Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Pulang Tanpa Hasil


__ADS_3

Arga dan Anton masih bersitegang. Arga yang menyayangkan sikap Anton menghianati istrinya demi wanita lain yang tak lain adalah mantan Arga. Sedangkan Anton yang bersikukuh merasa tak bersalah dan apa yang dilakukannya sudah benar karena sesuai hati dan pikirannya.


"Tolong berhenti! Lepaskan Anton, Kak!" teriak Ana.


Seketika Arga melepaskan cengkeramannya di leher Anton. Lalu menghempaskan tubuh Anton ke dalam kolam renang. Sebenarnya Arga belum puas sampai di situ. Ia ingin menghajar habis adiknya yang sudah membangkang dan mencoreng citra nama baik keluarga Novero.


"Kamu gila ya Kak?" seru Alana pada Arga.


"Kamu bahkan menyebutku gila? Hei wanita berbisa, kamu yang lebih gila! Berselingkuh dengan pria beristri apa itu tidak gila? Coba pikirkan jika kamu masih punya pikiran! Coba resapi dan rasakan, jika kamu masih punya hati yang peka! Sudahlah, aku bosan berurusan denganmu. Aku akan buat kamu menyingkir dari negara ini!" ancam Arga.


"Maksud Kakak apa?" tanya Alana bingung.


"Liat saja nanti. Bukan Arga jika tak bisa menyingkirkanmu dari sini!" ujar Arga penuh percaya diri.


Meski masih menyimpan cinta untuk Alana, tapi Arga tetaplah Arga. Siapapun yang sudah berani berurusan dengan keluarganya, takkan bisa lari. Arga akan mengesampingkan rasa cintanya jika itu sudah berkaitan dengan martabat keluarga besarnya.


Anton naik ke tepi kolam. Dengan sigap, Ana memberikan handuk untuk Anton. Ia menerima handuk itu dengan terpaksa. Lalu mendekati Ana dan membisikkan sesuatu.


"Hidupku hancur karenamu. Andai saja aku tak bertemu denganmu." bisik Anton pada Ana.


Anton dan Ana saling berpandangan. Tak sampai disitu, Anton pun menarik tubuh Ana menjadi lebih dekat dengannya.


"Bagaimana bisa aku sempat berpikir bahwa kamu adalah wanita baik yang pantas mendapatkan cinta? Aku bahkan pernah menyemangatimu dengan dalih agar kamu tetap menjadi Ana yang biasanya. Tapi nyatanya kamu malah menjadikanku tersangka." ujar Anton.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Aku tau kamu mencintainya, tapi tidak dengan begini caranya. Harusnya..." bisik Ana.


"Harusnya kamu diam dan pura-pura tak tau saja. Aku seperti bocah jika sudah begini." bisik Anton.


Ana tersenyum. Senyuman yang terasa getir di hatinya. Ia ingin berargumen sedetail mungkin seperti saat ia melakukan presentasi tatkala menjabat sebagai mahasiswa. Ia ingin membantah perkataan Anton yang menyudutkannya. Tapi semuanya sia-sia. Lidahnya pun kelu. Ia kehabisan kata-kata dan tak tau harus bicara apa lagi.

__ADS_1


"Ana, ayo kita kembali! Tidak ada gunanya menyadarkan hati manusia yang sudah ternodai bujukan setan. Lebih baik kamu pulang dan anggap tak terjadi apa-apa. Biar manusia yang menjabat sebagai suamimu itu paham, apa artinya setia. Dia pikir dengan bermula dari pernikahan bisnis, seenaknya saja berselingkuh! Ayo kita pulang!" ajak Arga pada Ana.


Ana pun menurut. Ia mengikuti langkah Arga yang berjalan mendahuluinya.


"Aku pastikan akan menghukum mereka!" kata Arga.


"Tapi kan mereka..."


"Ana, percayalah, aku akan membuat mereka membayar apa yang telah mereka lakukan padamu!" ujar Arga.


Arga dan Ana sudah masuk ke mobil Arga. Arga tak langsung mengemudikan mobilnya. Ia berkirim pesan dengan seseorang. Sementara Ana sabar menunggu.


"Bagus. Tinggal menunggu cerita selanjutnya." kata Arga.


"Makasih ya Kak udah anterin Ana ke sini. Tapi Ana jadi tak enak hati. Pasti Anton marah besar sama Ana selepas ini." kata Ana.


"Kamu hanya perlu sedikit bersabar. Nanti dia akan sadar kok suatu saat nanti." ujar Arga.


Sementara itu, Anton dan Alana masih berdebat. Saling menyalahkan kenapa kencan mereka bisa gagal dan ketahuan oleh Ana bahkan Arga. Yang Anton tau, apapun yang dikatakan Arga itu udah final. Menurutnya, sifat Arga tak jauh beda dengan sang Papa. Jika sudah A, maka harus A.


Anton juga penasaran mengenai hukuman apa yang akan Arga berikan untuknya. Masih tanda tanya dan jadi misteri untuk sementara waktu. Meski begitu, ia juga harus mempersiapkan mental untuk menghadapinya. Terlepas benar ataupun salah.


Sore harinya, Anton menonton TV di ruang tengah villa. Meskintak ada acara TV yang bagus, ia tetap bertahan menonton TV.


"Hai!" sapa Alana manja.


"Hmm..." balas Anton.


"Kenapa kamu murung?" tanya Alana yang bergelayut manja bersandar di bahu Anton.

__ADS_1


"Aku masih kepikiran sama perkataan Kak Arga tadi. Karena belum tau apa yang akan ia lakukan untuk kita, aku jadi kepikiran. Bagaimana denganmu? Apa kamu baik-baik saja?"


"Aku amat sangat baik-baik saja. Seperti yang kamu lihat saat ini. Aku tak peduli dengan apa yang diucapkan kakakmu. Apa aku masih cantik?"


"Iya, Alana memang selalu cantik." jawab Anton tanpa ekspresi.


'Ana pun juga selalu cantik! Eh, apa yang aku pikirkan?' batin Anton.


Seketika Anton menepuk pipinya sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Alana yang bingung dengan apa yang dilakukan Anton.


"Ah tidak! Pikiranku hanya sedikit kacau. Aku mau istirahat. Kamu gapapa kan nonton TV sendirian?"


"Yasudah!" kata Alana pasrah.


'Aish, gara-gara Ana dan Kak Arga, kencanku tak berjalan mulus. Padahal kalo sesuai jadwal, pasti ada yang namanya romansa berduaan. Ini mah apa? Kalo ke sini cuma sekedar nonton TV, bisalah aku lakukan di apartemenku sendiri!' batin Alana.


"Beneran gapapa?" tanya Anton memastikan.


"Iya gapapa. Kamu istirahat aja. Aku bisa sendiri di sini. Jangan khawatirkan aku. Kamu istirahat dulu aja agar pikiranmu tenang." jawab Alana.


Anton meninggalkan Alana sendirian. Anton memilih mengistirahatkan dirinya di dalam kamarnya. Ia menyuruh Alana tidur di kamar sebelahnya. Meski sedang dalam posisi yang memungkinkan untuk berduaan, Anton masih punya akal sehat. Dirinya tak mau sembarangan berbagi ranjang dengan wanita yang bukan istrinya.


Sebenarnya Anton merasa bersalah sudah berselingkuh dari Ana. Entah cinta atau tidak, pasti Ana akan sakit hati juga. Di satu sisi, ia menyalahkan dirinya yang hilang akal dan gegabah sembarangan berkencan. Tapi di sisi lain, sudah sepantasnya ia menuruti isi hatinya, dimana bersama Alana adalah tujuan utamanya. Terlebih Alana juga sudah mengatakan cinta padanya.


"Aku pikir Ana adalah wanita yang hanya peduli dengan statusnya. Lalu kenapa repot-repot ke sini? Mengacaukan hari indahku bersama Alana saja! Masa dia jatuh cinta padaku? Seharusnya iya sih kalo liat muka sedihnya tadi. Tapi dia langsung pergi begitu saja saat Kak Arga mengajaknya pergi. Harusnya kalo cinta kan dia mengajakku pulang juga. Tapi ini tidak! Jadi dia cinta sama aku apa enggak?"


Anton merebahkan dirinya di ranjang. Ia menyalakan ponselnya. Tak lama kemudian, beberapa notifikasi pesan dan panggilan muncul dari Ana yang menanyakan keberadaan dirinya.

__ADS_1


"Dia beberapa kali menghubungiku melalui pesan dan telepon. Tapi tak ku respon karena tadi mungkin aku sedang bersama Alana." kata Anton.


__ADS_2