Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Ternyata Dia!


__ADS_3

"Kamu?" tanya Anton tak percaya.


Sosok pria tampan yang dimaksud Ana bukanlah Tata seperti yang disampaikan sebelumnya. Tetapi Andre yang tak lain adalah adik dari Anton sendiri.


"Kak Ana, katanya aku boleh main ke sini? Tapi Kak Ana kayaknya mau pergi yah sama Kak Anton? Aku balik deh kalo kalian mau jalan. Masa aku jadi obat nyamuk." kata Andre.


"Enggak kok. Aku cuma belajar make up aja. Tadi sih sebenarnya ada jadwal pemotretan iklan, tapi fotografernya tiba-tiba sakit. Jadi reschedule deh. Ayo Andre masuk!" ajak Ana ramah.


Ana menggandeng Andre masuk ke rumah. Sementara Anton mengekori mereka dari belakang. Anton masih bingung dengan Ana.


'Apa iya Ana sengaja menjebakku dengan kata-kata keramatnya agar aku termakan api cemburu? Dia bilang yang datang Tata, dokter sialan itu. Tapi kenyataannya malah Andre yang datang. Dia pasti sengaja mengerjaiku. Yah, aku kena!' batin Andre.


"Rumah Kak Ana sangat rapi. Artistik sekali! Bagus nih buat foto-foto." seru Andre.


"Ngapain sih kesini?" tanya Anton.


"Yah Kak Anton... Andre diundang datang loh sama Kak Ana. Masa iya nolak? Lagipula Andre libur hari ini. Eh diliburkan sama komite sekolah. Ada kegiatan apa gitu, Andre lupa." jawab Andre.


"Trus ke sini ngapain deh?" tanya Anton lagi.


"Kamu nanya mulu. Aku yang undang Andre ke sini. Kamu kok protes mulu. Atau apa lebih baik aku undang Tata aja. Dokter Tata...." kata Ana.


"Udah gapapa. Andre diem aja yah, jangan berulah di sini." ujar Anton.


Anton akhirnya memilih bersantai di ruang tengah. Menonton televisi yang semua acaranya tak sesuai hati. Berkali-kali memilih channel, tapi tak ada yang pas di hati.


"Acara TV di jam segini kebanyakan acara gosip dan berita seleb. Paling seasik-asiknya acara kartun anak kecil. Nggak ada yang bagus." celetuk Ana yang membawa nampan berisi minuman dingin.


"Aku mau itu!" seru Anton pada minuman yang dibawa Ana.


"Ini buat Andre. Kalo mau aku bikinin lagi." kata Ana.


"Yah..." keluh Anton.


"Sebentar yah, aku kasih minuman ini dulu ke Andre." kata Ana.


Andre tiba-tiba sudah duduk di dekat Anton. Memeluk Anton dengan eratnya.


"Taruh di meja aja Kak Ana. Andre masih kangen sama Kak Anton. Sehari aja nggak ketemu, rasanya kayak berbulan-bulan." kata Andre.


"Kamu lebay!" seru Anton yang berusaha menghindari pelukan Andre.


Ana menaruh minuman Andre di meja. Lalu ia membuatkan minuman lagi untuk Anton.


"Masih mending yang datang adalah aku. Bukan pria lain, Kak." celetuk Andre yang sudah duduk di samping kiri Anton.


"Iya." kata Anton datar.

__ADS_1


"Kak, udah nggak menghubungi Alana, kan yah?" tanya Andre.


"Darimana kamu tau soal itu?" Anton balik tanya.


"Itu nggak penting. Cuma Andre berharap Kakak sudah tak berhubungan dengan wanita itu. Bagus lagi jika sudah melupakannya." jawab Andre.


"Kenapa begitu?" tanya Anton.


"Kakak masih nanya? Kakak nggak mikirin perasaan Kak Ana? Kakak nggak ngerasa kalo Kak Ana sayang sama Kakak?" bisik Andre.


"Apa yang kalian obrolkan?" tanya Ana yang tiba-tiba datang.


Ana langsung duduk di sebelah kanan Anton. Sekilas Anton melirik Ana yang sedang tersenyum manis. Tanpa basa-basi Anton menarik pinggang Ana, hingga dalam posisi Anton memeluk Ana. Ana hanya diam saja. Ana pikir Anton sedang berdrama di depan Andre.


"Gitu dong mesraan sedikit." bisik Andre pada Anton, tapi Ana juga mendengarnya.


"Kamu udah sarapan, Ndre?" tanya Ana.


"Udah, Kak. Tapi laper lagi nih kayaknya." jawab Andre.


"Kamu kalo makan ke dapur aja yah. Minta mba-mba ART buat siapin makanan. Kamu bisa kan?" kata Anton.


"Iya Kak." kata Andre.


Anton masih memeluk Ana. Sesekali ia mencium pucuk rambut Ana yang wangi.


"Wangi sekali rambutmu!" puji Anton.


"Yaudah Andre ke dapur aja deh mau minta makan. Daripada di sini udah kayak obat nyamuk." gerutu Andre yang langsung ke dapur.


"Udah sih nggak perlu pura-pura lagi. Andre udah nggak ada." kata Ana pelan.


"Tidak begitu. Aku hanya ingin melakukannya saja." kata Anton yang masih memeluk Ana.


"Kenapa?" tanya Ana sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Anton.


"Masih perlu bertanya? Pokoknya aku sangat nyaman berdekatan denganmu." jawab Anton.


"Hanya nyaman?" tanya Ana lagi.


Kali ini mata mereka saling menatap satu sama lain.


'Sial! Aku ingin menciumnya!' batin Anton.


Saat Anton hampir mencium Ana, datanglah Andre dengan dua piring berisi makanan di tangannya.


"Astaga! Mataku terkontaminasi." seru Andre yang buru-buru duduk di sofa.

__ADS_1


Anton dan Ana segera menjaga jarak.


"Kak Anton, ajak Kak Ana ke kamar ya kalo mau ciuman dan semacamnya. Inget, ada anak di bawah umur." omel Andre.


"Kamu kan udah 17 tahun. Anak kecil dari mana?" tanya Anton.


"Kami bukan mau ciuman, kok. Mas Anton hanya mau meniup mataku yang kelilipan. Kamu hanya salah paham." kata Ana menjelaskan.


"Kok aku nggak percaya ya? Tapi ya sudahlah. Kakak-kakak sekalian, Andre mau makan dulu yah." ujar Andre.


"Makan yang banyak yah!" kata Ana.


"Itu juga udah banyak. Itu yakin mau ngabisin segitu banyak? Kamu abis nguli?" tanya Anton.


"Udah gapapa." bisik Ana sembari mencubit Anton.


Anton yang kesakitan berusaha membalas Ana. Mereka kejar-kejaran seperti anak kecil. Andre merasa jengah dengan kelakuan kakak dan kakak iparnya itu. Tapi dalam hatinya juga senang melihat kebahagiaan di depan matanya itu.


"Aku lelah..." keluh Ana yang merebahkan tubuhnya di sofa.


Anton pun mengikuti Ana. Ia juga lelah.


"Eh udah abis makanmu?" tanya Anton pada Andre yang berhasil menghabiskan makannya.


"Udahlah. Kalian aja yang keasikan lari sampe lupa waktu. Nih Andre berhasil ngabisin makanan di piring." jawab Andre.


"Nambah lagi juga boleh ya." ujar Ana.


"Udah cukup, Kak. Nanti bisa-bisa aku gemuk. Kalo gemuk kan aku disuruh diet sama pelatih basket aku di sekolah." kata Andre.


"Mau ngapain nih selanjutnya? Mau nonton atau apa? Aku punya beberapa film bagus." kata Ana.


"Boleh Kak Ana." seru Andre senang.


"Ada banyak film dengan variasi genre. Tapi jangan yang horor ya." ucap Ana.


"Aku dan Andre justru suka film horor. Nggak usah takut, ada aku kok." kata Anton.


"Iya Kak Ana. Film horor tuh seru banget tau! Bisa mengasah adrenalin. Pokoknya bikin mood langsung baik. Andre mau nonton yang ini nih. Kayaknya bagus." ujar Andre yang langsung memutar film horor pilihannya.


"Sini deketan sama aku!" perintah Anton pada Ana.


"Jangan mikir aku mau banget ya? Aku begini karena takut aja yah!" kata Ana yang duduk berdekatan dengan Anton.


Anton tak melewatkan kesempatan. Ia pun memeluk Ana sesuka hati.


"Filmnya belum mulai. Kenapa udah dipeluk aja?" tolak Ana.

__ADS_1


"Gapapa. Sekalian aja." ujar Anton.


'Kak Anton pinter juga modusnya!' batin Andre.


__ADS_2