Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Susah Untuk Tidak Peduli!


__ADS_3

Ana dan Anton sudah sampai di rumah Anton. Mereka bergegas menuju kamar Anton, dimana Anton berjalan lebih dulu. Mereka menaiki anak tangga tanpa saling bicara.


"Hei anak-anak! Ngapain buru-buru ke kamar? Ayo ke sini dulu! Temani Mama nonton TV!" teriak Bu Jenny.


Seketika Ana putar haluan. Menuruni anak tangga dan menyambangi ibu mertuanya yang menurutnya baik hati. Ana mencium tangan mertuanya. Bu Jenny pun langsung memeluk Ana. Ana membalas pelukan ibu mertuanya.


"Darimana saja kalian? Katanya syuting selesai dari sore tadi? Kalian kemana dulu? Kok baru pulang sekarang?" tanya Bu Jenny saat Ana sudah duduk di sebelahnya.


"Kami makan dulu Ma. Tadi bareng sama Kak Arga dan Alana juga. Kami double date." jawab Ana.


"Hanya makan? Lalu kalian buru-buru pulang?"


"Iya Ma. Tadi perut Ana sedikit keram. Jadi ya pulang aja."


"Tapi apa sekarang masih sakit?" tanya Bu Jenny cemas.


"Sudah baikan Ma. Mungkin mau haid, jadi sempet keram sedikit." jawab Ana.


"Lalu dua anak itu kemana lagi? Kok nggak pulang?" tanya Bu Jenny penasaran.


"Mereka mau beli jam baru buat Alana, Ma. Katanya sih begitu. Mungkin mau lanjut kencan juga sehabis itu."


"Kebiasaan banget!" keluh Bu Jenny kesal.


"Ada apa Ma?" tanya Ana kepo.


"Kamu tau nggak? Si Alana itu menurut Mama nggak cocok buat Arga. Mama sih nggak keberatan mengenai sifat manjanya itu. Cuman kalo soal matre, Mama paling anti. Sesekali bolehlah ya, tapi kalo keseringan nggak banget deh! Alana itu cewek matre yang tau celah. Mentang-mentang Arga cinta dia, dia seenaknya minta apa-apa. Lagian si Arga bodoh banget jadi cowok. Mudah gitu dirayu manja gitu. Belum tentu kalo yang minta Mama diturutin!" cerita Bu Jenny.


"Duh Mama, mungkin mereka saling memberi dan menerima. Uhm, Mama pingin hadiah apa dari Ana. Kalo memungkinkan, Ana akan turuti permintaan Mama." tawar Ana sopan.


"Cuma satu sih keinginan besar. Tapi bener yah!"


Ana mengangguk dengan senyuman manisnya. Menunggu ibu mertuanya menyebut permintaan kepadanya.


"Mama pingin cucu!" seru Bu Jenny.


Seketika Anton berdehem. Mengagetkan Bu Jenny dan Ana.


"Hai Sayangku! Sini deh!" kata Bu Jenny pada Anton untuk ikut bergabung.

__ADS_1


"Mama lagi ngomongin apa?" tanya Anton seraya mengambil cemilan yang tersedia di meja.


"Mama pingin cucu dari kalian. Belum apa-apa Mama sudah membayangkan bagaimana rupa dari calon bayi kalian nanti. Pasti tampan atau cantik deh!" jawab Bu Jenny sumringah.


"Mama sebahagia itu walau hanya membayangkan saja." ujar Anton yang kembali mengunyah cemilan di tangannya.


"Iya dong. Lagipula tujuan utama menikah kan salah satunya punya keturunan, penerus keluarga, bayi! Masa kalian nggak pingin punya anak?" tanya Bu Jenny pada Ana dan Anton.


"Pingin Ma..." jawab Ana dan Anton kompak.


Ana merengut melihat Anton yang menyamakan jawaban dengannya. Gelagat Ana ditangkap oleh Bu Jenny.


"Kalian sedang berantem yah? Kok kayak ada yang aneh gitu?" tanya Bu Jenny.


"Enggak Ma. Kami baik-baik saja." jawab Ana.


"Nggak mesra bukan berarti habis berantem kan Ma? Mama pernah muda juga kan?" kata Anton balik tanya.


"Iya pernah muda, tapi selalu bahagia. Kalo lagi berantem hebat justru akhirannya pasti dapet bayi. Begitulah seingat Mama." ujar Bu Jenny menggoda anak dan menantunya itu.


"Aish Mama ngomong apaan sih?" tanya Anton pura-pura tak paham.


"Iya Ma. Ma, Ana ke kamar dulu ya. Mau mandi." ujar Ana undur diri.


"Iya Ana. Mandi yang bersih dan wangi buat suamimu ini." goda Bu Jenny.


Ana hanya tersenyum dengan perkataan Bu Jenny. Sementara Anton tetap pasang ekspresi datarnya seperti biasa.


"Kamu nggak ikutan naik? Istrimu mau mandi tuh!" bisik Bu Jenny.


"Biarin aja sih Ma. Kalo dia mau mandi, apa iya aku juga yang mandiin?" tanya Anton.


"Iya itu lebih baik. Sana susul istrimu!" perintah Bu Jenny.


Meski bingung harus berbuat apa dengan ikut menyusul Ana ke kamar, Anton tetap menuruti perintah Mamanya. Saat membuka kamarnya, Anton melihat darah berceceran di lantai. Tak jauh dari sana, Ana sedang merintih memegangi jarinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Anton panik.


"Bukan apa-apa. Kamu mandilah lebih dulu. Aku nanti saja." jawab Ana tanpa menoleh ke aeah Anton.

__ADS_1


Bukannya mandi, Anton berlari mengambil kotak P3K di laci nakas. Bergegas mengobati luka di jari Ana yang berdarah. Dalam diam, Anton fokus mengobati Ana.


"Terima kasih." ujar Ana saat Anton selesai mengobati.


"Kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Anton.


"Tadi aku menjatuhkan botol parfummu yang berada di pinggir nakas. Aku nggak sengaja menjatuhkannya. Maaf ya! Nanti aku akan mengganti yang baru." jawab Ana.


"Sudahlah. Parfum bisa dibeli lagi. Khawatirkan saja luka di jarimu itu!" ujar Anton.


"Iya, maaf. Kedepannya, aku akan lebih hati-hati agar hal seperti ini tak terjadi. Aku sangat ceroboh." kata Ana.


"Aku yang salah. Tadi asal naruh aja karena buru-buru. Kalo aku naruhnya bener, kamu juga nggak akan jatuhin parfum itu." ucap Anton.


Ana hendak membereskan pecahan botol parfum kaca yang berserakan di lantai. Tapi dilarang oleh Anton.


"Tidak usah! Biar aku saja. Duduk manis aja di ranjangmu. Aku yang akan membersihkannya. Daripada kamu terluka lagi." ujar Anton.


Anton membersihkan pecahan botol parfum kaca dengan hati-hati. Tak lupa mengenakan sarung tangan agar tak mengenai tangannya.


'Kenapa dia peduli dengan lukaku? Harusnya dibiarkan saja. Toh luka seperti ini bukanlah luka yang serius. Luka yang mudah sembuh. Kenapa repot-repot sampai ikutan panik juga? Lihatlah, dia bahkan ikut membereskan kekacauan yang telah ku buat. Padahal bisa loh dia menyuruh ART untuk membersihkannya. Kenapa harus repot-repot mengerjakannya sendiri?' batin Ana.


"Terima kasih yah!" ujar Ana sembari tersenyum.


Sepersekian detik, Anton sempat meleleh saat melihat senyum manis Ana. Senyuman yang membuat darahnya ikut berdesir dan bergejolak hebat. Lalu segera ditepisnya. Ia menyadarkan dirinya bahwa cintanya masih milik Alana.


"Aku bilang terima kasih!" kata Ana lagi, kali ini lebih dekat dengan Anton.


"Iya sama-sama. Aku bilang duduk saja di ranjangmu." kata Anton yang langsung mengangkat tubuh Ana ke kasurnya.


"Kan yang sakit tanganku, bukan kakiku. Aku masih bisa berjalan sendiri." kata Ana.


Anton menepuk jidatnya. Ia menyadari betapa bodohnya dirinya. Ia tak ingin peduli, tapi susah untuk tidak peduli pada Ana.


"Aku melakukannya spontan. Jadi tanpa mikir dulu." kata Anton yang segera masuk ke toilet.


"Dasar aneh!" gumam Ana.


Di dalam toilet, Anton merutuki dirinya. Betapa bodohnya hingga membuat harga dirinya jatuh. Jelas saja ia malu.

__ADS_1


__ADS_2