Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Sedikit Asa Sejuta Lara


__ADS_3

Ana yang tubuhnya kelelahan ditambah perutnya yang sakit, tak bisa berbuat apa-apa selain diam. Baginya, percuma melawan Anton yang sudah terlanjur terbakar api emosi. Sebisa mungkin Ana hanya melakukan dua hal bertahan dan bersabar dalam batas waktu yang belum bisa ditentukan.


Meski ada rasa kasian dalam diri Anton, ia tetap konsisten dengan tujuan awal. Menghancurkan Ana secara perlahan karena sudah berselingkuh. Anton tentu masih ingat jika dulunya dia pernah berselingkuh juga dengan Alana. Tapi menurutnya, kesalahan Ana lebih fatal darinya.


"Mau kemana?" tanya Anton saat melihat Ana berganti baju.


"Aku tak kemana-mana. Hanya saja bajuku yang tadi, sudah berlumur noda kekerasan dan kemarahan seseorang. Anggap saja aku buang sial. Dengan begitu, aku bisa kembali hidup dengan tenang." jawab Ana.


"Apa kamu mau jalan-jalan bersamaku sebentar? Kita hanya jalan ke taman di ujung jalan itu. Mau kan?"


"Buat apa lagi? Aku memang butuh refreshing dan healing. Tapi BIG NO jika aku pergi bersamamu. Terlebih aku tak bisa berpura-pura bahagia denganmu."


Anton mengenakan jasnya. Sementara Ana sudah berada di dalam kamar mandi. Sengaja menghindari Anton.


"Apa sikapku sudah keterlaluan ya? Tapi itu balasan yang pantas dia terima. Siapa suruh sudah menghianatiku? Padahal aku sudah terlalu dalam mencintainya. Rasanya sakit jika diduakan seperti ini." kata Anton.


Anton kembali duduk di sofa. Melonggarkan kembali jasnya. Ia berniat menunggu sampai Ana keluar dari kamar mandi.


"Kenapa masih di sini? Apa kamu tak punya urusan penting selain berada di sini? Kenapa harus membuang-buang waktu berhargamu hanya demi mengawasi seorang wanita yang tak ada artinya bagimu?" tanya Ana yang baru keluar dari kamar mandi.


'Apa yang dia katakan? Aku bertindak seolah-olah menjadi penjahat yang hendak membunuhnya dengan keji, itupun karena aku peduli dengannya.' batin Anton.


Ana meraih ponselnya di nakas. Memastikan apakah ada pesan atau telepon yang masuk selama ia mandi tadi. Ternyata tak ada hal penting. Lalu ia duduk di tepi ranjangnya.


"Begini deh, kamu sekarang jujur padaku. Siapa pria ini?" tanya Anton dengan menyodorkan ponselnya pada Ana.


Ana menerima ponsel Anton. Dilihatlah gambar dirinya bersama seorang pria yang tak jelas wajahnya.


"Ini foto lama." kata Ana datar dan menyerahkan kembali ponsel Anton.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku menerima gambar sialan ini beberapa hari yang lalu!" seru Anton.


"Memang itu foto lama. Aku bahkan masih menyimpan foto itu di akun sosmed milikku. Coba kamu cek lagi. Siapa pria yang membuatmu terbakar emosi. Lebih tepatnya terbakar api cemburu." ledek Ana dengan tatapan sinis.


Anton segera mencari tau akun sosmed Ana dan memastikan pria yang membuatnya kebakaran jenggot.


"APA?" teriak Anton kesal.


"Lihat kan, pria itu siapa?" cibir Ana.


"Dia pamanmu? Tapi selama ini dia tak pernah nampak? Apa dia masih hidup?"


"Mas Anton, pamanku masih hidup. Dia menetap di Aussie bersama istri dan anak-anaknya. Meski kami jarang berkabar, dia dan keluarganya baik-baik saja. Jadi kesimpulannya, aku tak pernah berselingkuh darimu. Aku masih menjaga kehormatanku sebagai istri sahmu!" seru Ana mantap.


"Jadi aku salah?" tanya Anton.


"Ya, kamu sudah salah besar. Jangan harap aku akan memaafkanmu secepat itu. Tolong pergi dariku secepatnya! Aku muak melihat wajahmu itu." kata Ana.


"Apa? Hingga tanpa sadar tega melukai istrinya sendiri? Bahkan tak peduli dengan anaknya sendiri? Ingat yah, janin yang aku kandung ini memang anakmu. Sampai hati kamu tak mengakuinya. Uhm, aku paham sekarang bahwa kamu tak terlalu menganggap aku penting dalam hidupmu. Jadi sudah sewajarnya kamu bersikap begitu. Maka pergilah sekarang, aku mau istirahat." kata Ana.


"Jika aku ingin tetap di sini?"


"Maka aku yang akan keluar!" seru Ana.


"Oh baiklah. Biar aku saja yang keluar. Beristirahatlah kamu di sini. Nanti jika kamu sudah bosan di sini, telpon aku. Aku akan menjemputmu pulang. Papa dan Mama menantikanmu di rumah." ujar Anton.


"Bukan mereka yang seharusnya menantikan kedatanganku. Buat apa aku pulang jika kamu saja tak pernah berharap aku pulang." keluh Ana dan langsung bersembunyi di balik selimutnya.


'Aku sudah keterlaluan. Sudah sewajarnya dia semarah itu padaku.' batin Anton.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan segera pergi. Kamu jaga diri baik-baik." ujar Anton.


Ana tak menyahut meski mendengarnya. Anton segera keluar kamar dan kembali bekerja.


"Maafnya dia tak tulus. Mungkin aku memaafkannya. Tapi rasa kecewa dan sakit hati masih tersisa di dada." lirih Ana dan hendak memejamkan mata.


Sejam kemudian, Ana bangkit dari tidurnya. Ia benar- benar tak bisa tidur. Sempat terlintas dalam hati ingin keluar kamar hotel dan berjalan-jalan, tapi apa daya perutnya masih sakit.


"Kenapa masih sakit? Bahkan lebih nyeri dari sebelumnya. Apa setiap wanita yang hamil muda selalu sakit seperti ini? Kadang datang dan kadang hilang sakitnya. Ini sudah di luar kendali." kata Ana.


Tiba-tiba pintu kamar hotel Ana ada yang mengetuk pintu. Perlahan, Ana menuju pintu dan membukanya. Petugas hotel sudah berdiri dengan membawa paperbag.


"Dengan Nyonya Ana?" tanya petugas hotel.


"Iya saya sendiri. Ada apa ya? Sepertinya saya tak menghubungi layanan bantuan." jawab Ana bingung.


"Oh ini. Tadi suami Anda, Bapak Anton, menitipkan ini untuk Anda. Katanya, dia sedang buru-buru ke arah kantor kerjanya. Jadi meminta tolong pada saya untuk memberikan paperbag ini untuk Anda."


Ana menerima paperbag itu dan kemudian masuk kembali ke kamarnya. Tak lupa mengucapkan terima kasih pada petugas hotel itu.


"Ini apa coba?"


Ana membuka paperbag itu. Betapa kagetnya setelah tau bahwa isinya adalah gaun malam beserta sepatu dan perhiasan mahal.


"Dia sengaja menyuapku agar aku segera melupakan kesalahannya. Apa dia lupa aku ini putri siapa? Bukan mau sombong, tapi aku bisa membelinya sendiri. Bahkan Papaku pasti langsung mengiyakanku jika aku meminta semua ini. Meski aku tak merasa butuh. Toh nggak penting-penting amat deh!" kata Ana.


Ana menaruh paperbag itu di ranjangnya.


"Aku kemana ya? Bosen juga tetep di sini. Tapi perut nyeri begini. Serba salah deh. Coba kalo aku sama Mas Anton masih akur, mungkin aku bisa bermanja-manja sama dia. Tapi aku masih kesel sama dia. Enak aja mau baikan tanpa syarat. Luka batin dan fisik masih membekas. Lagipula, aku harus siaga dengan segala kemungkinan. Dia beneran tulus merasa bersalah, atau hanya sekedar ingin melupakan kesalahannya. Aku nggak mau tertipu lagi olehnya. Aku sudah berkali-kali disakiti oleh manusia bernama Anton itu!"

__ADS_1


Kemudian Ana kembali merebahkan tubuhnya lagi di ranjangnya. Berharap sakit perutnya akan hilang dan dia bisa jalan-jalan.


__ADS_2