
Ana dan Anton sudah berada di dalam mobil. Ana meminta sopir keluar dari mobil karena ingin membahas sesuatu yang penting dengan suaminya.
"Tidakkah ada yang perlu kamu jelaskan padaku?" tanya Ana to the point.
"Penjelasan apa? Apa maksudmu mengenai pertemuanku dengan Tia tadi? Sungguh, aku tak merencanakan pertemuan itu. Aku juga tak tau kalo dia ada di kota ini. Jika aku tau, mungkin aku takkan mengajakmu ke sini."
"Halah. Bilang saja kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Alana saja bisa kamu idolakan sampai sebegitunya, bagaimana dengan wanita yang tadi. Ku rasa dia lebih cantik dan menarik dibandingkan dengan Alana." keluh Ana sembari berkacak pinggang.
"Yah, cantik dan menarik itupun bagiku relatif ya. Hanya saja, menurutku kamu bahkan jauh lebih cantik dan menarik daripada mereka. Kenapa kamu berpikir aku mengagumi wanita itu?" selidik Anton.
"Tidak, jangan salah paham! Aku hanya ingin tau saja. Jiwa kepo dalam diriku mulai bergejolak jika ada wanita yang berani mendekatimu. Aku sebagai istri sahmu, harus menjagamu dengan baik. Bukankah begitu?" tanya Ana gelagapan.
"Tak salah. Kamu sudah benar menjagaku. Aku sungguh berterima kasih jika kamu menjagaku dengan baik." jawab Anton.
"Lalu kenapa wanita bernama Tia itu sepertinya sangat berharap denganmu? Sepertinya dia pernah mendapat angin segar darimu. Kamu pernah memberinya harapan untuk sebuah hubungan atau bagaimana? Aku sungguh tak habis pikir."
"Tidak Ana. Aku sama sekali tak pernah menanggapi ajakannya untuk menjalin hubungan. Aku juga bingung kenapa dia intens banget mengirim pesan padaku. Padahal aku selalu mengabaikannya."
"Karena kamu tampan..." lirih Ana.
"Kamu bilang apa?" Anton pura-pura tak mendengar.
"Tidak. Mungkin kamu kurang tegas menolaknya. Jika kamu lebih tegas, mungkin dia akan sadar diri. Tapi terserah sih jika kamu mau terus-terusan dikejar dan diidolakan wanita itu. Kan dia cantik dan body-nya bagus. Lumayanlah ya..."
"Masih kalah jauh sama kamu. Kamu aja kalo berpakaian lebih seksi dan ketat, justru jauh lebih menggoda mataku." ujar Anton sembari memeluk Ana.
Ana menepis pelukan Anton. Membenarkan posisi duduknya.
"Oke, aku akan berpakaian lebih ketat lagi mulai sekarang!"
"Eh jangan! Mana rela aku melihat tubuh istriku dipandangi pria lain. Kecuali jika berdua di kamar denganku, bolehlah." Anton mengerling.
__ADS_1
"Tetap saja. Pasti sekali dua kali kamu memperhatikan tubuh wanita itu. Ah, tak perlu mengelak lagi. Toh juga semua akan kebongkar pada masanya nanti."
"Uhm, kamu cemburu ya?"
"Tidak seperti itu. Aku bukan cemburu. Mana ada kata cemburu. Aku hanya konfirmasikan kebenarannya saja. Aku harus tau lebih dulu daripada orang lain. Perasaan dikhianati dan dicampakkan benar-benar membekas. Kamu takkan pernah tau sebelum merasakannya sendiri. Jadi, jika aku tanya, jawab saja adanya. Tak perlu bertanya balik padaku jika tak mau menjawab pertanyaanku." kata Ana.
"Oke."
"Temuilah wanita itu. Dia masih menunggumu di sana. Lebih baik kamu tegaskan agar dia tak menggodamu lagi!"
"Oke."
Anton keluar dari mobil. Mendekati Tia yang masih berdiri dekat lobby toko. Ana tak lengah untuk mengawasi Anton dari dalam mobil.
"Hai Tia!" panggil Anton pada Tia.
"Hai... Kamu kembali lagi?"
"Iya, aku kembali. Tapi maaf, aku harus mengatakan sesuatu padamu."
"Katakan!" seru Tia antusias.
"Tolong jangan mengirimiku pesan jika tak ada sangkut paut dengan masalah pekerjaan. Kamu tau kan, aku sangat mencintai dan menyayangi istriku? Ku harap kamu tak berharap bahwa hubungan kita menjadi dekat secara personal. Hubungan kita hanya sebatas bisnis saja. Kamu mengerti kan maksudku?"
"Kamu ke sini hanya untuk mengatakan itu? Jahat sekali kamu! Padahal jika kamu memperlakukan aku lebih baik lagi, hubungan kita akan tampak lebih baik dan pasti akan berakhir baik. Aku bisa menjamin bahwa nanti kamu akan tertarik padaku. Aku tak peduli kamu sudah menikah dengan wanita yang di mobil itu. Kalian masih ada kesempatan bercerai bukan? Aku siap menggantikan posisinya!"
"Wanita yang berada di mobil itu adalah istriku satu-satunya. Istri yang sangat aku cintai. Aku memang bukan suami idaman baginya. Tapi aku sangat mencintainya. Kenapa juga aku harus meninggalkannya demi dirimu?"
"Karena aku lebih cantik dan menggoda dari dia. Dia memang artis yah. Tapi bukan artis terkenal juga. Dia juga jarang dandan kalo aku lihat. Hanya wanita biasa dengan tampilan sederhana. Jih, aku jijik dengan wanita seperti itu!" cibir Tia.
"Justru wanita seperti dialah yang mampu menakhlukkanku. Memang dia jarang berdandan. Tampilan natural dirinya itu yang menarikku untuk terus mendekat padanya. Dia sangat cantik bagiku. Jika dia dandan sedikit saja, aura kecantikannya keluar sempurna. Kamu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan istriku." ujar Anton.
__ADS_1
Sementara Ana hanya menyaksikan interaksi antara Tia dan Anton di dalam mobil. Ana hanya menduga kira-kira apa yang menjadi obrolan mereka.
"Oke. Aku terima pembelaanmu untuk istrimu itu. Tapi aku tak yakin bahwa selamanya kamu akan bergantung pada cintamu untuknya. Cintamu untuknya pasti akan memudar seiring perjalanan waktu. Aku yakin itu."
"Tia, berpikirlah secara rasional. Buat apa sih kamu mendekati pria beristri. Yang masih lajang bahkan banyak yang mengantri untukmu. Kamu tinggal pilih salah satu dari mereka. Cukup mudah bukan?"
"Aku sukanya pria beristri. Lebih menantang dan menggoda. Aura pria beristri lebih tajam dibandingkan dengan pria lajang."
"Kamu sakit ya? Buruan deh kamu periksa ke dokter. Mungkin ada saraf otakmu yang rusak atau penglihatanmu bermasalah? Secepatnya sebelum terlambat!" seru Anton dan kembali meninggalkan Tia seorang diri.
"Anton....!" teriak Tia yang diabaikan oleh Anton.
Tia mengepalkan tangannya. Kesal dengan perlakuan Anton yang seakan merendahkan harga dirinya.
"Sudah?" tanya Ana begitu Anton sudah masuk ke mobil.
"Sudah. Aku sudah menyuruhnya agar tak mengirimiku pesan lagi selain masalah pekerjaan." jawab Anton singkat.
"Lalu bagaimana tanggapannya? Apa dia setuju?" tanya Ana kepo.
"Aku tak yakin. Tapi itu tak penting sekarang. Terserah dia saja maunya bagaimana. Aku tak peduli. Oh iya, kita kemana lagi setelah ini?"
"Kamu nggak ada jadwal kerja?"
"Kok balik tanya? Aku sebenarnya punya kunjungan bisnis ke suatu pabrik di sini. Tapi mungkin nanti saja jika kamu sudah selesai berlibur di sini. Kerjaan bisa ditunda untuk lain waktu."
"Kok gitu?"
"Masalahnya pabrik yang mau aku kunjungi adalah anak perusahaan tempat si Tia itu bekerja. Dia pasti akan segera ke tempat itu jika ada informasi kedatanganku ke sana. Jadi, tak penting untuk ku lakukan. Aku bisa meminta anak buahku ke sana. Gimana?"
"Terserah kamu aja, Mas. Yaudah, aku mau ke pantai terdekat deh Mas. Aku mau main-main ke pantai. Suasana senja di pantai pasti menyenangkan. Apalagi kita bisa melihat sunset yang indah."
__ADS_1
Anton setuju dengan rencana Ana. Lalu meminta sopir segera mengantar mereka ke tempat tujuan. Ana bahagia permintaannya dikabulkan. Terlebih ia ingat saat melihat ekspresi kekecewaan Tia saat berbincang dengan Anton. Ana puas jika Anton masih teguh pendiriannya untuk tak tergoda wanita lain.