
"Anton, kamu ngapain? Jauh-jauh dari aku!" seru Ana sambil mendorong tubuh Anton.
"Aduh Ana, punggungku sakit!" ujar Anton.
Ana menghentikan aksinya. Lalu membenarkan posisi tidurnya. Menyembunyikan dirinya ke dalam selimut tebalnya.
"Kok malah ngumpet?" tanya Anton.
Tak dijawab Ana. Anton pun ikut masuk ke dalam selimut. Memeluk Ana bak guling empuk.
"Sanaan dikit tidurnya!" seru Ana.
"Nggak mau!" Anton semakin mengeratkan pelukannya.
"Gerah Anton...!" teriak Ana.
"Aku mau bercinta denganmu sekarang." bisik Anton.
"Aku ngantuk. Nggak bisa!" tolak Ana.
"Nggak masalah kamu ngantuk. Aku hanya butuh tubuhmu. Kamu tidur saja, biar aku eksekusi sendiri." bisik Anton di telinga Ana.
Ana merinding mendengarnya. Tapi ia tak mau ambil pusing. Ia tetap memejamkan matanya, berharap segera masuk ke dunia mimpi.
"Aku buka ya!" kata Anton.
"Terserahlah, aku mau tidur!" kata Ana.
Perlahan Anton membuka baju tidur yang Ana kenakan. Menyisakan pakaian dalam dengan motif dan warna yang senada.
"Kamu memang selalu mencocokkan atasan dan bawahan yah. Lucu sekali. Tapi aku menyukainya!" gumam Anton.
Sekali lagi, Ana berusaha tetap memejamkan matanya. Menganggap tak terjadi apa-apa padanya. Anton mulai menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh Ana. Tidak mungkin Ana tak merasakannya. Alhasil Ana mencoba menahan geli pada setiap sentuhan.
Anton mulai menciumi pipi Ana dengan lembut. Jantung Ana ikut berdesir merasakannya. Tak sampai disitu, Anton bahkan berkali-kali menciumi bibir Ana. Jangan ditanya, Ana pun menikmati ciuman dari Anton meski berusaha menahannya.
"Jangan ditahan. Ayo buka matamu!" perintah Anton.
__ADS_1
Ana membuka matanya. Mata Ana dan mata Anton saling bertemu. Saling menatap meski tanpa rasa. Lalu keduanya saling tersenyum. Barulah mereka berciuman secara sadar.
'Aku nggak tau lagi. Entah aku masih waras atau sudah gila, aku menikmatinya. Aku benar-benar menikmatinya!' batin Ana.
Ciuman mereka semakin panas. Sentuhan fisik lainnya pun dilakukan. Tangan Anton tak diam saja meraba apa yang bisa ia raba. Menolak pun tak bisa dilakukan Ana. Ia sudah terjebak kenikmatan yang susah ia tolak. Ujungnya berakhir dengan bercinta.
Dalam pikiran Ana, ia secara sadar berpikir apakah dirinya benar atau salah. Benar karena sudah melakukan hal yang semestinya ia lakukan untuk menyenangkan suaminya. Salah karena sudah lebih dulu terjebak nafsu yang belum tentu ada cinta di dalamnya.
Sedangkan Anton seakan tak mau pusing. Ia cukup menikmati apa yang memang ia miliki. Ia melakukannya tanpa perlu label cinta. Status halal saja yang mendorongnya berbuat demikian. Tidak salah!
"Anton....!!!" pekik Ana yang sudah sampai ******* bersamaan dengan Anton.
Anton tersenyum puas. Usaha bercintanya berhasil. Kini hati dan pikirannya jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Terima kasih." ujar Anton yang merebahkan tubuhnya di samping Ana.
"Sama-sama." ujar Ana dengan ekspresi datar.
Seperti sebelumnya, Ana selalu sedih setelah melakukannya. Bukan karena menyesal. Tapi mempertanyakan adakah makna dari hubungan suami istri yang sudah mereka lakukan. Sejauh yang Ana tau, mungkin dirinya hanyalah pelampiasan semata.
"Ayo kita mandi bareng!" ajak Anton.
"Kamu duluan aja! Aku masih lelah. Badanku sakit semua." kata Ana.
Tanpa basa-basi, Anton menggendong Ana. Ana hampir berontak, tapi Anton menyuruhnya diam saja. Akhirnya Ana hanya menurut dan mengikuti permainan Anton. Anton mendudukkan Ana di wastafel. Lalu ia mengisi bathub hingga hampir penuh.
Perlahan, Anton mengangkat Ana untuk dimasukkan ke bathun bersama dengannya. Anton memanjakan Ana dengan memandikannya. Menggosok tubuh Ana dengan spons lembut yang penuh dengan busa. Ana menerima perlakuan manis Anton, tapi hatinya sulit untuk menerimanya.
Ana bukan tak bahagia dengan semua perlakuan manis Anton. Hanya saja ia tak ingin terbuai lebih lanjut. Salah-salah ia termakan oleh modus yang tak ia harapkan. Ia tak ingin terjebak oleh kebahagiaan palsu yang diberikan Anton.
"Kenapa hanya diam? Apa masih sakit?" tanya Anton.
"Iya masih sakit. Tubuhku mungkin perlu pijitan. Rasanya kaku dan keram." jawab Ana bohong.
Padahal tubuhnya baik-baik saja. Hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Didera bimbang dan kegalauan yang luar biasa.
"Nanti aku pijitin yah." kata Anton dengan ukiran senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Sekilas Ana tersenyum melihat senyuman Anton, tapi langsung ditepisnya. Ana langsung beralih mode ekspresi datar.
"Mandinya udahan deh. Aku semakin kedinginan jika terus berendam begini." ucap Ana.
"Baiklah. Aku akan membilas dulu sisa sabun di tubuhmu. Sabar yah!" ujar Anton.
Anton mengangkat Ana untuk keluar dari bathub. Selanjutnya menyiram tubuh Ana dengan selang. Anton memperlakukan Ana dengan baik. Dengan hati-hati ia mengelap tubuh Ana dengan handuk bersih. Lalu memakaikan baju tidur yang senada dengan baju tidur yang ia pakai. Judulnya harus couple.
"Sekarang berbaringlah di ranjang. Aku akan memijatmu dengan lembut. Aku janji akan membuatmu merasakan pijatan yang enak seperti di salon. Bagaimana?" tawar Anton.
"Iya. Tolong lakukan dengan benar!" sahut Ana datar.
Anton merasa sikap Ana terhadapnya sedikit berubah. Padahal sebelum mereka bercinta tadi, hubungan mereka baik-baik saja. Ana lebih banyak ceria dan tersenyum bahagia. Tapi sekarang sikapnya agak lain.
'Apa gara-gara aku terlalu kasar yah pas bercinta tadi? Apa mungkin masih sakit karena belum terbiasa melakukannya? Kalo begitu, tandanya kan aku harus lebih sering mengajaknya bercinta.' batin Anton.
Anton mulai memijat Ana. Ana menikmati pijatan Anton hingga ia tertidur. Saat Ana tidur, Anton tak lantas menghentikan pijatannya. Ia masih memijat Ana agar tubuh Ana bisa relaks seperti sedia kala. Memijat adalah caranya menebus kesalahan sudah membuat Ana sakit.
Sementara itu di luar kamar Anton, Bu Jenny beserta Andre mencoba menguping. Kira-kira apa yang sedang dilakukan Anton dan Ana, sampai keduanya melewatkan makan malam.
"Mereka ngapain sih?" tanya Bu Jenny sambil menempelkan kupingnya pada kenop pintu.
"Namanya suami istri. Pasti kan nggak jauh-jauh dari 'itu' kan." jawab Andre.
"Itu apa? Sok tau! Bukan masalah 'itu' nya. Tapi kalo ada yang pingsan gimana?" tanya Bu Jenny panik.
"Ngapain sih kalian di depan pintu kamar Anton?" tanya Pak Mirza yang tiba-tiba muncul.
"Ah Papa nih ngagetin Mama." kata Bu Jenny gelagapan.
"Nggak usah dikepoin, Ma. Kayak Mama nggak pernah muda aja. Ayo kita nonton TV di bawah!" ajak Pak Mirza.
"Andre mau ke kamar aja deh! Mau main games aja. Tadi ke sini karena diajakin Mama." ujar Andre.
"Heh, siapa yang ngajak siapa?" tanya Bu Jenny pada Andre.
Andre langsung melarikan diri. Padahal dia sendiri juga kepo dengan Anton dan Ana.
__ADS_1
"Ayo Ma!" ajak Pak Mirza lagi.
"Iya Pa." kata Bu Jenny.