei Qian tidak buta. Wen Fan memang sangat bisa diandalkan. Dia sangat teliti, dan semua tindakannya sangat terorganisir.
Wei Qian dengan santai menambhakan, "Kau tidak kalah hebat dengan Kapten Xi. Bahkan ayah juga memujimu." Wei Qian tertawa pada akhir kalimat.
Siapa yang tidak tahu bahwa Shen Yuan sangat pelit akan pujian. Tapi orang seperti itu memuji Wen Fan.
"Wen Fan adalah orang yang pintar. Jika tidak ada Xi Zihe, orang yang harus kau ikuti selanjutnya bukan aku, tapi dia."
Wei Qian mengingat kembali kalimat yang terlontar dari mulut Shen Yuan saat mereka hendak melawan zombie berkemampuan khusus pertama yang mereka temui.
Wen Fan tercengang saat mendengar kata-kata dari Wei Qian. Dia sama sekali tidak tahu bahwa orang lain memandang tinggi dirinya. Namun entah mengapa saat dia mendengar kata-kata itu, beban yang ada di hatinya sedikit terangkat.
Wei Qian kembali menambahkan sebuah kalimat yang membuatnya sepenuhnya tidak mampu berkata-kata. "Kau tidak sendirian. Jadi tidak perlu bagimu untuk melakukan semuanya sendiri, Fan-ge. Kau juga tidak perlu berpikir yang tidak-tidak."
Wen Fan sangat tersentuh. Kemudian dia baru saja mengingat umur Wei Qian.
23 tahun.
Sangat muda, namun lebih dapat mengontrol emosinya. Sejenak Wen Fan menjadi malu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah memikirkan sejenak, akhirnya Wen Fan berkata, "Aku mengerti. Selanjutnya, aku akan berbagi tugas dengan yang lain."
Wen Fan perlahan duduk rileks di kursinya, dan tidak memikirkan apapun lagi.