Living Dead

Living Dead
Bab 34 - He Zhao


__ADS_3

Di lantai 6 sebuah apartemen. Seorang remaja sedang memfokuskan pandangannya pada remote kontrol di tangannya. Pemandangan yang ditangkap oleh kamera drone ditransmisikan langsung pada monitor mini yang ada di remote kontrol itu.


Di layar, terlihat beberapa orang yang mengenakan pakaian kamuflase militer sedang melihat ke arah drone-nya.


Dia mengendalikan dronenya untuk menarik perhatian orang-orang itu, dengan harapan agar mereka menolongnya dari neraka ini.


Bang! bang


Suara gedoran di pintu rumahnya datang beberapa kali. Walaupun dia sudah mengganjalnya menggunakan kulkas, dia tetap merasa khawatir.


He Zhao melirik pintu untuk kesekian kalinya. Setiap kali pintu itu digedor, dia merasa umurnya semakin berkurang. Sudah lebih dari seminggu dia terjebak di kamar apartemen ini. Persediaan yang dia miliki sudah tidak cukup lagi, hanya bisa bertahan selama 2 hari.


He Zhao menghela napas ketakutan, masih memperhatikan pergerakan orang-orang itu. Semoga tanda yang dia berikan sudah cukup jelas.


Dia mulai mengingat awal tragedi ini terjadi.


Saat itu badai petir sedang terjadi di langit kota F. Listrik padam, dan kota itu tenggelam dalam kegelapan untuk waktu yang lama.


He Zhao sedang duduk di tepi sofa ruang tamu, masih mengenakan seragam sekolahnya. Dia melihat ke dalam kegelapan, menunggu ibunya yang sampai jam 9 malam tak kunjung pulang.


Ibunya adalah seorang perawat di rumah sakit, dan ayahnya sudah meninggal dunia. Biasanya ibunya sudah akan berada di rumah pada pukul 6. Dia sangat khawatir karena di luar sedang hujan badai.


Awan guntur menembakkan garis-garis putih terang yang saling bersautan. Ledakan guntur pertama terdengar, kilat yang menyambar menerangi wajahnya yang pucat dan cemas.


Suara nyaring guntur terdengar dari dalam pekatnya awan, awan hitam dan cerahnya petir berguling-guling di langit malam. Panggilan telepon datang pada waktu ini.


"Ibu, berapa lama lagi kamu sampai di rumah? Hujan deras di luar, apakah kamu ingin aku membawakanmu payung?"


"Xiao Zhao!" Ibunya berteriak dengan cemas di ujung lain telepon. "Sesuatu terjadi di rumah sakit! Ibu akan pulang sebentar lagi. Oke?"


"Baiklah. Aku mengerti."


Suara guntur kembali terdengar. He Zhao menutup teleponnya dan mengambil segelas air di dalam kegelapan. Dia kembali duduk di meja belajarnya, dan menggunakan senter untuk menerangi pekerjaannya merakit drone yang baru dia beli.


Ibunya adalah seorang perawat dan sering kali ada kejadian darurat yang membuatnya terlambat untuk pulang, He Zhao sudah terbiasa.


Ibu He Zhao sudah mencoba untuk pulang, namun ada kemacetan di sepanjang jalan hingga menyebabkan dia tertunda untuk pulang.


Pada pukul 12 malam, listrik kembali menyala. Seluruh ruangan menyala seketika. Mata He Zhao mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kecerahan yang tiba-tiba, sehingga dia terpaksa menyipitkan matanya.

__ADS_1


He Zhao menyalakan televisi, ingin melihat serial malam sembari merakit drone, namun hanya ada white noise di layar. Dia mengernyitkan alisnya bingung, mengganti saluran televisi. Namun hasilnya sama saja, hanya ada layar statis dengan white noise. He Zhao kemudian mematikan televisi. Di lantai bawah, sirine ambulans yang jauh terdengar berlalu-lalang.


Telepon berdering kembali. He Zhao mengangkatnya. Kebisingan sudah menghilang di dalam saluran telepon.


Dia mendengar suara ibunya bertanya dengan panik, "Xiao Zhao, apakah kamu baik-baik saja?"


"En, aku di dalam rumah sekarang."


Suara ibunya terdengar sangat gemetar, "Kamu, kamu tetap di dalam rumah. Jangan keluar apapun yang terjadi. Jika ada seseorang yang mengetuk pintu, jangan pernah membukanya."


He Zhao menyadari kepanikan di dalam nada suaranya, "Ibu, ada apa? Apa sesuatu terjadi?"


Ibunya terdengar terengah-engah seperti seseorang yang telah berlari beberapa ratus meter, "Tunggu ibu, ibu akan segera sampai di rumah."


He Zhao tidak bertanya lagi dan menjawab, "Aku mengerti."


Di luar pintu ada teriakan yang mengerikan. He Zhao tersentak kaget dan langsung berdiri dari kursinya. Perlahan dia bangkit dan berjalan ke pintu. Dia melihat melalui lubang intip. Koridor itu benar-benar gelap, tidak ada yang bisa dilihat. Namun kegelapan itu memberinya rasa takut yang tidak bisa dijelaskan.


"Tolong!" Seorang wanita berteriak dengan sedih, suara pintu dibanting bisa terdengar.


Jantung He Zhao bergetar karena dikejutkan oleh suara itu. Secara refleks dia mundur beberapa langkah dari pintu.


He Zhao menarik napas dalam-dalam, ketakutan mulai muncul di dalam dirinya. He Zhao berdiri, meletakkan tangannya pada kenop pintu. Dia mencoba mendengarkan, hanya ada keheningan di sisi lain pintu, tidak ada lagi tangisan atau teriakan.


Di dalam diri He Zhao sedang berkonflik akan membuka pintu atau tidak. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di depan pintu.


Beberapa saat kemudian, ketukan berirama terdengar, itu adalah ketukan khas saat ibunya pulang. Namun ada suara raungan yang mengerikan setelahnya.


"Ibu." He Zhao berbalik menghadap pintu.


He Zhao mengulurkan tangan dan membukanya. Dengan adanya rantai pengaman pintu, itu hanya memberikan celah kecil dan pintu tidak terbuka lebih jauh.


Ibunya berada persis di depan pintu, dia berteriak dengan panik, "Jangan keluar! Jangan keluar, Xiao Zhao!"


He Zhao berdiri di pintu masuk, pintu bergetar karena ditabrak sesuatu. Sebuah tangan busuk berwarna ungu, terulur dari luar pintu dan berusaha meraihnya. Namun tangan itu segera ditarik keluar oleh ibunya. "Tutup pintunya!"


He Zhao menutup pintu. Jantungnya berpacu dengan liar.


Kemudian dia bisa mendengar teriakan kesakitan ibunya datang dari luar.

__ADS_1


He Zhao tersentak, dia menggedor pintu dengan kedua tangannya, "Ibu!"


"Tidak apa-apa..." Suara ibunya sangat gemetar. "Jangan melihat lubang intip, tetap di dalam."


"Ibu mencintaimu..."


Setelah itu dia mendengar teriakan lagi sebelum menjadi keheningan yang mematikan.


Badan He Zhao gemetar dengan hebat. Dia berjuang untuk tidak melihat melalui lubang intip, namun dia tetap melihatnya.


Melalui lubang intip, dia melihat ibunya di makan hidup-hidup oleh monster. Mereka memakan daging lengan, kaki, dan isi perutnya.


Mata He Zhao melebar dengan air mata yang menetes, perlahan dia merosot jatuh tak berdaya pada pintu.


Dia jatuh terduduk, menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir, melewati telapak tangannya dan jatuh ke lantai. Saat dia terduduk, dia melihat darah kental merembes melalui celah bawah pintu. He Zhao tersentak berdiri.


Ini darah ibunya.


He Zhao terus menangis tanpa suara, tidak berani melihat pemandangan yang ada di luar lagi.


Saat dia terbangun keesokan harinya, dia baru menyadari kalau dia jatuh tertidur di depan pintu karena terlalu banyak menangis.


Tanpa melihat melalui lubang intip lagi, dia dengan susah payah mendorong kulkas yang ada di dapur untuk mengganjal pintu.


Setelah hari itu dia mulai hidup di dalam kamar apartemen yang sempit ini. Sayur di dalam kulkas mulai membusuk dan makanannya mulai menipis. Setidaknya saluran air tidak mati sehingga dia bisa menggunakannya untuk minum.


Selama berhari-hari dia melihat keadaan di luar dengan menggunakan drone-nya. Dia melihat banyak manusia yang digigit oleh monster itu, dan kota jatuh ke dalam neraka yang tak berujung.


Dia berusaha mencari bantuan dengan menempelkan tanda SOS pada dronenya. Namun tidak ada orang yang selamat lagi.


Baterai drone miliknya mampu bertahan hingga 8 jam. Dia bisa mengisi ulang baterai dengan sel surya, namun matahari di bulan Oktober tidak begitu panas, sehingga baterainya kian menipis.


Dia mulai kehilangan harapan. Mungkin memang seharusnya dia mati bersama ibunya, daripada menyeret kehidupannya seperti ini.


Di saat dia mulai pesimis, dia menangkap sebuah pemandangan dari layar monitor kecilnya. Dia melihat beberapa orang yang berpakaian militer sedang menjarah sebuah swalayan.


Dia mengontrol dronenya agar mengikuti mereka dan mencoba menarik perhatian mereka.


Hanya ini satu-satunya kesempatan yang dia miliki untuk bertahan hidup.

__ADS_1


Mata redup He Zhao mulai menyala dengan pengharapan.


__ADS_2