Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Retaknya Mahkota


__ADS_3

"Mau lari kemana kamu?" tanya Anton yang berhasil mengunci pintu kamar mereka.


Ana menyembunyikan tubuhnya yang polos di balik selimut tidurnya.


"Tolong, jangan ganggu aku!" kata Ana.


Anton dengan tubuhnya yang polos, mendekati Ana. Merampas selimut Ana untuk dibuangnya ke sembarang arah. Ana meringkuk menutupi tubuhnya yang polos.


"Sudah ku katakan, lebih baik kita bermain-main saja dulu! Aku akan memberimu permainan yang menyenangkan. Kamu pasti suka!" kata Anton menyeringai.


"Jangan dekati aku! Pergi sana! Jangan samakan aku dengan sembarang wanita yang dengan mudahnya kamu tiduri. Meski aku istrimu, aku hanya istri di atas kertas! Kamu tak layak atas diriku!" seru Ana.


Bukan Ana menolak, tapi Ana belum siap jika harus menyerahkan dirinya untuk orang yang sama sekali tak menghargainya sebagai istri.


"Bukankah sama saja. Mau di atas kertas atau di atas ranjang, bukankah kamu adalah istriku? Suka-suka aku dong melakukan apapun denganmu!" kata Anton.


Anton menghirup aroma wangi Ana. Ia biasanya memang mencium aroma wangi itu. Berhubung telah melihat tubuh Ana secara keseluruhan, aroma wangi itu telah membangkitkan hasratnya.


"Ku bilang menjauhlah dariku!" seru Ana menolak Anton.


Anton tak bergeming, ia bahkan berani menjamah tubuh Ana meski terang-terangan ditolak Ana.


"Jangan begini! Aku mohon!" pinta Ana yang tak dihiraukan oleh Anton.


Anton terus memaksakan kehendaknya. Ia harus mendapatkan apa yang diinginkannya saat ini. Nafsunya sudah diubun-ubun, jadi harus dituntaskan bagimanapun caranya. Terlebih Ana adalah istrinya sendiri. Siapa yang berhak melarangnya?


Ana terus menangis selama tubuhnya dimainkan oleh Anton. Sakit fisik dan hatinya bercampur jadi satu. Ia terus meronta agar permainan dihentikan. Tapi nyatanya Anton semakin liar dan membuatnya terus kesakitan.


'Rasanya perih dan sakit. Aku bahkan kesulitan menghentikannya. Kini aku seperti kehabisan tenaga. Aku lemas. Sampai kapan permainan ini akan berakhir? Aku takut akan mati hari ini...' batin Ana.


Anton berhasil memainkan perannya sebagai sang suami yang memberikan kepuasan untuk istrinya. Ia bangga bisa menakhlukkan Ana meski harus dilalui dengan susah payah dan tangisan Ana.

__ADS_1


"Sudah selesai!" seru Anton saat merebahkan tubuhnya di samping Ana.


Ana segera berlari ke toilet dan menguncinya rapat-rapat.


"Luar biasa!" kata Anton sembari tersenyum puas.


Anton duduk di ranjangnya. Tanpa sengaja ia melihat ada bercak darah di sprei.


"Aku yang pertama. Wajar saja masih sempit tadi. Ini adalah pengalaman yang berharga untukku dan dia." kata Anton sambil mengulas senyum kemenangan.


Anton mengetuk pintu toilet. Tapi Ana enggan membukanya. Akhirnya Anton mandi di toilet kamar lain. Saat menjelang siang, Pak Radit pulang ke rumah. Ia senang melihat sang menantu ada di rumahnya.


"Ana dimana?" tanya Pak Radit.


"Masih di kamar Pa. Papa apa kabar?" tanya Anton basa-basi.


"Baik. Kamu tak bekerja hari ini?"


Hanya obrolan sekilas, selanjutnya Pak Radit masuk ke kamarnya untuk beristirahat setelah perjalanan jauh.


"Apa yang dilakukan Ana sekarang? Dia tak pingsan kan?" tanya Anton pada dirinya sendiri.


Anton yang mulai khawatir pada Ana, masuk ke kamarnya lagi. Ternyata Ana sudah selesai mandi dan berdandan natural seperti biasanya. Hanya saja, sembab di wajahnya masih terlihat jelas meski sudah ditutup oleh make up.


"Papamu sudah pulang. Tadi menanyakanmu. Aku bilang kamu sedang manja denganku. Jadi aku tidak bekerja dan memilih menemanimu. Bukankah itu adalah jawaban kronologis yang bagus untuk didengar?" ucap Anton di belakang Ana yang sedang bercermin.


Ana menatap Anton dengan kesal. Ia ingin berbuat kasar pada pria yang berlabel suami itu. Tapi ia tak punya nyali untuk melakukannya. Terlebih Ana bukan tipe wanita kasar seperti dalam bayangannya sendiri.


"Kamu puas sudah merusakku?" tanya Ana dengan tatapan tajam.


Ana beralih menuju ranjangnya. Duduk di tepi ranjang dengan perasaan kesal.

__ADS_1


"Merusak bagaimana? Aku sudah menafkahimu sebagai seorang suami. Seharusnya kamu bahagia mendapatkan hakmu sebagai istri. Aku sudah menyabarkan diriku selama beberapa hari ini. Jika waktunya adalah hari ini, ya kamu harus terima dengan ikhlas. Enak bukan? Meski sakit sedikit, nanti kamu akan terbiasa. Kapanpun aku memintanya, kamu harus melakukannya untukku! Kecuali saat datang bulan." jawab Anton seenak jidatnya.


Ana memalingkan wajahnya. Jawaban yang semakin menambah kekesalannya.


"Satu lagi, aku tidak tidur dengan sembarang wanita. Aku hanya menidurimu saja. Meski kamu tau aku menjalin hubungan dengan Alana, aku tak separah itu. Aku tak peduli kamu percaya atau tidak." kata Anton.


Ana melempar bantal ke arah Anton. Tapi Anton berhasil menangkap bantal itu.


"Mau semarah apapun, akulah yang berhasil menjamahmu. Sekarang kamu tak bisa apa-apa lagi selain menerimaku. Cinta atau tidak, lupakan hal konyol itu. Di sini, bukan perkara cinta lagi yang kita butuhkan. Aku mencintai Alana, tapi aku malah menikah denganmu, Ana. Jadi, kamu paham kan? Cinta itu bukan akhir dari segalanya. Terkadang cinta bisa dibuang hanya demi menyelamatkan martabat seseorang. Seperti aku sekarang ini." kata Anton.


"Dengar, aku tak butuh ceramahmu. Pergi saja sekarang! Jika kamu ingin cerai denganku, segera lakukan sekarang juga!" seru Ana.


Anton tertawa. Jika sebelum bermain dengan Ana, pasti dirinya akan langsung mengiyakan. Namun sekarang berbeda, ia bahkan tak ingin meninggalkan Ana apapun yang terjadi.


"Tidak bisa begitu. Keputusan para orang tua kita, apakah mudah kita langgar? Tidak kan?" kata Anton.


Ana membuang nafasnya kasar. Kesal mendengar semua perkataan Anton yang tak sejalan dengannya.


"Aku sudah rugi banyak. Waktuku terbuang sia-sia." kata Ana.


"Tidak. Kamu takkan pernah rugi selama menikah denganku!" ujar Anton.


"Pergi sana! Aku muak mendengar ocehanmu yang tak berguna. Pergi saja bersama selingkuhanmu, Alana! Aku ingin sendiri di sini!" teriak Ana.


"Tidak bisa begitu. Papamu sudah pulang. Mana bisa aku keluar sesuka hati? Yang ada aku harus menemanimu agar terlihat baik di mata papa mertua. Lagipula, Alana mau pergi ke luar kota. Urusan syuting. Ups, kamu bukan pemeran utama sih ya, jadi mana tau ada jadwal itu." kata Anton.


"Hei Anton, kamu pikir aku menjalani hari-hariku sebagai pemain film hanya untuk berperan sebagai pemeran utama? Tidak! Aku hanya dunia tau bahwa aku adalah Ananda Ranita tanpa embel-embel Radit Hanggoro Sukmo! Jadi, tak masalah jika orang lain lebih berjaya. Karena kan karir yang sukses adalah titipan semata." ujar Ana yang membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Ya ya ya, terserah kamu saja. Aku mau di sini denganmu saja." ujar Anton.


Anton merebahkan dirinya di samping Ana. Anton mendekap Ana yang memasang muka kesal dengannya. Meski begitu, Ana tak menolaknya. Ia hanya diam saja tanpa berkata apa-apa lagi. Sampai akhirnya mereka kembali tidur sampai sore.

__ADS_1


__ADS_2