Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Tahu Tanpa Diberi Tahu


__ADS_3

"Tolong kamu keluar dulu! Aku mau pakai bajuku." pinta Ana pada Anton.


Anton mendelik kesal. Menatap Ana dengan sinis.


"Kenapa aku harus keluar? Pertama, ini kan kamarku. Kedua, aku sudah melihat tubuhmu tadi. Ketiga, aku biasa aja melihat tubuhmu. Keempat, bukankah aku ini suamimu?" penjelasan Anton yang membuat Ana skakmat.


"Hah? Tamatlah riwayatku!" keluh Ana.


Ana menarik nafas dalam-dalam. Ia tak boleh gegabah meluapkan emosi. Ia mencari baju yang pas untuk dikenakan. Baju santai namun berkesan elegan. Ia tak bisa lagi asal memakai baju santai seperti sebelumnya. Mengingat keluarga Novero bukanlah keluarga biasa.


"Pilih baju yang pantas! Jangan sampai menurunkan citra keluargaku." ujar Anton yang saat ini sibuk dengan ponselnya.


"Aku paham. Makanya aku lagi milih nih. Sebenarnya bukan perkara bajunya. Tapi kamu malu karena pasanganmu adalah aku buka Ala..." tak diteruskan Ana.


"Apa?" tanya Anton.


"Sudahlah. Pokoknya terima saja takdirmu telah menjadi suamiku. Terlepas cinta atau tidak padaku. Aku sudah tak peduli!" jawab Ana bernada emosi.


"Kenapa kesal? Apa yang memicumu berkata seperti itu?" tanya Anton.


"Lupakan perkataanku. Oh iya, aku tekankan padamu. Tak perlu bersusah payah membuatku berperan sebagai ratumu jika di hati dan pikiranmu ada seseorang yang sudah bertahta sebagai ratu. Cukup hormati bahwa aku istrimu. Itu saja sudah cukup. Pernikahan tanpa cinta, apa sih yang diharapkan? Cinta? Bullshit!" kata Ana.


Anton mencerna perkataan Ana sedemikian rupa. Ia cukup paham dengan kode yang Ana sampaikan. Pertanyaannya, apakah Ana tau jika ia telah jatuh cinta pada seseorang? Terlebih orang yang dicintai Anton adalah Alana? Masih cukup membuat Anton penasaran.


"Sebagai istri, seharusnya kamu cukup menuruti perintah dan kemauan suamimu. Tak perlu berprasangka terlalu jauh. Masalah hati adalah masalahku sendiri. Jangan dibahas dalam pernikahan kita. Aku tak suka!" ujar Anton.


Ana masuk ke toilet dengan membawa baju yang telah dipilihnya. Begitu keluar dari toilet, ia berdandan natural seperti biasanya. Karena dasarnya sudah cantik, sebenarnya tanpa make up pun Ana sudah cantik. Anton saja yang mengaku tak cinta, terpesona melihat kecantikan Ana.


"Ayo kita turun!" ajak Ana.


Anton memandangi Ana dari atas sampai bawah. Menurutnya Ana sudah cantik. Baik dari segi make up, pakaian, dan gaya rambut. Hanya kurang satu. Belum menggunakan sepatu yang pas karena masih berada di dalam rumah. Jadi masih menggunakan sandal dalam rumah.

__ADS_1


"Tunggu apa lagi?" tanya Ana.


Ana langsung menarik lengan Anton begitu saja. Anton tak mengelak. Ia membiarkan Ana menggandengnya. Dengan begitu ia dan Ana tak perlu berakting lebih lanjut di depan keluarganya. Secara alami, Ana sudah melakukan apa yang sempat dipikirkan Anton. Berpura-pura mesra.


Mereka menuruni anak tangga dengan hati-hati. Ana masih memegang lengan Anton. Sesekali tersenyum pada Anton. Kadang Anton ikut tersenyum pada Ana. Ana seperti tengah mendalami aktingnya.


"Kalian mesra sekali!" puji Bu Jenny, Mama Anton.


"Maklum pengantin baru!" seru Arga.


"Kak Arga pasti ngiri. Sebab keduluan nikah sama Kak Anton." ucap Andre yang memasukkan nasi ke piringnya.


"Enggaklah. Calon udah ada, tinggal cus menikah. Gampang!" ujar Arga.


"Selamat bergabung di keluarga Novero, Ana. Yah beginilah suasana di pagi hari. Pasti rame karena jamnya kumpul. Siang, sore, ataupun malem, belum tentu serame ini. Jadi kalo mau bikin pengumuman apapun, lebih baik pas waktu sarapan kayak gini." kata Pak Mirza.


"Pengumuman apa ya Pa?" tanya Bu Jenny memastikan.


Ana dan Anton saling berpandangan. Sama-sama bingung harus merespon seperti apa. Mereka hanya tersenyum untuk meredam pertanyaan susulan.


"Ini kamu semua yang masak?" tanya Bu Jenny pada Ana.


"Iya Tante. Eh Mama..." jawab Ana malu-malu.


"Ini enak ya Pa?" bisik Bu Jenny pada Pak Mirza.


"Iya Ma. Anton menjatuhkan pilihan yang tepat. Yang kayak begini nih mantu idaman Papa banget. Cantik, iya. Sopan, iya. Pinter masak, iya. Berkarir pula. Pokoknya kalo punya skill nggak jauh beda kayak Mama sih berarti mantu idaman Papa. Dan Ana, selamat yah kamu masuk kriteria mantu idaman Papa!" seru Pak Mirza.


Anton tersenyum dengan perkataan Papanya. Ia jarang mendapat pujian. Meski sebenarnya pujian tertuju untuk Ana. Tapi ia cukup senang untuk itu. Tapi tidak dengan Arga. Ia harap-harap cemas mengenai Alana. Apakah akan dinobatkan juga sebagai mantu idaman oleh Papanya jika mereka menikah nantinya?


Seperti rencana sebelumnya, Anton mengajak Ana dan Andre jalan-jalan. Andre bisa ikut karena hari ini tanggal merah di kalender, jadi libur. Sedangkan baik Anton dan Ana mengambil cuti seminggu.

__ADS_1


Kini mereka bertiga telah berada di mobil Anton. Ana duduk di depan bersama Anton. Tentu saja Andre duduk di kursi belakang. Beberapa kali Andre mengabadikan momen Anton dan Ana yang saling curi-curi pandang. Bagi Andre, lucu rasanya jika pasangan yang baru menikah masih malu-malu meski sekedar saling bertatapan.


"Kak Ana inget nggak waktu kita bertemu di bus? Itu kan sebenarnya aku pingin kenalin Kak Ana sama Kak Anton deh. Tapi meski nggak sampe aku kenalin, ternyata kalian malah menikah. Jujur, aku bingung dan sempat bertanya-tanya. Apakah jodoh sebercanda itu?" ujar Andre.


"Aku juga belum tau jika itu Mas Anton yang akan kamu kenalkan padaku. Tapi begitulah, jodoh adalah hukum alam yang masih menyisakan misteri. Terkadang menikah belum tentu diartikan jodoh. Menikah adalah ikatan. Jika sudah tak menikah, katakanlah bercerai. Berarti putuslah itu ikatan. Dan menikah dengan orang lain lagi. Jadi, jodohnya yang mana? Yang dinikahi pertama kali apa yang kedua?" kata Ana.


"Kok aku bingung ya? Kak Ana, aku nggak paham deh. Pokoknya semoga Kak Ana dan Kak Anton berjodoh deh." ujar Andre.


"Kamu masih kecil diam aja! Nanti juga ketemu jodohmu sendiri. Sekarang jangan pikirin jodoh. Urus belajarmu yang bener, supaya bisa masuk Universitas unggulan seperti yang kamu inginkan!" ucap Anton menasehati.


"Loh, kok jadi bahas jodohku? Kak Anton nggak nyambung!" kata Andre kesal.


Anton yang menyetir, tersenyum melihat adiknya yang kesal. Ia tak berniat membuat adiknya kesal. Hanya saja, adiknya terlalu pintar berkomentar. Dimana komentarnya kadang tak ingin dia dengar meskipun banyak benarnya.


"Kok aku kangen sama Alana yah?" kata Ana pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Anton menepikan mobilnya.


"Kamu bilang apa?" tanya Anton gusar.


"Gapapa. Aku hanya keingetan sama Alana. Mungkin aku kangen sama dia." jawab Ana ngasal, padahal sengaja menyindir Anton.


"Kenapa sih Kak Anton? Kok kayak sedang ke-gap gitu yah ekspresinya? Ada hubungan apa Kak Anton sama Kak Alana?" tanya Andre to the point.


"Wow, pertanyaanmu sungguh frontal sekali, adik ipar! I like it!" seru Ana.


Seperti tersambar petir, Anton merasa tersudutkan oleh pertanyaan frontal dari Andre. Ia mengatur nafasnya perlahan. Berharap ia bisa mengendalikan suasana seperti semula. Ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Aku hanya sahabatan aja dengan Alana. Kamu inget kan, kami satu sekolahan dulunya? Alana kan pacar Kakak kita, Kak Arga. Jadi hubungan apa lagi yang bisa kalian simpulkan?" tanya Anton sembari menyembunyikan perasaannya.


"Sudahlah. Anggap saja benar kalian sahabatan. Aku tak peduli yang lainnya." ujar Ana menutup percakapan.

__ADS_1


Setelah itu memang tak ada lagi percakapan. Perjalanan menjadi sepi tanpa obrolan. Namun setelah mereka sampai di mall yang penuh wahana bermain, barulah suasana bisa mencair dengan sendirinya. Terlebih Andre yang paling bisa mengambil hati Ana untuk kembali tersenyum.


__ADS_2