
Selama dua minggu terakhir, Anton dan Ana telah intens bertemu meski hanya sekedar antar jemput Ana ke lokasi syuting. Hingga akhirnya muncul kesepakatan antara keluarga Ana dan Anton untuk segera diadakan pernikahan.
Baik Ana ataupun Anton, keduanya tak bisa membantah lagi tentang pernikahan. Meski tak ada cinta, keduanya telah sepakat menjalin hubungan serius itu. Demi menjaga nama baik keluarga adalah alasan keduanya menikah.
Kini Ana sudah sendirian. Sang perias dan timnya sudah keluar dari kamarnya. Ana memandangi dirinya di depan cermin. Wajahnya sudah dipoles make up sedemikian rupa. Ia memakai kebaya putih bertahtakan mutiara yang tersebar di beberapa bagian. Rambutnya disanggul rapi, serta memakai mahkota sebagai hiasan kepala.
Ana meremas jemarinya. Seharusnya pernikahan adalah sesuatu yang indah. Ada cinta yang menjadi modal awal dalam sebuah pernikahan. Tapi pernikahan yang akan dijalani ini tidak demikian. Meski begitu, ia tak bisa menghindari takdir bahwa sebentar lagi akan menjadi istri pria dingin itu.
Ana mengambil foto Mamanya. Dipandangi foto itu seraya tersenyum. Ia bangga memiliki Mama yang cantik. Mama yang memberikan kenangan yang singkat. Sebab sejak usia 7 tahun, ia sudah ditinggalkan oleh Mamanya karena meninggal dunia.
"Apakah sudah siap? Ayo kita turun! Calon suamimu sudah menunggumu di bawah!" seru Pak Radit membuyarkan lamunan Ana.
"Ah iya. Ayo Pa!" ujar Ana.
Ana dibantu Pak Radit menuruni anak tangga. Sejumlah pasang mata menatap ke arah Ana. Ana yang jarang dandan, tampil cantik dengan make up nya. Anton pun bahkan ikut takjub atas kecantikan calon istrinya.
Ana dan Anton duduk berdampingan di kursinya. Penghulu dan Pak Radit duduk di depan mereka. Segera dilangsungkan ijab qabul dengan khidmat.
"SAH!!!!" begitu suara para tamu yang hadir.
Ana dan Anton telah sah menjadi pasangan suami istri. Mereka saling memasangkan cincin di jari pasangannya. Lalu Anton mencium kening Ana. Tak lupa beberapa fotografer mengabadikan momen sakral itu dari beberapa sudut.
Tak banyak tamu yang diundang. Hanya keluarga besar dari kedua mempelai saja. Ana bahkan sengaja tak mengabari rekan sesama artis. Kecuali Nabila seorang yang diundangnya. Jadi wajar saja jika tak ada wartawan yang menyambanginya.
"Ternyata kamu sekaya ini ya? Aku tak menyangka. Selama ini teman-teman di lokasi syuting, termasuk aku juga, menganggapmu gadis biasa. Ternyata kamu adalah putri tunggal dari Radit Hanggoro Sukmo. Wow!" bisik Nabila pada Ana.
Ana tersenyum, ia memeluk Nabila. Nabila pun membalasnya. Anton yang berada di dekat Ana hanya diam melihatnya.
"Tidak penting aku terlahir sebagai putri tunggal dari Radit Hanggoro Sukmo. Aku tetaplah Ananda Ranita yang kamu kenal. Aku tetaplah sahabatmu yang selalu ada saat suka dan duka. Aku lebih suka dikenal sebagai Ana si gadis biasa daripada Ana si gadis kaya. Karena yang kaya itu Papaku bukan aku. Kamu paham maksudku kan?" bisik Ana.
Nabila mengangguk. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti Ana. Meski kaya, ia tak sombong dan mau berteman dengannya.
"Yasudah, sana gih cobain hidangan yang disajikan. Semuanya dijamin enak dan halal." bisik Ana lagi.
"Ini nih yang aku tunggu. Aku beredar nyicip hidangan dulu yah." bisik Nabila lagi.
__ADS_1
Nabila langsung menuju tempat hidangan disajikan. Ada banyak varian menu yang tersedia. Ada appertize, main course, dan dessert.
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Anton kepo.
"Bukan apa-apa." jawab Ana.
"Sayang, nanti setelah acara, kamu pulang ke rumah kami yah!" kata Bu Jenny, Mama Anton.
"Iya Tante. Saya menurut Mas Anton saja gimana baiknya." ujar Ana.
"Panggil Tante dengan Mama. Kamu kan sekarang sudah jadi bagian keluarga Novero. Kamu mengerti kan? Untukmu Anton, bawa istrimu pulang! Kamu mengerti kan?" tanya Bu Jenny bergantian pada Ana lalu Anton.
Baik Ana ataupun Anton mengangguk mengiyakan ucapan Bu Jenny.
"Kak Anton dan Kak Ana, selamat yah! Kalian telah sah menjadi suami istri. Semoga kalian selalu bahagia dunia akhirat!" seru Andre.
"Aamiin." balas Ana.
Anton hanya diam saja. Lalu Andre memeluk kakak iparnya.
"Maksudnya apa deh!" kata Anton kesal.
Ana dan Andre tertawa melihat respon Anton yang kesal. Ana menepuk bahu Andre seraya memberikan nasihat bijak.
"Saranmu sebagai adik ipar sangat bagus. Aku setuju dan akan ku lakukan. Tapi, kamu yang rajin yah belajarnya!" kata Ana yang akhirnya membuat Andre menghela nafas kesal.
"Kak Ana jangan ikutan Kak Anton yang nyebelin sih." rengek Andre.
"Iya. Jangan marah ya. Aku hanya bercanda. Sekali lihat pun, aku sudah tau bahwa kamu itu orangnya rajin." kata Ana.
"Kak Ana terbaik!" seru Andre yang kemudian berhambur memeluk Ana lagi.
Anton merasa risih melihat Andre memeluk istrinya. Ia segera memisahkan keduanya.
"Nggak enak dilihat tamu." kata Anton datar.
__ADS_1
"Bilang aja Kak Anton cemburu. Ya kan?" goda Andre.
"Enggak!" kata Anton penuh penekanan.
Selesai acara, Ana pulang ke rumah Anton. Berat baginya meninggalkan Papanya sendirian tanpanya. Ia hanya membawa sedikit baju karena Bu Jenny sudah menyiapkan baju untuknya. Melihat betapa hangatnya keluarga Novero padanya, ia sangat bersyukur.
Ana mengikuti Anton menuju kamarnya. Ia agak sungkan tapi ia berusaha untuk nyaman. Anton masih berlaku dingin padanya. Tentu saja, Ana akan memakluminya.
"Kamu boleh tidur di kasur. Akan akan tidur di sofa." kata Anton.
Awalnya Ana mengira mereka akan tidur bersama. Tapi perkiraanmya salah. Anton tak menginginkan mereka tidur seranjang meski sekamar. Ana menghela nafas, mencoba ikhlas.
"Pakailah tempat ini sesukamu. Tak perlu terlalu ikut campur dengan urusanku. Aku tak suka orang asing mengaturku atau kepo dengan urusanku." ujar Anton.
Anton menuju balkon. Sengaja menghindari Ana yang sudah semakin dekat dengannya. Sekamar dengan orang asing sangatlah membuat sesak hatinya. Seharusnya bukan Ana yang ada di kamarnya, tapi Alana yang dicintainya itu. Ia menyulut api di rokoknya, lalu menyesapnya perlahan.
Anton masih saja membayangkan bila Alana adalah istrinya. Mungkin takkan sekaku dirinya memperlakukan Ana. Mungkin akan menjadi kenangan terindah yang akan selalu terkenang sampai nanti. Sayangnya hanya angan-angan palsu yang takkan mungkin terjadi.
Rasa frustasi mewarnai pikiran Anton kala itu. Ia semakin kesal dengan hidupnya yang tak bisa sebebas kakaknya Arga ataupun Andre. Papanya selalu mengatur segala urusan kehidupannya. Mulai dari sekolah, kuliah, bisnis, dan terakhir pernikahan.
"Mas Anton nggak mandi? Aku sudah siapin air panas untuk Mas mandi." ujar Ana yang membuyarkan lamunan Anton.
"Iya." kata Anton.
"Mas jangan banyak-banyak ya ngerokoknya. Kan tidak baik untuk kesehatan." ujar Ana menasehati.
"Tak perlu mengurusi hidupku. Urus saja hidupmu sendiri!" seru Anton kesal.
"Maaf Mas." kata Ana merasa bersalah.
Anton menyesap kembali rokok di tangannya. Mengabaikan Ana yang berada tak jauh darinya.
"Kita menikah bukankah untuk saling peduli dan mengandalkan satu sama lain yah." kata Ana.
"Menikah itu mudah, yang sulit itu adalah bagaimana membina pernikahan itu sendiri." kata Anton yang menatap Ana dengan tajam.
__ADS_1
Lalu Anton bergegas ke toilet untuk mandi. Ana masih berdiam diri di balkon. Ia mencengkeram jemarinya kuat. Ia ingin melampiaskan kekesalannya, tapi tak bisa.