
Baik Anton dan Andre menikmati film horor yang mereka tonton. Kecuali Ana, ia tampak memeluk erat Anton. Terlebih beberapa kali ada adegan yang menampilkan sosok hantu seram.
"Jangan takut!" bisik Anton pada Ana.
"Aku tau mereka bukan hantu sungguhan, tapi aku hanya takut. Mereka semua menyeramkan. Sama halnya saat kamu marah. Nakutin!" kata Ana.
Andre sempat menoleh ke arah Ana dan Anton. Tapi karena jalan cerita film horor lebih seru, maka ia cukup mengabaikan mereka. Andre yang tak tau dengan pasti cerita bahtera rumah tangga Anton dan Ana, sudah pasti menganggapnya sebagai hal yang lumrah di kalangan suami-istri.
"Apa perlu aku ganti, Kak Ana?" tanya Andre.
"Gapapa. Itu juga udah seru banget filmnya. Ana baik-baik saja selama dalam dekapan empunya." jawab Anton.
"Baiklah. Tapi risih juga mendengar Kak Ana teriak ketakutan." kata Andre.
"Maaf yah, padahal aku mengundangmu ke sini agar kau senang. Tapi malah kurang menyenangkan dengan ulahku. Maaf ya..." ucap Ana merasa bersalah.
"Gapapa Kak Ana. Wajar jika takut. Film horor kan pasti serem. Untungnya ada pria tampan di samping Kak Ana. Tenang aja Kak Ana, Kak Anton meski kelihatannya lebih cuek dan kaku kayak kanebo, tapi hatinya baik kok. Di antara Kak Arga dan Kak Anton, Kak Antonlah yang sangat mensupport sekolahku. Kak Anton pintar bersosialisasi. Memang awalnya dia pendiem. Tapi kalo udah kenal, dia orangnya sangat ramah. Tutur bahasanya juga lembut. Ya tapi kalo dia lagi marah aja, terkadang bahasanya kasar." kata Andre.
"Ya, aku memang orang yang kasar." ujar Anton.
Lalu tak ada yang bersuara lagi. Ketiganya larut dalam jalan cerita film horor. Mungkin hanya sesekali suara kecil Ana yang menunjukkan ketakutannya.
Sore harinya, Andre pamit pulang. Ia harus mengikuti les matematika yang sebelumnya sudah didaftarkan oleh Bu Jenny.
"Yah cepet amat kamu pulangnya! Nanti mau nginep di sini nggak?" tanya Ana.
"Nggak perlu!" jawab Anton cepat.
"Padahal yang ditanya aku loh, Kak. Kenapa Kak Anton yang jawab sih?" keluh Andre.
"Kalo mau menginap, nanti aku mintain izin sama mama Jenny. Gimana?" tawar Ana.
"Ih jangan deh. Biar dia pulang aja. Ngapain nginep di sini?" oceh Anton.
__ADS_1
"Iya Kak Ana. Andre pulang aja. Ngapain juga berlama-lama di sini? Yang ada bikin Kak Anton dan Kak Ana nggak nyaman. Waktu kebersamaan kalian buat bermesraan jadi hilang percuma kalo ada Andre." ujar Andre seolah menyindir.
"Bagus deh kalo sadar." kata Anton dengan senyuman devil-nya.
"Yaudah kalo kamu pingin pulang aja. Tapi rumah ini selalu terbuka kalo kamu mau ke sini. Nanti biar dianter supir Papaku yah." kata Ana.
Akhirnya Andre pulang dengan diantar supir papanya Ana.
"Padahal aku tadi yang mengundangnya ke sini. Kenapa kamu seolah mengusirnya?" tanya Ana pada Anton begitu mereka sampai di kamar.
"Aku nggak begitu." kilah Anton.
"Aku bosan jika hanya berhadapan denganmu. Makanya aku menyuruhnya ke sini. Eh malah kamu buat dia nggak nyaman di sini. Aku tau, kamu pasti masih kesal denganku. Aku pun sama. Aku bahkan lebih kesal padamu. Tapi jangan libatkan orang lain lagi. Untuk ke depannya, aku nggak mau kamu bersikap jahat seperti itu!" seru Ana.
Ana membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia ingin menikmati tidur sore meski dirinya tak mengantuk.
"Aku pikir kamu bukan ingin tidur. Tapi ingin menikmati udara segar semisal jalan-jalan." kata Anton.
'Dia benar. Aku butuh jalan-jalan. Pikiranku ingin bersenandung ceria menikmati segarnya angin sore.' batin Ana.
"Bagaimana jika aku menolak?" tantang Ana.
"Tak masalah, aku akan tetap menunggumu sampai kamu mau!" kata Anton.
"Apa?"
"Cepat ganti baju yang lebih hangat. Sebentar lagi petang akan datang. Aku tunggu di bawah ya?" seru Anton yang langsung meluncur ke bawah.
"Aish, kenapa dia memaksa? Aku kan belum bilang mau. Tapi sepertinya jalan-jalan sore menyenangkan. Baiklah, aku akan ganti baju dan bersenang-senang." kata Ana.
Lima belas menit kemudian, Ana sudah siap. Ana langsung menemui Anton yang menunggunya di mobil.
"Maaf aku lama." kata Ana.
__ADS_1
"It's OK! Naiklah ke mobil. Aku akan mengajakmu jalan-jalan. Menikmati sore hari yang indah." kata Anton.
Dengan mobilnya, Anton membawa Ana menikmati perjalanan sore hari. Terkadang mereka harus dihadapkan dengan kemacetan yang melanda. Kadang kala harus melewati gang sempit yang sepi. Tapi Ana hanya diam. Ia tak menyuarakan isi hatinya.
"Nah, kita sampai!" seru Anton.
Ana membelalakkan matanya. Tak percaya oleh apa yang dilihatnya. Ia melihat matahari yang hampir tenggelam di balik pegunungan.
"Wow! Aku tak percaya kamu membawaku ke tempat seperti ini. Ini pantai kan? Tapi anehnya kenapa sepi di sini? Hanya ada beberapa orang saja. Apakah ini pantai terlarang?" tanya Ana.
"Anggap saja begitu. Sejak pantai ini dibuat untuk lokasi syuting film horor, jadi sepi seperti ini. Padahal kamu bisa liat sendiri, betapa indahnya pantai ini. Jauh di depan sana, ada matahari yang hampir tenggelam. Indah bukan?"
Anton mengajak Ana keluar dari mobilnya. Mereka duduk di kap mobil karena tak membawa kursi portable.
"Wah, indah sekali! Sebenarnya ini bukan pertama kali aku melihat suasana dan pemandangan seperti ini. Tapi rasanya seperti pertama kali aku mengalaminya. Jujur, ini tuh indah banget!" seru Ana melampiaskan kebahagiaannya.
Cup! Tiba-tiba saja Anton mencium pipi Ana dengan spontan.
"Ini apa?" tanya Ana yang mengelus pipinya bekas dicium Anton.
"Anggap saja ciuman sayang dari seorang suami." jawab Anton dengan santai.
"Padahal kamu tak perlu melakukannya. Kita bukan sedang berada di tempat yang dihadiri keluarga kita." kata Ana.
"Tidak seperti itu. Aku tulus melakukannya. Semuanya sesuai kata hati. Aku memang ingin melakukannya. Bahkan jika di sini hanya ada kita berdua, aku ingin melampiaskan semuanya di sini. Aku ingin bercinta denganmu di sini." kata Anton yang fokus menatap mata Ana.
"Jangan bercanda!" ujar Ana sedikit berteriak.
"Bagaimana jika itu benar? Tunggulah sedikit malam lagi. Jika hari sudah gelap, aku akan melakukannya. Aku tak perlu menunggu persetujuanmu, bukan? Aku bisa melakukannya kapan saja, bukan?" tanya Anton.
"Mungkin begitu. Aku nggak bisa menolakmu." jawab Ana pelan.
Lalu Anton segera mencium lembut bibir Ana yang sedari tadi menggodanya. Bagi Anton, Ana seakan merayunya dengan wajah cantiknya. Padahal kenyataannya tak seperti itu. Anton saja yang terbuai dengan kecantikan Ana.
__ADS_1
'Aku akan melakukannya! Ana milikku!' batin Anton.