Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Meredam Sakit Hati


__ADS_3

Pagi ini, Ana menjalani aktivitas syutingnya. Kali ini dia tak datang sendiri. Ada Anton yang menemani. Ana sudah melarangnya, tapi Anton memaksa untuk ikut. Meski Ana sudah tau apa maksud Anton yaitu bertemu Alana.


Anton duduk di bangku agak jauh dari tempat syuting berlangsung. Memang terlihat ia sibuk memainkan ponselnya. Namun berkali-kali ia mengamati keadaan sekitar untuk mencari sesuatu. Ya, Anton penasaran dimana sebenarnya Alana.


"Hai!" sapa Alana yang tiba-tiba sudah duduk di depan Anton.


"Kenapa kau di sini? Sana, syuting bersama yang lain!"


"Anton, kenapa sikapmu sekasar itu padaku? Bukankah kamu pernah bilang betapa cinta dan sayangnya dirimu padaku? Aku ini Alana loh!" seru Alana dengan penuh percaya diri.


"Aku nggak mengenalku. Alana yang ku kenal sudah lama mati. Tolong, silakan pergi!" usir Anton.


"Hah, dilema usia dewasa! Sungguh, kamu akan menyesal sudah bersikap kasar begitu padaku. Ingat, hanya ada satu Alana di dunia ini. Hanya aku. Bahkan jika kamu berani mengusir Alana, otomatis kamu akan aku blacklist dalam catatan pria impianku. Kamu gapapa?"


"Sudahlah, kamu pergi saja! Aku tak butuh ocehan murahanmu. Aku ke sini hanya ingin menonton proses syuting istriku."


"Istrimu? Apa maksudmu Ananda Ranita? Si Ana yang awalnya pura-pura miskin ternyata putri pengusaha kaya? Si Ana yang sok baik padahal ya gitulah. Apa Ana yang itu?" tanya Alana dengan nada mengejek.


"Iya Ana yang itu. Hanya satu Ana yang ku kenal. Justru padahal Ana lebih baik darimu. Kamu apa sih keunggulannya? Main syuting pun juga berkat sponsor dari para Sugar daddy kan? Iya kan?"


"Yah begitulah. Cuan dari mereka adalah segalanya. Yasudah jika kamu tak butuh aku, aku akan pergi dari sini. Sehabis ini aku mau syuting. Kalo kamu mau tau adegan apa yang akan aku lakukan, akan aku kasih tau! Aku akan menampar Ana. Aku akan menamparnya sekuat tenaga. Mendalami peranku yang sebenarnya. Karena semakin dia kesakitan, aku akan semakin sukses menurut orang-orang. Dah!" kata Alana.


"Kamu nggak akan melakukannya." ujar Anton.


Alana meninggalkan Anton yang masih menatapnya kesal. Lalu Alana bergabung dengan para kru yang sedang proses syuting. Sementara itu, Anton harus segera masuk ke mobilnya. Tiba-tiba saja keadaan mengharuskannya untuk mengadakan rapat via zoom.


Saat ini, Ana dan Alana bersiap dengan adegan syutingnya. Sesuai naskah cerita, Alana akan menampar Ana karena kesalahpahaman. Tentu saja Alana bersemangat demi menjalani adegan itu. Akan ada cara yang tepat untuk menyakiti Ana.


Ketika syuting berlangsung, Alana sekuat tenaga menghempaskan tangannya agar tepat menampar Ana yang dari dulu sudah dibencinya. Namun sayang sekali, tamparan Alana meleset. Ana berhasil menghindarinya dengan cepat. Ana selamat dari misi balas dendam Alana.


"Cut!" seru sutradara.

__ADS_1


"Apakah perlu pengulangan adegan? Tadi tamparanku nggak kena." kata Alana interupsi.


"Tidak perlu. Di layar sudah bagus. Seperti tertampar beneran meski aslinya nggak kena. Aku suka akting Ana. Kerja bagus. Sudah cukup untuk hari ini. Untuk Alana, masih ada syuting lagi ya. Lima menit lagi bersiap!" seru sutradara.


Ana merapikan barang bawaannya. Lalu segera menuju ke mobil Anton. Ana masuk begitu saja. Anton hanya memberi kode agar Ana menunggunya sebentar, sebab zoom belum usai. Apa pun mengambil ponsel di tasnya. Lebih baik bermain games ataupun berselancar di dunia maya kan daripada bengong?


"Maaf sudah membuatmu menunggu." ujar Anton sembari merapikan rambutnya.


"Iya. Kamu bahkan lebih lama menungguku. Padahal seharusnya bisa rapat langsung di kantor. Malah ikut aku ke sini kan? Awas, nanti takutnya kamu dikira bucin sama istri kalo sering bolos kerja." kata Ana.


"Enggaklah. Eh kamu gapapa?" tanya Anton.


"Aku gapapa. Kenapa?" Ana balik tanya.


"Bukannya kamu ditampar Alana?"


"Kok kamu tau?"


"Oh jadi begitu. Sudah ku duga. Aku pun tau kok kalo tujuanmu mengantarkan adalah ingin bertemu dengannya. Setelah bertemu begitu, kamu pasti puas. Besok-besok lagi nggak usah diantar yah, aku bisa naik taksi sendiri. Trus mengenai adegan aku ditampar oleh Alana, itu benar terjadi. Hanya saja aku tak kena tamparannya. Aku berhasil menghindar." ujar Ana.


"Kamu hebat!" seru Anton.


"Hah, tapi tak sehebat Alana. Bisa menakhlukkan banyak pria tampan sesukanya." kata Ana.


"Kamu hebat bisa menghalau serangan wanita itu. Apakah syutingmu sudah selesai?" tanya Anton.


"Aku sih sudah. Tapi jika kamu tanya tentang wanita itu? Akan ku jawab, dia masih menjalani syutingnya sampai nanti malam mungkin. Kamu di sini saja jika masih ingin melihatnya. Aku bisa pulang sendiri."


"Padahal aku nggak nanya tentang dia. Aku hanya mencemaskanmu. Setelah ini mau jalan kemana?"


"Anton, aku capek. Mau pulang aja. Kamu kalo mau maen ya maen aja. Aku bisa pulang sendiri." kata Ana.

__ADS_1


"Yaudah kita pulang aja deh. Tapi di rumah juga lagi sepi." kata Anton.


"Sepi. Justru lebih baik. Tak perlu sandiwara berlaku romantis denganmu. Aku bisa jadi diri sendiri. Begitu kan?"


"Iya memang tak perlu sandiwara. Aku juga tak menginginkan sandiwaramu. Aku hanya ingin hubungan kita terlihat baik-baik saja di depan keluarga." ujar Anton.


Ana melihat ada sebuah kotak di bangku belakang. Karena penasaran dan ingin tau, Ana langsung berrtanya pada Anton.


"Itu yang di belakang kotak apa?" tanya Ana sambil menunjuk kotak yang dimaksud.


"Kenangan lama bersama Alana. Rencananya mau aku bakar." jawab Anton yang mulai mengemudikan mobilnya.


"Buat apa dibakar? Kan masih cinta. Sayang kan?"


"Cinta ataupun sayang, tak semudah itu yah diucapkan. Aku sudah membulatkan tekad untuk mengubur cerita masa laluku bersamanya. Padahal dulu dia adalah anak manis yang baik hati. Namun sekarang anehnya, ia bisa seliar itu. Andai Alana setengah saja darimu, mungkin akan lain ceritanya." kata Anton.


"Karena Alana bukan aku. Makanya dia tak bisa menjadi aku atau bahkan setengah dari diriku." ucap Ana.


Anton tersenyum getir dengan penuturan Ana yang masuk akal.


"Jika Alana terlahir kaya, dia takkan melakukan perbuatan kejinya itu. Kamu seharusnya berpikir demikian. Alana adalah anak baik dimana hal buruk sering menerjangnya. Makanya dia seperti itu. Menyakiti orang-orang di sekitarnya."


"Apa tak ada obrolan lain selain membicarakan wanita itu?" tanya Anton.


"Tak ada. Aku tak punya pembicaraan penting denganmu. Apakah kamu bisa mempercepat laju mobilnya? Aku ingin cepat sampai rumah." pinta Ana.


"Tentu saja!" Anton mempercepat laju kendaraannya.


Ana bersandar di kursi mobilnya.


"Aku lelah. Tolong bangunkan aku saat sudah sampai. Terima kasih!" kata Ana.

__ADS_1


"Baiklah." kata Anton.


__ADS_2