
Ana masih berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Anton. Anton belum mau mengendurkan cengkeramannya di leher Ana.
"Aku sangat menyayangkan betapa liarnya dirimu. Begitukah caramu membalas ketulusan cintaku?" seru Anton.
Lalu Anton kembali menghempaskan tubuh Ana ke sembarang arah. Tentu saja Ana kembali merasakan tubuhnya terbentur lantai.
"Sakitt...!" rintih Ana sembari menangis.
"Lihat saja, setelah ini aku akan menyiksamu dengan kejam. Aku takkan membiarkanmu hidup tenang. Jangan harap kamu bisa tersenyum lagi. Camkan itu!"
Ana berusaha bangkit. Namun, dirinya tak kuat menopang dirinya sendiri. Tubuhnya sudah sakit meski tak ada bekas luka yang signifikan.
"Pergi dari hadapanku sekarang!" usir Anton dengan kejam.
"Aku tak tau apa salahku. Tapi perbuatanmu sangat keterlaluan. Aku wanita yang tak tau cara membela diri, beraninya kamu menghajarku secara brutal?" tanya Ana yang sudah berurai air mata.
"Huh, kamu belum merasa yah apa kesalahanmu? Aku tak akan bilang apapun. Kamu hanya perlu mengingat sendiri kesalahanmu. Sebagai permulaan, aku akan memberikan hadiah spesial buatmu."
Anton membantu Ana berdiri. Ana hanya menurutinya. Setelah posisi Ana sudah berdiri dengan benar, barulah Anton menampar pipi Ana berulang-ulang. Pipi kanan dan kiri Ana menjadi saksi bisu kekejaman Anton.
"Sakit yang kamu rasakan tak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Kamu mau apa sekarang? Mengadukanku pada Papamu yang kaya itu? Aku tak peduli! Jika itu terjadi, aku akan sekalian menghabisimu dengan tanganku sendiri. Percuma aku hidup jika harga diriku sudah terluka. Istri yang seharusnya menyayangiku justru mengkhianatiku. Kau wanita biadab! Aku jijik melihatmu!" teriak Anton berapi-api.
Ana mencoba menelaah apa maksud pengkhianatan yang diutarakan oleh Anton. Ana juga tak merasa telah melakukan kesalahan seperti yang sudah Anton sebutkan. Bertatap muka secara intens pun hanya bagian dari akting dirinya sebagai pemain film. Selebihnya Ana tak pernah sengaja melakukan itu di dunia nyata.
"Ku mohon, pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!" perintah Anton.
Ana mencoba menguatkan dirinya sendiri. Meski hatinya punya sederet rangkaian kata-kata pembelaan, tapi Ana tak sanggup mengutarakannya sekarang. Ia harus segera menyelamatkan dirinya dulu sebelum Anton kembali menjelma sebagai iblis yang menyakitinya tanpa ampun.
Dengan menahan sakit, Ana bergegas keluar dari ruangan kerja Anton. Ana berjalan tertatih menuju lift VIP khusus pimpinan. Ana tak ingin keadaannya diketahui publik. Ana juga telah menghubungi supir pribadi sang Papa untuk menjemputnya. Ana benar-benar takut dan tak ingin bertemu Anton lagi.
"Nona Ana, apa yang telah terjadi? Ada apa dengan wajah Nona?" tanya Gio, sopir pribadi yang menjemput Ana.
"Aku tak apa. Kemana Pak Kiman?"
"Oh, Bapak sedang bertugas mengantar Tuan Besar dinas ke luar kota. Sementara saya dulu yang akan bersiap mengantarkan Nona kemana pun."
"Baiklah. Antarkan aku ke klinik Sehat Sejahtera. Aku perlu memeriksakan diri!" perintah Ana.
"Baik Nona."
Sepanjang perjalanan Ana hanya diam. Sebenarnya hatinya masih menangis dan ingin melepaskan tangisnya. Tapi Ana menahan itu semua. Sementara Gio sang supir, hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya. Entah apa yang terjadi pada Nona yang dikenalnya selalu menebar kebahagiaan, kini wajahnya suram dan sedih.
__ADS_1
"Sudah sampai Nona." ujar Gio.
"Baiklah. Terima kasih. Kamu boleh kembali." kata Ana.
"Lalu, Nona Ana bagaimana nanti pulangnya?"
"Tenang saja, aku bisa pesan taksi online atau semacamnya. Pergilah!" kata Ana.
Lalu Ana menuju ke resepsionis. Mendaftarkan janji temu dengan dokter langganannya.
"Kau rupanya. Apa kabar? Ayo duduklah!" sapa dokter Jane begitu Ana memasuki ruangan dokter Jane.
"Dokter Jane, apakah kamu tak sibuk sekarang?"
Dokter Jane yang sebelumnya belum melihat ke arah Ana, kini mehatap Ana.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu? Bagaimana bisa seperti tamparan brutal? Ini bagian peran akting atau kamu barusan ditampar seseorang?" tanya dokter Jane kepo.
"Yah, aku sedang kena musibah. Intinya, jangan tanya lebih lanjut bagaimana kisahnya. Tolong obati saja lukaku. Aku ingin luka ini tak berbekas di tubuhku." jawab Ana.
"Iya, aku akan lakukan yang terbaik buat sahabatku ini. Sebagai artis, wajahmu adalah aset penting yang harus tetap terjaga." kata dokter Jane.
"Oke. Rencana bagus. Tapi aku akan segera mengobatimu. Ayo rebahan dulu, biar ku periksa!" perintah dokter Jane.
Dokter Jane memeriksa Ana secara keseluruhan. Sampai ia melihat noda darah di rok yang Ana kenakan.
"Apa ini? Kok ada darah? Kamu lagi menstruasi?" tanya dokter Jane.
"Tidak. Aku telat haid. Entahlah, sepertinya karena capek mempengaruhi hormonku." jawab Ana lesu.
"Coba kamu tes urin! Siapa tau kamu hamil!"
"Tidak mungkin!" sergah Ana.
"Loh, meski benar atau tidak, amiinkan saja pernyataanku. Siapa tau kamu hamil beneran." kata dokter Jane.
Ana menggelengkan kepalanya. Lalu dokter Jane mengambil alat tespack dan meminta Ana segera melakukan tea kehamilan.
"Bagaimana hasilnya?" tanya dokter Jane begitu mendapati Ana keluar dari toilet.
"Hasilnya garis dua." jawab Ana polos.
__ADS_1
"Selamat yah. Itu artinya kamu hamil!" seru dokter Jane bahagia.
Semestinya Ana ikut bahagia karena kehamilannya sendiri. Tapi berhubung ia ragu dengan status hubungannya dengan Anton, Ana bingung harus bahagia atau sedih.
"Kamu takut?" tanya dokter Jane yang membaca raut muka wajah Ana.
"Iya. Aku pun tak tau harus sedih atau bahagia dengan kehadiran janin ini." jawab Ana sedih.
...----------------...
"Wanita sialan! Berani-beraninya dia berselingkuh! Andai saja apa yang ku lihat hanyalah bagian dari akting, mungkin aku akan percaya. Tapi gambar yang aku dapatkan, terlalu nyata jika untuk diragukan. Aku tak mengenal pengirim gambar itu. Nomornya nomor asing. Siapapun dia, dia pasti punya maksud tertentu. Apapun itu, sekarang sudah jelas kan, siapa sebenarnya wanita itu. Casingnya saja terkesan alim dan bak peri. Ternyata lebih berbahaya daripada wanita malam yang menjajakan dirinya." keluh Anton.
"Pak, sepuluh menit lagi, Bapak ada rapat dengan jajaran direksi."
"Heh, beraninya kamu masuk tanpa ketuk pintu. Pergi!" seru Anton kesal.
"Tapi Pak..."
"Batalkan rapatnya!" teriak Anton.
"Tidak bisa. Bahkan Pak Mirza sudah hadir di ruang rapat." kata seorang staf karyawan Anton.
"Papa hadir juga?" tanya Anton.
"Iya Pak. Beliau sudah tiba sejak sepuluh menit yang lalu."
"Baiklah. Dalam waktu lima menit, aku akan datang. Kamu pergi saja!" kata Anton sedikit lebih tenang.
Saat hendak keluar, staf tersebut melihat tetesan darah di lantai.
"Maaf, Pak Anton apakah terluka?"
"Tidak!"
"Lalu ini darah siapa, Pak? Dari wujud dan warnanya, ini darah segar. Belum lama ini."
"Lupakan. Kembalilah bekerja atau kamu dipecat!" ancam Anton.
"Baik Pak."
Sepeninggal stafnya, Anton kembali duduk di kursinya. Berpikir keras langkah apa yang akan ia lakukan untuk memberi pelajaran pada Ana, istrinya sendiri.
__ADS_1