
Arga mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ana yang berada di kursi depan, hanya menatap jalanan dengan tatapan kosong. Selain belum sarapan sama sekali, hatinya terasa perih membayangkan hal yang tidak-tidak.
Sesekali Arga melirik adik iparnya yang sedari tadi hanya diam. Ia ingin mengajak berbincang, tapi tak enak hati. Padahal banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Arga. Tapi diurungkan sebab takut salah bicara, yang nantinya bisa tambah menyakiti hati Ana.
Ana menghela nafasnya. Arga pun meliriknya meski tanpa berkata apapun. Lalu Ana mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia kembali berusaha menghubungi Anton. Berkali-kali menelpon, tapi tak diangkat. Ana semakin galau.
"Kak Arga, bisa dipercepat nggak laju mobilnya?" tanya Ana.
Kali ini Ana menoleh ke arah Arga. Tatapannya sendu, matanya sayu, dan wajahnya pucat.
"Bisa. Tapi sebenarnya ada urusan apa kita kesana? Tadi aku hanya mengiyakanmu saja tanpa tau tujuan utama kita kesana? Apa Anton disana hingga kamu buru-buru mengejarnya kesana?" tanya Arga.
"Iya, Mas Anton ada disana. Tapi..." tak diteruskan oleh Ana.
Arga menunggu kalimat yang akan Ana ucapkan. Berhubung Ana seperti ketakutan bicara, Arga pun bertanya lagi.
"Tapi kenapa? Ada sesuatu yang kamu ketahui?"
"Mas Anton disana bersama Alana." ujar Ana.
Kali ini air mata Ana jatuh begitu saja. Cairan bening lolos di pipi mulusnya.
"Aku mengerti!" ucap Arga.
Arga segera menambah kecepatan laju mobilnya. Dalam benaknya, ia ingin segera sampai di villa B. Ia ingin tau apa yang sedang Anton dan Alana lakukan di villa itu.
Sejam kemudian, Ana dan Arga sudah sampai di villa B. Mereka melihat mobil Anton yang sudah terparkir di halaman villa. Ana mengintip ke dalam mobil dan tak menemukan siapa-siapa.
__ADS_1
"Mungkin mereka di dalam. Ayo kita masuk!" ajak Arga.
"Tunggu Kak! Apa ini sudah benar?" tanya Ana yang sedikit ragu antara mau masuk atau tidak.
"Ini sudah benar. Istri yang mengkhawatirkan suaminya. Apanya yang salah?"
"Baiklah kalo Kak Arga berpikir demikian." ujar Ana.
Arga berjalan lebih dulu. Ana mengekorinya dari belakang. Arga memilih langsung membuka pintu. Kebetulan ia juga mempunyai kunci pintu cadangan. Mereka masuk dengan meminimalisir suara. Bahkan Arga meminta Ana ikut berjalan mengendap-endap seperti dirinya.
Mereka berkeliling ke seluruh ruangan. Nyatanya tak menemukan Anton ataupun Alana.
"Kemana mereka? Apa sedang berkeliling keluar? Tapi mobil ada di luar. Aku rasa mereka seharusnya ada di sini. Aku tau persis Alana. Dia nggak bakal sudi berjalan kaki jauh. Ayo kita cari lagi. Masih ada satu tempat yang belum kita datangi." ujar Arga.
"Ayo Kak." lirih Ana.
Arga berjalan menuju kolam renang yang terletak di taman belakang. Lokasinya berdekatan dengan ruang makan.
"Iya. Kita lihat saja setelah melewati pintu itu!" tunjuk Arga.
Ana harap-harap cemas saat akan bertemu suaminya. Jika bertemu ia akan lega karena perjalanan jauhnya jadi tak sia-sia. Namun, ia juga masih bingung. Alasan apa yang akan dipakainya jika Anton sudah ada di depan matanya.
Benar saja, Anton sedang duduk bersama Alana. Jarak mereka sangat dekat. Mereka tengah mengobrol santai dengan menggunakan pakaian renang. Keduanya sedang duduk membelakangi Ana dan Arga. Jadi belum tau kedatangan mereka.
"Mas Anton!" panggil Ana.
Seketika Anton menoleh, disusul Alana setelahnya. Keduanya kaget melihat kedatangan Ana dan Arga tanpa konfirmasi terlebih dahulu. Apalagi mereka tak memberitahu keberadaan mereka sebelumnya. Anton dan Ana masih saling tatap. Perlahan Ana mendekati Anton.
__ADS_1
Anton pun berdiri. Mensejajarkan dirinya dengan Ana yang lebih pendek darinya. Masih saling tatap. Ana hampir menangis, tapi ditahan sekuat tenaga. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Anton. Andai Anton tahu betapa rapuhnya hati Ana saat ini.
Arga yang melihat Ana dan Anton saling berpandangan, tidak diam saja. Ia berjalan mendekati adik dan iparnya itu. Ia menatap tajam Anton dan Alana. Ia mengepalkan kedua tangannya. Kemarahan sedang memuncak di kepalanya. Alana sedikit menyingkir, bersembunyi di balik tubuh Anton.
"Tidakkah kalian sadar dengan apa yang sudah kalian lakukan ini?" seru Arga dengan nada marahnya.
"Kami hanya berlibur. Apa salahnya?" balas Alana membela diri.
"Anton!" seru Arga.
Anton diam saja. Ia hanya menundukkan kepalanya. Sadar jika dirinya salah. Terlebih di depan kakak yang sangat dihormatinya.
"Apa kamu tau, bagaimana cemasnya istrimu tadi? Dia menahan sakit badannya hanya demi menghalau suaminya yang hendak berselingkuh. Uhm, bahkan kamu dan Alana sudah dikategorikan selingkuh! Aku saja yang sebagai kakak ipar, tak tega melihat Ana bersedih hati. Bagaimana denganmu? Kamu tega sekali terang-terangan berselingkuh begini? Jujur yah, aku sebenarnya tak terlalu peduli dengan urusanmu. Tapi tetap saja, skandal yang telah kamu buat akan merugikan keluarga Novero dan keluarganya Ana. Aku tak habis pikir kenapa kejadian memalukan begini bisa terjadi? Wanita sebaik dan secantik Ana kamu sia-siakan demi dia yang menyakiti kakakmu." kata Arga panjang lebar.
"Kalo begitu, kenapa bukan kakak saja yang menikah dengan Ana? Kenapa harus aku? Aku bahkan sama sekali tak mencintainya!" seru Anton.
Alana menyunggingkan senyumnya pada Ana yang hampir menangis. Ana sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. Ia tak mau terlihat lemah di hadapan Anton.
"Tutup mulutmu!" Arga pun menonjok adiknya beberapa kali.
Anton tak melawan. Ia menerima saja hukuman fisik dari Arga. Bahkan darah segar sudah mewarnai wajah tampannya. Ia tetap diam. Sampai akhirnya Ana menghentikan Arga.
"Sudah Kak! Biarkan saja. Kedatanganku ke sini bukan untuk menghentikan mereka. Aku hanya ingin tau saja, kebenaran pun sudah terlihat sekarang. Aku pun tak perlu memaksakan hati seseorang untuk bisa menerimaku dan berpura-pura setia. Tidak! Aku tak memaksakan kehendakku. Setia itu mahal dan hanya dimiliki oleh orang yang bernilai mahal." kata Ana dengan penuh penekanan.
"Maksudmu apa?" tanya Alana tak terima.
"Hei wanita berbisa! Ternyata benar ucapan Mamaku selama ini tentangmu. Kamu hanya memanfaatkanku. Aku tak menyangka jika selama ini kamu dan adik yang ku sayangi, tega menusukku seperti ini. Yah anggap saja kamu tak berjodoh denganku, kenapa sampai hati mendekati adikku yang notabene sudah menikah? Dan kamu Anton, sudah berapa lama kamu menjatuhkan hatimu untuk Alana?" tanya Arga.
__ADS_1
"Dengarkan aku Kak. Aku selama ini hanya bisa memendam cintaku untuk Alana. Selama kalian berpacaran pun, mana pernah aku terbesit menghianatimu? Kami jadi seperti ini karena diantara kalian sudah tak ada lagi hubungan. Soal statusku dengan Ana, bisa saja kan setelah ini juga berakhir?" ujar Anton.
Arga mencengkeram leher Anton. Ia tak menyangka adiknya bisa berpikir sedangkal itu. Padahal seharusnya jika Anton tak ingin menikah dengan Ana, ia bisa menolak perjodohan itu. Bukan malah menikahinya dan menyakitinya begitu saja. Seharusnya Anton tak serta merta membiarkan dirinya sendiri berselingkuh dengan Alana meski Alana sudah putus hubungan dengan Arga. Arga saja yang masih single saja tak direstui apalagi dengan Anton yang sudah beristri?