Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Arga Terpanah Asmara


__ADS_3

Keluarga Novero sudah menyelesaikan sarapannya. Satu demi satu sudah membubarkan diri, meninggalkan meja makan. Ana dan Anton pergi ke kantor perusahaan klien untuk rapat. Andre yang masih harus pergi ke sekolah karena ada ujian praktek. Bu Jenny dan Pak Mirza yang beralih menuju ruang tengah. Sementara Arga segera menuju ke kantor.


Sepanjang perjalanan, Arga terngiang-ngiang ucapan Sang Papa agar segera move on dan membawa calon istri untuk diperkenalkan ke keluarga. Arga yang merupakan seorang pria pendiam, baginya sangat susah menemukan tambatan hati. Meski dunia sangat mengenal betapa Arga adalah pria berkelas yang kerja keras dan antusias.


"Aku rasa Papa memberiku dorongan agar aku tak terpuruk lagi. Padahal ya, aku sudah berhasil mengobati lukaku. Biarlah saja, wanita itu menemukan kebahagiaannya sendiri. Aku sudah cukup memaklumi sekarang. Bahwa apa yang menjadi titik utama kebahagiaan kami, berbeda. Dia mungkin mengutamakan harta dan kepopuleran di atas segalanya. Uhm, aku juga sama. Tapi ku rasa, aku lebih manusiawi daripada wanita bernama Alana itu. Biarkan saja, aku sudah lega dan ikhlas dengan keadaan sekarang." ujar Arga sambil menyetir.


Memang cuaca pagi ini tidak sepanas biasanya. Tapi juga tidak mendung. Lalu lintas kendaraan juga tak seramai biasanya. Berhubung Arga ingin bersantai, maka ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bahkan terlalu pelan dari biasanya. Sesekali ia menoleh ke arah sisi jalan saat tak berpapasan dengan kendaraan lain.


Saat itulah, mata Arga dibuat fokus oleh suatu pemandangan yang tak biasa. Seketika Arga langsung mengerem mobilnya secara mendadak. Arga segera turun dari mobil. Tak peduli posisi mobilnya belum terparkir di bahu jalan dengan benar.


"Lala!" panggil Arga.


Alhasil nama yang disebut Arga langsung menoleh ke arah sumber suara. Keduanya bertatapan.


"Kamu Lala kan?" tanya Arga lagi.


Arga mulai mendekatkan diri ke arah Lala yang masih diam.


"Lala...!" seru Arga yang tak ragu memeluk wanita di depannya.


"La, kamu kemana saja? Sudah lama kamu menghilang. Kamu sahabat terbaikku. Jangan pergi lagi ya!" seru Arga lagi.


"Arga Novero? Itukah kamu?"


"Iya. Itu namaku. Kamu kemana saja selama ini? Bahkan aku hampir melupakanmu karena kamu sudah lama menghilang. Aku merindukanmu, La!"


"Aku juga merindukanmu. Tapi aku dengar, bukankah kamu akan menikah? Atau bahkan sudah menikah? Nanti istrimu bisa salah paham denganku." kata Lala.


"Menikah? Itu hoaks. Aku tak ada agenda menikah dalam waktu dekat. Kecuali jika kamu bersedia menikah denganku." ujar Arga.


"Arga, kamu pandai membual! Ternyata gaya bercandamu masih sama. Aku bahkan selalu tergoda dengan semua itu. Kamu jahat sekali!" kata Lala.

__ADS_1


"Mari ikut denganku! Aku tadi memarkir mobil sembarangan di sana."


"Baiklah."


Keduanya sudah sampai di mobil Arga. Mereka kembali bernostalgia tentang kisah lama mereka. Sebelumnya, Arga menepikan mobilnya terlebih dahulu.


"Kamu masih single?" tanya Arga.


"Iya masih. Aku hampir menikah dengan seorang pria. Tapi dia tiba-tiba menghamili wanita lain yang merupakan bosnya. Alhasil, kami sepakat berpisah secara damai."


"Oh begitu. Pasti sangat menyakitkan bagimu."


"Tadinya iya. Tapi setelah aku pahami lebih lanjut, ada hikmahnya juga. Sepertinya tak mungkin juga bagiku hidup bersama seseorang yang selalu menomorsatukan wanita lain meskipun itu bosnya. Kalau kamu?"


"Aku juga mungkin hampir menikah dengan seorang wanita. Tapi dia terbukti tak mencintaiku. Dia hanya peduli dengan hartaku. Bahkan baru-baru ini, dia hamil dengan pria lain. Uhm, awalnya sulit meredakan sakit hati. Tapi semakin dipikirkan, aku beruntung bisa dijauhkan dengan wanita jahat seperti itu. Aku tak masalah dia matre dan sejenisnya. Tapi jika sudah melibatkan komitmen dan kesetiaan, big No! Anggap saja dia bukan jodohku." cerita Arga.


"Kamu mau ke kantor yah? Aku turun deh sekarang."


Lala dan Arga saling berbagi kontak ponsel masing-masing. Keduanya kembali bernoatalgia mengingat kenangan masa lalu.


"Dulu tuh kita nggak deket. Tapi yah, aku sangat mengenalmu. Aku banyak tau tentang dirimu. Apa hobimu, apa makanan kesukaanmu, apa makanan yang kamu hindari, apa kelemahanmu, aku tau semuanya. Tapi satu hal yang tak pernah aku tau." kata Arga.


"Apa?" tanya Lala.


"Aku tak tau bagaimana isi hatimu. Semakin aku selami, semakin aku tak menemukan jawabannya."


"Arga, kamu masih sama seperti dulu. Filsafatmu masih membuatku bingung. Oh ya, kalo nggak sibuk, mampirlah ke rumahku. Aku tinggal di sekitaran sini."


"Tapi La, aku belum bisa sekarang. Aku harus ke kantor. Bagaimana nanti akhir Minggu ini? Pastikan kamu ada di rumah ya. Aku akan mendatangimu sebagai teman pria yang kamu rindukan." ucap Arga.


"Oke. Aku akan kirim lokasi rumahku via pesan. Yasudah, kamu segera ke kantor gih! Aku harus segera kembali. Tadi aku disuruh Mama beli bubur buat Papa. Jika aku terlambat pulang, mereka pasti akan khawatir. Aku pulang dulu yah!"

__ADS_1


"Oke. Hati-hati di jalan. Nanti aku akan mengirimimu pesan. Pastikan kamu segera membalas pesan dariku. Deal yah?"


"Iya. Sampai bertemu lagi Arga!" ujar Lala sebelum meninggalkan mobil Arga.


Meski Lala sudah hampir belok ke sebuah gang kecil, Arga masih menatapnya dengan harapan ada angin segar antara dirinya dan Lala.


......................


Anton sudah berada di kantor. Ia mulai sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Tentu saja ada Ana di sana. Anton sengaja mengajak Ana agar dirinya tak merasa bosan selama berada di kantor.


"Mas, kamu mau makan apa untuk nanti siang?" tanya Ana.


"Aku mau ayam bakar. Pesan saja via aplikasi." jawab Anton yang masih fokus menatap laptopnya.


Ana pun segera memesan ayam bakar melalui aplikasi.


"Oke deh. Tinggal tunggu saja." kata Ana.


Tiba-tiba ponsel Anton berbunyi. Ada notifikasi pesan. Awalnya Anton mengabaikan pesan yang masuk. Namun karena ada notifikasi yang terus-terusan masuk, Anton pun segera mengecek ponselnya.


"Apa ini?" tanya Anton sesaat setelah melihat isi pesan dari nomor tak dikenal.


"Ada apa?" tanya Ana dan langsung menghampiri Anton.


"Enyah kau!" seru Anton dan langsung mendorong Ana hingga jatuh tersungkur ke lantai.


"Aduh..." Ana merintih kesakitan saat bokongnya menyentuh lantai dengan keras dan pergelangan tangannya ada yang lecet.


Anton segera menghampiri Ana dan langsung mencekik leher Ana dengan brutal. Ana mencoba menahan tangan Anton, tapi sia-sia saja. Ana tak bisa melawan kemarahan Anton. Hanya bulir air mata yang membasahi pipinya.


"Aku tak menyangka, kamu ternyata lebih parah daripada Alana. Kamu wanita yang menjijikkan! Aku salah menilaimu selama ini. Wanita lembut dan manis yang aku agungkan selama ini, ternyata palsu. Kamu hanya wanita bedebah yang pantas untuk dibinasakan!" seru Anton.

__ADS_1


Ana masih berusaha agar Anton melepaskan cengkeraman di lehernya. Meski begitu, ia juga bingung kenapa Anton tiba-tiba menyakitinya?


__ADS_2