Living Dead

Living Dead
Bab 60 - Mati Rasa


__ADS_3

Mendengar teman-temannya telah masuk ke dalam gudang dengan aman, Yang Ruisi menghela napas lega.


"Sekarang semua zombie berkumpul di depan pintu masuk yang ada di samping itu. Kebetulan itu adalah gudang senjata. Kenapa kalian tidak mengambil senjata yang kalian inginkan?" Yang Ruisi berkata, "Kalian bisa mendengarku?


"Aku bisa mendengarmu." Suara Xi Zihe yang mantab terdengar bergema di dalam gudang senjata yang besar, kosong dan gelap. "Di dalam sini benar-benar tertutup. Seharusnya tidak ada zombie."


"Tetap waspada." Dengan suara serak, Yang Ruisi berkata, "Aku akan mengawasi gerakan zombie di luar. Setelah kalian sudah memilih senjata, kalian bisa memaksa jalan keluar lagi."


Mendengar suaranya yang serak, He Zhao buru-buru menyerahkan sebotol air mineral pada Yang Ruisi.


Yang Ruisi bisa merasakan air mengalir menuruni tenggorokannya yang kering. Suaranya kembali seperti semula, "Kalian tidak perlu terlalu tegang, makan dan minumlah sekarang. Tidak baik memiliki perut kosong di malam hari, kalian tahu?"


"Kami... tidak memiliki napsu makan." He Zhao berkata sambil menggaruk rambutnya yang mulai memanjang.


Yang Ruisi menghela napas, dia menutup tutup botol air, lalu tiba-tiba gerakannya berhenti. Telinga Yang Ruisi terangkat.


He Zhao dan Feifei mendengarnya juga, dan tiba-tiba Feifei berkata, "Ada yang datang."


Yang Ruisi segera membuat gerakan untuk tetap diam, dan mengambil pisau militer dari sakunya. Sekarang dia tidak bisa menggunakan senapan, karena bunyi tembakan akan menarik lebih banyak zombie ke tempat mereka. Dia memberi isyarat agar kedua bocah itu menyembunyikan dirinya di belakang kendaraan lapis baja.


Tiga zombie keluar dari hutan. Jika dilihat dari pakaian mereka, mereka adalah warga sipil biasa dari kota terdekat. Tubuh mereka sudah setengah busuk akibat suhu yang terus berubah-ubah selama berhari-hari. Mereka terhuyung-huyung, dan dengan gemetar berjalan menuju tempat pemantauan mereka.


Pada saat yang sama, di dalam gudang senjata.


Li Yan mencoba menyalakan sakelar, gudang yang tadinya gelap, mulai berubah warna menjadi kemerahan. Lampu merah menerangi pintu masuk dan koridor di dalamnya, menerangi seluruh gudang senjata.


Xi Zihe melihat sekeliling dengan tertarik, "Hmm.. sistem independen untuk mencegah pemadaman listrik saat terjadi pengeboman. Tidak buruk."


Song Yi mengangguk, "Bagus sekali. Kita bisa mengumpulkan senjata sekarang."


Xi Zihe berbicara lagi dengan Yang Ruisi melalui mikrofonnya. "Ruisi, apakah kau mendengarkanku? Bagaimana situasi di luar? Beri kami laporan tentang situasi di pintu masuk gudang senjata utama dan rute menuju helikopter."


Namun hal-hal tidak sesuai dengan harapan Xi Zihe. Bukan suara membosankan Yang Ruisi yang dia dengar melalui earphonenya, melainkan suara gadis kecil yang seharusnya tidak pernah muncul di sana.


"Pintu utama di luar... ada zombie."

__ADS_1


"Xiao Fei?!" Xi Zihe dan Yao Yue berteriak secara bersamaan.


"Apa? Ada apa?!" Shen Yuan yang mendengar mereka berdua berteriak tidak bisa untuk tidak merasa cemas. "Apakah Feifei yang berbicara dengan kalian berdua?!"


Xi Zihe dan Yao Yue saling berpandangan, mereka terdiam.


Melihat mereka terdiam dan ragu-ragu untuk memberitahunya, Shen Yuan segera meraih kerah seragam Xi Zihe dengan tidak sabar. "Hei.. jawab aku!"


Song Yi dan Li Yan segera menarik Shen Yuan menjauh dari Xi Zihe. "Ayah, tenanglah. Kapten sepertinya baru mengetahui hal ini juga. Lihat? Dia terkejut setengah mati."


Xi Zihe kembali bertanya kepada Feifei, "Bagaimana kamu bisa berada di sana?"


Karena tahu Shen Yuan khawatir, Yao Yue dengan sukarela menyerahkan earphone dan mikrofonnya kepada Shen Yuan.


Shen Yuan berkata dengan nada tertekan. Terdengar seperti menegur, namun juga terdengar khawatir. "Feifei."


Gadis kecil di dalam saluran sepertinya gugup saat mendengar suara ayahnya. "Uh.. ayah..."


Shen Yuan saat ini mengesampingkan bagaimana Feifei bisa muncul di sana. Walaupun dia merasa sangat khawatir. Dia bertanya kepada Feifei, "Di mana Yang Ruisi? Apa yang terjadi di sana?"


Feifei, "Ah... Paman Yang..."


Feifei akhirnya berkata, "Dia.. sedang buang air kecil."


Xi Zihe kembali bertanya dengan frustasi, "Lalu di mana Xiao Zhao?"


Feifei mengalami masalah lagi. He Zhao sedang membantu Yang Ruisi untuk menghadapi salah satu zombie dengan menggunakan batang kayu.


Feifei menjawab dengan suara kecil, "Zhao-ge.. sedang buang air besar."


Xi Zihe, "....."


Shen Yuan, "....."


Gadis kecil ini sama sekali tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Tiba-tiba suara Feifei di earphone terdengar berbeda, "Ayah, ini sangat aneh. Kenapa ada... begitu banyak zombie di sana."


Xi Zihe segera bertanya, "Ada berapa? Di mana?"


Feifei menghitung saat dia mengamati layar monitor, "satu, dua, tiga, empat..."


Xi Zihe meraung, "Di mana zombienya, Xiao Fei?"


Di sisi lain, salah satu zombie terhuyung-huyung berjalan menuju ke arah Feifei. Yang Ruisi bergegas menuju Feifei setelah dia selesai menghabisi zombie milik He Zhao. Tebasan dari pisaunya segera memenggal kepala zombie itu. Darah lengket dan busuk memercik ke wajah hingga leher Feifei. Namun dia tidak peduli dan tetap melanjutkan hitungannya.


Feifei, "... Empat belas, lima belas..." Dia mengusap wajahnya yang terkena darah sambil berhitung, hingga telapak tangannya berlumuran darah. Tapi seperti tidak merasakan apa-apa, Feifei dengan acuh tak acuh menyeka tangannya menggunakan rok.


Feifei sudah tidak memiliki perasaan terhadap makhluk yang di sebut zombie ini, dia tidak lagi menganggap mereka manusia. Sejak hari pertama mereka muncul dalam hidupnya, Feifei telah membencinya dan berharap mereka semua lenyap dari hadapannya.


Zombie-zombie ini, tidak hanya merenggut nyawa sahabatnya, tapi juga nyawa orang lain. Mereka yang mati oleh zombie, Feifei masih ingat setiap adegannya dengan jelas.


Dengan suara tenang Feifei berkata, "Ada total sembilan belas. Mereka ada di sekeliling Ayah dan yang lainnya."


"Kapten, di sana!" Suara nyaring Yao Yue bergema di gudang yang kosong.


Seorang zombie keluar dari balik rak panjang senjata. Di belakangnya, lebih banyak lagi zombie yang keluar.


Mereka segera melepaskan serangkaian tembakan dari senapan mereka, mengubah zombie-zombie itu menjadi mayat penuh lubang.


"Tembak terus!" Xi Zihe meraung di antara deru tembakan.


Suara tembakan tidak berhenti. Shen Yuan melompat ke sisinya. Sosoknya yang lincah meluncur di lantai saat senapan mesin di tangannya menyapu area itu dengan peluru. Beberapa kaki zombie patah sekaligus, mereka jatuh ke lantai tanpa banyak usaha. Dengan bidikan dari senapannya, dia menembak kepalanya hingga zombie itu mati tak bergerak.


Lingkungan menjadi sunyi. Xi Zihe perlahan menyandarkan punggungnya hingga menempel ke dinding. Akhirnya, dia menurunkan senjatanya, "Bersih."


Xi Zihe memindai area itu. Di bawah lampu merah, anggotanya masih berdiri tegak dengan terengah-engah. Tidak ada yang tergigit. Di sekeliling mereka, mayat zombie bersilangan di lantai, mereka menggunakan seragam kamuflase. Kemungkinan besar, saat virus zombie pecah di dalam barak ini, mereka memasuki gudang untuk melakukan perlawanan. Namun masih gagal.


Xi Zihe menghela napas berat. Dia kembali mengingat kata-kata yang ada di kertas yang dia pungut.


...Dia adalah satu-satunya harapan umat manusia....

__ADS_1


Xi Zihe mencibir di dalam hatinya, menggelikan.


Orang yang berusaha mereka selamatkan dengan susah payah, ternyata adalah dalang dari pecahnya virus zombie di negara ini.


__ADS_2