Living Dead

Living Dead
Bab 69 - Rasa Bersalah


__ADS_3

Tes.. tes..


Darah terus keluar dari luka di mata kiri Yang Ruisi, mengalir menuju dagu dan menetes jatuh satu per satu membasahi seragam militernya.


Dia mendongakkan kepalanya, dan bertemu tatapan seperti akan menangis di mata Feifei dan He Zhao.


"Ada apa dengan ekspresi kalian itu? Aku belum mati." Yang Ruisi bangkit perlahan dari atas lantai. "Ini hanya mata kiri. Tidak apa-apa."


He Zhao berdiri diam, kepalanya tertunduk, dan tangannya terkepal erat di samping paha.


Ini karena paman berusaha melindungi kami. Andai saja aku lebih berguna, mata kiri paman Yang pasti tidak akan seperti itu!


He Zhao sangat merasa bersalah dan tidak berguna. Feifei masih berusia sepuluh tahun, dia tidak bisa disalahkan. Namun dirinya, seharusnya bisa melakukan sesuatu. Seperti kata Yang Ruisi, di medan perang, bahkan anak kecil pun harus mengangkat senjata. Namun kenapa dia tidak bisa melakukan apa pun?


He Zhao merasa ingin menangis.


"Jangan terlalu dipikirkan." He Zhao mengangkat kepalanya setelah mendengar suara Yang Ruisi. "Ini bukan salah kalian, jadi kalian tidak perlu merasa bersalah."


He Zhao dapat melihat Yang Ruisi tersenyum. Senyum itu penuh dengan kesombongan dan rasa percaya diri. "Kalau pun ada yang harus disalahkan, itu pastinya zombie simpanse sialan itu. Hah! Dasar kera!" Setelah mengucapkan itu, Yang Ruisi mengusap kepala He Zhao dengan keras.


Feifei melihat interaksi antara Yang Ruisi dan He Zhao dari belakang. Mungkin yang lain tidak dapat melihat dengan jelas, namun dia yang selalu ada di belakang dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.


Dia dapat mengingat ekspresi di wajah Yang Ruisi ketika zombie itu muncul di hadapan mereka. Dia ingat bagaimana Yang Ruisi berusaha melindunginya dengan menyembunyikannya di belakang punggungnya. Saat itu, dia merasa punggung Yang Ruisi sangat besar dan dapat diandalkan, seperti punggung ayahnya.


Namun melihat keadaan Yang Ruisi sekarang ini, Feifei merasa dia hanya beban. Pada saat ini, Feifei menangis di depan Yang Ruisi.


Feifei menggenggam ujung seragam Yang Ruisi, dia berkata perlahan, "Maafkan aku, Paman Yang. Seharusnya aku tidak menyelinap untuk pergi."


Berlutut di Feifei, Yang Ruisi tersenyum sambil terus menutup matanya kirinya menggunakan telapak tangan. "Ei... Itu bukan salah Xiao Fei. Kamu juga membantuku saat itu, benar kan?"


Yang Ruisi tidak tahu dia harus tertawa atau menangis. Dua anak menangis karena dirinya, dan sekarang dia juga yang harus menghibur keduanya. Dia merasa ini bahkan lebih sulit dari menjinakkan bom.

__ADS_1


Feifei menggali ke dalam tas beruang kesayangannya, dan berhasil menemukan sapu tangan bermotif bunga kecil. Dengan tangan kecilnya, dia menekan luka di mata kiri Yang Ruisi dengan sapu tangan itu.


"Apa ini untukku?" Feifei tidak berbicara dan hanya mengangguk. Yang Ruisi tersenyum saat dia berkata, "Baiklah. Terimakasih." Setelah itu, dia mengikat sapu tangan ke belakang kepalanya.


Sapu tangan bermotif bunga dengan cepat ternoda oleh darah merah yang merembes, itu terlihat sangat mengerikan. Namun Yang Ruisi tidak memiliki waktu untuk memikirkan penampilannya saat pintu mereka digedor oleh zombie.


Brak! Brak!


"Sial. Cepat sekali..."


Para zombie mengikuti bau dan jejak darah yang ditinggalkan oleh Yang Ruisi dan mengikuti mereka hingga pintu rumah ini.


"Ayo, kita harus bergegas!"


Yang Ruisi memberi arahan kepada kedua bocah itu untuk mengikutinya. Mereka masuk lebih dalam ke dalam rumah dan sampai pada pintu balkon.


Saat akan memasuki gedung, dari kejauhan Yang Ruisi bisa melihat adanya tangga darurat. Ini adalah rute pelarian terakhir yang bisa dipikirkan olehnya. Dia hanya bisa berharap, saat berada di atap nanti, mereka bisa memberi sinyal kepada helikopter Xi Zihe.


He Zhao naik lebih dulu, diikuti Feifei, dan Yang Ruisi berlari di barisan paling belakang.


Bang!


Suara pintu didobrak terbuka terdengar oleh mereka bertiga, diikuti oleh raungan zombie dari dalam rumah. He Zhao semakin mempercepat gerakan kakinya.


Dang dang dang


Suara langkah kaki mereka di tangga besi terdengar sangat nyaring di tengah kota yang telah sepi. Para zombie mulai mengikuti mereka dari belakang. Kawanan zombie yang sangat besar itu memanjat, satu demi satu, berkerumun ke depan dengan keaktifan luar biasa.


Mereka bertiga memanjat, hingga ke bagian paling tinggi. He Zhao akhirnya dapat mencapai atap apartemen, dia berhenti dan membuka pintu, setelah mereka semua lewat dia menutupnya dan menguncinya.


Feifei langsung ambruk di tanah karena tidak kuat lagi untuk menggerakkan kakinya. Dia sudah sangat lelah, begipula dengan yang lainnya.

__ADS_1


Yang Ruisi menghembuskan nafas dengan cepat, kehilangan banyak darah membuatnya sedikit pusing, hingga kulitnya perlahan berubah menjadi pucat.


"Kita, kita akan bersembunyi di sini lebih dahulu." Duduk bersandar di dinding, Yang Ruisi menginstruksikan kedua bocah itu untuk berdoa. "Ayo, ayo kita berdoa agar Kapten Xi ingat untuk menyelamatkan kita."


He Zhao segera menyatukan tangannya dan berkata dengan keras, "Kumohon, cepatlah datang."


Yang Ruisi tersenyum dan mencela diri. Mungkin sebelum helikopter itu datang, dia sudah mati karena kehilangan banyak darah. Ditambah dengan cuaca yang semakin dingin, dia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Tapi tiba-tiba mendengar sesuatu, Yang Ruisi mengangkat kepalanya dan melihat ke langit yang luas.


Gemuruh baling-baling semakin dekat. Sebuah helikopter berwarna hijau tua muncul dari balik gedung pencakar langit. Ada dua orang yang saat itu berdiri tepat di pintu masuk. Bahkan dari jarak yang jauh, Yang Ruisi langsung mengenali Kaptennya yang abnormal, dan ayah mereka yang dingin hanya dengan sekilas.


Xi Zihe dan Shen Yuan.


"Mereka berdua..." Yang Ruisi mati-matian menahan tawa dan menengok ke arah dua anak kecil di sampingnya. "Mereka berdua sangat keren, benar kan?"


Masih tidak percaya bahwa helikopter benar-benar datang setelah mereka berdoa, Feifei dan He Zhao masih duduk di tanah dan tidak tahu bagaimana cara untuk merespon.


Dengan senyum bangga, Yang Ruisi berkata kepada dirinya sendiri, "Hm... Ternyata doaku ampuh juga?"


Yang Ruisi dengan cepat berdiri, dan melambaikan tangannya penuh semangat. Dia menangkupkan tangannya di mulutnya menjadi bentuk terompet dan berteriak keras, "Kapten Xi! Ayah! Kami di sini!"


Namun sebelum dia sempat mengatakan kalimat yang lain, alarm bahaya internalnya tiba-tiba berbunyi, dan dia mendengar jeritan Feifei di belakangnya. Refleks memiringkan kepalanya, dia menghindari kuku tajam yang menjangkau dari samping kepalanya.


Zombie!


Tubuh besar yang membusuk menyerang, disertai hembusan angin yang berbau busuk dan anyir darah. Yang Ruisi menyingkir, menghindari gigi tajam zombie.


Zombie simpanse ini lagi?!


Yang Ruisi mengumpat kembali di dalam hatinya. Kenapa dia belum mati?!


Darah dan daging terlihat menempel pada cakar tajamnya. Badannya terlihat hangus di beberapa bagian, namun zombie itu masih terus bergerak dan melihat ke arah Yang Ruisi dengan tatapan penuh permusuhan.

__ADS_1


__ADS_2