Love Me Please, Hubby!

Love Me Please, Hubby!
Kemanakah Ana?


__ADS_3

Hari sudah berganti malam. Anton masih terdiam di ruang kerjanya di kantor. Ia sebenarnya sudah menyelesaikan pekerjaannya sedari tadi. Tapi tubuhnya enggan untuk pulang.


Anton kembali teringat pada Ana. Wanita bergelar istrinya yang baru-baru ini berhasil mencuri hatinya, kini beralih menjadi musuh yang harus disingkirkan. Berkali-kali Anton mengepalkan tangannya. Ada segenggam dendam yang ingin ia tuntaskan.


Lalu, ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dibukanya galeri foto miliknya. Maka muncullah sebagian besar foto dirinya dan Ana. Foto yang mengisyaratkan kebahagiaan seakan nampak seperti menantang Anton untuk berkelahi.


"Foto apa ini? Bisa-bisanya aku menyimpan foto murahan begini? Aku akan menghapusnya!" seru Anton.


Belum sempat Anton menyentuh tombol delete, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Anton pun menerima panggilan itu. Anton hanya mendengarkan tanpa merasa perlu berkomentar.


"Kenapa dia tak mati saja?" seru Anton.


Meski kesal, Anton segera meraih tas kerja dan kunci mobilnya. Ia berlari menuju lift VIP.


Sesampai di lokasi, Anton bertemu dengan seseorang yang tadi menelponnya.


"Kamu yang mengirim foto-foto istriku?" tanya Anton.


"Benar. Itu foto asli yang ku abadikan beberapa minggu yang lalu. Aku jamin keasliannya. Jika Anda tak mau foto itu jatuh ke tangan publik, maka kirim tebusan 1 milyar untukku. Cukup adil kan?"


"Adil katamu? Tanpa aku membayarmu sepeser pun, aku sudah rugi ratusan milyar. Dan kamu masih mau minta tebusan padaku? Minta saja pada wanita itu! Dia pasti akan membayarmu jika masih peduli dengan aibnya." ujar Anton.


"Apa hubungan kalian sedang tidak harmonis? Aku curiga bahwa sebenarnya keromantisan yang kalian viralkan dalam dunia maya adalah palsu. Seperti itu?"


"Terserah jika kamu mau viralkan ke seluruh dunia, aku sudah tak peduli." kata Anton.


"Baiklah, tunggu saja tanggal mainnya!" seru seorang pria bertopi yang menggunakan masker.


Anton bergegas meninggalkan pria yang memerasnya itu. Anton merasa tak perlu mempedulikan apapun terkait ancaman pria itu. Terlebih, Ana sudah terlanjur menyakitinya. Justru jika nama Ana sudah buruk di mata publik, maka dirinya bisa dengan mudah menendang Ana dari hidupnya.


Butuh waktu setengah jam, Anton sudah sampai di rumah. Keluarga besarnya bahkan sudah berkumpul di meja makan.


"Kamu baru pulang, Sayang? Tapi mana Ana, putriku?" tanya Bu Jenny yang menyambut Anton dengan pertanyaannya.

__ADS_1


"Anton tak tau. Mungkin dia sedang ada urusan pribadi." jawab Anton datar dan hendak naik ke tangga.


"Apa maksudmu?" halau bu Jenny yang menahan agar Anton tak naik.


"Ana itu istrimu. Bisa-bisanya sikapmu biasa saja begitu? Mana kepedulianmu sebagai suami? Mama tau kamu lelah bekerja seharian dari pagi sampai malam, tapi bukan begini ekspektasi Mama. Mama ingin kamu tetap sayang pada istrimu. Terhadap istri saja begini, gimana nanti kalo sudah punya anak?" teriak Bu Jenny berkaca-kaca.


"Sudahlah Ma, ayo kita makan! Biar Anton ke kamar dulu. Anton, kamu naik aja. Nanti makan setelah bersih-bersih!" perintah Pak Mirza.


Anton segera menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.


"Apa sih anak itu? Dia terlalu cuek dengan Ana." keluh Bu Jenny.


"Mungkin dia sedang capek, Ma. Nanti juga kembali ke mode bucin sama Ana. Bisa jadi sebelum pulang dia ada masalah di jalan. Wajar kan jika dia terlihat seperti itu?" Pak Mirza mencoba menengahi.


"Tapi secapeknya Kak Anton, dia nggak kayak gitu kok. Mama dan Papa lihat sendiri kan, beberapa hari terakhir Kak Anton memperlakukan Kak Ana bagaikan putri raja." ujar Andre ikut bersuara.


"Kamu masih kecil. Nggak boleh ikut campur urusan orang dewasa!" kata Arga.


"Kecil apanya. Bahkan ukuran tubuhku lebih besar dari Kak Arga. Ayo deh kita duel biar kelihatan, siapa di antara kita yang lebih besar?" tantang Andre.


"Kami kan mau duel, Ma. Mama dukung Andre apa Kak Arga nih?"


"Ndre, udah deh. Mama lagi kesel juga, kalian nambahin masalah aja." kata Pak Mirza.


Sementara itu, Anton yang selesai mandi segera turun ke meja makan. Dia segera menikmati makanan di piringnya dengan lahap. Anton tak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian keluarganya.


Begitu selesai makan, Anton kembali ke kamarnya. Anton mengabaikan keluarganya yang memang membicarakannya secara terang-terangan.


"Itu tadi Anton? Kenapa dia secuek itu?" tanya Bu Jenny pada dirinya sendiri.


"Itu mungkin tabiat bawaannya, Ma. Beda jauh sama Andre yang bisa humbel dan fleksibel. Coba kalo umur Andre seumuran sama Kak Ana, maka Andre yang maksa nikahin Kak Ana. Beruntung aja itu Kak Anton bisa dapetin Kak Ana." curhat Andre.


"Kamu masih kecil udah main cinta-cintaan. Kamu mau Papa nikahkan sekarang? Banyak kandidat yang Papa punya. Kamu mau yang seumuran kan?" tawar Pak Mirza.

__ADS_1


"Idih, Papa nih. Andre cuma menyayangkan, kenapa Kak Ana selalu dibuat tak nyaman oleh kelakuan Kak Anton. Padahal Kak Anton itu termasuk beruntung dikasih istri paket komplit macam Kak Ana."


"Andre, pemikiranmu terlalu dewasa. Sungguh di luar ekspektasi!" seru Arga.


"Mama akan menelpon Ana. Kalian diamlah dulu!" perintah Bu Jenny.


Begitu panggilan tersambung, Bu Jenny secara simultan menanyakan keberadaan Ana dan apa yang sedang Ana lakukan.


"Kamu kemana Sayang? Apa ada masalah?" tanya Bu Jenny.


Ana hanya menjelaskan seperlunya dan mengabarkan bahwa ia tak pulang malam ini. Ada urusan penting dengan sang Papa.


"Jika demikian, kami bisa apa. Kami pikir hubunganmu dan Anton sedang tak baik-baik saja. Jika urusanmu sudah selesai, pulanglah! Mama sangat merindukanmu!"


Begitu panggilan terputus, Bu Jenny langsung emosi.


"Tak biasanya Ana begitu. Pasti ada yang dia sembunyikan. Hubungannya dengan Anton baik-baik saja? Itu tak mungkin! Salah satu dari Ana ataupun Anton pasti sedang berbohong." kata Bu Jenny.


"Apa perlu Papa konfirmasikan kembali pada Ana?" tanya Pak Mirza.


"Tak perlu, Pa. Mungkin Ana hanya berusaha menutupi kesalahan Anton. Kita lihat nanti saja!" kata Bu Jenny.


......................


Di tempat lain, Ana sedang bersantai di ranjangnya. Ana memang enggan pulang menemui Anton. Tapi dirinya tak ingin pulang ke rumah Papanya. Akan rumit jika Papanya tau apa yang terjadi.


"Aku tak tau apa penyebab Mas Anton menyakitiku seperti ini. Aku bahkan tak merasa punya video atau gambar syur. Entahlah, dia berprasangka apa terhadapku." kata Ana.


Ana mengambil bedak di dalam tasnya. Saat ia melihat pantulan wajah dari cermin bedaknya, ia mendapati beberapa luka lebam di wajahnya.


"Aku mungkin bisa mengatasi luka di wajah dan di tubuhku dengan cepat. Tapi sayangnya, hatiku sudah terlanjur sakit. Aku tak bisa diam saja menerima perlakuanmu, Anton!" seru Ana geram.


"Tapi kenapa, disaat seperti ini aku harus hamil?"

__ADS_1


Ana pun menangis meratapi hidupnya.


__ADS_2