Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Saat Anton tengah menikmati ciumannya bersama Ana, tiba-tiba ponselnya berdering. Anton berniat mengabaikan panggilan telepon di ponselnya itu. Namun semakin didiamkan, nyatanya bunyinya semakin keras dan sangat mengganggu.


"Apa ini? Kenapa harus sekarang?" keluh Anton kesal.


Ana hanya diam saja mengamati suaminya tampak kesal. Anton tetap tak mau menerima panggilan telepon dari orang yang dikenalnya. Ia hanya membaca pesan yang masuk.


"Dari siapa? Kenapa tak diangkat tadi?" tanya Ana memecah keheningan.


"Ayo kita masuk ke mobil! Kita harus segera pulang ke rumah!" jawab Anton dengan nada bicara serius.


"Ke rumah mana?" tanya Ana lagi.


"Ke rumahku. Kita harus segera pulang. Ada huru hara di sana." jawab Anton.


Mereka sudah masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Hati-hati, Anton! Jangan karena mengejar waktu kamu membuatku mati ketakutan." seru Ana.


"Maaf, aku akan mengurangi kecepatan." kata Anton.


Setelah mobil melaju dengan kecepatan standar, Ana menghembuskan nafas lega.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Ana penasaran.


Anton mengerem mobilnya mendadak.


"Aduh!" teriak Ana yang kaget.


"Maaf. Sebenarnya Alana datang ke rumah. Ada Mamaku di rumah. Dia bilang dia sedang hamil." kata Anton.


"Lalu masalahnya apa? Jangan bilang dia menuduhmu atau Mas Arga yang melakukannya dan minta pertanggungjawaban salah satu dari kalian?" tanya Ana.


"Benar." jawab Anton.


"Sudah ku duga. Akan terjadi hal memalukan begini. Baiklah, kamu harus bertanggungjawab atas dosa yang telah kamu lakukan. Aku akan ikhlas menerima dan akan pergi baik-baik dari hidupmu." ujar Ana sembari menitikkan air mata.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Anton.


"Kamu masih nanya kenapa? Bagaimana denganmu? Bukankah kamu juga harus sedih jika dikhianati pasanganmu?" jawab Ana tambah kesal.


"Aku sama sekali tak pernah melakukan hal memalukan itu dengannya. Aku juga tau itu dosa jika bukan dengan pasangan halal. Aku hanya pernah berpacaran dengannya. Aku tak pernah melakukan hubungan di luar batas. Aku masih menghargai statusku sebagai suamimu." kata Anton.


Ana menyeka air matanya.

__ADS_1


"Lalu kenapa dia meminta pertanggungjawaban darimu?" tanya Ana.


"Bukan aku, tapi Kak Arga. Dia bercerita pada Mama jika Kak Arga telah menodainya. Padahal kenyataannya tak seperti itu. Aku tau Kak Arga bukan bajingan yang segampang itu melakukan tindakan bodoh. Dia bahkan sangat mencintai Alana. Kamu tau kan? Alana saja yang dengan sadar menceburkan diri ke dunia kelam." jawab Anton.


"Iya, dia punya banyak koleksi Sugar daddy yang memanjakannya setiap waktu." kata Ana pelan.


"Jadi bagaimana?" tanya Anton.


"Bagaimana apanya?" kata Ana balik tanya.


"Haruskah kita pulang melihat apa yang terjadi di rumah? Atau kita menghabiskan waktu berdua? Toh meski kita pulang, urusan Alana kan sama Kak Arga. Buat apa kita ikut campur? Bukannya masalah usai, takutnya malah semakin runyam." kata Anton.


"Aku ikut saja denganmu." ujar Ana pasrah.


"Kita melipir ke hotel terdekat aja ya!" ajak Anton.


"Kenapa?" tanya Ana.


"Katanya ikut denganku. Aku sih pinginnya kita ke hotel aja. Atau kamu punya ide yang lebih bagus lagi?"


"Nggak ada. Iya deh."


Anton tersenyum dengan jawaban Ana.


"Bukan begitu. Aku mencoba memahamimu saja. Meski nggak tau bagaimana isi hati dan pikiranmu. Jika aku jadi Alana, pasti aku akan membalas perasaanmu. Dicintai oleh orang yang tulus itu sangat menyenangkan. Uhm, sebaiknya kita segera bergegas sebelum malam datang." kata Ana.


Anton kembali melajukan mobilnya. Mereka tak jadi ke hotel. Mereka memutuskan untuk pilang ke rumah keluarga Novero. Di sana masih ada Alana dan yang lainnya.


"Kalian, duduklah!" seru Pak Mirza pada Anton dan Ana yang baru datang.


Ana dan Anton duduk di sofa yang tersisa. Suasana masih panas. Sepertinya perdebatan dan pertengkaran masih belum reda.


"Coba katakan dengan sejujurnya, apa benar anakku, Arga yang tega menghamilimu?" tanya Pak Mirza pada Alana yang sudah berurai air mata.


"Sebenarnya memang Kak Arga yang melakukannya. Namun saya tak punya bukti." jawab Alana.


"Aku sama sekali tak pernah menyentuhmu. Kapan aku melakukannya? Katamu kamu hamil dua bulan yah? Bahkan sejak tiga bulan yang lalu kita sudah jarang bertemu sejak kita putus. Kamu hamil dariku? Bagaimana bisa?" tanya Arga dengan nada emosi.


"Kalau bukan denganmu, dengan siapa?" kata Alana balik tanya.


"Kamu kan berpacaran dengan banyak pria." sahut Arga.


Ana melirik ke arah Anton yang hanya diam.

__ADS_1


"Aku bahkan tak pernah menyentuhmu, Alana. Jadi bukan aku juga." kata Anton yang akhirnya berbicara.


"Mungkin kamu hamil dari salah satu Sugar Daddy-mu." kata Ana.


"Tutup mulutmu! Jangan bicara hal bodoh! Kamu hanya wanita murahan yang tak tau apa-apa!" seru Alana.


"Jaga bicaramu! Aku tak suka jika Ana disebut wanita murahan! Bagaimanapun juga, Ana jauh lebih baik daripada kamu yang bertingkah sok manis tapi nyatanya iblis!" teriak Anton membela Ana.


Ana tak menyangka bahwa Anton membelanya sedemikian rupa. Alana sampai membuka mulutnya tak percaya.


"Kamu membelanya? Katanya kamu mencintaiku?" tanya Alana.


"Tidak. Aku hanya menyukaimu sesaat. Sesaat hingga aku sadar bahwa rasa sukaku padamu bukanlah cinta yang sebenarnya. Aku pun baru sadar, aku sudah menjatuhkan hatiku pada wanita terhormat yang baik hati. Ya, aku mencintai Ana. Aku sangat mencintai Ana!" seru Anton.


Tanpa sadar Anton telah mengungkapkan isi hatinya di depan keluarganya. Ana berkali-kali berpikir keras, apakah ia sudah salah dengar.


"Tak mungkin!" seru Alana.


"Cobalah jujur dengan dirimu sendiri. Jika memang benar salah satu dari anakku yang merusakmu, aku akan memberi pelajaran padanya. Tapi jika kamu yang mengada-ngada dan berkata bohong, maka aku juga tak segan menjebloskanmu ke penjara!" kata Pak Mirza tegas.


"Tolong, kasihanilah aku! Bagaimana nasib bayiku jika harus lahir tanpa ayah!" tangis Alana pecah.


"Baiknya kamu pulang dan renungi kesalahanmu. Coba ingat baik-baik pria mana yang memberimu benih!" kata Bu Jenny geram.


"Aku tak tau." kata Alana.


"Alana, dalam tiga bulan terakhir, siapa pria yang mengajakmu tidur?" tanya Ana pelan.


"Apa maksudmu? Meski benar, tapi aku tak sudi mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulutmu." jawab Alana kesal.


"Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya membantu mengungkap siapa pria yang seharusnya bertanggung jawab." kata Ana.


"Antara Arga dan Anton." kata Alana.


"Sudah ku bilang, aku tak pernah menyentuhmu. Aku sudah punya istri yang memberiku segalanya." ujar Anton.


"Alana, Om tau kamu bukan wanita jahat yang suka berbohong. Jika memang bukan putraku, tolong jangan menuduh mereka." kata Pak Mirza.


"Kan Arga, benar kata Mama waktu itu, kamu jangan dekat dengan wanita ini. Sekarang kamu paham kan, betapa jahatnya dia menuduhmu!" kata Bu Jenny.


"Iya Ma. Arga sudah salah langkah." kata Arga menyesali.


Tangisan Alana semakin pecah hingga ia sesenggukan.

__ADS_1


__ADS_2