
Ana dan Anton sudah sampai di rumah. Ana langsung menuju kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Sebab tidur bisa mengurangi lelah tubuhnya.
"Kamu mau tidur lagi?" tanya Anton.
"Iya. Ada masalah?"
"Tak ada masalah. Tapi sebaiknya kamu jangan tidur. Temani aku bersantai." kata Anton.
"Buat apa? Aku lebih memilih tidur daripada lelah menemanimu." ujar Ana.
"Tapi kan kamu sudah tidur tadi di mobil?"
Ana beringsut kesal. Dirinya mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga ke arah kamarnya.
"Aku lelah mendengar ocehanmu. Aku pergi dulu!" kata Ana yang buru-buru ke luar rumah.
"Mau kemana?" tanya Anton yang tak terjawab, sebab Ana sudah pergi jauh.
Ana pergi dengan menaiki taksi. Ia memutuskan untuk mengunjungi sebuah taman. Sesampai di taman, ia membeli minuman kemasan. Lalu mencari tempat duduk yang nyaman.
"Sudah menjelang sore. Pantas saja anginnya sejuk dan segar. Ku rasa ini lebih baik daripada mendengarkan ocehan Tuan Anton yang menyebalkan itu." gumam Ana.
Ada banyak orang lalu lalang di depan Ana. Tak ada yang mengenalinya, sebab ia menggunakan kaca mata dan bertopi.
"Syukurlah, tak ada yang tau tentang aku. Yah, aku memang bukan artis terkenal yang pantas dikenal. Sudah pasti. Hahahaaa...."
Tawa kecil Ana mengundang seseorang untuk mendekatinya.
"Hai, ada apa?"
"Ah apa?" tanya Ana yang kaget.
"Loh, kamu Ananda Ranita bukan?"
"Iya, itu aku. Siapa kamu?" tanya Ana.
"Aku Tata. Masih ingat?"
"Tata?" Ana berpikir keras mengingat siapa pria di depannya itu.
"Tata Jonathan? Iya?" tanya Ana.
"Ya benar. Akhirnya kamu ingat tentangku. Sudah lama sekali ya kita tak berjumpa. Terakhir ketemu saat aku akan kuliah ke luar negeri." jawab Tata.
"Tata, bagaimana kuliahmu?"
__ADS_1
"Kuliahku baik. Bahkan sekarang aku sudah resmi menyandang status sebagai seorang dokter."
"Dokter apa?"
"Dokter obgyn." jawab Tata serius.
"Hah, kamu serius? Aku pikir kamu bercanda tentang itu. Ternyata benar yah, kamu mewujudkan semua impianmu. Kamu berhasil! Selamat yah!" kata Ana.
"Tapi aku sudah gagal, Ana."
"Gagal apanya? Bahkan profesimu itu adalah impian kebanyakan orang. Akan banyak calon mertua yang mengidamkan anaknya menikah dengan dokter. Kamu beruntung Tata. Seharusnya kamu bersyukur untuk itu." ujar Ana.
"Impianku ada yang gagal."
"Apa?" tanya Ana penasaran.
"Dulu aku berniat akan menikahimu setelah aku menyelesaikan studiku di luar negeri. Aku ingin menjadi dokter agar levelku setidaknya tidak membuatmu malu. Aku ingin terlihat baik di matamu. Tapi ternyata aku gagal. Setelah ku dapatkan semua gelarku, kamu bahkan sudah lebih dulu menikah dengan pria lain. Aku sudah gagal mendapatkanmu." penjelasan Tata.
Ana terharu mendengar penjelasan Tata. Tapi ia bingung harus bagaimana menanggapi curahan hati Tata.
"Jadi begitu ya? Aku tak tau rencana besarmu itu." kata Ana.
"Oh iya, apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu? Tapi sejujurnya aku berharap kamu tak bahagia. Aku masih berharap kamu dan aku bisa bersatu." kata Tata.
"Tata, kamu masih seperti dulu. Suka sekali menggodaku dengan candamu."
"Tenang saja, jodohmu masih belum terlihat sekarang. Trus apa kabar dengan kedua orang tuamu?"
"Mereka baik-baik saja. Mereka kangen denganmu. Meski mereka sering melihatmu di layar kaca, tetap saja ingin melihatmu secara langsung." ujar Tata.
"Iya ya, dulu aku sering bertemu mereka saat kita masih satu sekolahan. Kedua orang tuamu sangat baik padaku." kata Ana.
"Boleh aku minta kontakmu?"
Ana membagi kontaknya dengan Tata. Tata puas mendapatkan kontak Ana. Dengan begitu, akan semakin mudah untuknya mendekati Ana.
"Kamu tetap seperti Ana yang dulu yah? Tak ada tanda-tanda penuaan. Bahkan masih secantik Ana yang dulu. Apa resepnya?"
"Bisa saja kamu menggodaku ya? Kamu memang berbakat membuatku tersipu malu." tutur Ana.
"Bagaimana kalo aku mentraktirmu makan? Sekalian makan malam. Ini kan sudah sore."
"Bagaimana ya? Aku harus segera pulang setelah ini. Aku janji, lain kali aku yang akan mentraktirmu. Aku akan mengirimu pesan nanti. Gapapa ya?" pinta Ana.
"Baiklah. Kalo begitu aku akan mengantarmu pulang. Harus mau yah!"
__ADS_1
Ana akhirnya pulang diantar oleh Tata dengan motornya. Tak butuh waktu lama, Ana sudah sampai di depan rumah Anton.
"Ini rumah suamimu?" tanya Tata.
"Iya. Ini rumah keluarga besar suami lebih tepatnya. Apa kamu mau mampir sebentar?"
"Tidak, Ana. Lain kali saja aku akan mampir jika kamu memintanya. Sekarang masuklah! Nanti jika aku mengirimu pesan, tolong segera dibalas yah!" ujar Tata penuh harap.
Ana hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu Tata mengelus rambut Ana dengan penuh cinta di matanya. Mereka tak tau jika sebenarnya Anton melihat pergerakan mereka dari atas balkon kamarnya. Anton mengepalkan tangannya. Geram melihat pemandangan aneh yang membuatnya kesal.
"Oke, aku masuk yah!" kata Ana.
Ana pun masuk ke halaman rumah setelah para petugas keamanan membukakan pintu gerbang yang besar itu.
Saat hendak pergi, Tata melihat seorang pria yang seumuran dengannya. Pria yang berdiri di atas balkon lantai dua dengan tatapan mata yang tajam. Tata sudah menduga jika itu adalah suami Ana.
"Syukurlah dia melihatku mengantar Ana hari ini. Lain kali akan ku buat dia sering melihatku mengantar Ana. Buat apa? Buat dia tau bahwa aku serius untuk mengambil kembali Ana-ku. Lihat saja nanti!" ujar Tata pelan.
Tata segera melajukan motornya lagi. Anton pun bergegas masuk ke kamarnya. Bersiap menyambut istrinya yang sudah pulang.
"Darimana?" tanya Anton begitu Ana memasuki kamarnya.
"Dari taman." jawab Ana.
"Sendiri?"
"Tadinya sendiri. Tapi tadi aku bertemu teman lamaku. Jadi aku tak sendirian di sana."
"Kenapa lama? Apakah temanmu itu orang yang asyik?"
"Tentu saja. Temanku itu sangat enak diajak ngobrol. Hampir saja aku lupa waktu karenanya." ujar Ana bahagia.
"Apakah dia seorang pria?" tanya Anton dengan tatapan curiga.
"Ada apa dengan pertanyaanmu? Tatapanmu juga penuh kecurigaan. Memangnya kalo dia pria kenapa? Apakah ada yang salah?"
"Tentu saja salah. Kamu wanita dan dia pria, itu adalah kesalahan jika kalian bertemu diam-diam."
"Hei Anton, kamu saja yang sering berduaan dengan Alana saja tak ku larang. Kenapa sekarang melarangku bertemu dengan pria yang sudah lama berteman denganku? Masalahnya apa? Apa aku mengganggu kehidupanmu?" tanya Ana.
"Bukan begitu. Aku takut kamu mencintai pria itu. Terlebih aku melihatnya dia seperti punya rencana licik denganmu."
"Rencana licik? Maksudmu apa? Bukankah kamu yang lebih licik yah? Menikahiku hanya demi mengamankan statusmu? Benar begitu?"
"Awalnya begitu. Tapi aku..."
__ADS_1
"Sudahlah, aku tak mau mendengar lagi penjelasanmu yang penuh drama." ujar Ana yang bergegas ke toilet dan menguncinya dari dalam.